Akibat Perbuatan Randai

1278 Kata
Satu jilatan dirasakan Kyra di tangannya. Randai mencecap sebentar. Kali ini rasanya manis. Belum pernah dia merasakan yang semanis ini. "Manis." Randai menyeringai. Kyra terus menatap mata Randai, tubuhnya bergetar. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi ada yang aneh dengan ucapan Randai. Pria ini bilang darahnya manis, padahal vampir yang dulu pernah menyerangnya berkata darahnya biasa saja. Apa mungkin Kyra kebanyakan makan micin dan gula sehingga bisa merubah kadar rasa di aliran darahnya. "Aku akan cepat. Jadi kamu tidak perlu takut." Kesadaran Kyra kembali, dia hendak menarik tangannya, tapi Randai tidak membiarkannya sama sekali. Lelaki itu menahan dengan sangat kuat. "Lepaskan aku, Ran. Sadar!" "Aku tidak bisa menahan, Ra. Maaf." "Aakk!" Kyra langsung memekik begitu merasakan gigi randai yang menggigit kuat lengannya. Tanpa aba-aba lelaki ini langsung menyerang tangannya. Benar-benar membuktikan apa yang dikatakannya. Randai akan berbuat cepat. "RANDAI!!" Tubuh Randai langsung terpental ke belakang, berguling beberapa kali karena serangan tiba-tiba dari arah berlawanan. Mulutnya masih tersisa bekas darah dari Kyra. "Apa yang kamu lakukan ha?!" Randai murka, dia melotot pada Alif yang sudah menjadi wujud serigalanya. Lelaki itu tidak banyak bicara lagi, tanpa aba-aba dia langsung berlari. Kembali menerjang Randai. Dua lelaki berbeda klan itu terlibat dalam pertarungan. Sedari tadi, Lea dan Alif terus berjalan ke arah Randai berlari, mencoba mencari jejak lewat Randai pergi sebelum lelaki vampir itu menghilang. Namun semakin mereka berjalan menjauh, Alif malah semakin tidak menemukan apa pun. Dua sahabatnya tidak bisa ia temukan keberadaannya, termasuk aroma khas mereka berdua. Berpikir keras, akhirnya Lea menyadari sesuatu, dirinya bisa berbicara dengan alam. Ia bisa menggunakan kemampuan itu untuk melacak dua sahabatnya. Lalu kemudian, Lea menatap pohon sekitar, bertanya ke mana dua makhluk berbeda kelamin itu pergi. Tidak lama setelah itu, angin kesiur berhembus, menggerakkan pohon-pohon ke arah yang berlawanan. Akhirnya mereka berdua mencoba berbalik arah. Mungkin saja Randai mengelabuhi mereka. Dan benar saja ... setelah melakukan perjalanan cepat, Alif mendengar sesuatu. Seperti ada bunyi orang jatuh, tapi ia kurang tahu tempatnya. Otaknya tidak berpikir kalau Randai akan membawa Kyra ke perbukitan. Tapi suara pekikan Kyra dan bau darah yang ia temukan--membuat Alif sadar kalau mereka berdua berada di atasnya. Alif dan Lea bergerak cepat menuju perbukitan, dan mereka disuguhi dengan pemandangan yang mengerikan. Telat beberapa detik saja, nyawa Kyra mungkin tidak tertolong. Meski pun sekarang juga tidak yakin gadis itu masih baik-baik saja atau tidak. Kraakk!! Bunyi batang pohon yang patah karena bertubrukan dengan tubuh Randai. Pria itu tersudut setelah sebelumnya berhasil memukul Alif dengan batu besar. Pohon itu tumbang, dan tubuh Randai ambruk tidak jauh dari sana. Alif merubah diri menjadi manusia kembali, mencengkeram leher Randai kuat dengan posisi tubuh berada di atas pria itu. Randai terus memukul-mukul tangan Alif, dia kesusahan bernapas, tapi Alif tidak perduli, dirinya sudah cukup murka dengan tindakan Randai. Mungkin dia masih bisa memaafkan perbuatannya yang kadang sering bercanda keterlaluan, atau mengejeknya dengan nada bercanda. Tapi hampir menghilangkan nyawa temannya? Untuk pertama kalinya dua pria itu terlibat dalam pertarungan seperti ini, biasanya mereka hanya berlatih, tapi kali ini mereka berdua saling menyerang satu sama lain. "Sudah bisa mengendalikan diri atau belum?!" Alif tidak berniat membunuh Randai. Lelaki itu hanya berusaha menyadarkan sahabatnya. Mungkin dengan membuatnya kesakitan seperti ini bisa membuat Randai sadar. "Lepas, Lif. Kamu mau membunuhku?!" Dengan suara yang tercekat, Randai berusaha berbicara. "Harusnya kamu juga berpikir begitu tadi!" "Maaf. Aku tidak bisa mengendalikan diri." "Sekarang bagaimana?" Randai meringis. "Kamu boleh membunuhku jika aku berniat melakukannya lagi." Alif melepaskan cekikan di leher Randai. Mata merah yang tadi menyala semerah darah perlahan mulai meredup. Lelaki ini sudah mulai sadar dari perbuatannya tadi. Dengan mata memicing, Alif membantu Randai berdiri. Lelaki itu lalu menatap Kyra dan Lea yang berada tidak jauh darinya. Satu gerakan cepat yang dilakukan mereka, dalam satu kedipan sudah sampai di tempat dua gadis itu. "Lea, apa yang terjadi?!" Alif langsung panik begitu