Siapakah Pemimpin itu?

1724 Kata
Kyra terpekur di tempatnya. Napasnya putus-putus melihat kejadian naas di depannya. Air matanya meluruh begitu saja. Lihat di sana, Filo tersungkur tidak berdaya dengan napas tersengal. Ingin sekali gadis itu menghampiri, tapi langkah kakinya seperti terpaku di tempat. Tidak bisa di gerakkan. Dari arah berlawanan, Sofi berlari menghampiri Filo dengan berurai air mata. Suasana sempat terdiam sejenak, sebelum si gendut kembali melancarkan serangan dan mengenai Alif. Lelaki itu sampai mundur ke belakang. Masih dengan wujud serigala, dia berhasil dipukul telak. Tidak sampai terjatuh tapi mampu membuat langkahnya mundur beberapa langkah. "Heh! Ini bukan saatnya melihat drama, selesaikan masalah kita terlebih dahulu." Si gendut menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seolah sedang meregangkan otot, sebelum kembali menyerang. Alif sempat melirik Sofi yang menangis histeris terduduk di samping Filo. Lelaki dari Klan Lycanthrope itu langsung beralih dan menatap nyalang si gendut. Baiklah, dia akan menyelesaikan masalah mereka. Cukup sudah, jangan lagi ada nyawa yang tumbang, entah Filo hanya melakukan drama atau berpura-pura saja, tapi yang pasti, dia sudah menyelamatkan Kyra. Alif mengaum keras, dia berlari menyerang si gendut, bahkan deretan gigi dan taring tajamnya sampai terlihat akibat ringisan dari wajah serigalanya. Kemarahan menguasai dirinya. Kekuatannya serasa dilipatgandakan karena hal itu, mereka telah melakukan kesalahan dengan membangunkan sisi gelap Klan Lycanthrope. Dengan tubuh gemetar, Kyra berjalan perlahan mendekati Filo dan Sofi, akhirnya kakinya bisa bergerak setelah beberapa saat sempat terpaku. Ah, lelaki itu, meski pun sempat dicurigai namun dengan rela bertaruh nyawa untuk melindungi dirinya. Kyra semakin terisak, jika terjadi sesuatu dengan Filo, ini semua salahnya. Salah dirinya karena begitu lemah dan tidak bisa melakukan apa pun. Ironis! "Filo." Suaranya bergetar saat dirinya ikut berjongkok di samping lelaki tidak berdaya itu. Tangannya terjulur menyentuh perut yang terluka itu. Dengan terisak dia mencoba menyulam kembali luka yang begitu lebar itu. Tapi baru berjalan beberapa detik saja, tubuh Kyra kembali ditarik, bahkan tas yang tadi sempat ia sampirkan ke pundak jatuh ke tanah. Tubuhnya dicengkeram kuat oleh si kekar, tidak lama setelah itu tangan si kekar beralih memegang leher Kyra, mencekik dengan kuat hingga gadis itu susah bernapas. Keadaan semakin genting. Si kurus yang bertarung dengan Randai belum juga tumbang, padahal Lea sudah ikut membantu. Alif sedang menghadapi si gendut yang kekuatannya terasa lebih besar dari yang tadi. Tapi ia tidak menyerah. Dia harus menyelesaikan ini secepatnya. "Sudah cukup hal dramatisnya. Lagi pula untuk apa menangisi pria itu. Dia tidak berguna. Sia-sia aku membiarkan mereka hidup kalau pada akhirnya menyusahkan juga." "Ka-mu mem-mang b******k!" Dengan tersengal Kyra menjawab perkataan si kekar, tapi lelaki itu tidak gentar sama sekali, malah tertawa semakin keras. Air mata kembali menetes dari sudut matanya. Kyra mencoba melirik Filo, khawatir tentang kondisi lelaki itu. Dia harus menyembuhkannya sebelum semuanya terlambat. "Aakk!!" Si gendut berteriak keras. Lolongan suaranya menandakan dia kesakitan luar biasa. Alif akhirnya berhasil melumpuhkannya, setelah serangan bertubi-tubi hingga membuat lukanya semakin menganga lebar. Dia menginjak d**a si gendut. Dirinya sudah merubah menjadi manusia. Menatap nyalang pria tidak berdaya di bawahnya itu. "Kalau kamu ingin temanmu selamat, biarkan mereka semua pergi." Alif berkata tajam. Nada suaranya sangat terdengar mengerikan. Kakinya kembali menginjak keras saat orang yang berada di bawahnya itu bergerak. "Aku sudah bosan dengan penawaranmu. Kalau kamu mau membunuhnya silahkan saja. Itu lebih bagus. Jadi tidak ada lagi pesaingku untuk lebih dekat dengan pemimpin kami." Kedua alis Alif mengerut. Pemimpin mana lagi yang mereka maksud. Bukankah dari tadi yang memberi perintah dan bergerak semaunya adalah si kekar. Kenapa mereka menyebut pemimpin kembali. Sebenarnya siapa dalang di balik semua ini. "Siapa pemimpin kalian?! Suruh dia keluar." Si kekar tertawa. "Kamu tidak perlu mengetahuinya." Alif merubah pandangannya, beralih menatap si gendut yang mengerang kesakitan di bawah kakinya. Tubuh pria itu banyak luka cabikan yang disebabkan Alif, beberapa di antaranya ada yang mulai sembuh. Dan Alif kembali menambahinya. Kaki kanannya patah ada luka gigitan binatang buas juga di sana. Sangat mengerikan. "Aku tidak tahu." "Maka, bersiaplah untuk mati!" Alif mengangkat tangannya ke atas. Bersiap mengoyak pria jahat yang ada di bawah kakinya ini. Kukunya berubah panjang dan tajam, siap mencabik dan mengoyak sekarang juga. "Berhenti. Aku akan mengatakannya." Tangan Alif mengambang di udara. Matanya dari tadi terus menatap tajam. "Katakan siapa?" "Dia adalah S--Akkhh!!" Kaki Alif langsung terangkat. Menghindar dari atas tubuh pria gendut itu. Dia bingung apa yang sudah terjadi. Alif tidak melakukan apa pun, tapi tiba-tiba lelaki yang berada di bawahnya ini kejang-kejang, disusul dengan api yang menjalar keluar dari tangannya lalu merembet ke tubuhnya yang lain. Membakar habis tak tersisa. Bahkan tinggal debu. Kejadian itu membuat semuanya terdiam. Bahkan si kurus yang masih melancarkan serangan dengan Randai dan Lea juga ikut berhenti. Menatap terkejut pada temannya tadi. Si kekar juga demikian. Cekikannya di leher Kyra bahkan sampai terlepas. Dia tahu apa yang sedang terjadi. Sesuatu telah datang dan mengancam mereka semua. Tidak hanya remaja yang tadi dilawannya saja, tetapi dirinya bisa kena imbas. Ini bahaya. Kekuatan itu berasal dari dia yang kuat. Kekuatan dahsyat yang bahkan bisa mengendalikan sebagian kekuatan dari pusaka sakiti. Si kekar dan si kurus langsung bertekuk lutut, kedua tangan mereka menangkup dan di angkat sedikit di atas kepala, tidak lupa dengan kepala yang tertunduk dalam. Menandakan kalau mereka berdua tunduk pada seseorang entah siapa itu. "Aku tidak pernah menyuruh kalian membunuh mereka. Gadis yang kamu cekik tadi. Kalau sampai dia mati. Hari ini juga tubuh kalian akan bernasib sama dengan teman gendut kalian." Suara itu menggelegar, tidak tahu di mama asalnya. Semuanya saling menggerakkan kepala ke segala penjuru, tapi tidak menemuka siapa pun di sana. Hanya lengang. Di mana asal suara itu. "Ampuni kami Ketua." Alif menatap si kekar. Ketua? Itu artinya dia adalah pemimpin mereka. Kenapa sekarang seolah sedang menolongnya. Siapa orang tersebut? Dari Klan mana dia berasal? Sebenarnya dia kawan atau lawan? Semua pertanyaan terus berputar di kepala Alif. Ini membingungkan. Perjalanan mereka tidak hanya bertaruh nyawa untuk menemukan potongan pusaka itu. Melainkan seperti menyusun teka-teki yang tidak ada ujungnya. "Kalian telah gagal. Tidak becus melawan mereka hidup-hidup, bahkan tidak becus mendapatkan benda itu. Jangan harap ada ampunan dariku!" Si kurus dan si kekar langsung menegang. Mereka menggeleng cepat, seolah tidak ingin sesuatu terjadi. Nyalinya tiba-tiba ciut. Kontras sekali dengan wajah garang yang tadi sangat angkuh. Sepertinya suara tanpa rupa ini begitu sakti hingga membuat mereka ketakutan begini. "Tolong ampuni kami, Ketua. Jangan binasakan kami." "Terlambat, kalian terlalu lelet." Tidak lama setelah itu ada suara gemuruh di atas sana. Tidak mendung, tidak juga hujan, tapi ada suara menggelegar yang ditimbulkan. Suaranya keras, dua detik setelahnya ada kilat menyambar, membuat langit yang semula gelap sesekali terang tertimpa cahaya kilat. Dua pria itu sangat panik luar biasa, kepalanya mendongak panik, bahkan mereka langsung tersungkur. Baru kemudian disusul dengan petir yang menyambar tubuh keduanya. Mereka berteriak keras. Kesakitan karena sengatan listrik disertai panas api yang membara. Kekuatannya benar-benar dahsyat. Baru kali ini mereka melihat sesuatu yang begitu luar biasa. Ketua yang sepertinya pemimpin mereka ini benar-benar hebat, bisa membunuh tanpa menyentuh atau menampakkan diri. Tapi bukan ilmu santet yang digunakan. Tubuh si kekar dan si kurus terus bergerak, kejang beberapa kali. Petir itu terus menyambar, api terus berkobar. Membakar habis tubuh keduanya. Hangus, dan tersisa abu setelahnya. Tanpa sisa sedikit pun. Satu musuh yang masih selamat--yang sedari tadi hanya mengamati perkelahian menatap terkejut, ketakutan luar biasa. Setelah itu dia melarikan diri, sampai terjatuh beberapa kali. Alif hendak mengejar begitu pun dengan Randai, tapi Lea menahan mereka. "Tidak perlu dikejar. Dia bukan masalah besar." Dua lelaki berbeda Klan itu menurut. Menatap kembali tempat dua pria yang tadi menyerang mereka. Hilang. Tidak ada yang tersisa, hanya lengang yang terjadi setelahnya. Hiks! Itu suara tangisan. Sofi kembali menangis keras setelah terjeda karena kejadian mengerikan tadi. Empat remaja itu langsung berlari mendekati mereka berdua. Duduk berlutut di samping Filo yang sekarat. Kesadarannya menipis. Lelaki ini begitu kuat. Terbukti dia masih bisa bertahan di situasi sulit begini. "Ja-ga, a-adikku." Tangan Filo menyentuh pipi Sofi. Tersenyum dan meringis bergantian. Sesekali terbatuk disertai darah dari dalam mulutnya. Sofi menggeleng, dia semakin terisak melihat kondisi saudaranya. Tidak ingin sendirian sebatang kara di sini. "Filo, aku akan menyembuhkanmu." Kyra menyentuh lengan Filo, tangannya terulur hendak menyentuh perut yang robek itu, tapi Filo menggelang dan menjauhkan tangan Kyra. "Waktuku tidak terlalu banyak, Ra, sepertinya. Aku minta maaf telah membuat kalian dalam kesulitan, terutama kamu dan Alif." Filo menatap Alif yang menatapnya dengan iba. Tidak ada lagi tatapan nyalang atau curiga yang diarahkan pada Filo. Lelaki itu hanya terdiam dengan pikiran berkecamuk di kepalanya. "Aku akan mencobanya, Filo. Waktu kita tidak banyak. Aku--" Filo menggeleng. Lalu menatap satu persatu orang-orang yang mengerubunginya, terakhir tangannya yang berlumuran darah menyentuh pipi saudaranya. Sofi. "Ayah masih hidup. Dia berada di tempat aman. Tanyakan pada Kyra di mana tempatnya." Filo kembali terbatuk, kali ini disertai darah kental yang keluar dari mulutnya. Napasnya tersengal, tapi dia berusaha tersenyum. Tidak lama setelah itu matanya tertutup rapat. "FILO!" Sofi menangis histeris. "Ra, lakukan sesuatu!" Lea menatap panik ke arah Kyra dengan air mata yang merembes. Gadis itu langsung mengangguk dan menyentuh perut lelaki itu. Berusaha keras menyembuhkannya. Gawat! Lukanya yang lebar dan dalam membuat Kyra lambat menyulam jaringan kulit yang rusak. Lambat melakukan penyembuhan. Kabar baiknya, jantung lelaki ini masih berdetak. Tapi dia tidak tahu berapa lama akan bertahan. Jika semua penyembuhan yang dilakukan lambat begini, tidak menutup kemungkinan mereka akan kehilangan Filo. Napas Kyra tersengal. Dia tidak bisa konsentrasi penuh. Panik, khawatir dan tangisan menghambatnya. Luka itu hanya berhasil disembuhkan seperempatnya. Bagian dalam yang rusak belum meregenerasi. Kyra ikut terisak, tangannya gemetar, Sofi menatapnya bingung. "Kenapa, Ra?" tanya Lea ikut panik "A ... aku kesulitan, tidak bisa konsentrasi." Kyra tergugu, bahunya sampai terguncang karena tangis. Bahkan suaranya sampai tersendat terhalang isakan. Kembali dia meletakkan tangannya di atas perut Filo. Berusaha untuk tetap tenang dan konsentrasi. Tapi hasilnya sama. Dia sudah memejamkan mata padahal. "Akan kubantu, Ra. Kamu tenang." Alif menyentuh pundaknya. Tersenyum dan mengangguk samar. Pria itu mengangkat sebelah tangannya. Jarinya mengepal kecualo telunjuk. Di sana terlihat kuku Alif berubah tajam, lelaki itu merobek kulitnya tangan kirinya di bagian telapak tangan. Darah menetes dan dia arahkan ke atas perut Filo. "Aku harap ini bisa membantu. Aku bisa menyembuhkan diri sendiri. Mungkin darahku bisa membantumu untuk ini. Konsentrasi, Ra. Jangan berpikir hal lain. Gadis itu mengangguk. Mulai berkonsentrasi penuh, sesekali isak masih mewarnai, tapi kali ini ia merasa percaya diri. Baiklah, dia harus bisa menyelamatkan lelaki ini. Semoga saja tidak terlambat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN