Happy reading ❤️
"Sampai kapan kamu akan menghindariku, Ran?" Kyra tiba-tiba berbalik arah dan menatap tajam Randai. Perjalanan mereka langsung berhenti. Menatap Kyra yang sekarang berkacak pinggang.
"A ... apa? Aku tidak menghindarimu." Randai salah tingkah, dia sekarang berdiri di belakang Alif. Bahkan kakinya mundur satu langkah.
"Oh iya? Lalu kenapa kaki kamu harus melangkah ke belakang? Perjalanan kita ke depan." Kyra merasa benar-benar geram dengan sahabatnya yang satu ini.
"Memangnya kenapa? Aku hanya reflek. Kakiku gatal digigit semut. Jadi langsung mundur tanpa aku aba-aba."
Kyra berdecak. "Itu alasan yang sangat-sangat buruk. Kamu tidak pandai berbohong ternyata."
Randai hanya mengangkat kedua bahunya. Tidak menanggapi lagi, padahal jika dia dikatain begitu pasti akan punyak seribu seratus cara untuk membela dirinya.
"Apa yang kamu takutkan sih, Ran. Aku sudah membaik. Lihat!" Kyra menunjukkan tangannya yang pernah digigit Randai. "Bekas gigitanmu saja sudah tidak ada. Kembali bersih seperti semula "
"Ya bagus dong kalau begitu."
"Maka dari itu, kamu jangan menghindariku."
Randai mengela napas lelah. "Ayolah, Ra. Jangan mendebatkan hal yang tidak perlu. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan."
Kyra hendak membantah, tapi langsung dipegang Alif. Tubuh wanita itu 360 derajat untuk menghadap ke depan. Menyuruhnya untuk kembali berjalan.
Pagi ini, setelah matahari terbit, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Luka di tangan Kyra sudah sembuh. Bahkan bekas lukanya pun sudah tidak ada, tapi Randai masih menghindari. Dia benar-benar merasa bersalah, takut khilaf dan melukai Kyra lagi.
Baru sepuluh langkah mereka berjalan setelah perdebatan tadi. Kyra tiba-tiba berbalik dan menerjang Randai, memegangi kupingnya dan memukul lengannya.
"Aduh, Ra. Sakit. Kamu kenapa sih?!"
"Jadi bagaimana Tuan Vampir? Apa kamu masih mencium aroma darahku yang katanya begitu manis?" Kyra berkacak pinggang, melotot ke arah Randai dengan wajah galak. Dia hanya merasa tidak nyaman kalau Randai terus menghindarinya. Yah ... meski pun dirinya hampir meregang nyawa karena lelaki itu, tapi dia tetaplah sahabatnya. Akan sangat canggung dan tidak enak nanti jika Randai terus menghindar dengan dalih tidak ingin kelepasan lagi.
"Ra, hati-hati." Alif dan Lea memperingatkan.
"Kalian tidak perlu khawatir. Setelah digigit Randai, aku merasa lebih kuat."
"Jangan bertindak aneh, Ra. Dengarkan suami dan sahabatmu."
"Memangnya kamu bukan sahabatku?!"
"Iya, tapi--"
"Kamu seperti lelaki baru mengenal pubertas saja, Ran!"
"Ha? Apa?!" Ekspresi wajah Randai langsung berubah, terkejut mendengar perkataan Kyra. "Enak saja. Aku tidak seperti itu. Ayolah, Ra. Kamu tidak ingin menjadi istri pembangkang dengan tidak menuruti ucapan Alif, kan. Dia suamimu."
Kyra melotot kesal. Bisa-bisanya Randai mengungkit hal ini lagi. Jelas-jelas pernikahan Alif dengan dirinya itu tidak sah. Mereka menikah karena terpaksa, dipaksa agar bisa mewujudkan keinginan orang-orang jahat itu.
Alif yang merasa geram langsung menarik Kyra dan menyuruhnya untuk kembali berjalan. Dia menggiring Kyra lebih dekat dengan Lea.
"Kalau kamu mau nikah, bilang saja, Ran. Aku akan bantu mencarikan seorang istri. Atau kamu mau dua? Tiga?"
"Sialan!" Umpatan Randai kembali ke luar. "Aku belum ingin menikah."
"Maka dari itu, jangan terus mengejek kami. Atau karma akan berlaku nanti."
Randai hanya berdecak, dan kembali melanjutkan perjalanan. Hutan yang mereka lewati kali ini lebih baik dari sebelumnya. Hutan ini subur, sejauh mata memandang rumput hijau dan pepohonan tinggi terus menyambut mereka. Ini seperti hutan pada umumnya. Hanya saja mereka belum menemukan hewan atau apa pun itu selain di sungai tadi malam.
"Kalau cerita petualangan kita nanti diangkat menjadi layar lebar atau karangan novel tentang kisah nyata. Aku pastikan umpatan Randai tidak akan ada. Akan aku minta penulisnya untuk mencoretnya. Kalau perlu, seumpama aku yang menulis, Randai akan kubuat menikahi siluman ular."
Randai yang mendengar itu kembali mengumpat. "Aku berharap penulisnya bukan kamu, Ra. Hasilnya pasti jelek sekali."
"Kalian ini bisa diam tidak, aku pusing dari tadi mendengar kalian berdebat." Lea memelototi Kyra dan Randai bergantian.
"Dalam perjalanan ini memang hanya kita yang waras, Le." Dengan entengnya mulut Alif mengatakan itu, padahal dirinya sendiri tidak jauh beda.
"Ngomong-ngomong, Ran. Apa yang kamu rasakan setelah merasakan darahku? Tidak enak badan, atau mual?" Kyra mencomot topik pembicaraan lain, daripada harus berdebat tidak jelas dengan Randai.
"Memangnya kamu pikir darahmu semacam obat, Ra, yang punya efek samping."
Kyra mengangkat kedua bahunya. "Siapa yang tahu. Atau mungkin saja kamu merasa semakin kuat? Lebih kuat dari sebelumnya."
"Otakmu benar-benar bergeser, Ra. Darahmu itu juga bukan semacam suplemen pembangkit birahi."
"Hey! Aku tidak mengatakan itu!" Kyra memicing tidak terima, tangannya bahkan mengacung pada wajah Randai.
""Tapi secara tidak langsung, itulah maksud dari perkataanmu. Aku benar, kan?" Randai menaik-turunkan alisnya.
"Tidak. Jangan ngawur ya!"
"Aku bicara serius, pasti otakmu itu berpikir demikian."
Dan tanpa disadari, Randai berjalan mendekat dengan para sahabatnya. Obrolan itu berhasil membuat ketakutan Randai untuk menyakiti Kyra sedikit berkurang.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghentikan mereka, Lif." Lea geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua sahabatnya yang beberapa jam lalu sempat terlibat menjadi pemburu dan pemangsa.
"Tidak perlu terlalu diperdulikan. Biarkan saja, nanti kalau lelah juga berhenti sendiri." Alif terkekeh pelan.
Mereka terus melanjutkan perjalanan. Sejauh ini semuanya memang baik-baik saja. Mereka tidak menemukan kendala apa pun selain perdebatan tidak menguntungkan dari Kyra dan Randai. Hingga akhirnya, langkah kaki mereka sampai pada ujung hutan subur ini.
"Apakah ini ujungnya?" Kyra menatap dengan seksama pohon yang ada di depannya. Menjulang tinggi dan besar. Tidak berdaun, tapi durinya begitu banyak. Warnanya tidak seperti pohon mati yang kecoklatan, tapi hitam seperti terbakar. Di dalam sana begitu pekat dan gelap. Mereka tidak bisa menembus jarak dekat, apalagi sampai jarak jauh. Alif dan Randai saja hanya mampu melihat sedikit. Tidak seluruhnya.
"Hutan apa ini?"
"Entahlah, tapi menyeramkan."
Kyra mengangguk, membenarkan perkataan Randai.
"Hutan ini seperti habis dibakar. Batang pohonnya benar-benar berwarna hitam. Bahkan tanahnya juga."
"Kamu benar, Ra. Hutan ini berbanding terbalik dengan yang baru saja kita lewati tadi."
Kyra menoleh menatap ke belakang, lalu beralih menatap ke depan kembali. Perbedaannya sangat kentara. Hutan ini lebih mengerikan daripada hutan yang pernah disihir Luna. Mungkinkah hutan ini juga memberikan ilusi seperti hutan yang kering dulu. Apa mungkin kekuatan Lea masih berfungsi dengan baik saat di hutan ini. Sedangkan alam yang berada di depan mereka sangat mengerikan.
Selama ini, yang mereka tahu, kekuatan alam Lea selalu berfungsi dengan baik, tapi dengan kondisi alam yang baik pula, tidak tahu jika kondisinya semenakutkan ini.
"Apa kita harus melewati ini?"
Alif terdiam, dia juga berpikir keras. Telinganya tidak mendengar apa pun di dalam.
"Sepertinya memang iya. Karena tidak ada jalan lain. Lagi pula kita sudah sejauh ini. Ayo!" Alif melangkah lebih dulu, disusul dengan yang lainnya. Suasana langsung berubah mencekam dari sebelumnya.
***
Part ini santai saja ya, biar nggak selalu tegang. Hehehe