Empat remaja itu kembali berjalan menyusuri hutan, menyibak beberapa ranting yang menghalangi mereka. Sengaja ketiganya tidak menggunakan kekuatan mereka untuk menyingkat waktu agar cepat keluar dari hutan yang sepertinya tak berujung ini. Keadaan tak memungkinkan, pohon di sini terlalu rapat. Sangat beresiko jika mereka membawa Kyra ikut serta menyingkat waktu, yang ada gadis itu bisa celaka kena ranting yang menjalar.
Bukan hanya itu, sebelumnya mereka telah bersepakat, melakukan perjalanan normal saja, mereka tidak ingin ada yang terlewat dan tidak menemukan pusaka itu.
"Tidak aku sangka, ternyata misi ini lebih sulit dari yang kuduga." Randai mendumel pelan, mematahkan rantai yang hampir mengenainya. Langit telah berubah gelap, hutan ilusi yang mereka lewati tadi menguras banyak waktu. Tidak menghasilkan apa pun dan malah berputar-putar di sana.
"Kita harus mencari tempat istirahat. Kyra sudah kelelahan."
Alif dan Randai memandang ke arah Kyra yang beberapa kali memukul kakinya pelan. Gadis itu memang terlihat lemah di antara yang lain. Kalau saja dia tidak mendapatkan bekal dari Canuto kemarin, mungkin dia akan cepat lapar dan perbekalannya habis dalam waktu singkat.
Setelah menyiapkan tempat untuk istirahat, mereka membiarkan Kyra tidur terlebih dulu. Kali ini dia akan berjaga bersama Randai, karena lelaki vampir itu terus merengek mengeluhkan capek. Padahal dia termasuk salah satu klan yang kuat terhadap tekanan dan tidak mudah lelah, tapi lihat sekarang ... makhluk itu bahkan langsung menselonjorkan kaki dan memejamkan mata setelah mendapat jatah tidur lebih dulu.
Tiga jam berlalu, giliran Kyra dan Randai yang berjaga . Mereka hanya saling diam satu sama lain, sesekali mengamati sekitar yang begitu gelap. Tetap siaga meski terdengar begitu sunyi.
Kyra jadi mengingat kehidupannya di dunia manusia sana. Dia tidak pernah tidur di tempat ini, tapi di rumah dia juga tidak selalu mendapat kenyamanan, ibunya selalu membandingkannya dengan sang adik. Selalu mengistimewakan adiknya dan dia diperlakukan seperti babu di sana. Sedangkan di sini ... meski tidak berada di tempat yang nyaman, tapi sahabatnya selalu memperhatikannya. Memberi perhatian meski bukan keluarganya.
"Jangan melamun, Ra. Nanti kamu dimasukin setan halu lho." Randai terkikik, kikikan horor karena dia menirukan suara hantu berjubah putih yang selalu nangkring di pohon.
"Mirip sekali kamu, Ran. Kamu tidak pantas jadi klan vampir, tapi jadi keponakan Tante Kunti." Kyra tertawa, membuat Randai langsung melemparkan ranting kering ke arahnya.
"Ra, apa itu di belakangmu?" Randai menunjuk belakang Kyra dengan wajah serius.
"Tidak usah membual, aku tidak percaya."
"Aku serius, Ra. Ada sinar di sana."
Kyra masih tidak percaya, dia menggeleng sambil tersenyum meremehkan. "Randai, kamu pintar sekali membual. Tidak ada sinar di sini, mungkin matamu sudah terlalu rabun. Segera periksakan, atau kamu akan tua secara dini."
Randai berdecak. Dia langsung mendekati Kyra, memegang bahunya dan memutarnya ke belakang. Kyra yang semula hendak protes langsung terdiam begitu melihat sesuatu di depannya.
"Sekarang kamu percaya? Aku tidak membual."
Kyra menatap Randai sejenak, tiba-tiba dalam dirinya ada sesuatu yang bergejolak, dia tidak tahu apa itu. Tapi di dalam tubuhnya seperti merasakan suatu kekuatan yang besar.
"Aakk!!" Kyra memekik, memegangi dadanya yang nyeri. Sinar di depannya semakin terang. Tiga detik setelahnya perlahan meredup.
"Kamu kenapa, Ra?"
Kyra menggeleng, mengatakan dirinya baik-baik saja.
Randai langsung membangunkan Alif dan Lea, mengatakan bahwa mereka melihat sesuatu yang bersinar.
"Mungkinkah itu tempat pusakanya?"
"Entahlah, Le, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi kalau tidak didekati." Alif langsung berdiri. Dia meminta kawannya untuk bersiap menuju cahaya itu. Sinar yang sempat mereka lihat tadi. Meski pun samar dan meredup, tapi tidak ada salahnya mendekati.
Alif memimpin di depan, menyuruh teman-temannya untuk tetap siaga. Mereka memang telah memilih Alif sebagai pemimpin di sini. Karena lelaki itu memang terlihat berwibawa dan mempunyai jiwa pemimpin. Mungkin saja dia calon Alpha. Tapi tidak ada yang tahu. Dunia klan sedang tidak baik-baik saja, jadi pergantian pemimpin atau tradisi yang biasa mereka lakukan juga tidak berjalan dengan baik selama dua puluh tahun terakhir.
"Tempat ini menyeramkan."
Lea mengangguk, setuju dengan pendapat Kyra. Meski pun mereka sedang menuju ke arah cahaya yang belum mereka temukan di mana titiknya, tapi aura di sekitar sangat mencekam. Seperti ada yang mengawasi.
"Sepertinya ada danau di sana." Alif mengarahkan tangannya ke depan, salah satunya ditekuk 45 derajat untuk melindungi matanya dari pancaran sinar yang semakin terang. Penglihatannya yang tajam mampu melihat dari jarak jauh meski pun terhalang cahaya.
"Cahaya ini terlalu menyilaukan, kamu yakin kita tetap berjalan ke sana?"
"Yakin. Kita harus tahu apa yang ada di sana, Ran."
"Cahaya ini sepertinya tidak asing, aku pernah melihatnya."
Alif dan Randai langsung menatap Lea, disekitar mereka tiba-tiba ada angin yang berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut mereka.
"Di mana kamu melihatnya?"
Masih melawan angin yang semakin kencang, ditambah kemilau cahaya yang semakin terang, Alif mencoba bertanya, mungkin saja Lea punya solusi untuk ini.
"Di gedung kosong tempat Kyra diserang vampir. Dialah sumber cahayanya, warna biru terang persis seperti ini. Hanya saja tubuhnya juga mengeluarkan api biru."
Alif, Lea dan Randai langsung menatap Kyra yang ada di belakang mereka. Gadis itu mati-matian melindungi matanya dari cahaya yang semakin menyilaukan, tidak menyadari kalau tubuhnya juga ikut mengeluarkan cahaya.
Angin di sekitar mereka semakin berhembus kencang. Ada kupu-kupu biru muda dan kelopak bunga yang tiba-tiba berguguran. Entah dari mana asalnya. Mereka mengamati sekitar, lalai kalau Kyra yang belum bisa menyesuaikan cahaya terus bergerak maju ke depan.
"KYRA! Alif, Kyra, Lif!" Lea berteriak panik melihat tubuh sahabatnya seperti tertarik menuju cahaya itu. Alif langsung bergegas, mengubah dirinya menjadi serigala, mengaum keras hingga tanah di sekitar ikut bergetar. Dua orang lainnya ikut bersiap, merubah diri mereka sesuai Klan yang dimiliki. Berlari ke depan memegang tubuh sahabatnya yang terus tertarik.
Lea dan Randai memegang dari arah belakang. Menariknya terus ke belakang, dan meneriakan nama Kyra untuk segera sadar. Gadis itu memejamkan mata, tidak sadar apa yang telah terjadi pada tubuhnya. Sedangkan Alif terus mendorong tubuh Kyra dari depan, melawan sesuatu yang menarik mereka.
Angin di sekitar semakin kencang berhembus, kelopak bunga semakin banyak berguguran. Kupu-kupu biru muda juga terus mengitari mereka. Cahaya di depan sana semakin menyala terang. Memancarkan cahaya yang berganti warna menjadi emas. Sangat kontras dengan cahaya yang berasal dari tubuh Kyra.
Di tengah usaha mereka yang semakin menggebu. Tiba-tiba terdengar suara seperti ledakan dari dalam air.
BUM!
Mereka berempat langsung terhempas, terjatuh di atas tanah dengan tubuh terbanting.
Ketiga makhluk berbeda Klan itu tersengal. Alif yang masih dengan tubuh serigalanya mencoba berdiri. Mengamati sekitar apa yang sudah terjadi.
"Kalian baik-baik saja?" Alif langsung menghampiri Randai dan Lea yang terjatuh tidak jauh darinya. Mereka mengangguk. Alif juga sudah berubah jadi manusia kembali.
"Di mana Kyra?"
Ketiga Klan itu panik, mengetahui kalau salah satu partner mereka ternyata hilang. Sedangkan di depan sana, di sebuah danau besar yang tadi sempat mengeluarkan bunyi keras itu masih bercahaya, tapi tidak terlalu menyilaukan seperti tadi.
Pandangan mereka fokus ke sana. Seperti terhipnotis. Terpaku pada tengah danau yang airnya terus menyembur. Secara perlahan, sebuah pohon tidak berdaun yang ditumbuhi bunga keluar dari dalamnya. Semakin terlihat jelas.
"Astaga! Apa itu?!" Lea menutup mulutnya, terkejut melihat sosok apa yang memejamkan mata di tengah danau dengan badan telungkup dan punggung yang ditumbuhi pohon tanpa daun, hanya bunga saja.
Lebih terkejut lagi, dibawah pohon itu, ada Kyra yang tergeletak lemas tidak sadarkan diri.
"Besar sekali makhluk itu." Randai menatap dengan takjub.
"Kalian berhati-hati, kita tidak tahu makhluk apa itu."
"Bagaiman dengan Kyra, Lif?" Lea terus menatap Kyra, sangat khawatir dengan sahabatnya itu.
"Kita akan menyelamatkannya, tapi tetap berhati-hati, kita harus siaga."
Semua mengangguk. Mereka langsung membuat kuda-kuda, bersiap bertarung jika sesuatu terjadi.
Di depan sana. Makhluk yang punggungnya ditumbuhi sebuah pohon hitam dengan bunga berkelopak putih itu perlahan membuka matanya. Menyunggingkan senyum miring sambil menatap tiga remaja berbeda klan tersebut. Sangat mengerikan, apalagi ditambah tubuhnya yang dari tadi terus telungkup, seperti menyatu dengan danau tersebut.
Makhluk itu seperti seorang wanita, parasnya sebenarnya cantik, rambut hitam kebiruan dengan perhiasan bunga di kepalanya membuatnya semakin anggun dan menawan. Hanya saja, pohon hitam tanpa daun yang hanya ditumbuhi bunga saja itu mengerikan, karena menyatu dengan punggung gadis itu, bahkan akarnya menjalar, seperti menancap layaknya otot yang bersatu dengan tubuhnya.
Alif, Lea dan Randai semakin waspada saat wanita itu mulai bangun. Bunga di pohonnya perlahan berguguran, mengelilingi tubuhnya yang hendak berdiri. Menutupi rapat hingga tak tersisa celah sedikit pun--tidak lupa dengan cahaya biru yang berpendar keemasan ikut menyelimuti.
Perlahan bunga yang mengelilingi tubuhnya menghilang, tergantikan sosok wanita cantik dengan senyum yang terlihat tak bersahabat. Dia berjalan di atas danau dengan sangat anggun, tidak takut jika dirinya akan tercebur, karena nyatanya ... danau itu laksana jalan biasa ketika dilewatinya, tidak membuat kakinya tenggelam atau basah sama sekali.
Dia menggunakan baju--ah tidak, itu layaknya jubah kebesaran berwarna putih. Tetap kering meski menyapu air ketika langkah kakinya terus mendekat. Jangan bayangkan dia seperti sosok menyeramkan yang hobby-nya tertawa di atas pohon. Wanita ini berbeda, dia sangat cantik. Jubah putihnya terjulur sampai bawah, ikut terseret saat langkah kakinya terus mendekat.
Dikedua tangannya yang terangkat di depan d**a, terdapat gadis tidak sadarkan diri, dialah Kyra, sahabat mereka yang entah akan diapakan.
Wanita itu terus berjalan sampai tiba di bibir danau. Di tubuhnya dikelilingi kupu-kupu biru. Di punggungnya juga tidak ada lagi pohon mengerikan yang sempat menancap tadi. Sangat berbeda. Wanita ini benar-benar cantik, apalagi jika diamati dari jarak dekat seperti ini. Jubahnya ternyata tidak berwarna putih sempurna, ada warna biru juga meski pun samar. Kulitnya seputih s**u, rambutnya yang lebat berwarna hitam kebiruan, terurai sampai di bawah pinggang. Tidak lupa dengan senyum yang terlihat mengerikan itu. Entahlah, apa dia tidak menyukai mereka atau memang senyumnya sudah begitu.
"Dia cantik, Lif.".
Alif langsung menyikut perut Randai. Bisa-bisanya lelaki itu memuji kecantikan wanita tersebut disaat sahabatnya sedang terkulai tak berdaya di tangan wanita itu.
Kyra dibaringkan di atas tanah. Tubuhnya kering meski tadi sempat berada di tengah danau. Matanya masih terpejam, tidak sadarkan diri sedari tadi.
Lea hendak mendekat, tapi tangan wanita yang membawa Kyra tadi langsung terangkat.
"Jangan dulu mendekat, Nona."
Randai terpaku, bahkan suaranya saja terlihat merdu, renyah dan ramah, sangat kontras dengan senyumnya yang begitu mengerikan.
"Dia pantas jadi bintang shampoo di dunia manusia, Lif."
Lagi-lagi Alif menyikut Randai, lelaki ini masih saja bercanda di saat situasi sedang mencekam begini.
"Apa yang kamu lakukan pada sahabat kami?!" Alif bertanya lebih dulu. Dia sudah tidak ingin berbasa-basi.
"Oh ... jadi dia sahabatmu, aku kira dia kekasihmu." Wanita itu tertawa kecil. "Tapi tenang, dia baik-baik saja. Tidak terjadi apa pun, aku hanya membuatnya tidur sebentar. Entahlah, dia unik. Aku tidak tahu, bagaimana bisa dia membangunkan bungaku yang sudah lama tidak mekar, bahkan membangkitkan cahaya itu yang sudah aku kunci bertahun-tahun. Siapa dia?" Wanita itu menunjuk Kyra.
"Dia gadis biasa, hanya seorang manusia?" Alif kembali menjelaskan. Dua temannya memang memilih diam, situasi seperti ini, hanya Alif yang bisa menangani, di antara mereka lelaki itulah yang pandai berbicara.
"Benarkah? Tapi aku tidak percaya, atau kamu yang tidak tahu siapa dia."
"Itu terserah kamu. Lepaskan dia, dan bangunkan kembali."
Wanita itu tertawa. "Tenang anak muda, Klan Werewolf memang selalu tidak sabaran. Baiklah, aku akan membangunkan dia, tapi tidak semudah itu, ada syarat yang harus kalian penuhi."
Wajah wanita itu berubah serius, dia menatap satu persatu tiga klan tersebut.
"Apa maumu?"
"Sembuhkan makhluk pengendali danau ini. Setelah itu, kalian akan aku bebaskan. Tidak hanya itu, aku akan menuruti satu permintaan kalian."
"Kalau kami tidak bisa melakukannya?"
"Maka sahabatmu ini, akan terkurung di sini. Selamanya." Wanita itu beralih menatap Kyra dengan senyum mengerikannya.
Lea yang geram hampir saja maju ke depan, tapi Alif sergap menahannya.
"Kami tidak mengganggumu, kenapa harus menyandra sahabat kami."
Wanita itu kembali tertawa, kali ini sangat keras. "Siapa bilang kalian tidak mengganggu. Kalian sudah merusak alam, melubangi hutan ilusi yang aku ciptakan!"
"Oh, jadi kamu biang keladinya. Lagi pula kami hanya menyelamatkan diri, memang apa salahnya?!" Randai yang ikut geram juga membela diri.
"Apa salahnya? Tentu saja salah! Hutan itu aku ciptakan dengan susah payah untuk melindungi sesuatu yang dititipkan padaku, tapi dengan seenaknya kalian datang dan merusak segalanya. Segel itu akhirnya terbuka gara-gara kalian!" Wanita itu terlihat murka, sangat kentara dari wajah dan alisnya yang memicing, bahkan suaranya ikut naik.
"Hey! Jangan salahkan kami, mana kami tahu kalau hutan itu dibuat untuk jadi pelindung, harusnya kamu kasih tulisan ... warning! Tidak diperbolehkan lewat, atau jangan biarkan seseorang masuk kalau akhirnya tidak bisa keluar. Ck! Cantik sih, sayang galak!"
Lea menyenggol Randai yang berbicara sesukanya, situasi sedang tidak memungkinkan untuk berdebat, tapi dia malah membuat keributan.
"Jaga bicaramu Klan Vampir!" Wanita itu mengacungkan tangan ke depan, menunjuk Randai dengan amarah di wajahnya.
Mereka sudah menduganya, Randai memang pandai memancing kemurkaan siapa pun. Wanita itu kemudian mengangkat kedua tangannya, hendak mengeluarkan kekuatan, Alif yang sigap dengan keadaan langsung menghentikan.
"Tunggu! Kita bisa mendiskusikan ini."
"Tidak ada yang perlu didiskusikan! Temanmu itu sudah membuatku murka!"
Seperti kata pepatah, air yang tenang bisa menghanyutkan, begitu pun dengan wanita yang mereka temui ini, cantik, tapi mematikan. Lihatlah dikedua tangannya yang terangkat di udara sudah keluar cahaya yang terang, berpendar biru dan terlihat menyilaukan, di sisi kanan kirinya menjalar ranting-ranting runcing, siap menghunus siapa pun yang berada di depannya.
"Lain kali aku harus menyegel mulutmu, Ran!" Alif berkata kesal, padahal tadi dia mencoba bernegosiasi. Barangkali wanita itu mau menuruti kemauannya, namun Randai malah merusak semuanya. Mereka tidak ada pilihan lain, harus bersiap dan membuat kuda-kuda. Siap bertarung karena kondisi yang tidak memungkinkan. Ini lebih genting dari yang mereka pikirkan. Kyra saja belum sadar, tapi masalah baru sudah menghadang.
***