Perkampungan yang Kembali Damai

1063 Kata
Mereka akhirnya memilih bermalam kembali sebelum meneruskan perjalanan. Kondisi tubuh yang masih lelah, dan hari sudah beranjak siang, membuat mereka sepakat untuk menginap kembali malam itu. Toh kalau pun mereka tetap memaksa, yang ada baru sebentar melakukan perjalanan hari akan berganti gelap. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berempat mendapatkan ucapan terima kasih dan begitu banyak perhatian dari orang sekampung. Satu persatu dari penduduk mendatangi rumah Filo dan Sofi, berterima kasih sekaligus ingin berpamitan sebelum empat remaja itu pergi. Mereka juga mengadakan pesta kecil-kecilan untuk melepaskan mereka. Bagaimana pun, kampung tersebut sudah kembali normal berkat empat remaja berbeda Klan itu. "Penduduk di sini benar-benar banyak. Pantas saja kau bisa pingsan setelah menyembuhkan Alif, Ra." Kyra tersenyum membalas Randai. Pria itu dari tadi mengeluh kesal karena harus memasang wajah senyum terus menerus. Mengeluhkan bibirnya kebas karena terus ditarik. "Tapi aku tidak menyesal." Randai mengangguk. Dia mulai duduk tidak nyaman melihat pesta. Pasalnya sudah banyak yang mendatangi mereka. Ia pikir setelah pesta dimulai tidak ada lagi yang menyapa mereka, tapi nyatanya masih saja ada yang datang. "Hal yang aku sesalkan adalah ... kenapa tadi kita tidak meneruskan perjalanan saja. Kalau seperti ini, sama saja kita tidak beristirahat, Ra." Randai benar-benar mengeluh, bahkan sekarang terang-terangan menunjukkan wajah cemberutnya. "Sabar, Randai." Lea menyemangati. "Aku bahkan sudah sabar dari mulai matahari tenggelam tadi, Le." Jeda sejenak, sampai ada pemuda lebih tua sedikit dari mereka menghampiri. "Terima kasih sudah membantu kami. Tanpa kalian belum tentu kami masih hidup. Semoga setelah ini perjalanan kalian diperlancar." Kyra dan yang lain sontak mengangguk bersamaan disertai senyum merekah dari bibir. Kecuali Randai yang masih setia dengan wajah kesalnya. Kalau temannya ada yang menegur, dia akan bilang. "Bibirku lelah ditarik. Untuk saat ini, gaya ramah terbaikku memang seperti ini." Yah, tidak ada yang bisa membantah Randai kalau lelaki itu sudah final memberi keputusan. "Kalian kalau lelah istirahat saja. Biar aku yang memberi tahu penduduk." Empat remaja itu mengangguk, mereka akhirnya beranjak dari teras rumah, meninggalkan keramaian di belakang mereka. Filo dan Sofi masih ada di luar, merayakan kebahagiaan mereka. Sedangkan pria paruh baya yang menjadi ayah dari Filo dan Sofi tersebut, menemani tamunya berada di dalam. Randai menuju kamar, dia langsung merebahkan badannya di sana. Membuat tiga temannya geleng-geleng kepala. Memalukan. Mungkin begitu batin mereka. "Maafkan teman kami, Paman. Dia memang sedikit berbeda." Kyra nyengir lebar. Tidak tahu lagi harus bicara apa mengenai kelakuan Randai. "Tidak apa-apa, aku bisa mengerti." Pria itu tertawa pelan dan duduk di kursi. Setelah itu disusul juga dengan tiga remaja lainnya. Mereka berbincang, ini lebih baik daripada harus di luar terlalu lama. "Ayah, ada yang memanggil." Filo tiba-tiba masuk ke dalam. Memutus perbincangan mereka. Ayahnya juga langsung mengangguk, setelah itu beranjak pergi ke luar. "Kalian tidak tidur?" "Belum mengantuk." Alif menanggapi. "Tapi kami terlalu lelah menerima banyak ucapan terima kasih--yah ... memang itu hal baik. Tapi dengan penduduk sebanyak itu? Tangan kami kebas rasanya. Maaf, Filo. Kami tidak bisa terlalu lama di luar mengikuti pesta." Filo mengangguk mengerti. Tidak masalah dengan ucapan Lea. "Filo, boleh aku bertanya?" Kali ini Kyra yang mengajukan, dia penasaran tentang sesuatu dari kemarin. Laki-laki sebagai ayah dua saudara kembar itu belum menjelaskan semuanya. "Tentu. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Kyra mengembuskan napas. Tidak tahu pertanyaannya ini penting atau tidak. "Kamu kemarin bilang, kalau kalian--maksudku kamu dan Sofi selalu tertidur setelah makan jamur itu. Tapi kenapa kami tidak? Seharusnya kami juga mengalami hal serupa sepertimu." Filo terdiam, dia sendiri juga tidak tahu kenapa itu tidak berefek dengan empat itu. "Karena Luna telah membentengi kita setelah keluar dari sana." Semua mata tertuju pada Alif. Lelaki itu berkata dengan begitu santai. "Luna?" "Bagaimana caranya." "Kalian tahu sesuatu yang kalian makan sebelum masuk ke dalam air?" Lea dan Kyra mengangguk kompak. "Benda itu juga ternyata sebagai penawar, aku pernah membicarakannya lada Luna. Sebelum kita benar-benar pergi. Aku sempat menanyakannya. Apakah itu akan berefek kembali saat kita masuk ke dalam air. Tapi dia bilang tidak. Tapi benda itu akan berefek baik beberapa hari. Seperti menghalau racun atau hal lain yang mungkin sudah dicampurkan pada jamur yang biasa dimakan Filo dan Sofi, makanya tidak berpengaruh." Dua gadis remaja itu mengangguk. Pantas saja mereka baik-baik saja. Ibarat dikasih obat tidur, mereka tidak terkena efeknya. "Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Tapi mendengarnya membuatku senang. Akibat hal tersebut kami semua terselamatkan." Filo tersenyum dan diangguki yang lain. Setelah itu dia pamit untuk pergi dan bergabung dengan yang lain. "Kalian istirahat saja kalau begitu. Aku tinggal ya." Lagi-lagi tiga remaja itu mengangguk dibarengi senyuman, kecuali Alif. Lelaki itu susah sekali tersenyum, bahkan saat tadi di depan. Hanya sesekali saja terbit. Dan itu tipis sekali. "Ngomong-ngomong, semua aman kan, Lif? Termasuk benda itu?" Alif memgangguk, melenturkan wajah tegang Kyra. "Kamu jangan khawatir, Ra. Semua baik-baik saja dan aman. Yah ... untuk saat ini memang begitu." "Jangan bicara begitu. Kita mendapatkan benda itu dengan nyawa, mempertahankannya juga dengan nyawa. Jadi jangan sembarang bicara." Lea memprotes. Tidak terlalu suka dengan pembicaraan Alif. "Kita tidak tahu apa yang terjadi selama perjalanan nanti. Hanya menebak saja. Tapi aku harap memang tidak ada apa-apa." Lea mengembuskan napas berat. Masih ada tiga benda lagi yang harus mereka temukan, tapi mereka tidak tahu di mana tempatnya. Cahaya kuning keemasan seperti yang ditunjukkan di tempat Luna tidak ia dapatkan di perkampungan ini. Lalu di mana benda itu? Di sini mereka malah hampir kehilangan. "Jadi, orang-orang kemarin itu menunggu kedatangan kita, Lif?" Alif kembali mengangguk. "Benar, Ra. Mereka mengincar apa yang kita bawa. Menunggu selama bertahun-tahun. Aku juga tidak tahu mereka dapat informasi dari siapa. Tapi sepertinya mereka sudah menyiapkan dengan matang selama bertahun-tahun lamanya. Yah ... meski pun berakhir tragis juga." Alif menepuk pahanya dan mulai beranjak. "Aku mau menamani Randai. Tubuhku juga butuh istirahat. Kalau kalian masih mau mengobrol, silahkan saja." Lelaki itu lalu berjalan meninggalkan dua sahabat wanitanya. Menuju ruangan yang tadi dimasuki Randai. "Bagaimana, Ra? Mau ngobrol atau istirahat?" Lea mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum menawarkan. "Tentu saja istirahat. Aku sudah mengantuk." Kyra tertawa pelan. Lalu mengamit lengan Lea dan menuju tempat istirahat mereka. Malam ini, keempat remaja itu bisa tidur lebih nyenyak lagi. Berusaha memulihkan kondisinya. Tapi besok pagi ... saat mentari sudah memunculkan diri, mereka harus meninggalkan kedamaian di perkampungan ini. Kedamaian yang telah mereka datangkan dan tinggalkan secara bersamaan. Mereka harus tetap melanjutkan perjalanan. Tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Perjalanan kali ini bahkan lebih berat dari sebelumnya. Lebih besar lagi tantangan yang harus mereka hadapi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN