"Kamu sudah membaik?" Lea mengamati pria yang terus berjalan ke arah mereka dengan senyum merekah. Terus melangkah semakin dekat dan tidak perduli dengan izin mereka--padahal dia sendiri tadi yang meminta izin.
"Yah ... berkat sahabat luar biasa kalian aku masih hidup sampai sekarang." Pria itu mengambil duduk di sebelah Alif, mengamati Kyra yang masih memejamkan mata. "Dia kelelahan?" Pria itu menunjuk Kyra.
Alif mengangguk, dia sedikit bergeser agar pria yang baru datang itu mendapat sedikit tempat. Akan sangat tidak lucu nanti, kalau mereka tengah berbicara serius tiba-tiba dia terjengkang karena tidak mendapat tempat.
"Kapan dia akan bangun?"
Randai dan Alif kompak menatap Lea, selama ini yang mereka ketahui, gadis itulah yang paling dekat dan paling lama dengan Kyra. Jadi mungkin dia tahu. Apalagi tentang kekuatan api biru yang dimiliki Kyra-- mereka juga mendapat informasi dari Lea.
"Apa? Kenapa? Aku tidak tahu."
"Mustahil. Kamu kan, sahabatnya." Randai melipat tangan di depan d**a, dia kembali merebahkan kepalanya setelah tadi sempat menegakkannya karena pertanyaan dari pria yang duduk di samping Alif.
Lea melotot sebal. "Memangnya kamu tidak. Kalian berdua kan, juga sahabatnya. Apalagi kamu suaminya, Lif."
Alif mendengus. "Maksud kami, kamu yang sudah lama dengan Kyra, Le. Tentang api biru milik Kyra, kamu juga yang memberitahu kami."
"Iya aku tahu, tapi tidak semuanya aku mengetahui. Kekuatan itu baru aku ketahui saat kami hampir tewas beberapa bulan lalu. Sebelum-sebelumnya Kyra gadis normal, tidak mempunyai kekuatan apapun. Jadi ... kalau kalian bertanya kapan sahabat kita bangun, aku tidak tahu. Baru kali ini aku melihat Kyra begini." Lea ikut mendengus. Entahlah, kenapa dia merasa kesal.
"Hey-hey. Tenanglah. Maafkan aku membuat kalian berdebat." Lelaki itu berdiri, menatap mereka dengan senyum lebar. "Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, tapi Kyra belum bangun. Itu terserah kalian, mau mendengar informasi itu sekarang atau menunggu dia bangun. Aku keluar dulu." Lelaki itu hendak melangkah, tapi dicegah oleh Lea.
"Informasi apa yang kamu bawa, Filo?"
Yah, lelaki bernama Filo itu berhenti menoleh ke belakang dan menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya, ayahku ingin bicara sama kalian. Berempat. Tapi karena Kyra masih belum membuka mata, jadi aku pikir nanti saja. Kecuali kalau kalian memang sepakat mendengarkan bertiga saja."
"Bagaimana?" Lea menatap Alif dan Randai bergantian.
Lelaki dari Klan Lycanthrope itu mengembuskan napas sejenak, dia menatap Kyra yang begitu damai memejamkan mata. "Kita pergi sekarang saja. Nanti kita beritahu Kyra. Lagi pula kita tidak tahu kapan dia sadar. Kita harus menghemat waktu, agar cepat kembali."
Randai dan Lea mengangguk. Mereka sepakat dengan keputusan Alif. Sebagai pemimpin di petualangan ini, mereka harus menghargainya. Toh, Alif selalu memikirkan keputusan yang terbaik untuk mereka.
Empat orang tersebut mulai beranjak. Filo memimpin mereka di depan--menuju ruangan sang ayah. Tubuh pemuda itu benar-benar pulih. Membaik. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu apapun.
Memang, waktu itu dia sudah sekarat, bahkan sudah tidak sadarkan diri. Sofi saja sampai menangis histeris, mengira saudara kembarnya sudah tewas saat itu. Tapi Kyra mencoba mencari celah di kemustahilan itu. Dengan tangan bergetar dia menyentuh Filo, mencari denyut nadi. Syukur saja ternyata masih ada, meski pun sangat lemah. Sangking lemahnya, Kyra berpikir dia hanya berhalusinasi.
Setelah itu dia berusaha keras. Menahan isakannya, dan berkonsentrasi penuh dengan dibantu Alif. Lelaki itu ikut menyalurkan kekuatan. Kalian ingat saat Alif melukai tangannya dan darahnya ia teteskan di atas luka Filo? Nah, hal itu ternyata banyak membantu. Luka Filo sedikit demi sedikit mulai menutup, menyembuhkan diri lebih cepat. Mungkin bisa saja Kyra melakukannya sendiri, tapi membutuhkan waktu lebih lama jika dilihat dari dalamnya luka yanh ditimbulkan. Bisa-bisa mereka terlambat dan kehilangan Filo saat itu. Beruntung Alif mempunyai pikiran begitu, jadi mereka akhirnya bisa menyelamatkan Filo. Lelaki itu terbatuk saat lukanya sudah pulih, disusul denyut nadi dan jantungnya yang berdetak normal kembali. Pria itu membuka mata dan terkejut melihat dirinya masih dikerubungi di tempat yang sama.
Sofi yang melihat itu langsung menerjang Filo saat itu juga. Bahagia luar biasa melihat saudaranya tidak berakhir.
"Kalian sudah datang." Sofi tersenyum, menoleh menatap mereka saat mendengar langkah kaki mendekat.
Tiga remaja itu mengangguk, dan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan. Lagi-lagi mengambang.
"Di mana Kyra?" Sofi celingukkan, karena tidak menemukan Kyra di belakang mereka. Dia pikir gadis itu tertinggal di belakang, tapi saat yang lain duduk, dia tidak menemukannya.
"Kyra masih istirahat. Dia belum bisa ikut." Lea yang menjelaskan, dan Sofi mengangguk paham.
Tiga remaja itu beralih menatap ayah Filo dan Sofi. Penasaran apa yang ingin dibicarakan pria itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Paman?" Lea tersenyum, melempar pertanyaan akan lebih sopan daripada harus ke inti, meski mereka ke sini memang diminta pria itu.
Pria paruh baya itu tersenyum. "Syukurlah, aku jauh lebih baik sekarang. Entah sejak kapan aku merasa lebih baik seperti ini dari terkahir kali. Bertahun-tahun dikurung membuatku lupa rasanya." Pria itu terkekeh di akhir kalimatnya.
Lea membalas dengan senyuman, begitupula dengan yang lain. Ikut senang melihat pria paruh baya itu lebih sehat. Terkahir kali melihatnya beberapa jam yang lalu kondisinya memang sangat mengenaskan. Tapi lihat sekarang. Meski pun masih berada di atas ranjang dengan posisi duduk dan punggung yang di topang--mungkin itu bantal. Bentuknya kerucut. Ah, mungkin penduduk sini sangat menyukai bentuk itu, hampir semuanya berbentuk kerucut.
"Maaf ya, pria tua ini sudah merepotkan kalian, begitu juga dengan penduduk kampung. Kami meminta maaf dan berterima kasih atas bantuan kalian." Lelaki itu terbatuk pelan.
Lagi-lagi Lea hanya tersenyum, tapi kali ini diikuti oleh kawannya yang lain. Lea sadar, dua teman lelakinya ini tidak pandai berbasa-basi atau menghormati pria tua seperti ayah Filo, jadi dia yang harus berbicara. Jangankan ayahnya Filo--ayahnya Luna, sebagai seorang penguasa saja mereka tidak bisa berlaku sopan. Begitu pun dengan Canuto dan Zek. Randai dan Alif benar-benar buruk dalam hal ini.
"Tidak apa, Paman. Kami senang bisa membantu. Kami juga berterima kasih masih diperbolehkan bertamu di sini." Lea menatap dua sahabatnya, meminta untuk menambahi. Tapi semua percuma, karena dua pria berbeda Klan itu hanya mengulas senyum saja.
"Ngomong-ngomong, kalian mau pergi ke mana?"
Lea memandang Alif, kali ini lelaki itu yang harus bicara, mereka tidak bisa memberikan informasi sembarangan.
"Kami ditugaskan untuk mencari sesuatu, Paman. Maaf, kami tidak bisa memberi tahu."
Yah, singkat dan jelas. Itulah Alif.
Pria paruh baya itu terkekeh. "Tidak apa, Nak. Kalian mau melanjutkan perjalanan kapan?"
"Sepertinya setelah sahabat kami bangun."
"Tidak inginkah menginap beberapa hari?"
Mereka kompak menggeleng, Alif sudah memberi tahu tadi. Mereka harus menghemat waktu.
"Baiklah, lelaki tua ini tidak bisa memaksa memang." Pria itu kembali terkekeh.
"Maaf, Paman. Tadi Filo bilang Paman memanggil kami ingin mengatakan sesuatu. Hal apa itu?"
Kompak semua menoleh ke arah Randai. Merasa takjub karena lelaki itu bisa berbicara sopan ternyata.
"Ah iya, aku hampir lupa. Akan aku ceritakan, mungkin saja ini bisa menjadi bekal kalian di perjalanan nanti." Pria paruh baya itu membenarkan posisi duduknya. Bersiap menceritakan kisah pilu yang mungkin bisa menjadi bekal diperjalanan mereka nanti.
***