"Kita mau ke mana, Ran?" Sekali lagi Kyra bertanya, tapi tidak dijawab Randai sama sekali. Lelaki itu terus berlari semakin menjauh melakukan teleportasi.
Alif dan Lea terus mengejar dari belakang. Sialnya mereka kehilangan jejak.
"Ah sial! Ke mana Randai membawa Kyra?" Alif mengepalkan tangan dan meninjunya di udara. Matanya awas mengamati sekitar, sesekali dia mencoba mengendus untuk mencari bai mereka. Mencari di mana jejak mereka. Tapi Alif tidak menemukan apa pun. Randai terlanjur menjauh, dan mereka kehilangan jejak.
"Bagaimana ini, Lif? Lea ikut khawatir pada sahabatnya. Takut sesuatu terjadi pada Kyra.
Lelaki serigala itu meremas rambutnya kasar, dia mencoba kembali mengendus sekitar untuk mencari keberadaan Randai dan Kyra.
Sedangkan di tempat lain, Kyra masih belum menyadari apa yang terjadi dengan Randai. Pria itu tiba-tiba menyambarnya dan membawanya ke tempat ini. Entah di mana tempatnya. Tapi ini meleset jauh dari perjalanan mereka tadi. Tempat ini letaknya lebih tinggi, seperti perbukitan. Kyra dapat melihat sekitarnya dari jarak yang lumayan tinggi.
"Wow, ini keren, Ran. Bagus pemasangannya." Kyra membelakangi Randai, mencoba menikmati sekitar. Tapi untuk apa pria ini membawanya ke mari.
Tanpa disadari Kyra, deru napas Randai semakin cepat, antara bernapsu dengan aroma darahnya dan juga menahan gejolak dari dalam tubuhnya. Matanya sudah berubah semerah darah. Kukunya memanjang, tapi tidak terlalu panjang. Cukuplah mengoyak kulit dan membuatnya terluka.
Dari tadi pria itu terus saja meneguk ludah. Tiba-tiba saja rasa haus menyerangnya, kerongkongannya terasa kering, lalu tiba-tiba dia mencium aroma darah segar dari dalam tubuh sahabatnya. Matia-matian dia menahan dalam perjalanan. Mulai dari mendahului Alif, memanjat pohon, bahkan memakan buah yang dia sendiri tidak tahu apa nama buah itu. Tujuannya satu ... dia tidak ingin melukai dan lepas kendali. Tapi ... saat ada angin yang berhembus lumayan kencang, dan sebuah aroma menghampiri indra penciumannya, dia benar-benar tidak tahan.
"Ran, kenapa kamu tidak mengajak yang lain--"
Seketika tubuh Kyra terasa kaku di tempat. Dirinya langsung terpaku melihat perubahan randai di depannya. Lihat saja, pria itu menatapnya dengan napas memburu, matanya semerah darah terus menghujam ke arahnya, seperti memandang sesuatu yang luar biasa. Kyra tahu dirinya sedang berada dalam bahaya, perubahan Randai yang seperti itu mendandakan pria tersebut sedang berada dalam diri vampirnya yang kadang tidak bisa menahan diri.
Langkah kaki Kyra mundur perlahan, disusul dengan langkah kaki Randai juga setelahnya. Terus saja begitu hingga membangkitkan sisi ketakutan dalam diri Kyra. Kembali mengingat kejadian serupa di dunia manusia, kalau dulu dia bisa selamat berkat Lea dan Alif, tapi untuk kali ini ....
Tidak ada yang tahu.
"Ra ... Ran." Gadis itu terus mundur, Randai juga terus mengikuti. Tatapannya seperti predator yang hendak memangsa buruannya. Tiba-tiba saja pria itu terdiam, matanya terpejam erat dan tangannya mencengkram rambut. Randai seperti orang sakau. Dia seperti kecanduan narkoba, dan dalam kondisinya yang sekarang, dirinya harus mendapatkan apa yang dibutuhkan--hanya saja dia terus menahan.
"Ran, ka ... kamu tidak apa-apa?" Meski pun takut, tapi rasa khawatir juga ada. Kyra mencoba mendekat walau ragu.
"Jangan mendekat, Ra!"
Kyra tercengang. Kata-kata ini pernah diucapkan Randai dulu. Artinya lelaki itu sedang menahan diri.
Tubuh Randai jatuh terduduk dengan tangan yang terus membekap hidung. Tenggorokkannya benar-benar terasa kering. Belum pernah dia merasa haus yang seperti ini. Terakhir kali saat merasakannya saat dirinya mengonsumsi darah manusia. Sudah hampir tiga belas tahun silam berlalu. Itu artinya dirinya masih kecil.
"Lari, Ra. Lari yang jauh. Tinggalkan aku!"
"Tapi--"
"Aku bilang lari sebelum aku semakin lepas kendali! Temukan Alif dan Lea, Ra. Setelah itu tolong aku. Aku tidak bisa menahannya terlalu lama, Ra. Cepat!"
Kyra mengangguk, mengamati Randai sekali lagi baru kemudian berlari meninggalkan pria itu. Randai masih melihat kepergian Kyra, sebagian dirinya merasa tidak rela, seperti pemburu yang tidak rela melepaskan buruannya. Tapi akalnya masih berfungsi--yah, setidaknya untuk saat ini, karena dia masih memikirkan Kyra sebagai sahabatnya.
Hal itu tidak berlangsung lama ternyata. Bau anyir yang begitu manis langsung menyergap indra penciumannya lagi. Membuat napas Randai semakin memburu dari sebelumnya, giginya bergemeletuk, tenggorokannya panas. Kering sekali, dia tidak bisa lagi menahan rasa hausnya lebih lama lagi.
"Gadis bodoh! Ceroboh!"
Yah, meski akalnya bersaing dengan napsu, tapi umpatan yang keluar dari mulutnya tidak pernah absen.
Randai langsung berlari ke arah Kyra, dia tahu gadis itu sedang terluka. Tapi tujuannya tidak untuk menolong, melainkan menyesap sesuatu yang seharusnya dia lakukan sedari tadi.
Kyra meringis. Dia memegangi lengannya dan kakinya yang berdarah. Dirinya hendak berdiri, tapi tidak bisa. Kakinya nyeri dan sakit sekali. Tadi karena rasa panik dan takut, dia berlari dengan cepat hingga lupa memperhatikan sekitar. Alahasil dia tidak melihat ada batu seukuran bola sepak bola di depannya. Dirinya tersandung, jatuh lalu berguling beberapa kali menuruni bukit. Beruntung dirinya tidak tertusuk sesuatu. Ranting pohon misalnya. Tapi tetap saja, rumput hijau kecil yang tajam dan bebatuan kerikil di sekitarnya terasa sakit, memberi tubuhnya luka baru hingga berdarah.
Sekali lagi Kyra berdiri, tapi dia kesusahan. Kakinya sakit luar biasa, rasanya dia ingin menangis sekarang juga. Saat tangannya menyentuh kakinya, dia langsung terbelalak. Gawat, tulangnya patah, mungkin terbentur batu beberapa kali, apalagi cukup keras yang ia rasakan tadi.
Tidak ada pilihan lain, dia harus menyembuhkan diri. Meski ini membutuhkan waktu tidak sebentar, karena luka yang ditimbulkan juga tidak kecil.
Baru juga dia berkonsentrasi, pendengarannya menangkap sesuatu di sekitarnya. Konsentrasinya buyar, membuat tulang yang hendak menyambung itu kembali menjauh. Apa tadi dia salah dengar? Tidak ada siapa pun di sekitarnya. Lengang, mungkin itu suara binatang, atau hanya halusinasinya saja karena takut. Dia harus bergegas dan menemukan Alif juga Lea.
Tak!
Kyra menatap kerikil kecil yang jatuh tidak jauh dari kakinya. Kerikil ini jatuh dari atas sana. Pandangannya perlahan mendongak ke atas, mengamati apa yang terjadi. Dia langsung menahan napasnya melihat siapa yang ada di atas sana.
"Ran ... Randai." Antara takut dan rasa sakit yang mengerubungi dirinya. Kyra mencoba untuk tidak gentar.
"Kenapa belum pergi, Ra." Pria itu menyeringai. Benar-benar menakutkan. Kyra tidak pernah suka sisi Randai yang seperti ini. Masalah terberat saat diperjalanan mereka bukanlah melawan musuh dengan taruhan nyawa, tapi berhadapan dengan teman sendiri. Randai berada dalam diri yang tidak bisa ia kendalikan. Memang sudah kodratnya menyukai darah, itu makanannya, dan Kyra tidak bisa menyalahkan. Meski pun dia juga tidak rela mati seperti ini.
"Ran ...."
Pria vampir ini sudah berada di hadapannya, berjongkok sangat dekat. Mencium aroma darahnya yang begitu manis. Beberapakali jakunnya naik-turun, menandakan dia terus meneguk ludah.
"Aku tidak bisa menahan, Ra. Aku haus. Sekarat karena darahmu. Aku sudah memperingatimu untuk pergi. Tapi kamu malah mengumpankan dirimu sendiri. Maaf, Ra, aku tidak bisa menahan." Randai tersenyum lebar, seringai masih menghiasi wajahnya. Mengerikan.
Tangan Kyra yang berdarah dibawanya ke arah wajahnya. Membuat jantung gadis itu semakin berdetak lebih kencang. Mungkinkah riwayatnya akan tamat di depan sahabatnya? Di tempat ini?
Randai mulai menjilat darah yang terus menetes itu. Terdiam sebentar menatap ketakutan Kyra, lalu setelah itu bersiap untuk menghisapnya sampai habis.
***