melihat Kyra yang tiba-tiba mengerang sambil memegang tangannya, matanya bahkan sampai melotot. Mulutnya terus menganga mengeluarkan suara erangan. "Bagaimana ini, Lif. Di situasi seperti ini biasanya Kyra yang bisa mengobati, tapi dia sendiri dalam keadaan begini." "Ran!" Alif mencengkeram baju Randai, tetapi lelaki itu hanya terdiam, dia menatap Kyra iba, juga sekaligus menahan diri untuk tidak menyerang. "Gigitanku bisa merubahnya menjadi sepertiku. Sejauh ini, manusia biasa bahkan tidak kuat dengan rasa sakit yang ditimbulkan dan berakibat kematian. Hanya orang-orang seperti kita dan Klan-Klan lain yang tidak terpengaruh gigitanku. Tapi Kyra ... aku bahkan tidak tahu dia manusia biasa atau tidak, tapi sejauh yang kita ketahui, dia memang manusia biasa." "Apa?! Lalu apa yang harus dilakukan bodoh!" Alif benar-benar sudah geram dengan sikap Randai. Bisa-bisanya lelaki ini tidak berpikir panjang. Kenapa susah sekali mengendalikan diri. Randai mengatupkan mulut, berkedip-kedip perlahan menormalkan keinginannya untuk mencicipi Kyra sekali lagi. "Gigitan kedua." "Apa?!" Yah, lagi-lagi manusia serigala itu terkejut. "Jangan bodoh! Kami kira bisa mengelabuhi kami, ha?! Jelas saja kamu ingin menikmati darahnya lagi bukan." Randai menggeleng. "Tidak, Lif. Sungguh. Aku pernah diajarkan ini sebelumnya. Oleh seseorang yang telah meninggalkanku." Alif menatap Lea bertanya apa keputusannya. Gadis itu mengangguk dengan air mata yang merembes. "Kita coba saja, Lif." Pria serigala itu mengembuskan napas kasar, dan mempersilahkan Randai untuk melakukannya. Kyra terus mengerang dengan kaki yang terus bergerak, menahan sakit di bagian tangannya yang begitu dahsyat. "Lea, bantu aku. Kamu bisa menenangkanku dulu. Aku harap hari ini juga." Lemah dan bergetar suara Randai. Antara menyesal dan menahan keinginan untuk segera mencecap manis darah Kyra. Lea mengangguk, dia berdiri dan berjalan mendekat. Kemudian duduk di sebelah Randai dan memegang pundak pria vampir itu. Perlahan ada ketenangan yang menjalari tubuhnya. Keturunan Klan Fairy memang bisa melakukannya, bahkan dirinya juga bisa berinteraksi dengan alam. Randai mulai melepaskan tangan Kyra yang memegang luka di tangannya. Dalam keadaan kesakitan seperti itu, Kyra masih sempat menatap Randai meski dengan mata terbuka lebar--nyaris tidak berkedip. Tangan gadis itu kaku. Perlahan Randai mulai menyesap kembali darah yang ada di sana, di tempat luka yang ia timbulkan tadi. Menyesap racun vampirnya yang menjalar di tubuh Kyra, yang bisa saja merubah gadis itu sama sepertinya, bahkan bisa berakibat kematian. Randai terus menyesap, menyaring darah itu dan hanya mengambil racun yang ia timbulkan. Napasnya kembali memburu, dia benar-benar ingin hanya mengambil darah Kyra saja. Tapi syukurlah, pegangan di pundaknya yang ditimbulkan oleh Lea berfungsi. Tangan gadis itu bahkan sampai mengeluarkan cahaya, karena fokus menenangkan Randai. "Cukup, Ran. Kyra sudah mulai tenang." Randai menatap Kyra yang sudah tidak mengerang dan banyak bergerak, gadis itu sudah bisa diam dengan mata berkedip lemah. Lea menarik Randai kuat. Syukurlah lelaki itu berhasil melepaskan gigitannya. Dia meludahkan darah yang dia tahan di mulutnya lalu menyeka bibirnya yang masih ada sisa darah, menatap sahabat-sahabatnya yang mengerubungi Kyra. "Bagaimana? tanya Randai pemasaran. Lea menggeleng pelan, dia juga belum tahu. "Ra? Kamu bisa mendengarku?" Lea mengusap pipi Kyra, gadis itu tidak bergerak sama sekali, bahkan berkedip pun tidak. Satu yang terlihat lebih baik, tubuhnya tidak kaku seperti tadi. "Kenapa dia tidak bergerak, Ran?" Randai menggeleng. "Aku tidak tahu. Sejauh tadi aku menyesapnya, aku tidak mengambil darahnya lagi, hanya menyaring sisaku yang ada di darahnya. Sudah tidak tersisa." "Lalu kenapa kondisinya seperti ini?" Lea mulai sesegukkan. "Aku tidak tahu, Lea. Sejauh ini, hanya Kyra yang bisa menahan selama itu. Jika manusia biasa lainnya mendapatkan gigitan dari Klanku, mereka bisa berubah seperti kami atau meninggal hanya dalam hitungan dua menit. Tapi Kyra masih bertahan padahal aku dan Alif sudah bertarung selama itu." Mereka kembali menatap Kyra. Dalam perjalanan mereka, baru kali ini Kyra seperti ini. Setidak sadar apa pun gadis itu, masih bernapas sebelumnya, tapi kali ini, tidak ada pergerakkan atau napas yang keluar dari tubuhnya. Kondisi inilah yang nantinya akan membawa Randai pada penyesalan yang teramat dalam dan dalam waktu yang lama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN