Kilas Balik 2

1146 Kata
Tiga remaja itu langsung mengambil posisi nyaman, mencoba mendengarkan cerita dengan seksama. "Dua puluh tahun silam, saat perang besar itu terjadi, kampung ini juga terkena imbas. Beberapa warga kampung bahkan ada juga yang tewas karena ikut mempertahankan pusaka itu pada yang seharusnya. Hal itu mengakibatkan pemimpin Klan Lucifer marah besar dan memporak-porandakan perkampungan ini dengan bala tentaranya. Untung saja hal itu tidak berlangsung lama, setelah pemimpin mereka dinyatakan tidak berhasil mendapatkan pusaka sakti itu. Satu persatu dari mereka mulai pergi. Dan kampung ini damai seperti dulu lagi, meski itu juga memerlukan waktu yang lumayan untuk mengembalikan kedamaian, mengembalikan kerusakan akibat perang, dan menjadi obat satu sama lain untuk menghilangkan ketakutan. Kami hidup damai kembali, kurang lebih dua, tiga tahunan--sampai suatu ketika bencana kembali melanda. Satu persatu, penduduk di desa kami hilang. Kami sudah mencari, tapi tidak pernah menemukan. Akhirnya kami menyatakan mereka meninggal, mungkin tersesat di dalam hutan dan tewas." Pria paruh baya ini membenarkan posisi duduknya. Menghela napas perlahan. "Memangnya kalian tidak pernah keliling. Maksudku mencari tahu penyebabnya atau melarang penduduk bepergian dulu untuk beberapa waktu ke depan." "Sudah, hal itu tentu saja sudah dilakukan. Tapi tidak ada hasil. Kejadian itu terus berulang, akhirnya kami memutuskan untuk tidak keluar sementara waktu, melakukan kegiatan di dalam rumah dan makan-minum juga. Kami kira hal itu sangat efektif, ternyata malah semakin buruk. Tanpa aku sadari, penduduk di sini malah banyak yang hilang dan digantikan seseorang--" "Maksudmu?" Lea langsung menyenggol Randai. Selalu tidak sopan dan memotong pembicaraan orang. "Maaf, Paman." Randai nyengir dan menggaruk tengkuknya. "Tidak apa-apa, itu tandanya ceritaku berhasil, membuat kalian sangat antusias dengan kelanjutannya--baiklah, sampai di mana kita tadi? Ah iya, digantikan orang baru. Jadi begini ... selama tidak ada yang keluar rumah, maka tidak ada yang tahu kalau penduduk banyak yang hilang. Satu rumah diculik bersamaan. Mereka digantikan orang baru, aktivitas masih berjalan, jadi itulah kenapa kami masih berpikir positif. Karena merasa kondisi sudah aman, alias tidak ada kabar tantang hilangnya penduduk, aku mencoba untuk ke luar rumah, dan betapa terkejutnya saat melihat beberapa orang berlalu lalang membawa teko kecil dengan tudung hitam di kepala mereka, jumlah mereka tidak banyak, hanya beberapa." Lelaki paruh baya itu terdiam sebentar. "Paman tidak curiga?" Ayahnya Filo mengangguk. "Tentu saja curiga, tapi karena salah satu di antara yang lain mau menyapaku, kecurigaan itu tidak lagi. Di sini memang dikenal ramah, tapi penduduknya banyak sekali, beberapa ada yang tidak kukenali suaranya. Dia menyapaku dan memberi tahu hal itu sangat efektif, tidak ada lagi orang-orang hilang, katanya si penculik takut dengan apa yang mereka bawa. Aku sebenarnya tidak percaya dengan hal mustahil itu, tapi beberapa hari tidak mendengar kabar orang hilang. Akhirnya aku percaya. Ditambah lagi, orang-orang tersebut juga memasuki rumah penduduk dan beraktivitas seperti biasanya, meski tidak sepadat dulu. Sebulan setelahnya, karena tidak ada lagi kabar tentang orang-orang yang menghilang, aku merasa lega, dan mencoba mengikuti arahan dari penduduk. Tidak keluar terlalu jauh, berhati-hati, dan pastinya membawa tudung bersama teko kecil itu. Beberapa hari hal itu memang berjalan efektif. Penduduk di sini kembali damai. Aku sangat merasa lega, apalagi saat itu Filo dan Sofi masih kecil, tidak adanya kabar orang menghilang tentu membuat kekhawatiranku tidak sebesar dulu." Pria paruh baya itu memandang putra-putrinya sejenak. Menatap sedih dua saudara kembar yang tidak identik itu. "Awalnya aku berpikir begitu. Tidak tahu kalau ternyata itu awal bencana yang sebenarnya." Randai mengerutkan alis, begitu pun dengan Lea. Berbeda dengan Alif yang sedari tadi hanya memperhatikan dengan serius. "Saat aku ke hutan untuk mencari jamur cahaya, aku tidak tahu ada seseorang yang membuntutiku dari belakang, mereka mengincarku, dan tanpa sadar aku dibekap dan diculik. Semua berjumlah tiga orang ... yah, seingatku mereka ada tiga. Kekuatan mereka begitu kuat. Perlawanku tidak berarti, dan pada akhirnya, aku disekap dengan orang lainnya." "Orang lainnya? Itu berarti tidak hanya paman yang disekap? Bukannya semua sudah berjalan normal?" Pria paruh baya itu mengangguk. "Berjalan normal untuk mengelabuhi. Aku sudah bilang kan, kalau itu awal bencana dari semua ini. Seperti ceritaku tadi, penduduk di sini telah digantikan orang yang berbeda, mereka menculik dan menggantikan dengan orang baru untuk tujuan tertentu. Kami dikurung di dalam gua, yang telah disihir. Kekuatan kami dibekukan, sehingga tidak bisa melakukan apa pun." "Kalian punya kekuatan?" Alif sangat terkejut dengan hal itu. Pasalnya, selama di sini, dia tidak melihat suatu keajaiban dari Filo dan Sofi--yah, kecuali beberapa benda yang mengambang. "Kami punya. Tidak begitu hebat dengan klan lainnya, kekuatan kami hanya bisa membuat benda-benda mengambang. Kami ini berasal dari keturunan klan campuran. Persilangan antar klan berbeda, kekuatan kami lemah dengan hal itu. Maka dari itu kami mengasingkan diri dari kota. Membangun kampung ini bersama yang lain. Kami tidak terlalu disukai oleh mereka yang kuat. Lebih banyak lagi dari Klan Lucifer. Hening sejenak. Alif menatap pria itu dan menghela napas. "Kalian lemah, tapi kenapa harus diserang. Maksudku, kalau kalian dianggap lemah, harusnya tidak perlu memusuhi. Bukankah itu lebih baik, dan akan membuat mereka tidak merasa di saingi." Lelaki yang sedari tadi bercerita itu menggeleng. "Kami lemah, tapi dari keturunan kami akan lahir pengendali terbaik dari pusaka sakti. Tidak semua, dan tidak setiap tahun ada. Hal itu langka, tapi sekali kejadian, pemberontak akan kalah. Pusaka itu nantinya akan menjadi sangat hebat kalau dipegang sang pengendali. Itulah mengapa mereka memusuhi kami dan ingin melenyapkan." "Mereka dari Klan Lucifer?" Lea mencoba menebak, dan pertanyaannya diangguki, itu tandanya benar. "Jadi, si pengandali yang tewas itu juga bagian dari kalian?" "Benar Nak Alif, tapi dia sudah menetap lama di kota karena membantu raja. Mengendalikan kedamaian juga." Alif mendengus. Randai saja sampai menegakkan tubuhnya mendengar cerita tersebut. Sedikit demi sedikit teka-teki yang seperti puzzle ini mulai tersusun. Membentuk jawaban dari pertanyaan mereka selama ini. Tapi masih ada yang mengganjal di pikiran Alif. "Paman, harusnya kalian tidak perlu mengasingkan diri. Lagi pula, kalian bisa mendapatkan keturunan hebat seperti pengendali, harusnya mereka tidak memandang rendah kalian, tapi menghargai kalian--ah ... entahlah, di dunia kami sebelumnya hal ini juga sering terjadi." Lelaki itu tersenyum. "Kami memang bisa mendapatkan keturunan luar biasa, tapi itu keturunan kami, kalau kami tidak mempunyai sesuatu yang spesial saat itu, maka kami sama saja. Yang lemah akan kalah sama yang berkuasa. Sudah seperti hukum alam memang." Tiga klan itu mengangguk. Di dunia manusia juga begitu. Bahkan rakyat miskin dan lemah sering ditindas dengan hal demikian. "Lalu bagaimana kejadian selanjutnya, Paman? Apa yang terjadi setelah paman tidak ada lagi di sini? Bagaimana nasib Filo dan Sofi setelahnya?" "Akan kuceritakan pelan-pelan. Sekarang kalian tengok teman kalian. Nak Kyra kan, kalau tidak salah?" Pria itu mengangkat alisnya, bertanya apakah tebakannya benar. "Benar, namanya Kyra." Lea membenarkan. "Temui dia, aku sangat khawatir dia berada sendiri di sana. Coba kalian tengok, barangkali dia sudah bangun. Jangan sampai gadis itu panik karena ditinggal sendirian. Nanti setelah itu, aku akan melanjutkan lagi ceritanya." Tiga remaja berbeda klan itu mengangguk, dan sepakat meminta Lea untuk menjenguk. Gadis itu pun beranjak, berjalan meninggalkan ruangan ini untuk melihat kondisi sahabatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN