Ikut Berbaur

2453 Kata
Happy Reading Suyung "Apa kamu yakin dengan yang kamu lihat, Le?" "Tentu saja, Ma. Kami hampir mati kalau dia tidak mengeluarkan kekuatan itu." Lea mencoba meyakinkan kalau apa yang baru saja diceritakan itu nyata, bukan halusinasi atau karangan belaka. Tatapan Lea dan mamanya kini beralih pada gadis yang terbaring di atas ranjang. Matanya terpejam dan tubuhnya lemas. Seperti telah mengeluarkan energi yang begitu besar. "Ya sudah, nanti kita tanyakan sama Kyra. Biarkan dia beristirahat dulu. Mama akan mencoba mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi." Lea mengangguk. Dia merubah posisinya yang semula berdiri menjadi duduk di sebelah Kyra, gadis yang saat ini terbaring lemah di ranjang kamarnya. Perlahan Lea mengembuskan napas lemah. Kejadian tadi masih terngiang di kepalanya, dan dia sangat bersyukur dengan apa yang telah diperbuat sahabatnya. Entah sebuah kekuatan atau apapun itu, tapi mereka akhirnya selamat. Beberapa saat menunggu, Kyra akhirnya sadar, dia membuka matanya perlahan, dan hal pertama yang ia lihat adalah sahabatnya. "Lea?" "Iya, ini aku." Kyra mencoba mengingat tentang apa yang sedang terjadi hingga dia terbaring di sini. Dan begitu ingatannya berhasil memilah kejadian beberapa jam lalu, dia langsung terduduk menatap dirinya dan Lea bergantian. "Kamu tidak apa-apa?" Kyra menatap Lea khawatir. Terakhir kali dia melihat sahabatnya itu tersungkur dalam keadaan yang begitu lemah. Hampir sekarat. Tapi lihat sekarang ... tubuhnya kembali bugar lagi, sehat, dan seperti tidak terjadi apapun. Sedangkan dirinya ... beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit, dan kondisinya agak lemah seperti telah mengeluarkan banyak tenaga. Bahkan kepala dan lehernya juga diperban. Dia seperti orang yang sudah ketahuan maling dalaman, digebukin masa hingga babak belur. "Aku baik, Ra. Semua berkat dirimu." Kyra mengucap syukur. Semua membaik meski kejadian tadi sangat mengerikan. Mereka hampir mati diterkam vampir. Ck, ini sangat aneh, bagaimana mungkin makhluk fana itu benar-benar ada? Lea menyodorkan teh hangat ke arah Kyra, menyuruhnya untuk meminumnya agar kondisinya lebih baik. Kyra langsung menerima dan mengucapkan terima kasih. Setelah meneguk beberapa kali dia mengembalikannya di atas nakas, lalu menatap Lea untuk menanyakan suatu hal. "Aku masih bingung, Le. Semua tentang kejadian semalam. Siapa kamu sebenarnya?" Lea tersenyum. Sudah ia duga kalau Kyra akan menanyakan hal ini. Tentu saja, manusia mana yang tidak terkejut begitu melihat ada manusia lain yang tiba-tiba mengeluarkan sayap. Bisa terbang pula. Memangnya dia keturunan burung? Burung yang sebenarnya loh ya, bukan burung jadi-jadian. "Aku lebih terkejut lagi, Ra. Sangat penasaran siapa kamu. Gadis lemah ini ternyata luar biasa. Tapi sebelumnya, akan aku ceritakan siapa diriku terlebih dahulu, baru nanti giliranmu." Kyra mengubah posisi duduknya, mencari posisi nyaman untuk mendengarkan cerita Lea. "Seperti yang kamu tahu, aku Lea, sahabatmu sejak SMP, dan aku dari Klan Fairy." "Klan Fairy?" Lea mengangguk membenarkan. "Bisa dibilang kami dari bangsa peri, makhluk seperti kami memang bersayap, jadi jangan kaget kalau tadi kamu melihatku mengeluarkan sepasang sayap. Klan kami biasa terbang, kekuatan kami akan semakin berlipat ganda jika di udara, karena sumber kekuatan terbesar kami ada pada sayap dan mata kami--" "Maksud kamu?" "Jangan menyela, Ra. Aku belum selesai." Lea melotot, pura-pura marah karena ucapan Kyra. Sedangkan yang dipelototi hanya nyengir lebar dan meminta maaf. "Lanjutkan," ucap Kyra kembali, berharap Lea masih mau melanjutkan. "Kamu ingat, vampir tadi beberapa kali menarikku ke bawah?" Kyra mengangguk. Tentu saja, bahkan ia tidak akan lupa. Apalagi beberapa kali sahabatnya itu di banting ke tanah. "Itu kelemahanku, kelemahan klan kami. Maka dari itu aku tidak bisa melawan. Apalagi saat dia menyakitimu. Maaf, Ra." Lea memasang wajah kecewa. "Tidak apa. Kamu sudah berusaha. Ini bukan kesalahanmu." "Kamu tahu, Ra, Sebenarnya klan kami ada yang bisa bertarung di bawah, tanpa terbang." "Benarkah?" Kyra mengangkat sebelah alisnya dan dibalas dengan anggukan oleh Lea. "Tapi tidak sembarang orang yang bisa melakukannya. Hanya orang-orang yang punya kekuatan begitu besar. Orang-orang terpilih yang sudah berlatih bertahun-tahun, dan itu hampir sudah tidak ada di klan kami, apalagi semenjak perang yang terjadi dua puluh tahun silam." "Perang?" "Iya. Aku kurang tahu detailnya bagaimana, tapi dari cerita mama, perang besar itu terjadi karena perebutan pusaka. Dan akibat perang itu, semua klan jadi terpisah. Beberapa di antara kami ada yang memilih berbaur di dunia manusia." "Seperti kamu?" Lea kembali mengangguk. "Mama sudah melarangku untuk menggunakan kekuatan dalam kondisi apapun, kecuali itu sangat terdesak atau pun berhadapan dengan klan-klan dunia kami dulu. Akibatnya bisa fatal kalau sampai manusia ada yang tahu, aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi. Tapi kadang di beberapa kondisi, aku tidak mematuhi, mama. Kamu pasti tahu sendiri, sesuatu yang sudah menetap dalam diri kamu, kadang tidak bisa selamanya kamu simpan. Ada dibeberapa waktu aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan sayap dan kekuatan." Kyra terdiam. Dia semakin bingung dengan penjelasan Lea. Sungguh, apa tadi yang dia bilang? Perang, klan, Fairy. Tidak pernah dia pikirkan kalau makhluk fana dari negri fantasi itu ada. "Kamu bingung?" Kyra mengangguk. Benar-benar tidak paham dengan penjelasan sahabatnya. "Itu hal wajar, Ra. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa tentang hal ini ya. Ini rahasia kita. Aku mempercayaimu, karena kamu sahabatku." "Tidak ada yang tertarik dengan ceritamu, Le. Entah itu karangan atau benar-benar terjadi. Aku rasa tidak ada yang percaya, dan tidak ada untungnya juga buatku." "Itu lebih baik, Ra. Satu lagi, aku juga penasaran tentang kamu. Ngomong-ngomong, kamu punya kekuatan sehebat itu dari mana?" Kernyitan di dahi Kyra semakin dalam mendengar pertanyaan dari Lea. Apalagi ini, dia manusia biasa, bukan makhluk seperti sahabatnya itu. Dia tidak pernah memiliki kelebihan seperti yang dimiliki Lea, apalagi sampai mengeluarkan sepasang sayap yang membuatnya terbang. Kekuatan apa yang dimaksud? "Tidak ada kekuatan, Le. Aku gadis biasa, manusia seperti pada umumnya. Aku tidak punya sesuatu yang spesial seperti dirimu. Aku tidak bisa terbang, kalau pun bisa, sudah dari dulu aku gunakan biar tidak capek jalan kaki saat pulang ke rumah." "Bukan itu yang kumaksud, Ra. Tidak mungkin kamu hanya manusia biasa. Tadi kamu mengeluarkan kekuatan yang begitu besar. Api biru. Bahkan sampai membakar habis vampir itu. Meski pun setelahnya kamu tidak sadar diri selesai melakukan hal keren tadi, dan saat bangun kondisimu begitu lemah." Kyra menggeleng, mengayunkan tangan ke depan tidak menangapi. Dia tidak percaya. "Ngaco kamu. Tidak ada, aku bukan golongan sepertimu, aku manusia." Lea berdecak, dia tidak mengada-ada. Dirinya melihat sendiri apa yang dilakukan sahabatnya tadi. "Terserah kalau kamu tidak percaya, tapi itu benar. Aku tidak mengada-ada." Lea sedikit kesal karena Kyra masih saja mengelak. Atau mungkin dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, sehingga dia memilih untuk tidak percaya. *** Siang ini Lea dan Kyra di kampus. Berdiam diri di dalam perpus sambil membaca buku untuk dijadikan referensi di presentasi yang akan datang. Mereka satu kelompok. Suatu kebetulan lagi. "Le, kamu tahu tidak, aku kemarin dapat amarah habis-habisan dari mama." "Sungguh?" Lea mengalihkan pandangan dari buku ke arah Kyra. Sebenarnya dia sudah tidak terkejut lagi kalau sahabatnya ini akan mendapat hal itu. Mamanya memang kejam, mirip sekali dengan ibu tirinya Cinderella yang ada dalam negeri dongeng. Kyra mengangguk untuk meyakinkan. "Tapi tidak bertahan lama sih, soalnya udah malam juga." Semalam Lea memang mengantarkan Kyra pulang dalam keadaan sudah sangat larut. Sebenarnya sudah disuruh menginap, tapi Kyra menolak. Ia tidak ingin mendapat amarah yang lebih banyak lagi dari sang mama. Lea terkikik mendengar ucapan Kyra. Tidak ada yang lucu memang, tapi mampu membuatnya merasa geli jika membayangkan bagaimana ekspresi sahabatnya itu. "Kenapa tertawa?" Kyra mendelik, tidak suka jika kemalangannya ditertawakan. "Tidak. Tidak apa, Ra." Lea berdehem, merubah posisi duduknya supaya Kyra tidak berprasangka buruk lagi padanya. Melihat Lea yang berpura-pura seperti itu malah membuat Kyra semakin kesal. Lihat saja, Klan Fairy ini jago sekali memerankan drama. Merasa Kyra kembali fokus pada bacaannya lagi, Lea menolehkan pandangan ke arah lain. Dan tatapannya terpaku pada dua sosok pria yang saat ini sedang memilah buku yang berjejer di atas rak. "Ra?" "Apalagi?" Kyra menanggapi malas. Dia sedang fokus membaca materi yang akan dipresentasikan. "Lihat ke arah jam tiga. Dua pria yang sedang memilah buku." Kyra menurut, menolehkan pandangan sesuai petunjuk Lea. Matanya ikut berfokus pada dua pria yang dimaksud Lea. "Maksudmu dua pria tinggi yang satunya sedang memegang buku berwarna biru itu?" Lea mengangguk. Salah satu pria yang dimaksud tadi sepertinya sudah menemukan buku yang dicarinya. Membaca dengan raut serius, sehingga tidak lagi memilah di antara jajaran lainnya. "Kenapa? Kamu naksir." Lea berdecak, lalu menggeleng keras. Mereka bukan tipenya, bukan selera klannya. "Kamu tahu mereka siapa?" "Sekedar tahu namanya, tidak pernah akrab, belum pernah kenalan soalnya. Tapi sepertinya pernah satu kelas-- kalau tidak salah sih." Lea mengangguk paham. Masih serius mengamati dua pria itu. "Ada apa, Le? Kamu mengenal akrab mereka?" Lea kembali menggeleng, membuat Kyra semakin heran dengan sahabatnya itu. Ditanya naksir, dia bilang tidak. Ditanya apakah akrab dengan mereka, juga dijawab tidak. Lalu untuk apa gadis seumurannya ini menanyakan tentang dua pria itu kepadanya. Apalagi sampai mengganggu konsentrasinya membaca materi. "Kalau bukan hal penting. Tidak usah mengganggu." Kyra mengembuskan napas keras. Kesal dengan sahabatnya. "Mereka juga bukan manusia, Ra." Kyra kembali mengangkat kepalanya yang sempat menunduk. Menatap Lea, kemudian beralih memandang dua pria yang di maksud tadi, saat ini dua pria itu sedang duduk di kursi yang berjarak dua meja dari Lea dan Kyra. "Kamu serius?" Lea mengangguk. "Kamu lihat, pria yang memegang buku warna biru itu, dia dari Klan Lycanthrope, dan yang sedang mencatat sesuatu itu, dia Klan Vampir." Lea berkata dengan sangat pelan, lebih tepatnya berbisik. "Vampir!" Hampir saja Kyra berteriak mendengar nama klan terakhir yang disebut Lea. Mengingatkannya dengan kejadian mengerikan yang dialami keduanya malam tadi. "Dia berbahaya." Kyra meneguk ludah dengan susah payah, rasanya seperti dipaksa menelan batu. Dia tidak menyangka, mereka ternyata berbaur bersama manusia dengan sangat apik. "Tidak, Ra. Tidak semuanya berbahaya. Tidak semuanya jahat dan arogan seperti semalam. Ada beberapa di antara kami yang juga memiliki kebaikan. Contohnya seperti aku." Lea mengangkat kedua alisnya. Menyombongkan diri. Bangga karena dia termasuk salah satu yang baik. Kyra berdecak menanggapi sahabatnya. "Bagaimana kamu tahu kalau dia tidak berbahaya?" "Itu hanya tebakanku sebenarnya. Tapi coba kamu ingat, pernah tidak di kampus kita ada kejadian orang mati mendadak karena cakaran atau digigit hewan buas seperti serigala atau semacamnya?" Kyra terdiam, mencoba mengingat memori selama di kampus ini, tapi tidak satu pun dari pertanyaan Lea yang ada jawabannya, sehingga dia memilih untuk menggeleng. "Maka dari itu, Ra, aku bilang mereka tidak berbahaya, kalau pun mereka mau, mereka pasti sudah melakukannya dari dulu." "Lalu bagaimana kamu bisa yakin kalau dia dari klan-klan yang kamu maksud tadi. Aku perhatikan penampilan mereka sama saja dengan manusia." "Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana detailnya, tapi bangsa kami bisa mengenalinya otomatis. Kamu tahu induk ayam?" Kyra kembali mengangguk. Tentu saja. Hewan seperti itu sudah tidak asing di negeri ini. "Nah, kita ini semacam induk ayam yang bisa mengenali anak-anaknya meski pun mereka terlihat sama. Induk ayam tetap tahu mana anaknya dan mana yang tidak, kan. Mungkin perasa kami lebih peka dari bangsamu." Kyra mengangguk, sedikit paham dengan penjelasan Lea. Ternyata gadis manja ini cerdas juga. "Sudahlah, Ra. Tidak apa. Jangan terlalu dipikirkan. Mereka tidak jahat, jadi kamu bisa tenang. Lagi pula, Klan Vampir itu lumayan ganteng juga. Tidak ada salahnya kalau kamu nanti merasakan gigitannya." Kyra melotot, memukul pelan bahu Lea. Sedangkan sahabatnya itu malah tertawa keras, membuat mereka ditegur oleh penjaga perpus, dan beberapa orang. "Jangan buat keributan, Ra," tegur Lea dengan menahan tawa, melampiaskan kesalahannya pada sahabatnya itu. Membuatnya semakin dipelototi tajam oleh Kyra, setelah itu mereka tertawa kecil dan kembali fokus dengan buku yang mereka baca. Memilah lembar demi lembar untuk memahami materi yang akan mereka sampaikan. Melupakan sejenak dua pria yang tadi sempat menjadi perbincangan mereka. Bahkan Lea sendiri sampai lupa kalau Klan Lycanthrope mempunyai pendengaran yang tajam. Tidak mengetahui kalau perbincangan mereka sedikit banyak didengar oleh pria itu. Tidak disadari kalau sekarang gantian mereka yang diawasi. Dua hari berlalu mereka akhirnya selesai melakukan tugas presentasi, mampu menyampaikan materi dengan apik. Tidak ada kejadian atau kejanggalan apa pun di dua hari itu. Semua berjalan normal seperti biasa. Normal juga, karena Kyra masih diperlakukan kurang baik oleh keluarganya--tunggu, ada satu kejadian yang dilupakan Kyra. Tentang lukanya yang mudah sembuh. "Le, aku ada cerita menarik." Ucapan Kyra membuat Lea sampai mengalihkan pandangannya dari gadget. "Apa? Ada drama korea terbaru ya?" Lea bertanya antusias, membuat Kyra langsung memutar bola matanya. Tidak menyangka Klan sepertinya juga tergila-gila dengan drama yang diperankan oleh negara tetangga itu. "Bukan. Ini masalah lain. Lebih menarik dari drama yang sering kamu tonton." "Benarkah? Apa itu?" Lea semakin penasaran saja dengan apa yang ingin disampaikan Kyra. Memangnya apa yang lebih menarik dari tontonannnya itu. "Kamu tahu. Kemarin aku habis terluka. Tanganku tanpa sengaja tergores beling saat tidak sengaja memecahkan piring." Jeda sejenak, belum sempat Kyra melanjutkan ucapannya, Lea lebih dulu menyahutnya. "Tidak ada yang menarik, Ra. Itu hal biasa. Pasti ujung-ujungnya kamu yang kena omel." Lea bedecak, tidak tertarik dengan cerita Kyra, kembali fokus lada gadget-nya. "Bukan itu inti yang ingin kuceritakan. Aku belum selesai cerita." "Lalu?" tanya Lea tanpa mengalihkan pandangannya dari benda persegi yang ada di tangannya itu. Gadis itu sedang asyik memainkan game. "Tidak lama setelah itu tiba-tiba lukaku sembuh sendiri, Le. Sangat ajaib, seperti sihir. Padahal darahnya cukup banyak yang keluar." Kyra menjelaskan apa yang sempat dialaminya kemarin. Antara senang, takjub, terkejut, dan takut. Sebenarnya luka yang ia dapat dulu dari vampir juga sama, sembuh dengan cepat tanpa bekas, dia mengira itu wajar dan sembuh secara bertahap, karena beberapa hari Kyra tidak melepas perbannya. Malas mengganti lebih tepatnya. Tapi begitu dia tahu luka di tangannya sembuh dalam sekejap, dirinya semakin bingung. "Oh ... itu hal wajar, Ra. Aku juga sering begitu. Lukaku sembuh dengan cepat." "Ha?" Kyra masih menatap Lea bingung. Sahabatnya ini masih belum sadar dengan apa yang diucapkannya. Tidak paham karena masih fokus memainkan game. "Lea, dengarkan aku. Kalau kamu yang mengalami, itu hal wajar, Le. Tapi kalau aku? Memangnya aku sepertimu yang bisa terbang ke mana-mana?!" Kyra sedikit banyak memang sudah tahu tentang Lea. Termasuk ketika lukannya bisa sembuh dengan cepat bahkan tanpa bekas. Lea langsung mem-pause gamesnya. Tatapannya kembali fokus pada Kyra setelah pendengarannya menangkap kata terbang. "Maksud kamu, kamu bisa melakukannya sepertiku? Lukamu? Bagaimana bisa?" Kyra mengangkat kedua bahunya. "Mana kutahu. Itulah yang sedang kutanyakan. Semua semakin aneh, Le. Semenjak aku bertemu dengan vampir itu, mengetahui siapa dirimu, dua pria yang ternyata bukan manusia, dan diriku yang terus merasakan hal aneh." "Lea memasukkan gadget-nya ke dalam tas. Memilih fokus dengan permasalahan yang dialami sahabatnya. "Ini rumit, Ra. Sebelumnya aku tidak pernah tahu kalau manusia bisa melakukan itu. Hanya kaum kami, para klan yang bisa melakukannya. Tapi kamu ... bagaimana bisa?" Lea ikut bingung mendengar cerita Kyra, sebelumnya belum pernah dia melihat kejadian ini. Apalagi Kyra pernah mengeluarkan cahaya kebiruan dari tubuhnya yang membakar habis vampir waktu itu. Kyra menggeleng menanggapi Lea. Dia sendiri juga bingung dengan apa yang terjadi. Semua terasa aneh dan asing. "Sebenarnya siapa kamu, Ra?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN