Kilas Balik 3

1546 Kata
"Ra?" Sapaan itu sukses membuat gadis yang baru beberapa saat membuka matanya itu menoleh ke arah sumber suara. Menatap seseorang yang begitu berbinar menatap ke arahnya. "Lea?" gumamnya, menahan kepalanya yang pening. Matanya terasa berat hendak terpejam, tapi keadaan membuatnya harus segera bangun. Posisinya saat itu masih dengan keadaan tiduran dengan kepala menoleh ke kanan menatap Lea. Lea berjalan cepat mendekati Kyra. Gadis itu membantu Kyra untuk duduk tegak. Badannya benar-benar masih lemas. "Kamu tidak apa-apa?" Kyra menggeleng sambil tersenyum. Tubuhnya memang masih lemas seperti seseorang yang belum makan, tetapi sejauh ini dia baik-baik saja. "Aku lemas, Le." "Mau makan?" Kyra mengangguk. "Boleh. Roti pemberian Paman Canuto saja ya, roti itu ajaib. Bisa membuat kenyang lebih cepat. Lea mengangguk, dia hendak beranjak, tapi urung karena kedua sahabat lelakinya ikut mendekat. Salah satu di antara mereka menyerahkan tas Kyra yang berisi perbekalan. "Terima kasih, Lif." Lelaki itu mengangguk. Dia mengamati Kyra yang mulai memakan makanannya dengan tangan terlipat di depan d**a. "Kalian jangan melihatku seperti itu. Risih tau." Kyra mencebik, membuat dua lelaki itu berdecak. Setelah memakan perbekalannya beberapa suap. 1a menata tempat duduknya dan menatap sahabat-sahabatnya. "Ada apa?" Mereka menggeleng. Alif ikut duduk di tepi ranjang. "Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?" Kyra mengangguk. Dia sudah bugar dan lebih sehat dari sebelumnya. "Syukurlah. Aku sempat khawatir tadi. Sekaligus kesal." "Kenapa?" "Tentu saja karena kamu keras kepala. Siapa yang menyuruhmu untuk mengobati lukaku? Lihat! Kamu terbaring dan merepotkan kami." Mendengar itu Kyra menunduk lesu. Dia jadi merasa bersalah karena telah merepotkan. Tapi kan dia tidak minta untuk pingsan. Lagipula itu untuk kebaikan sang sahabat. Dia tidak ingin Alif semakin merasa kesakitan dan bisa mengganggu aktivitasnya. Lea yang geram langsung menyikut Alif keras. Beruntung posisinya lebih dekat. Jadi penyiksaan yang ia lakukan bisa semakin kuat. Terbukti Alif sempat meringis tadi. "Dasar tidak tahu terima kasih. Seharusnya kamu mengucapkan kata itu kek, atau membantu Kyra sedikit. Bukan malah memojokkannya. Suami macam apa kamu ini." Alif mendelik, dia benar-benar kurang nyaman dengan panggilan barunya itu. Apa tadi katanya? Suami? Usianya sekarang bahkan masih muda. Dua puluh tahun, hendak menginjak 21. Tapi karena kejadian sialan waktu itu membuatnya harus rela mendengar kata suami dari sahabatnya. Meski kata itu terdengar seperti olokan kalau bersumber dari Lea dan Randai. "Aku bukannya tidak tahu terima kasih. Hanya kesal saja, kenapa Kyra memaksakan diri sedangkan dia saja kelelahan. Kalian lihat sendiri kan, akibatnya. Dia pingsan." "Memang benar, tapi harusnya tunjukkan sedikit rasa terima kasihmu itu. Ck." Alif mengembuskan napas lelah. "Aku hanya khawatir. Dia belum pernah seperti ini, dan kamu tidak tahu kapan dia sadar. Awalnya aku menolak dia untuk menyembuhkanku karena aku menebak dia akan pingsan setelah kelelahan. Seperti halnya manusia lainnya. Tapi karena Kyra memaksa dan mengingat dia juga punya sesuatu yang spesial, aku jadi berpikir lain. Tapi nyatanya tetap saja salah, pemikiran pertamaku yang benar, dia kelelahan dan akhirnya pingsan. Aku hanya khawatir." Alif mengatakan panjang lebar begitu dengan muka yang begitu datar. Ah, Klan Lycanthrope ini tidak bisa mengekspresikan banyak ekspresi apa bagaimana? "Maaf, Lif. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Kyra tersenyum, membuat Lea menganga mendengarnya. Kenapa jadi terbalik seperti ini. "Jangan membuatku jadi pecundang, Ra. Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih, Ra." Gadis itu mengangguk dan tersenyum lalu menatap Randai yang dari tadi hanya diam saja. "Kamu tidak ingin bicara, Ran?" Randai menggeleng sambil mencebikkan bibirnya. "Tidak berminat." "Baiklah, karena kamu sudah semakin membaik, kita ke ruangan sebelah. Mendengarkan cerita dadi ayah Filo dan Sofi. Beliau belum menyelesaikannya." Mereka mengangguk selain Kyra. Gadis itu bingung, tidak mengerti cerita apa yang dimaksud. "Jangan menampilkan wajah seperti itu, Ra. Ikuti saja kami, maka kamu akan tahu nanti." Gadis itu mengangguk dan mulai menurunkan kakinya, tiga teman lainnya sudah berdiri, tetapi Lea sigap membantunya. Bahkan dengan senyum merekah dia menggandeng Kyra untuk berjalan menuju ruangan sebelah. Di sana mereka sudah disambut dengan keluarga kecil yang beranggotakan tiga orang tengah melempar senyum ke arah mereka. Sofi beranjak dan mendekati. Dia ikut membantu Kyra. Gadis itu jadi tersenyum tidak enak. Sejujurnya dia merasa lebih baik. Tapi karena Lea menggandeng lengannya dirinya jadi merasa seperti orang sakit. Mereka duduk di kursi mengambang tadi, begitu pun dengan Kyra. Gadis itu mencoba untuk menyamankan duduknya karena belum terbiasa dengan hal ini. Takut tiba-tiba kursi ini jatuh dan dia terjengkang. Rasanya dia seperti menaiki ayunan. Hanya saja tidak ada penopang dan tidak banyak bergoyang. "Kapan kamu bangun, Nak?" "Eh?" Kyra agak terkejut karena dia masih membenarkan posisi, beruntung dia bisa menormalkannya kembali. "Tidak lama, Paman. Tapi agak terkejut juga waktu tidak ada mereka. Aku pikir mereka meninggalkanku." Kyra nyengir, sedikit tersenyum setelahnya. "Syukurlah mereka segera datang ke sana. Firasatku mengatakan kamu tidak lama lagi akan bangun. Dan ternyata memang tidak meleset." Pria paruh baya itu terkekeh pelan. "Paman sudah membaik?" Kyra menatap pria itu dengan sedikit khawatir. Pertanyaannya juga langsung diangguki. "Berkat dirimu aku selamat dari kematian. Terima kasih, Nak." Kyra mengangguk. Itu bukan perkara besar. "Ngomong-ngomong, tadi katanya Paman mau cerita. Cerita tentang apa Paman? Aku sangat penasaran." "Ah iya. Akan aku lanjutkan. Potongan cerita sebelumnya yang belum kamu dengar, kamu tanya saja ke temanmu. Jika mereka mendengar lagi. Bisa bosan nanti." Pria paruh baya itu kembali terkekeh. "Sampai di mana ceritaku tadi?" Pria itu mencoba mengingat. "Tentang keturunan murni." Randai mengingatkan. Dia benar-benar penasaran dengan jalan cerita ini. Makanya dia sangat mengingatnya. " Ah iya. Tapi sudah kuceritakan, kita lanjutkan yang lain. Baiklah, jadi setelah aku disekap, aku sangat mengkawatirkan Filo dan Sofi, siapa yang akan merawat mereka, sedangkan mereka saja masih kecil. Tapi saat melihat sekitar, ternyata banyak anak kecil juga. Aku berpikir Filo dan Sofi juga akan disandra di sini. Tapi satu bulan berlalu, mereka tidak lagi mengambil orang atau menyandra orang baru. Sepertinya aku yang terakhir. Kekhawatiranku semakin besar, bagaiman jika terjadi sesuatu sama mereka? Siapa yang akan memberi makan? Tetapi kekhawatiranku itu akhirnya terjawab saat salah satu di antara mereka menghampiriku dan mengatakan kedua anakku baik-baik saja dalam pengawasan mereka. Aku kira itu berita yang sudah cukup melegakan di tengah kondisi kami yang mengenaskan, aku kira kami hanya dikurung saja, tapi ternyata satu persatu bagian dari kami dimusnahkan. Setiap bulan mereka mengadakan perayaan, dan setiap dua bulan atau lebih mereka mengambil dari kami untuk dibunuh diperayaan itu." Pria paruh baya itu terdiam. Dia menunduk mengingat kejadian mengerikan waktu itu. "Bagaimana Paman tahu kalau mereka mengambil salah satu dari kalian untuk dibunuh?" "Tentu saja tahu, setiap kali mereka kembali ke tempat kami disekap. Mereka selalu tertawa dan bangga menceritakan kejadian pembunuhan itu. Mengibas-ngibaskan sisa pakaian yang tersisa dari si korban." Kyra bergidik. Itu pembunuhan yang sangat mengerikan. Orang-orang semalam benar-benar gila memang. "Sebentar, bukannya perayaan dan pembunuhan itu dilakukan setiap bulan. Sepertinya kemarin aku mendengar itu." Alif bertanya heran. "Bukan, kami dibawa saat kondisi kami benar-benar lemah, agar waktu eksekusi tidak banyak melawan. Dulu bahkan enam bulan sekali, salah satu dari kami dibawa, tapi dengan bertambahnya tahun, enam bulan itu terpangkas juga. Apalagi dalam waktu yang dekat-dekat ini, hampir setiap bulan dari kami dibawa untuk dibunuh. Jumlah kami sangat banyak memang. Lebih banyak orang dewasa yang dibunuh daripada anak-anak, karena mereka akan menyisihkan makanan dan minuman untuk anak-anak. Memberikan mereka kekuatan agar tidak lemah. Selama lima belas tahun itu kami terkurung dan terakhir malam naas itu tiba giliranku. Aku sangat beruntung bisa bertahan selama itu dan bertemu kalian sebagai penolong. Kalau tidak ... mungkin nyawaku sudah melayang." Sofi memeluk ayahnya, sedangkan Filo mengusap punggung pria paruh baya itu. Cerita yang sangat pilu. "Lalu bagaimana Filo bisa mengenali, Paman? Sedangkan dia saja masih kecil saat pan tinggal." "Dengan lukisan. Ayah pernah melukis wajah keluarga kami di kulit binatang. Beliau meninggalkannya di tempat baju. Terselip. Lukisan itu aku temukan lima tahun yang lalu. Ada tulisan di setiap wajah kami. Maka dari itu aku bisa mengenali wajahnya." Empat remaja itu mengangguk. Penjelasan Filo masuk akal. "Untuk apa kedatangan mereka ke sini, Paman?" Kyra bertanya heran. Dia belum terlalu paham dengan cerita ini. Maklum, hanya setengah yang didengarnya. "Untuk mengambil sesuatu yang berharga entah apa itu. Mereka selalu membicarakan hal itu di tempat penyekapan. Sepertinya benda itu ada di kalian. Terakhir kali aku mendengarnya, mereka bilang waktunya sudah tiba, dan mereka akan memusnahkan kami semua malam berikutnya. Termasuk Filo dan Sofi. Benda apa yang kalian bawa?" Empat remaja itu saling pandang. Haruskah mereka mengatakan. "Tidak apa jika tidak ingin mengatakan. Aku tahu itu benda yang sangat penting. Jagalah benda itu jika memang untuk suatu kepentingan kebaikan. Jangan sampai jatuh di tangan yang salah." Lea, Randai, Kyra dan Alif memgangguk bersamaan. "Terima kasih, Paman. Maaf kami tidak bisa memberi tahu." Pria itu terkekeh. "Itu bukan masalah. Bukan urusanku memang. Aku bahkan sangat berterima kasih karena kalian telah membantu di sini. Ngomong-ngomong, kalian akan melanjutkan perjalanan?" Mereka mengangguk. "Kami harus cepat menyelesaikan ini. Restui kami, Paman." Kyra tersenyum hangat. Pria itu juga membalas. "Tentu saja. Aku do'akan kalian berhasil nanti. Semoga selamat sampai tujuan. Jika ingin beristirahat beberapa hari, kami juga tidak keberatan." Empat remaja berbeda klan itu mengangguk dan berterima kasih. Tawaran itu memang sangat menggiurkan, apalagi melihat mereka yang sedikit kelelahan dan kondisi perkampungan yang sudah membaik. Tentu saja suasananya akan berbeda. Tapi mereka tidak bisa melakukan itu. Mereka harus bergerak cepat menyelesaikan misi. Zek dan Canuto sudah menanti mereka. Kedua orang paruh baya itu sangat mengandalkan mereka untuk dimintai tolong. Semoga saja mereka bisa mengembalikan kedamaian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN