Menahan

1058 Kata
Pagi harinya, saat mentari sudah mulai beranjak naik. Empat remaja itu sudah bersiap di depan kediaman Filo dan Kyra. Bersiap untuk pergi dan meneruskan perjalanan kembali. Waktu yang mereka tempuh masih panjang. "Kalian benar-benar pergi sekarang?" Pria paruh baya itu benar-benar seperti tidak rela melepas kepergian mereka secepat itu. Apalagi dirinya baru bertemu kemarin saja. "Kami tidak bisa terlalu lama di sini, Paman. Ada yang harus kami selesaikan setelah ini soalnya." Pria paruh baya itu tersenyum, lalu mendekat untuk menepuk bahu Alif. "Iya-iya. Pria tua ini akan mencoba memahami kalian. Aku tidak tahu perjalanan apa yang sedang kalian tempuh, tp semoga kalian berhasil. Aku sangat bersyukur kalian melewati tempat ini, kalau tidak ... aku tidak tahu apa sekarang masih hidup atau tidak." "Semua sudah takdir, Paman. Bahkan kehadiran kami di sini memang sudah digariskan. Aku yakin tidak ada yang kebetulan." Kyra tersenyum. "Tetap saja, Nak. Hal itu harus disyukuri." "Ayolah, Ayah. Mereka harus melanjutkan perjalanan, jangan Ayah ajak bicara terus dan membuat suasana jadi dramatis begini. Nanti mereka jadi menangis dan tidak jadi pergi." Filo mendekati sang ayah dan merangkul bahunya. "Mereka tidak akan begitu, Filo. Memangnya kamu, waktu kecil hampir setiap hari pasti menangis." "Hey, aku tidak begitu, Ayah." Filo melepaskan rangkulannya dan memicing sembari memberikan ekspresi jenaka. Berpura-pura seolah tidak terima. "Yah ... kamu memang tidak pernah ingat." Kedua lelaki itu tertawa, kemudian langsung menatap empat remaja tersebut yang tersenyum melihat kedekatan mereka. "Baiklah. Kalian harus pergi. Sebelum matahari semakin naik. Aku do'akan perjalanan kalian berhasil sampai akhir." "Terima kasih, Paman. Kami pamit dulu." Kyra mengangguk sopan, izin untuk berpamitan Pria paruh baya itu mengangguk. "Filo, Sofi, kami pamit." Lea ikut menambahi. "Iya, hati-hati di jalan. Kalau ingin mampir di perkampungan ini silahkan. Jangan sungkan." Mereka mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan kediaman keluarga Filo. Beruntung sekali mereka saat tiba di sini bertemu saudara kembar itu lebih dulu. Selama melangkah menyusuri jalan untuk meninggalkan perkampungan--mereka selalu disapa penduduk. Mengatakan hati-hati, terima kasih, dan mendo'akan keberhasilan mereka. Empat remaja itu hanya membalas senyum dan menundukkan kepala sedikit. Menjadi lebih bersemangat lagi kali ini. Memang benar, perbuatan baik akan membawa kita dalam kebaikan pula. Mereka puas untuk kali ini. *** Perlahan, perkampungan yang mereka tinggalkan mulai menghilang dari jauh. Tadi saat mereka mulai berjalan menjauh, Randai mempunyai ide untuk teleportasi saja, tujuannya untuk menghemat waktu. Lagi pula, di tempat itu sepertinya tidak ada pusaka yang tersimpan. Mereka sangat yakin itu. Setelah perkampungan di belakang mereka sudah tidak terlihat, mereka kembali berjalan seperti biasa. Randai memanjat pohon, mengambil sesuatu dari sana, gerak tubuhnya yang cepat membuat dirinya seperti terbang. "Jangan sembarang mengambil, Ran." "Ini hutan, Le. Tidak berpemilik. Lagi pula kamu tidak ingin? Lihat, segar sekali buahnya." Randai menggigit buah tersebut. Warnanya sangat cantik. Merah seperti darah, tapi berbentuk seperti buah jeruk. Ajaibnya, daging di dalamnya seperti apel. "Kulitnya tidak pahit?" Kyra bergidik melihat kulit buah tersebut, persis seperti jeruk, dia berpikir rasanya akan sangat pahit. Randai hanya mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, agak manis, tapi hambar." "Kamu bisa makan buah? Maksudku, bukannya kamu hanya mengonsumsi darah." Lea melihat Randai dengan heran. "Yah ... sebenarnya setelah melakukan perjalanan ini, aku merasa tertarik dengan hal lain. Ingin mencoba sesuatu selain darah. Rasanya tidak buruk ternyata." Randai melemparkan buah itu ke arah Alif dan ditangkap sigap. Ikut menggigit bagian lain yang tidak ada gigitan Randai. "Randai benar. Ini manis, tapi tidak hambar sama sekali. Mungkin lidahnya bermasalah." "Hey! Enak saja!" Randai tidak terima dan merebut kembali buah tersebut. "Mereka memang suka cari masalah. Lihat, memangnya tidak takut kalau buah itu beracun." Kyra menatap bergidik ke arah dua pemuda itu. "Mereka lebih kebal, Ra. Tidak mudah keracunan. Tapi lebih baik kita tidak usah makan. Jaga-jaga saja." Kyra mengangguk dan terus berjalan. Mengiringi langkah kaki Lea terus semakin menjauh. Perjalanan kali ini terlihat lebih jauh dari sebelumnya. Bahkan hari sudah semakin sore. Ada yang aneh sebenarnya dari tingkah salah satu teman pria mereka. Randai dari tadi terus menghirup napas dalam, terlihat seperti menikmati, tapi kemudian menutup hidungnya dengan alis berkerut. Kadang berlari lebih jauh dari mereka dan nangkring di atas pohon. Sesekali bahkan pandangannya melihat ke arah Kyra dengan tajam, jika ketahuan lelaki itu akan menghindar, mengalihkan pandangan. Beberapa kali juga Kyra menemukan Randai menggeleng keras. Seperti berpikir sesuatu tapi tidak ingin itu terjadi. Ada apa sebenarnya dengan pria itu. Apakah itu efek buah yang dia makan? Apa buah itu beracun? Tapi saat melihat ke arah Alif, pria itu baik-baik saja. Masih terlihat dingin seperti biasanya. Apa mungkin karena Randai yang memakan terlalu banyak. "Randai, kamu baik-baik saja?" Kyra menatap Randai khawatir. Pria itu mengangguk pelan dan tersenyum. "Baik, Ra. Kamu tenang saja." Pria vampir itu tertawa. "Ada apa, Ra?" Lea juga ikut penasaran dengan perkataan Kyra tadi, tapi dibalas gelengan oleh gadis itu. mereka akhirnya terus melakukan perjalanan. "Kalian mau istirahat setelah matahari tenggelam atau nanti dulu?" Tiga temannya mengamati sekitar. Sepertinya mereka masih bisa berjalan lebih jauh lagi. "Mungkin nanti dulu, Lif. Ini terlalu cepat nanti. Soalnya tadi kita juga melakukan teleportasi bukan." Alif mengangguk, baiklah, dia sepakat dengan pendapat teman-temannya. Randai berjalan lebih dulu di depan mereka. Mendahului Alif. Pria serigala itu tidak masalah, itu bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan. Tiba-tiba saja ada angin yang berhembus lumayan kencang, membuat beberapa rambut ikut terbang ke sana-kemari. Kyra yang tadi mengurai rambutnya juga ikut tersibak. Gadis itu memang disarankan untuk terus menguraikan rambut selama perjalanan mereka. Jaga-jaga saja dari Klan lain yang mengincarnya. Randai menggeram di depan sana. Matanya terpejam erat, menahan napasnya, tapi rasa manisnya tidak bisa ia hindari. Lama kelamaan dia kalah, dan membiarkan indra penciumannya mengirup keras. Dirinya bahkan sempat berhenti berjalan. "Kenapa, Ran? Kamu capek?" Alif menepuk pundaknya saat melewati Randai. Pria itu hanya menggeleng saja, membuat Alif terus berjalan. Tidak merasa curiga. Tidak lama setelah itu, tubuh Randai berbalik, dia berlari cepat dan menyambar lengan Kyra, membawanya lari menjauh. "Mau keama, Ran?" Kyra kaget karena tarikan yang tiba-tiba, apalagi Randai juga langsung mengangkat tubuhnya, dan dibawa lari menjauh dari teman-temannya. "Apa yang dilakukan Randai?" Alif langsung berbalik mendengar perkataan Lea. Matanya langsung terbelalak saat dirinya menyadari sesuatu. "Gawat, Randai ingin memangsa Kyra. Kemarin dia mengonsumsi darah terlalu banyak. Itu gawat, Le. Dia bisa saja kesusahan mengendalikan diri." "Apa?!" Lea terbelalak. "Kejar dia sebelum terlambat!" Lea mengangguk, mereka akhirnya berlari mengejar Randai yang membawa Kyra. Pantas saja dari tadi pria vampir itu seperti menahan sesuatu. Ternyata ini sebabnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN