Ketahuan

1904 Kata
Happy Reading *** Satu bulan berlalu. Semua terasa cepat, dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Lea, tentang siapa Kyra sebenarnya. Meski rasa penasaran itu begitu besar, baik Lea mau pun Kyra mencoba tak mengingat, apalagi tidak ada jawaban dari pertanyaan Lea. Lain dua gadis itu, lain juga dengan mamanya Lea. Wanita paruh baya itu begitu terkejut mendengar segala penuturan putrinya. Dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada teman putrinya, bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa melakukan hal menakjubkan seperti itu. Dalam benaknya dia sudah berpikir, apakah Kyra adalah keturunan .... Entahlah, tidak ada yang tahu. Wanita paruh baya dari Klan Fairy itu langsung menepis pikirannya, keturunan itu sudah mati dua puluh tahun silam akibat perang antar klan. Tidak ada yang tersisa. Klan Lucifer telah memusnahkan banyak klan, bahkan pengendali pusaka sakti, dan sesuatu yang mereka sebut, 'kemurnian'. Mungkinkah ada kemungkinan, kalau sisa-sisa dari keturunan itu masih ada? Dan Kyra merupakan salah satu yang selamat. Ah, itu sangat tidak mungkin, tidak ada jejaknya kalau hari itu 'kemurnian' ada yang selamat, mungkin ada sesuatu yang salah dengan gadis itu, meski tidak tahu apa hal tersebut. "Ra, tahu tidak. Mama akhir-akhir ini seringkali menanyakanmu." "Serius?" Lea mengangguk meyakinkan. "Memangnya kenapa?" Gadis berambut sebahu itu mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Dia tidak pernah diberi tahu mamanya perihal seringnya menanyakan Kyra, apalagi yang ditanyakan adalah perihal kekuatan api biru itu. Lea tidak pernah melihat Kyra seperti itu lagi,.dan Kyra juga merasa tidak pernah melakukannya. "Mungkin tante menginginkan anak yang rajin sepertiku, bukan gadis manja yang suka sekali dengan games." Kyra tertawa, mencoba menggoda sahabatnya, dan berhasil mendapat sebuah pelototan tidak terima. "Ngomong-ngomong, kamu sudah mempersiapkan keperluan buat tour?" Kyra menggeleng. Sepertinya tidak ada yang perlu dipersiapkan secara berlebihan. Ini hanya tour biasa untuk mengganti nilai ujian nanti. Sebenarnya Kyra kurang suka dengan hal ini, lebih baik dia mengerjakan ujian secara langsung saja dari pada ikut tour dan harus merangkum hasil keliling mereka di museum kuno itu. Kyra tidak suka sejarah, dan dia sangat bosan jika harus berkeliling apalagi akan ada saudaranya, Tara. "Paling tidak kamu harus membawa buku catatan dan kamera, Ra. Untuk memfotonya biar nggak lupa." "Tidak perlu, Le. Ingatanku ini sangat tajam. Aku tidak perlu kamera untuk memotret. Biaya sewanya juga mahal. Itu bukan pilihan yang tepat." Kyra menolak usul sahabatnya itu. "Hey! Kamu bisa pakai handphone, atau pinjam punyaku juga boleh." "Terima kasih. Tapi aku tidak ingin merepotkan. Lagi pula kamera handphone-ku jelek sekali, yang ada mataku sakit nanti." Mereka tergelak. Candaan ringan yang sering mereka lakukan, hingga Kyra menyadari ada yang menatap mereka dari jauh. Salah satu pria yang dulu pernah dilihatnya di perpustakaan, pria yang ternyata juga bukan manusia biasa. "Kenapa dari tadi dia terus mengawasiku?" "Siapa?" Lea ikut menoleh ke arah pandang Kyra, tapi tidak menemukan siapa pun. "Alif. Pria dingin yang pernah kita lihat di perpustakaan." Kyra mengarahkan tangannya ke kepala Lea, memutarnya untuk tidak lagi mencari keberadaan Alif. Bisa gawat kalau lelaki itu sampai tahu Lea sedang celingak-celinguk mencari keberadaannya. Meski pun yang seharusnya malu adalah Alif, tapi pria yang katanya dari Klan Lycanthrope sepertinya tidak punya perasaan itu, hanya sikap cuek dan dinginnya yang sering mengintimidasi lawan bicaranya. "Kamu tidak sopan, Ra. Kenapa memegang kepalaku!" Lea menepis tangan Kyra keras, membuat sang empunya nyengir lebar. "Jangan dicari, Le. Dia bisa tahu kalau kita tahu dia mengawasi kita." "Ya bagus dong. Jadi dia tidak akan melakukan hal itu lagi. Ck! Klan Lycanthrope memang sering tidak sopan." Lea menggerutu, sesekali membenahi rambutnya yang tadi sempat berantakan karena ulah tangan Kyra. "Biarkan saja selama tidak mengganggu, aku rasa wajar. Mungkin dia naksir kamu." "Ngawur kamu. Tidak mungkin. Klannya Alif itu jarang ada yang menikah dengan klanku, mereka menganggap Klan Fairy itu lemah, karena tak bisa bertarung di bawah." Kyra terkikik, merasa geli dengan cara bicara sahabatnya yang seperti menolak keras jika yang dikatakannya tadi benar. "Bukan hanya itu, Ra. Aku kurang setuju dengan pendapatmu tadi. 'Selama tidak mengganggu, itu wajar'. Hey! Jangan anggap remeh Klan Lycanthrope, mereka akan sangat berbahaya kalau sedang marah." Lea memperingati Kyra untuk tidak menganggap enteng bangsa serigala itu. "Baiklah, Nona. Aku mengerti. Terima kasih penjelasannya." Hanya sebatas Itu perbincangan mereka jika sedang duduk santai di kampus. Membahas hal lain yang kadang tidak penting, lalu berakhir membahas topik tentang dunia klan yang baru diketahui Kyra. Keesokan harinya, mereka yang mendapatkan Dosen yang sama, serta mengambil matkul yang sama juga telah berangkat ke museum kuno yang menjadi tempat tour mereka. Sesekali terlihat beberapa di antaranya sedang mencatat dan memotret miniatur-miniatur bersejarah yang terpajang di museum itu. Lea terlihat antusias, sudah beberapa kali dia mengambil foto. Bukan hanya untuk mempermudah tugasnya saja, tapi juga untuk mengisi media sosialnya nanti. Berbeda dengan Kyra yang dari tadi terlihat menguap. Sudah bosan dan ingin pulang rasanya. "Ra. Kamu harus semangat. Lihat! Yang lain antusias, seharusnya kamu juga." "Ini membosankan, Lea. Aku tidak suka." Lea berkacak pinggang, menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya. "Ini demi nilai ujian, Ra. Jangan sampai semester depan kamu mengulang matkul ini lagi." Kyra mengangguk. "Iya, kamu benar. Maka dari itu aku terpaksa ikut ke sini." Lea akhirnya menyerah. Kyra memang keras kepala. Kadang di beberapa hal, gadis ini susah sekali diberi tahu. Satu setengah jam berlalu, mereka akhirnya selesai. Beberapa di antaranya ada yang masih melihat-lihat isi museum ini, dan beberapa lagi ada yang beristirahat di kantin terdekat museum untuk mengganjal perut mereka. Museum ini memang menyediakan kantin sederhana tidak jauh dari tempatnya, untuk menarik wisatawan juga dengan tema-tema bersejarah di dalamnya. Sedangkan Lea dan Kyra memilih berjalan santai menjauhi bangunan museum. "Kenapa menjauh, Ra? Teman-teman ada disana." "Aku tidak nyaman. Apalagi tatapan dari teman-teman Tara. Mereka 'kan, tidak menyukaiku." Lea mengangguk paham. Dia menemani Kyra hingga sampai di pagar tembok yang tak jauh dari belakang museum. "Jauh banget sih, Ra." Kyra nyengir lebar dan menggaruk tengkuknya karena gatal. "Tadi ada yang mengawasi kita. Aku tidak nyaman." "Siapa?" "Siapa lagi kalau bukan dua klan yang kemarin kamu bicarakan itu." "Maksudmu Alif dan Randai?" Kyra mengangguk, sedikit menengokkan kepalanya ke belakang Lea untuk memeriksa mereka tidak ada yang ke sini. "Kamu tahu, Le. Mereka juga mengikuti kita tadi." Mata Lea langsung terbelalak. Benarkah? "Sampai segitunya, Ra?" Kyra kembali mengangguk. "Kamu pasti mengada-ada, untuk apa mereka mengikuti kita?" "Mana aku tahu--ah iya, sudah kubilang kan, mungkin saja salah satu dari mereka ada yang menyukaimu." Kyra mengatakan dengan sedikit kesal karena Lea yang tidak mempercayainya. "Hilih! Kamu pasti bohong." Lea menuding Kyra. "Nggak! Enak aja!" "Aku nggak percaya." Lea masih tidak mempercayai, karena tidak ada alasan, sehingga dua klan tersebut akan mengikuti mereka. "Terserah--" "Kami memang mengikuti kalian." Baik Lea maupun Kyra langsung menoleh ke sumber suara, dan menemukan dua klan asing yang baru saja mereka bicarakan. Lea langsung bertindak, dia membuat kuda-kuda dan berdiri di depan Kyra. Mempersiapkan diri untuk kondisi apa pun nantinya. "Hey, tenang saja. Kami ke sini bukan untuk bertarung. Jadi tidak perlu memasang kuda-kuda seperti itu." Salah satu pria itu menyunggingkan senyum. Menambah kadar ketampanannya semakin berlipat. "Cih! Memangnya Vampir sepertimu bisa dipercaya." Lea memasang wajah sinis. Membalas perkataan Randai, sang vampir yang terkenal tampan di kampusnya. "Tentu saja-- hey! Bagaimana bisa kamu menyebutku vampir?! Itu rahasia klan, dan kamu malah mengatakannya di depan manusia ini!" Randai terlihat sangat kesal dan marah. "Dia sudah tahu. Bahkan sebelum kita ke sini." "Apa?!" Randai langsung menolehkan kepala ke arah temannya Alif. Mencurigai pria serigala itu dengan tatapan menyelidik. "Apa? Bukan aku yang melakukan." "Mana mungkin. Kamu adalah serigala paling menyebalkan yang pernah aku kenal." Alif berdecak. Selalu seperti ini. Randai jarang sekali mempercayainya. Sambil mendorong kepala Randai pelan dia memelototi temannya. "Aku beri tahu ya, Tuan Vampir yang terhormat. Gadis Fairy yang ada di depanmu inilah pelakunya. Dia yang memberitahu identitas kita." Randai beralih menatap Lea. "Kenapa kamu memberitahu identitas kami? Bukankah kamu tahu, kalau hal ini adalah rahasia para klan." Lea merilekskan tubuhnya. Tidak lagi membuat kuda-kuda untuk membentengi diri. "Maaf. Tapi gadis ini sudah tahu segalanya. Bahkan dia hampir mati karena klanmu." "Ha?!" Randai mengernyitkan dahi, sebenarnya dia sudah tidak terkejut lagi. Klan Vampir seperti dirinya memang banyak yang belum bisa mengendalikan diri jika mencium baru darah, apalagi jika manusia itu mempunyai sesuatu yang spesial. Randai memindai seluruh tubuh Kyra, sesekali dia memejamkan mata untuk menghirup entah apa itu. "Temanmu ini aromanya memang berbeda, tapi bukan darahnya yang menjadikan kami sampai tidak bisa mengendalikan diri. Ada sesuatu entah apa itu. Auramu berbeda, siapa kamu?" Kyra tidak menjawab, dia hanya memandangi Randai dan Alif secara bergantian. 'sial, padahal aku sudah menakai minyak wangi, kenapa masih bisa tercium.' Merasa pertanyaannya tidak mendapat jawaban, Randai sedikit mendekatkan diri, membuat Kyra ikut mundur satu langkah. "Hey! Mau apa kamu?" Lea memperingati. "Tidak ada." Randai menggerakkan tangannya seperti seorang chef yang tengah menghirup aroma masakan. "Pantas saja dari tadi aku mencium aroma manis, ternyata di sini sumbernya." "Ternyata sama saja, baik kamu maupun klanmu tidak ada bedanya. Kalian tergila-gila dengan darah." "Hey! Jaga ucapanmu, Nona. Tentu saja aku berbeda, aku sudah ahli dalam mengendalikan diri. Bahkan sudah tidak mengonsumsi darah manusia lagi. Aku ini vegetarian." Randai tidak terima dengan tuduhan Lea. Meski pun dia adalah Klan Vampir, tapi dia sudah lama tidak mengonsumsi darah, kecuali kalau benar-benar dalam keadaan terdesak. Dia levih sering mengonsumsi darah binatang, lebih suka berburu bersama Alif di hutan. Alif mencoba mendekat begitu Lea sudah berada di sisi Kyra, tidak lagi menjadi benteng di depan gadis itu. "Apa yang ingin kamu lakukan?!" Lea memegang lengan Alif, saat pria itu mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Kyra. Lea memang sangat posesif sekarang, bukan tanpa alasan, hanya bersiaga karena dua pria di depannya ini bukan manusia biasa. "Tenang saja. Aku tidak akan menerkamnya. Lagi pula ada banyak manusia di sini. Mana mungkin aku bertindak gegabah." Alif menyentak tangan Lea yang sempat bertengger di lengannya. Tatapannya tajam hingga rasanya benar-benar menembus sampai mata. Kini pandangan tajamnya beralih ke arah Kyra, memindainya perlahan dan berdecak. "Kamu adalah gadis yang melemparku dengan botol kaleng waktu itu 'kan?" Alif melipat kedua tangannya di depan d**a. Ucapannya sukses membuat Kyra terbelalak kaget. Tidak menyangka kalau perbuatannya disadari sang korban. Setahu dia, waktu itu Alif tidak melihatnya. Tapi ternyata dirinya keliru. "A ... aku ...." Kyra menggigit bibir, bingung akan berkata apa, bahkan kata maaf saja susah untuk terlontar. Dia terlalu takut jika Klan Lycanthrope di depannya ini marah dan menerkamnya tiba-tiba, karena yang ia ketahui dari Lea, Lycanthrope adalah Klan serigala. Kyra memundurkan langkahnya pelan-pelan, tapi Alif juga melakukan hal yang sama mereka terus mundur hingga tanpa disadari sebuah udara terpilin di belakang mereka, pilinan itu semakin lama semakin besar memancarkan cahaya yang begitu terang. Tidak sempat menghindar, mereka tiba-tiba tertarik di dalamnya. Melihat dua temannya tiba-tiba masuk ke dalam cahaya itu, Lea dan Randai ikut mendekat, mencoba menarik kembali Kyra dan Alif, namun sayang, mereka berdua malah ikut tertarik dan masuk ke dalam--itu portal ternyata--yang entah akan membawa mereka ke mana. Empat remaja itu langsung terpental dengan tubuh berguling dan saling menabrak satu sama lain, membuat mereka merasa mual karena rasanya tubuh mereka di kocok secara bersamaan. Tiga menit berlalu mereka sampai pada sebuah lubang dengan cahaya yang bersinar terang, dan dalam hitungan detik, mereka kembali terpental, kali ini empat remaja itu mendarat di rerumputan yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang ukurannya begitu besar dari ukuran normal. Tingginya hampir dua kali manusia. Mereka tidak menyadari, kalau tempat itulah yang akan menuntun mereka pada petualang baru, menuntun mereka pada misteri-misteri yang belum terpecahkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN