Perjalanan

2287 Kata
Sinar matahari mulai terlihat, kilauannya yang berpendar telah siap menggantikan putri rembulan, mengganti malam dengan cahaya pagi yang lebih terang. "Ra, bangun! Atau kamu akan kami tinggal." Kyra menggeliat pelan, membuka mata dan menemukan tiga sahabatnya sudah bersiap. Sisa dedaunan yang mereka gunakan istirahat semalam telah mereka rapikan, api unggun yang mereka buat juga sudah padam, menyisakan bara api yang tidak terlalu banyak. "Kenapa tidak membangunkanku dari tadi. Itu kenapa baranya nggak dimatikan aja." Kyra mengucek matanya pelan, tatapannya agak sebal dengan para sahabatnya itu. "Tidurmu terlalu nyenyak, Ra. Kamu sarapan dulu, cobalah roti pemberian Paman Zek dan Canuto kemarin, rasanya benar-benar enak, dan aku tidak merasa lapar sama sekali setelahnya." "Tentu saja, kalau sudah makan pasti kenyang, teori mana yang mengatakan setelah makan kelaparan." Lea melotot, Randai selalu saja bisa membuat moodnya berantakan. "Kamu sudah memakannya?" "Tentu. Semalam waktu berjaga, aku sama Randai nyemil itu." Lea cekikikan mengingat kejadian semalam, bagaimana tidak, Randai yang dipaksa makan roti itu malah melepehnya setelah masuk ke dalam mulut. Memaksakan diri memuntahkannya dan mengatakan rasanya aneh. "Jangan percaya, Ra. Rasanya tidak enak, seperti racun. Aneh sekali. Kenapa mereka tidak memberikan kita makanan seperti biji cemara kayak dulu." Kyra tertawa, Randai memang tidak suka makanan manusia, kecuali yang pernah ia makan waktu itu. Makanan yang disajikan di gudang rahasia tempat Zek dan Canuto tinggal. Katanya rasanya cukup lumayan. "Itu karena kamu hanya mengonsumsi darah, Ran. Coba saja kamu bisa seperti kami, makanan seperti ini sangatlah enak." Kyra mengambil rotinya dari dalam tas dan mengunyah pelan setelah mengambil satu potongan kecil. Ternyata benar apa yang dikatakan Lea, rasanya enak. Bahkan Kyra juga menawarkannya pada Alif yang sedari tadi seperti memikirkan sesuatu. "Tidak, Ra. Aku kenyang." Kyra mengangguk, mengambil satu suapan lagi sebelum kembali memasukkan rotinya ke dalam tas. "Kita juga harus menemukan binatang, tidak mungkin aku terus menahan haus beberapa hari kemudian." "Kita akan menemukannya, Ran. Akan kami bantu." Randai mengangguk, kata-kata yang diberikan Kyra sedikit menenangkannya. Setelah merapikan semuanya, mereka kembali bersiap, meneruskan perjalanan yang belum ditapaki setengahnya, meniti sesuatu yang tempatnya saja tidak mereka ketahui. Rasanya aneh, kadang mereka berpikir ... mengapa remaja biasa seperti mereka yang terpilih, bahkan tempat pusaka itu tersembunyi saja mereka tidak tahu, mereka seperti mencari sesuatu yang tidak ada. Tapi di sisi lain, mereka percaya kalau dua orang paruh baya yang memberikan misi itu tidaklah bohong, jikalau pun iya, kenapa mereka harus repot-repot menyiapkan ini-itu. Misi ini memang sulit, seperti mencari jarum kecil ditumpukkan jerami. Mereka terus berjalan, sesekali berhenti untuk mengistirahatkan kaki mereka--ah tidak, lebih tepatnya Kyra yang sering istirahat, matahari juga mulai meninggi, tapi tidak satu pun makhluk yang mereka jumpai. "Kenapa Zek dan Canuto tidak membekali kita kendaraan juga, hewan misalnya, atau kalau lebih keren mobil sport." Randai mengomel, menyeka pelipisnya yang terasa panas. "Medan seperti ini mana bisa dilewati mobil, Ran." Kyra terkekeh. "Apalagi di sini tidak ada binatang satu pun. Kerongkonganku panas." Lea menepuk bahu Randai, menyemangati. "Kita jalan seperti ini supaya bisa menemukan hewan juga, Ran." Randai berdecak sebal. "Sebenarnya aku bisa saja melesat jauh, melakukan teleportasi dan menempuh perjalanan lebih cepat, tidak harus berpanas-panas seperti ini." Alif berhenti, menatap mereka satu persatu. "Itu ide bagus, kenapa tidak kita gunakan saja kemampuan kita. Dengan begitu, waktu yang kita tempuh bisa lebih cepat." "Ayolah, Lif. Kyra tidak punya kemampuan kecepatan seperti kita. Yang ada dia ketinggalan. Kamu mau meninggalkan kekasihmu di sini sendirian." Alif memukul kepala Randai. Sedangkan Kyra membelalakkan matanya mendengar kata-kata Randai, pipinya terasa panas, memerah karena malu. "Bukan itu yang kumaksud bodoh!" "Aku mengerti. Maksud Alif, kita bisa membawa Kyra juga untuk mempercepat waktu dan jarak. Bisa dengan menunggangi Alif, ikut terbang bersamaku, atau teleportasi bersama Randai. Kyra bisa ikut serta." Alif mengangguk, kemudian menatap Randai sambil menggeleng. Bisa-bisanya lelaki vampir itu tidak memahami rencananya. "Baiklah, kita coba. Kamu memilih siapa, Ra?" "Ha?" Kyra menatap tiga sahabatnya, tidak tahu harus bagaimana. Matahari semakin terik, mereka memang sudah memasuki daerah yang jarang ditumbuhi pohon, bahkan beberapa di antaranya ada yang patah, tanah di sekitarnya gersang. Hanya rumput kering yang sesekali hadir menumbuhi tanah itu. "Aku sama Lea." "Pilihan bagus." Lea tersenyum, dia memejamkan mata dan membukanya kembali, iris matanya yang semula hitam berubah menjadi kuning, ujung kupingnya sedikit runcing, sepersekian detik kemudian, punggungnya mengeluarkan sepasang sayap. Mengepak pelan sehingga membuat tubuhnya sedikit terangkat. Kyra selalu takjub dengan perubahan itu, meski pun ini bukan kali pertama dia melihat ini. "Sayang sekali, padahal Alif sangat menginginkanmu, Ra." "Diam, Ran. Atau kucabik kamu sekarang juga." Randai tertawa, Alif sudah bertransformasi menjadi serigala, bulu peraknya yang lebat membuatnya terlihat menawan meski bukan dalam wujud manusia. Mereka bersiap, meninggalkan hutan ini untuk menemukan pusaka itu. "Pelan-pelan, Le." Lea mengangguk, membimbing tangan Kyra untuk diangkatnya ke atas, dia harus menyeimbangkan diri, dan memegangi Kyra dengan erat selama perjalanan mereka. "Cukup, aku tidak mau!" Kyra meminta turun, belum juga mereka berjalan, tapi gadis itu sudah ketakutan melayang setinggi itu. Lea tidak ada pilihan lain, dia menurunkan Kyra perlahan, kakinya menapaki tanah, sayapnya masih mengepak pelan. Membuat beberapa rumput di bawahnya ikut bergoyang. Sayap Lea bukanlah tipis dan menerawang, tapi besar dan ditumbuhi bulu yang lebat. Sangat cantik, apalagi dipadukan dengan matanya yang berpendar kuning. "Baiklah, naik ke punggungku." Alif, menundukkan tubuh serigalanya. Ukurannya memang terlalu besar dari ukuran serigala asli, maka dari itu dia harus melipat kakinya untuk memudahkan Kyra naik di punggungnya. "Terlalu lama, ikut aku saja, Ra." Kyra memekik kaget, dia tidak terlalu siap saat Randai tiba-tiba merangkul pinggangnya dan membawanya pergi lebih dulu. Lea geleng-geleng kepala, tingkah Randai tidak berubah, dia segera terbang menyusul lelaki vampir itu. Sedangkan Alif memicing tak suka. Merasa sia-sia sudah menunduk. Sahabat lelakinya itu memang selalu berhasil membuatnya marah. *** Randai terus melakukan teleportasi, berpindah tempat dengan sangat cepat, Kyra dari tadi terus memegang lengan Randai dengan kuat, begitu pun dengan lelaki itu. Lea juga mengikuti, terbang dengan cepat menyusul Randai dan Alif untuk ke luar dari hutan ini. Dari bawah sana, Alif yang masih dalam wujud serigala berlari dengan kencang, mampu menyusul Randai dengan mudah. Dalam perjalanan kali ini, mereka belum menemukan jalan keluar sama sekali, masih tanah tandus dan rerumputan kering yang mereka lewati, pohon-pohon di sekitar mereka juga jarang. Randai berhenti. Kyra sedikit terhuyung saat Randai tidak lagi melakukan teleportasi. Alif dan Lea juga sama, mereka berhenti tidak jauh dari mereka. "Ada apa?" "Aku merasa aneh, kenapa dari tadi kita tidak bisa keluar dari sini. Seperti berputar-putar." Randai melepaskan Kyra. Gadis itu menepuk lengannya dan membenarkan rambutnya yang berantakan. Alif yang sudah berubah jadi manusia kembali mendekat. Dia mengarahkan pandangan ke sekitar, mengamati apa yang ada di hutan ini. "Biar kulihat dulu. Semoga ini berhasil." Lea menyembunyikan sayapnya. Dia maju selangkah dan menunduk perlahan, tangannya menyentuh permukaan tanah dan matanya terpejam, mencoba berkonsentrasi mengamati apa yang ada di sini. "Berapa jauh dia bisa melakukannya, Ra?" Kyra menatap Randai sebelum menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Lea tidak pernah cerita, yang kutahu katanya dia bisa membaca alam." Randai mengangguk, disusul Alif yang kembali mengamati tindakan Lea. Gadis itu mengerutkan alis. Beberapa detik setelahnya napasnya tersengal, matanya langsung terbuka. "Ada apa, Le?" "Apa yang kamu lihat?" Pertanyaan demi pertanyaan disusul oleh kawan-kawannya. "Ini gawat teman-teman. Kita seperti disihir oleh ilusi. Randai benar, dari tadi kita hanya berputar-putar di sini." "Maksud kamu?" Kyra tidak paham apa yang dikatakan Lea. "Hutan ini seperti cermin, ilusi yang membuat kita terus berada di sini. Aku sudah mengamati sekitar, ada sebuah pohon besar, sepertinya tidak jauh dari kita, tapi ada sesuatu yang menghalangi kita menuju ke sana. Aku tidak tahu apa itu, hutan ini seperti di sihir." Lea menjelaskan, dia sendiri agak kebingungan membaca hutan ini, terasa aneh. "Lalu bagaimana ini? Ah, andaikan saja ada Paman Canuto dan Paman Zek." Kyra kembali mengingat lelaki paruh baya itu. "Sebenarnya ada cara lain. Jika saja diantara kita bisa membuat portal, pasti kita bisa keluar dari sini dengan mudah." Ini rumit, mereka mulai kebingungan berada di situasi seperti ini. Seperti tidak ada solusi. "Aku bisa membuat portal." Alif bersuara, memecah keheningan di antara mereka. "Kenapa tidak bilang dari tadi, cepat gunakan, lalu kita keluar dari sini." Alif menggeleng. "Portalku lemah, aku belum terlalu menguasai, sangat beresiko jika digunakan, bisa-bisa kita mendarat di lubang hitam." Harapan itu musnah, mereka yang awalnya berbinar menjadi lesu kembali. Tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sini. "Kapan kita memasuki hutan ilusi ini, Le. Sepertinya semalam kita tidak berada disituasi seperti ini." Lea seperti mengingat sesuatu, dia kembali menempelkan telapak tangannya di permukaan tanah, mulai memejamkan mata konsentrasi. Perlahan bayangan seperti camera terlihat didepannya. Menembus tanah, dia bisa melihat tanah yang retak karena kering di dalam sana. Terus bergerak ke belakang tempat mereka memasuki hutan ini tadi. Ada rumput kering, tanah yang gersang dan pohon yang jarang, bahkan ada beberapa yang tumbang. Kembali lagi ke belakang dia menemukan akar pohon yang lebih besar, tapi saat kembali ke permukaan dia hanya menemukan tanah gersang dan rumput kering. Lea berkonsentrasi lagi, dia mencoba menembus ke dalam tanah kembali, lalu melesat ke atas di mana akar pohon itu berada. Ternyata benar di sana ada hutan yang lebat, tempat mereka istirahat semalam. Di atas tanah perbedaan itu terlihat jelas. Ada rumput hijau yang membatasi keduanya. Di satu sisi tanah gersang dan rumput kering. Jaraknya sangat dekat, tapi Lea tidak bisa melihatnya tadi, seperti ada penghalang yang tak kasat mata. Entah apa itu, dia tidak tahu. Kembali ke tempat tadi, mencoba memeriksa barangkali dia salah lihat, tapi semua sama, tanah itu gersang, sejauh mata memandang hanya kegersangan yang dia lihat. Tidak ada hutan lebat yang dia lihat sebelumnya. Lea kembali menajamkan konsentrasinya, keringat mulai bercucuran di dahinya. Dia mencoba menembus ke dalam tanah, seperti menggali. Dia kembali melihat beberapa akar pohon, terus masuk ke dalam, setelah itu mencoba kembali ke atas, menembus permukaan tanah, dia mulai melihat banyak akar di sana, terus ke atas dan dia melihat ada rerumputan segar, pohon disekitar terlihat lebat. Dia berhasil menembus sihir itu lagi. Lea kembali tersengal, dia membuka mata dan mendapati teman-temannya menatapnya khawatir. "Kamu baik-baik saja, Le?" Lea mengangguki pertanyaan Kyra, sahabatnya itu memang selalu khawatir padanya. "Apa yang kamu lihat?" Kali ini giliran Alif yang bertanya. "Aku tahu dimana titik kita memasuki hutan ini. Daerah yang kita tapaki sekarang. Hutan ini bisa ditembus tapi susah untuk keluar. Aku tidak tahu sihir apa yang digunakan, tapi ...." Lea menjeda kalimatnya, melihat satu persatu wajah temannya yang penasaran. "Kita masih bisa melewatinya, lewat bawah." "Apa? Maksudmu apa, Le?" "Kita bisa melewati hutan ini lewat bawah, Ran. Menembus tanah, menggalinya lalu menembus permukaan setelah hutan ini." "Bagaimana bisa. Kamu pikir kita tikus tanah." Randai tidak menyetujui. "Hanya itu cara satu-satunya, kalau kamu ingin keluar dari sini, maka kamu harus menjadi tikus tanah." Lea yang ikut kesal jadi mengatai Randai. "Kamu saja, aku tidak mau." Kyra mengembuskan napas, mendekati mereka berdua dan menepuk pundak Randai. "Kita tidak menjadi tikus tanah beneran, Ran. Hanya mengikuti cara terakhir. Kita harus keluar dari sini. Kekuatanmu sangat dibutuhkan." Randai menatap Kyra. Sungguh, dia tidak menyukai situasi ini, tidak ada sejarahnya Klannya melakukan ini semua. Tapi karena untuk misi sialan ini, dia terpaksa harus melakukannya. "Bayangkan, Ran, setelah keluar dari sini, kamu mendapatkan binatang. Darah segar sudah menantimu dibalik hutan ini. Bayangkan Ran, bayangkan dulu, kenyataannya belakangan." Alif yang biasanya tidak perduli ikut menyemangati Randai, meskipun itu terlihat seperti mengoloknya. "Sialan kamu, Lif!" Alif hanya terkekeh, dia mengangguk pelan memberi semangat untuk Randai. Akhirnya lelaki vampir itu luluh juga, dia maju ke depan, dan bersiap mengeluarkan pukulannya. "Sebentar di mana aku harus membuat lubang itu?" Lea menepuk jidatnya. Mereka baru ingat, belum mengetahui batas di mana hutan ini. Mau tidak mau Klan Fairy itu harus berkonsentrasi lagi, berbicara dengan alam dan menemukan perbatasan hutan ini. "Baiklah, aku cari dulu. Maaf, aku lupa." Lea nyengir lebar, berjalan beberapa langkah mencari tempat yang nyaman, setelah itu dia kembali menunduk, menempelkan telapak tangannya seperti tadi. Mencoba berbicara pada alam, ingin tahu di mana letak ujung dari hutan ini. Beberapa menit berlalu, Lea kembali membuka mata, dia sedikit tersengal dan tersenyum setelahnya. Lea berhasil menemukan tempatnya. "Ikuti aku, dua meter dari matahari terbenam, itulah ujung dari hutan ini." Lea sedikit berlari menjauhi temannya, baru kemudian disusul tiga remaja lainnya. Sesampainya mereka di sana. Yang terlihat dari mata telanjang mereka hanya hutan kering yang tandus. "Tidak ada apapun di sini, Le. Sama seperti tadi." Randai mengamati sekitar dengan seksama. "Dilihat dari mata telanjang memang seperti itu, Ran. Tapi aku sudah membacanya tadi, meminta tolong pada alam untuk menunjukkan jalan ke luar dari sini. Sebentar." Lea memandang sekitar, seperti mencari sesuatu. Dia kembali memejamkan mata dan meraba tanah. "Di sini. Tempatnya di sini. Kamu bisa menggalinya sekarang, Ran." Lea menepuk tanah itu pelan, memberinya tanda dengan kayu kecil yang ia temukan. Alif dan Kyra saling tatap, disusul dengan Randai yang mendesah lelah. Dia akhirnya maju, bersiap melepaskan pukulan untuk menggali tanah. Tangannya teracung ke atas, kemudian melepaskannya ke bawah, tanah itu melesak beberapa meter ke dalam. Randai terus memukul, membuat lubang besar dalam tanah, sampai kemudian dia bisa melubangi tanah hingga sampai kepermukaan. Lea tersenyum, mengajak teman-temannya untuk bersiap. Mereka akhirnya menyusul Randai, berlari kecil ke sana dan sampai pada permukaan tanah yang berbeda dari sebelumnya. Banyak rumput liar tumbuh di sana, pohon besar dengan daun lebat juga tumbuh. Hutan ini lebih gelap dari sebelumnya, tapi mereka lega akhirnya bisa keluar. Dibelakang mereka, terlihat hutan kering yang mereka lewati tadi. Hutan itu bisa dilihat dari luar, tapi saat di dalamnya, hutan lain tidak akan terlihat. "Kita harus melanjutkan perjalanan." Alif mengambil langkah lebih dulu, disusul dengan tiga teman lainnya. Kelegaan sempat singgah di hati mereka, karena berhasil keluar dari hutan bayangan tadi. Tidak tahu kalau bahaya lebih besar telah menanti mereka di depan, mengamati gerak-gerik mereka, tidak suka karena telah membuat kekacauan di perbatasan yang sudah ia buat dengan susah payah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN