Petang hampir terlewati, fajar akan segera mengabari. Mereka bahkan tidak tidur semalaman karena perayaan itu. Lelah luar biasa, selain kurangnya istirahat, mereka juga bertarung hampir semalaman.
Kali ini mereka duduk di sebuah dipan kayu besar yang terbuat dari bambu dan muat diduduki beberapa orang di atasnya.
"Aww." Alif meringis saat Kyra tidak sengaja menyenggol perutnya. Di ufuk timur sana, sinar kekuningan sudah mulai tampak, memberi warna baru untuk hari baru di perkampungan ini.
Kyra langsung menoleh, menatap Alif yang tengah meringis memegangi perutnya.
"Kamu kenapa, Lif?"
Lelaki itu menggeleng, tapi ekspresinya masih saja meringis. Sepertinya Kyra menyenggol terlalu keras tadi.
"Ada yang terluka?"
"Tidak, Ra."
Gadis itu mengangguk. Menatap ke depan untuk mengamati lalu lalang penduduk yang saling membantu satu sama lain.
"Aku bersyukur kita masih selamat, Ra." Lea mengembuskan napas. Semalam memang pertarungan yang sangat menegangkan dari sebelumnya. Luna dulu masih berbaik hati dengan mereka. Sedangkan lima pria berbeda-beda ukuran tubuh itu sangat kejam.
"Tugas ini rasanya makin berat ya, Le."
Lea mengangguk, dia kembali mengembuskan napas sebelum menatap Randai yang berdiri tidak jauh dari Alif. Mengamati pergerakan sekitar.
"Apa kamu masih ada yang terluka, Lea?" Kyra menatap sahabatnya, menanyakan kondisinya yang mungkin ada yang terlewat dari pemeriksaannya.
"Berkat dirimu aku bugar seperti sediakala. Terima kasih, Ra. Lukaku sembuh dengan cepat. Kemampuanmu juga semakin meningkat."
Kyra tersenyum, mengangguk menatap Lea yang juga melempar senyum. Tadi, setelah pertempuran sengit yang terjadi dengan orang-orang yang entah dari Klan mana itu--Kyra ikut membantu menyembuhkan teman-temannya dan orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Meski pun setelahnya dia kelelahan dan kehabisan tenaga karena hal itu.
"Hoam!" Gadis itu kembali menguap lebar. Tangan kanannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
"Tidur saja, Ra. Kamu sangat lelah."
Kyra mengangguk. Dia memang benar-benar lelah dan mengantuk, ingin segera tidur, tapi tidak enak dengan yang lain.
"Aww! Sakit, Bodoh!" Alif memukul lengan Randai keras saat pria itu tidak sengaja menyenggol perutnya.
"Lebay sekali kamu, Lif. Cuma kesenggol dikit doang. Lagipula, ngapain kamu berdiri segala, udah enak-enak duduk juga. Istirahat, nanti impoten kamu kumat lho."
Alif meninju Randai, tapi meleset. Lelaki itu sigap menghindar. Dari gelagatnya yang sedari tadi Kyra perhatikan, memang ada yang aneh dengan Alif. Pria itu terus meringis bahkan sesekali memegangi perutnya.
"Kamu sakit perut, Lif? Mau BAB?"
Pria itu menggeleng. Alisnya sempat meringis sebentar tadi.
"Terus kenapa dari tadi meringis terus? Bilang, Lif ada apa?"
"Tidak apa, Ra. Kamu tidak perlu khawatir." Alif mencoba menormalkan kembali dirinya. Menatap ke depan dengan pandangan sama seperti yang ditatap Randai. Dia berdiri di samping Randai beberapa menit lalu.
Kyra ikut berdiri, dia mendekati Alif dan menyentuh bagian yang sempat dipegang tadi. Memeriksa apa benar tidak ada apa-apa. Dan benar saja, Alif lagi-lagi terpekik. Ini sudah jelas kalau ada yang tidak beres dengan tubuh Alif.
"Angkat bajumu, Lif!" pinta Kyra langsung.
"Tidak! Untuk apa."
"Angkat sekarang. Aku mau lihat apa yang sedang kamu sembunyikan."
Lelaki itu menggeleng, lalu kemudian mendapatkan pelototan dari Kyra, gadis itu bahkan sempat menjulurkan tangannya ke depan lagi, tapi segera ditahan Alif.
"Kita masuk saja." Akhirnya Alif mengalah dan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Hati-hati, jangan sampai terdengar dari luar. Ini sudah mau pagi soalnya."
Dan yah ... satu pukulan keras berhasil Kyra layangkan ke perut Randai, tidak lupa dengan injakan kaki yang begitu keras. Lelaki vampir itu selalu saja berpikir yang tidak-tidak.
Randai sedikit meringis sambil memegang bagian yang sempat mendapat serangan dari Kyra. "Kuat juga kamu, Ra."
Kyra tidak lagi menggubris. Dia langsung mengikuti Alif dan duduk di kursi yang semalam pernah ia duduki sebelum makan bersama.
"Ayo lepas." Lagi-lagi Kyra menyuruh Alif, karena lelaki itu masih saja diam.
Alif menggerakkan tangannya, dan melepaskan bajunya. Tubuhnya di bagian atas benar-benar terpahat hampir sempurna. Kekar, berotot, dan perut itu .... Ah, Kyra langsung menggeleng, dia tidak seharusnya berpikir begitu. Tapi untuk remaja seusianya, memiliki tubuh seperti itu sangat jarang.
Pandangan Kyra lalu terfokus pada luka robek di bagian kanan perut Alif, sudah agak mengering. Meski pun belum benar-benar kering. Lukanya belum menutup sempurna. Seperti sedang melakukan penyembuhan. Atau lebih tepatnya, luka ini seperti sudah satu harian yang lalu.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu juga terluka?"
"Aku bisa menyembuhkan diri, Ra. Kamu tidak perlu khawatir, oke."
"Tetap saja kamu terluka, Lif. Lagi pula kalau memang kamu bisa menyembuhkan diri sendiri, kenapa lukamu belum mengering dengan benar?"
Alif mengembuskan napas. "Itu karena aku sedang lelah, energiku terkuras banyak sekali tadi. Jadi itu berpengaruh pada kekuatanku juga."
"Tetap saja kamu terluka, dan masih belum sembuh. Sini, aku akan membantumu." Kyra mendekatkan tubuhnya ke tubuh Alif, dan menyentuh permukaan perutnya yang terluka.
Lelaki itu sempat menahan napas melihat Kyra sedekat itu dengan dirinya dan menyentuh bagian tubuhnya yang lain, merabanya pelan sebelum memejamkan mata untuk konsentrasi.
Meski pun pernah berada dalam jarak dekat sebelumnya, tapi baru kali ini gadis itu memegang bagian tubuhnya yang tersembunyi.
Alif memperhatikan Kyra yang memejamkan matanya, berkonsentrasi untuk menyembuhkan luka di perut Alif. Rasa nyeri dan sakit yang dari tadi dirasakannya perlahan menghilang. Dia menatap perutnya. Di sana ia bisa melihat dengan jelas jaringan kulitnya yang menyatu, membentuk jaringan kulit baru dan saling menyulam sampai akhirnya luka itu tertutup rapat dan sembuh seperti sedia kala.
Tidak lama setelah itu kepala Kyra terantuk ke depan, tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Alif, untung lelaki itu sigap dan berhasil memegangi Kyra saat gadis itu terhuyung.
Inilah kenapa tadi dia memilih untuk tidak disembuhkan Kyra. Gadis itu juga kelelahan, dan saat energinya habis seperti ini. Tubuhnya akan pingsan. Entahlah, apa dia benar-benar pingsan atau hanya tidur.
Alif segera memakai bajunya kembali. Dia mengangkat Kyra dan membawanya masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan Sofi. Mereka memang kembali lagi ke rumah ini, karena hanya tempat ini yang mereka kenal dan orang yang menghuninya tidak terlalu sibuk seperti yang lainnya.
"Dia kenapa, Lif?" Sofi sedikit terkejut melihat Kyra berada dalam gendongan lelaki tersebut. Dirinya berpapasan saat hendak menuju ke kamar ayahnya. Lelaki paruh baya yang sempat dikiranya meninggal itu berhasil diselamatkan atas bantuan Kyra.
"Kelelahan. Aku pinjam kamar kalian dulu ya."
Sofi mengangguk. "Silahkan, aku sangat senang bisa membantu kalian." Gadis itu tersenyum sebelum pergi menuju ke tempat seseorang yang tadi hampir meregang nyawa.
Alif merebahkan Kyra perlahan. Gadis itu terlihat damai dalam pejamnya. Mengembuskan napas pelan. Dirinya duduk di pinggir ranjang. Pikirannya berkelana. Tidak percaya kalau mereka bisa sedekat ini sekarang. Padahal awalnya mereka tidak mengenal sama sekali, tidak menyangka bahkan akan terseret sejauh ini. Apalagi jika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat mereka menemukan sesuatu tak terduga di balik desa ini. Suatu kejadian sangat tragis dan tidak disangka.
Setelah peperangan itu dan menuntaskan masalah. Mereka kembali ke tempat ini. Rumah Filo dan Sofi. Menghampiri ayah mereka yang perlahan membaik setelah diobati Kyra. Saat Filo dan Kyra menempatkan ayah Filo di rumah ini. Mereka tidak sadar kalau Sofi telah dibawa oleh lima orang itu. Mereka bersimpangan--keluar-masuk di rumah tersebut, dan saat Kyra mencoba mengobati pria paruh baya itu, Filo juga tidak mengintip di kamar Sofi, dirinya terlalu panik dan khawatir pada sang ayah, jadi tidak berpikir untuk menjenguk adiknya, lagi pula dirinya dirinya terlalu takut kalau Sofi akan semakin panik dan khawatir. Lalu saat Kyra selesai dengan tugasnya, dan Filo bergegas menuju kamar Sofi, di situlah dia baru sadar kalau sang adik sudah tidak berada di dalam kamarnya.
Panik luar biasa, dia mengajak Kyra kembali ke tempat perayaan sekaligus peperangan itu terjadi. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui adiknya tengah disandra oleh lima orang yang tidak punya akal sehat.
"Kalian di sini. Aku mencari kalian tadi." Lea menghampiri Alif Kyra, dirinya ikut duduk di samping lelaki itu menatap sahabatnya yang tertidur lelap.
"Di mana Randai?"
"Aku di sini." Lelaki dari Klan Vampir itu langsung menunjukkan dirinya dari balik pintu, tadi dia sempat mengintip apa yang terjadi di kamar sebelah, penasaran apa yang tengah dilakukan Sofi. Ternyata gadis itu terisak di pelukan sang ayah yang sudah mulai membaik. Menumpahkan rindu belasan tahun lamanya.
"Kenapa, Lif? Kamu merindukanku?"
"Jangan berharap lebih." Lelaki itu mencibir dan duduk di kursi yang tidak jauh dari depan Alif. Kursi itu mengambang puluhan centi di atas tanah, seperti ayunan namun tidak ada tali penyangga. Randai langsung mendongakkan kepalanya menikmati. Mencoba merasa rileks.
"Kamu tahu, Le. Seharusnya kamu tidak di sini."
"Kenapa?" Lea mengkerut, memangnya ada yang salah kalau dirinya ikut menemani Alif dan sahabatnya ini.
"Tentu saja itu hal yang salah, Le. Kamu mengganggu pengantin baru."
Alif menatap Randai, memicing ke arah lelaki itu. "Jangan mulai, Ran." Dia memperingati.
"Lagi pula sama saja. Seharusnya kamu juga tidak datang ke sini." tegur Lea membalikkan ucapannya.
"Mau bagaimana lagi, Klan Lycanthrope merindukanku, hahaha." Randai tertawa keras, membuatnya berhasil mendapatkan hadiah timpukan benda seperti bantal dari Lea. Benda itu ditemukan di samping Kyra. Tidak dipakai.
"Jangan keras-keras, kamu mengganggu semua orang!" Lea melotot sebal, dan Randai hanya nyengir seperti biasa.
"Ngomong-ngomong, tadi aku melihat Sofi menangis di pelukan ayahnya."
"Di mana mereka?" Lea membenarkan posisi duduknya tadi, dia hampir terjatuh karena mengambil benda tadi.
Randai menunjuk ruangan sebelah.
"Biarkan saja, mereka sedang melepas rindu."
Lea dan Randai mengangguk. Itu benar sekali. Alif kalau seperti itu terlihat berwibawa.
"Kalau mengingat kejadian tadi. Aku benar-benar tidak menyangka Dengan yang ada di balik semua ini. Maksudku, bagaimana bisa mereka tetap bertahan di situasi yang buruk begitu, belasan tahun lamanya."
"Demi tanah air mereka. Seseorang kadang akan melakukan apapun untuk mendapatkannya kembali. Tanah ini milik mereka. Perkampungan ini harus mereka pertahankan meski keberhasilan hanya 0,01%. Dan kamu lihat, hari penantian itu tiba, mereka bebas dari jerat makhluk tidak bermoral yang entah dari Klan mana."
Mereka kembali mengingat kejadian tadi. Setelah kesadaran ayah Filo dan Sofi itu pulih. Pria paruh baya itu menceritakan apa yang terjadi, meski hanya sebagian. Saat itu di pikiran pria paruh baya tersebut adalah untuk membebaskan penduduk lainnya yang dikurung di dalam hutan, di sebuah batu besar yang dikelilingi jamur bercahaya. Pria paruh baya tersebut meminta bantuan empat remaja berbeda Klan tersebut untuk membawa mereka kembali, dan saat mereka mengikuti perintah ayah Filo tersebut, berapa terkejutnya mereka dengan apa yang terjadi di dalamnya.
Bayangkan saja betapa mengerikannya di dalam sana. Mereka dikurung di tempat pengap dengan banyak orang. Kotor dan lembab dengan kondisi tubuh yang tidak sepenuhnya sehat.
Randai dan teman-temannya mencoba membantu dan mengeluarkan mereka--penduduk asli perkampungan ini satu persatu dari dalam sana. Setelah itu tugas Kyra adalah menyembuhkan mereka. Makanya gadis itu sangat kelelahan, dan pingsan setelah mengobati Alif, karena tenaganya terkuras habis.
"Jangan diingat lagi. Aku tidak suka. Mereka benar-benar mengenaskan kondisinya saat itu. Yang penting kita sudah menyelamatkan, dan kondisi mereka jauh lebih baik sekarang." Lea lagi-lagi meneteskan air mata. Dirinya begitu cengeng kalau mengingat hal tersebut. Bahkan tadi dia sempat menangis saat proses penyelamatan.
Tok ... tok ... tok!
Terdengar pintu diketuk, tiga remaja berbeda klan itu menoleh ke sumber suara. Mendapati seorang pria yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Boleh aku bergabung?"
***