Untuk Kyra

1697 Kata
Randai berjalan di belakang Alif. Pria itu memilih barisan paling belakang untuk melanjutkan perjalanan. Menyusuri setapak dengan sangat hati-hati. Hari  sore, matahari berada di ujung langit, menandakan kalau malam akan segera menyapa mereka kembali. "Kita akan beristirahat di mana?" "Kalau ada aliran air terdekat, kita ke sana. Aku seperti mendengar gemricik tidak jauh dari sini." Lea mengangguki perkataan Alif, dan kembali melangkah dengan hati-hati. Dari tadi Randai terus diam, dia bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun setelah kejadian tadi. Tidak ada ocehan atau candaan seperti biasa. Lelaki itu berubah pendiam dalam sekejap. "Kamu lelah, Le?" "Sedikit. Agak berat soalnya." "Mau kubantu? Atau kugantikan?" Lea menggeleng. "Tidak usah, Lif. Lagi pula, aku juga sudah mendengar apa yang kamu dengar, bisa jadi sumber itu tidak jauh dari sini." "Baiklah." Alif memgangguk dan kembali berjalan. Dia sempat melirik Randai yang sekarang berada tidak jauh dari sampingnya, meski masih berada sedikit di belakangnya. Perjalanan mereka terasa sangat aneh sekali jika Randai diam begitu. "Kamu sariawan, Ran? Klan Vampir juga mengalami itu?" Randai mengkerutkan kedua alisnya, tidak paham apa maksud perkataan Alif. Merasa Randai terlihat bingung, Alif malah menyungginggkan senyum. "Maksudku, kenapa diam saja. Aneh sekali kalau kamu begini. Tidak cerewet seperti biasanya." Alif terkekeh pelan, membuat Randai langsung berdecak, malas menanggapi sahabatnya. Mereka seperti sedang bertukar peran. Kalau dulu Randai yang akan sering menggoda Alif, sekarang gantian lelaki itu yang berbuat demikian. Alif menepuk pundak Randai, seperti memberi dorongan positif agar Randai tidak terlalu keras menyelami rasa bersalahnya. Mereka berhenti di sebuah pohon yang lumayan rindang. Dibawahnya tidak terdapat banyak rumput. Mereka bisa beristirahat di sini. "Jangan terlalu berpikir keras, Ran. Kamu tidak cocok. Jangan sampai kamu depresi karena hal itu. Akan sangat tidak lucu kalau tiba-tiba kamu gila sebelum misi kita selesai." Randai mengembuskan napas keras. Seperti sedang melepaskan beban. "Lif, aku juga heran, kenapa kamu sekarang jadi cerewet," kesal Randai dengan wajah bersungut. Lelaki dari Klan Lycanthrope itu kembali tertawa kecil. "Untuk memancing kewarasanmu. Syukurlah, aku tidak perlu terlalu khawatir sekarang. Karena kamu memang masih waras." "Sialan!" Umpatan lagi-lagi keluar dari bibir Randai. "Ran, jangan sering mengumpat. Kamu tuh contoh generasi muda yang tidak patut ditiru." "Terserah!" Lea yang mengamati perdebatan dua sahabatnya itu hanya tersenyum. Perlahan, dia turunkan tubuh yang tadi di topangnya. Menyenderkannya pada batang pohon. Kondisinya masih lemah, tapi dia jauh lebih baik sekarang. Hanya perlu istirahat untuk bugar kembali. Kemampuannya yang dapat menyembuhkan diri dengan cepat sangat membantu. Kondisinya bisa pulih lebih cepat dari yang ia duga ternyata. "Aku akan mencari air. Lea dan Randai bisa di sini saja. Aku tahu, Ran, kamu akan mengeluh capek jika kusuruh." Alif menepuk pundak Randai kembali. "Siapa bilang, aku ikut kamu." Lelaki werewolf itu mengangkat sebelah alisnya. "Tumben sekali. Ada apa?" "Kamu tidak perlu terus curiga, Lif." Randai berdecak kesal. "Baiklah. Oh iya, kalian ingin makan sesuatu selain bekal dari Canuto? Aku akan mencarikannya dengan Randai nanti." Lea menatap sahabatnya yang tengah menyender. Menanyakan barang kali ada yang ia inginkan. "Boleh aku meminta ikan? Sepertinya akan enak, apalagi ini dekat sungai." "Tentu saja, Ra. Randai akan mencarikannya untukmu. Benar kan, Ran?" "Eh?" Randai yang sedari diam jadi kelabakan sendiri. "Ten ... tentu. Akan aku usahakan." "Memang harus. Ayo kita pergi!" Alif merangkul Randai dan membawanya pergi. Dia tahu lelaki vampir itu masih merasa tidak enak dengan perempuan yang tadi dipanggilnya 'Ra'. "Bagaimana kondisimu sekarang, Ra?" Lea membenarkan posisi duduknya di sebelah Kyra. Gadis itu menatap sahabatnya dengan seksama. Memegang luka yang ada di tangan Kyra. Luka itu belum sepenuhnya sembuh. Kondisinya yang tadi sempat tidak sadarkan diri bahkan tidak bernapas--membuat Kyra belum bisa berkonsentrasi untuk menyembuhkan luka. Dirinya masih lemah, akan sangat lemah lagi kalau dia memaksa menyembuhkan diri. "Jauh lebih baik daripada tadi, Le." Lea tersenyum. Dia bersyukur bisa menemukan Kyra tepat waktu. Dirinya jadi deg-degan tadi. Jadi begitu rupanya yang dirasakan sahabatnya saat dulu melihatnya terbaring tidak sadar bahkan semalaman. Beruntung sekali Kyra masih bisa bernapas kembali. Tadi waktu dirinya tidak bergerak dan bernapas sama sekali, membuat teman-temannya panik luar biasa, terutama Randai. Untung saja, setelah lima menit berlalu dirinya bisa mengedipkan mata dan kembali bernapas. Melihat itu tentu saja membuat semuanya lega, bahkan Randai sampai terduduk di tanah. Ternyata tubuh Kyra waktu itu sedang dengan hal baru yang baru saja memasukinya tadi. Sisa gigitan Randai memang sudah hilang semua. Tapi efeknya masih terasa, makanya tadi dia sempat tidak sadar. "Kenapa, Le? Ada yang salah?" Kyra membenarkan letak rambutnya. Kembali gadis itu mengurai untuk menghindari hal yang tidak diinginkan lagi. "Aku merasa heran, ke mana semua kekuatanmu pergi. Setahuku, dia keluar saat kamu merasa terancam dalam bahaya. Tapi dua kali kamu mengalaminya, bahkan nyaris kehilangan nyawa, tapi tidak ada yang muncul sama sekali. Itu aneh, Ra." Kyra mengangkat kedua bahunya. "Aku saja tidak pernah tahu kekuatan apa yang sering kalian bicarakan. Aku tidak pernah sadar. Padahal aku penasaran. Mungkin kalau aku tahu, aku akan merasa lebih keren dari kalian." Kyra tertawa pelan, dia mengamati tangannya yang ada bekas gigitan. Perlahan luka itu sudah mulai menyembuhkan diri meski sangat lambat. "Syukurlah, setidaknya tidak terjadi apa-apa dengan kepalamu. Kamu masih bisa berhayal dengan baik." Lea mengetuk pelipis Kyra, membuat gadis itu berdecak dan mereka tertawa bersamaan setelah itu. Di tempat lain, Randai dan Alif mendekati sungai, semenjak melakukan perjalanan di hutan ini mereka sudah menemukan dua aliran sungai ternyata. Pertama yang dihuni Luna. Dan yang kedua adalah tempat ini--yang mereka tempati sekarang. "Aku akan mengisi air. Kamu cari ikan, bukannya kamu harus menyenangkan Kyra sekarang." Alif mengangkat alisnya menggoda. Entahlah, kenapa dia terlihat lebih renyah sekarang. Padahal biasanya terlihat dingin. Apa mungkin sikap Randai yang tiba-tiba diam memberikan efek tersendiri? "Aku tidak punya alat pancing." "Gunakan kuku panjangmu, penglihatanmu, kegesitanmu. Begitu saja kamu tidak tahu. Haruskah aku terus memberi tahu." "Iya ... iya, lelaki dengan mulut pedas sepertimu memang tidak layak memberi saran." Randai berdecak sebal dan ikut berbasahan di sungai. "Ah iya, Ran. Hindari ikan yang membawa bola lampu di ekornya, dia beracun." "Bagaimana kamu tahu?" Randai memicing. Mereka bahkan baru sampai di sini. "Hanya menebak, dan tebakanku tidak pernah keliru." "Sombong!" Randai berdecih. "Aku tidak tahu, apakah nanti Kyra akan kuat menghadapi suami sepertimu atau tidak." "Hey, jangan ungkit hal itu. Pernikahan itu paksaan. Tidak sah!" "Tetap saja--aww!" Pipi randai terasa panas, seperti ditampar sesuatu. "Ada apa?" "Ada yang menamparku," jelas Randai dengan tangan yang berada di pipi sebelah kirinya. "Jangan bercanda, Ran. Siapa yang menamparmu. Di sini hanya ada kita. Sudahlah, jangan berhayal yang tidak-tidak seperti Kyra dan Lea." Randai berdecak. Malas berdebat dengan Alif, padahal dia jujur. Memang ada yang menamparnya tadi, bahkan pipinya saja mulai terasa panas. Mencoba abai, Randai kembali fokus menatap ke arah bawah. Aliran sungai ini tidak terlalu dalam, makanya dia bisa melihat pergerakan ikan di bawahnya. Apalagi dipadukan dengan cahaya rembulan yang terang di atas sana. Semakin jelas saja ikan-ikan ini berlari gesit. Penglihatan Randai sudah tajam, jadi dia tidak begitu kesulitan. "Aku dapat!" Randai bersorak gembira saat mendapatkan satu ikan berukuran sedang di tangannya. Dia tersenyum lebar. Puas sekali, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Kembali ada sesuatu yang menghantam pipinya hingga membuatnya mengaduh dan melepaskan ikan tersebut. "Kenapa dilepas?" "Ada yang menamparku lagi tadi. Aku tidak bohong, Lif." Alif memicing. Gerakan kakinya saat hendak ke luar dari air ia urungkan. Segera dirinya mendekati Randai. Memeriksa pipi lelaki itu. Tidak ada bekas tangan di sana, tapi ada ruam kemerahan meski samar, setelah itu pun hilang. "Siapa yang melakukannya?" "Aku tidak tahu." "Aww!" Sekarang giliran Alif yang memekik, ada yang menampar bokongnya. Kalau pun di sini ada makhluk halus, mungkin dia sedikit m***m dengan Alif. Mereka mulai bersiaga, mencari tahu siapa yang melakukan perbuatan tidak baik pada mereka berdua. Set! Satu gerakan cepat berhasil dilakukan Alif, tangannya mengambang di udara menggenggam sesuatu. Tadi indranya menemukan pergerakan dan dengan cepat bergerak dia berhasil menangkapnya. Makhluk itu bergerak gesit di tangannya. Terus bergerak ke sana-kemari untuk melepaskan diri. "Dia bisa terbang, atau bagaimana? Cepat sekali gerakannya." "Dia tidak terbang, lihat, tidak ada sayap di tubuhnya. Tapi dia pergerakan dia cepat saat melompat do atas air. Tempat ini dihuni oleh ikan ini." "Lepaskan saja, Lif. Aku tidak tertarik." Alif memgangguk dan melepaskannya. Dari kejauhan, dia melihat pergerakan cepat menuju ke arah mereka. "Segera, temukan ikan buat Kyra. Kita harus segera pergi kalau tidak ingin tubuh kita semakin sakit." "Maksudmu." Randai bergegas melakukan tugasnya kembali melihat Alif melotot ke arahnya. Baiklah, dia harus cepat. Dalam dua gerakan cepat, dia berhasil menyambar tiga ikan segar. Setelah itu segera melakukan teleportasi dan keluar dari air. Setengah detik kemudian, ribuan ikan yang tadi sempat di tangkap Alif melompat ke atas. Menghantam tebing yang tidak jauh dari sana. Keras sekali hingga ada batu yang mengelupas. "Sudah tahu kan, mengapa kita harus ke luar?" Randai mengangguk, dia mengurut d**a melihat kelakuan Alif. Kenapa tidak, dari tadi dia mengatakannya, hampir saja mereka jadi sasaran samsak ribuan ikan yang seperti terbang itu. Setelah berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kedua pria itu segera kembali. Saat sampai, mereka menamakan Lea dan Kyra yang sedang terlibat obrolan dan sesekali tergelak. Randai luar biasa lega melihat Kyra sudah membaik. Syukurlah gadis itu tidak berubah sama sekali. Dia sangat takut apa yang ia perbuat tadi menimbulkan akibat yang lebih parah. Tapi syukurlah, ternyata semua masih normal. Randai meletakkan ikan bakar tersebut di atas daun yang sudah ia siapkan, meletakkannya di depan dua gadis itu. Tadi sebelum ke sini, dua orang lelaki itu mencari kayu bakar dan sekalian membakarnya. "Terima kasih." Kyra tersenyum hangat pada Randai, dia tahu lelaki itu menghindarinya. Mungkin merasa bersalah. Randai mengangguk samar, setelah itu duduk menjauh dari mereka. Dia masih belum bisa berdekatan dengan Kyra, takut kejadian serupa terulang kembali. "Randai, kenapa duduk di sana. Kemarilah, kamu tidak perlu menghindariku." "Tidak, Ra. Aku hanya--" "Ayolah, lupakan kejadian tadi. Lagi pula aku baik-baik saja sekarang." Dengan ragu Randai mendekati. Kalau seperti ini, dia seperti anak kecil saja. "Maaf untuk tadi, Ra." Kyra mengangguk. "Tentu saja dimaafkan. Kita sahabat di sini. Menjalankan misi untuk kedamaian. Jadi kita harus terus bersama." Kyra tersenyum. Mereka kembali membaik seperti sedia kala. Malam itu, meski bukan di tempat yang nyaman, tapi mereka menikmati istirahatnya. Bergantian berjaga seperti biasa. Tanpa tahu kalau ternyata ada perubahan yang perlahan terjadi dengan Kyra. Mereka tidak ada yang menyadarinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN