Lea Sekarat

2156 Kata
Warning 21+ Blarr!! Suara petir menyambar di sekitar mereka, tidak menyangka kalau wanita cantik itu mempunyai kekuatan listrik. Untung saja mereka sigap. "Akan kubuat kalian hangus malam ini!" Wanita itu maju, meninggalkan tubuh Kyra yang tergolek lemah di belakangnya, mengejar tiga remaja yang berhasil dipukul mundur beberapa meter darinya. "Kenai dulu kami baru berkata begitu, pukulanmu saja meleset, Nona!" "Randai!" Lea mendesis, masih sempat-sempatnya lelaki vampir itu berbicara, menambah kemurkaan pada wajah cantik yang sedang menyerang mereka. "Setidaknya jika aku gosong ada sedikit kepuasan, Le. Wanita itu membuatku geram." Randai sigap menghindar, gerakan cepatnya membuat dirinya selamat dari ranting runcing yang hampir menusuk pantatnya tadi. "Hampir saja pantatku kempes." Lea menepuk jidatnya, lelaki vampir bernama Randai itu memang unik. "Jangan banyak bicara, kalian harus fokus!" Randai dan Lea mengangguk. Alif sudah memberi perintah, mereka harus fokus dengan wanita cantik yang ada di depan mereka. Rambutnya berkibaran, matanya menyorot tajam, di tubuhnya mulai tumbuh beberapa ranting runcing yang semakin banyak, melepas satu persatu ke arah tiga remaja itu, seperti ratusan tombak yang dilepaskan secara bersamaan. Lea menukik, pindah tempat ke samping dan loncat ke atas, begitu pun dengan Randai dan Alif, mereka terus bergerak menghindari serangan ranting yang tajam itu. "Akh!" Dua lelaki remaja itu menoleh ke arah Lea, gadis itu tersungkur, lengannya tertusuk ranting membuat darah segar mengucur dari sana. Randai segera mendekat, melakukan teleportasi untuk mengambil tubuh Lea sebelum ranting-ranting tajam itu kembali mengenainya, gerakannya yang cepat mampu membawa tubuhnya tiba di samping Lea, tapi Randai terlalu lengah, antara panik dan khawatir lelaki itu lalai kalau beberapa ranting tajam sudah menuju ke mereka. Klatak! Mereka berdua menoleh, menatap ratusan ranting yang sudah jatuh di depan mereka. Alif bergerak cepat, segera membuat pelindung transparan untuk melindungi sahabatnya. "Kita harus tetap bersama. Randai bawa kita teleportasi ke arah Kyra, ambil tubuhnya, aku akan melindungi kalian dengan pelindungku. Cepat!" Randai mengangguk, bergegas memegang tubuh Alif dan Lea. Bergerak cepat sebelum pelindung yang dibuat Alif hancur dan menimbulkan suara retakan. Pyar! Seolah ada yang pecah, pelindung itu runtuh, ranting-ranting runcing itu berhasil menembus, kekuatannya begitu dahsyat, sangat cepat, tapi Randai juga tak kalah cepat, dia berhasil berpindah tempat sebelum ranting runcing itu mengenai mereka. Terus bergerak menuju tempat Kyra. Wanita dengan amarah yang masih menyerangnya itu semakin murka begitu tahu musuhnya berhasil lolos, dia mengeluarkan kekuatan baru, tangannya terangkat ke udaranya, langit mulai gelap, disusul suara petir yang terus menyambar. Ranting-ranting runcing terus keluar dari tubuhnya, kali ini tidak menyerang, tapi mengambang beberapa senti tidak jauh darinya, namun ada yang berbeda, ranting itu tidak hanya tajam, tapi juga disertai petir, kilatan listrik terlihat mengalir dari ranting itu. "Cepat Randai, sedikit lagi kita sampai!" Alif terus memperingati, kekuatan baru yang baru saja dilihatnya tadi membuat Randai tercengang, sempat berhenti karena terkejut, tapi itu tidak lama. Satu teleportasi lagi, maka mereka akan sampai di tubuh Kyra. "Rasakan ini!" Wanita itu mengerahkan seluruh ranting ke mereka. Tepat sasaran, sepertinya dia tahu ke mana remaja-remaja itu hendak melangkah. Pelindung Alif pecah lagi, menimbulkan bunyi retakan, mereka hampir saja tersengat aliran listrik itu. Nyaris saja.  Gerakan cepat Randai kembali menyelamatkan mereka, tapi dia salah mengambil langkah, dirinya malah semakin jauh dari tubuh Kyra. "Kita semakin jauh, Ran. Kamu salah melakukan teleportasi!" Alif menggeram, bisa-bisanya lelaki itu gegabah, padahal sedikit lagi sampai. "Aku panik, Lif, konsentrasiku pecah." Randai berkonsentrasi lagi, kembali berteleportasi ke arah Kyra. Alif juga sama, terus membuat pelindung meski pun terus saja pecah. Lea semakin kesakitan, kondisinya lemah, sepertinya ranting itu beracun. Tapi mereka tidak tahu, sedang konsentrasi menuju ke arah Kyra, namun ada yang aneh, semakin mereka bergerak, semakin pula mereka menjauh. "Ini aneh, Lif, kita semakin jauh dari Kyra." Alif mengangguk, dia sendiri mulai kepayahan, tenaganya terus berkurang, hampir satu jam mereka terus begini. "Kita dijebak ilusi, Ran. Wanita itu bisa membuat ilusi." Mereka akhirnya berhenti. Alif semakin menebalkan konsentrasi, menebalkan pelindung karena Randai tidak lagi berteleportasi. "Bagaimana ini?" Randai berdiri di samping Alif, membuat kuda-kuda dan melepaskan pukulan balik ke arah ranting berlistrik itu, mereka berdiri di depan Lea, melindungi gadis itu dari serangan. "Aku tidak tahu, ilusinya terlalu kuat." Alif kembali membuat pelindung baru, kali ini lebih besar, dia menebalkan sisi depannya, menambalnya jika ada yang retak, berkonsentrasi sambil memikirkan bagaimana keluar dari situasi ini. Ranting-ranting beraliran listrik itu berjatuhan di depan mereka, seolah menabrak sesuatu. Tapi bukan itu rencana wanita yang masih diliputi amarah itu, dia hanya memanfaatkan kekuatan Alif dan Randai, membuat mereka sibuk membentengi diri, lupa kalau ada akar pohon yang terus bergerak dari bawah, melewati mereka dan mengambil sesuatu yang sudah lengah. "Aakk!!" Mereka berdua langsung menoleh, menemukan Lea yang ditarik ke arah bawah. "Lea!" Pekikan itu membuat konsentrasi mereka hancur, pelindung yang diciptakan Alif pecah. Randai sigap, dia melepaskan pukulan melindungi mereka, tapi itu tidak cukup, sebuah akar pohon kembali menjulur, menarik keduanya ke arah wanita tadi. Tenaga mereka semakin lemah, seperti tersedot, tidak bisa melawan, mereka sudah terkunci. "Lepaskan kami!" Randai terus bergerak, tapi akar itu semakin kuat mencengkeram. Dirinya terus ditarik, dan berhenti tidak jauh dari Kyra dan Lea berada. Alif juga sama, lelaki itu tidak bisa bergerak terlilit akar. Mereka berada di titik yang sama. Dikumpulkan menjadi satu. "Aku sudah berbaik hati bicara dengan kalian, tapi memang dasar kalian yang suka cara kasar." Wanita itu berjalan perlahan mendekati, tubuhnya kembali normal seperti tadi, langit tidak lagi mendung, gemintang kembali terlihat lagi. Cerah. Tidak ada petir yang menyambar. "Lepaskan kami!" "Tidak semudah itu. Sudah kubilang kan, kalau malam ini aku akan menghanguskan kalian, aku tidak pernah berbohong, akan aku buktikan itu." "Kamu bilang tidak berbohong, tapi kamu sendiri membuat ilusi yang membohongi semua makhluk!" Wanita itu tertawa. "Kamu memang tidak pernah kapok. Tidak kusangka Klan Vampir sepertimu sangat berani. Terus saja bergerak, maka tubuhmu akan remuk dalam sekejap." Alif menatap Randai yang terus bergerak, lelaki itu sudah seperti ulat bulu yang terus menggeliat, tubuhnya semakin terlilit, memang seperti itu cara kerja akar pohon tersebut, semakin dia bergerak, semakin kuat lilitannya. "Berhenti bergerak, Ran!" Alif memperingati, tapi lelaki itu malah mengumpat. Merasa kesal. "Uhuk!" Lea terbatuk, tubuhnya ambruk dalam posisi meringkuk, kondisinya lemah, semakin pucat. "Maafkan kami, tolong lepaskan kami." Alif menyerah, dia tidak bisa mengorbankan para sahabatnya, apalagi melihat dua orang yang sudah tumbang tidak berdaya. "Tidak semudah itu, Nak. Kalian sudah membuatku terlalu murka, aku bukanlah seseorang yang mudah memaafkan. Sekali membuatku kesal, maka tamat riwayat kalian. Bersiaplah, akan kubuat kalian lenyap malam ini." Wanita itu memejamkan mata, sudah bersiap melakukan sesuatu kembali. Alif memejamkan mata, bersiap menerima takdir jika ini kematiannya. Sepertinya memang sampai di sini perjuangan mereka. Baru berjalan beberapa langkah tapi sudah tidak bisa lagi meneruskan. Percuma saja Zek dan Canuto mengirim mereka, nyatanya semua akan berakhir sia-sia. Sebelumnya, Alif sempat memandang para sahabatnya yang semakin dalam kondisi lemah, sebagai seseorang yang ditunjuk menjadi pemimpin, dia merasa tidak becus menjaga, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, seluruh kekuatan sudah ia kerahkan, namun tetap saja berakhir seperti ini. "Bersiaplah menerima takdir kalian." Wanita itu menyeringai, kedua tangannya mengeluarkan ranting-ranting tajam, tidak sebanyak tadi, tapi dipastikan sangat mematikan karena dialiri listrik yang begitu kuat. Dia mulai mengayunkan tangan, lalu melemparkannya ke arah empat remaja itu. Mata Alif sudah terpejam erat, ia siap menerima kematian, tapi setelah ditunggu ... satu detik ... dua detik, tidak terjadi apa pun, memberanikan diri membuka mata, dia terkejut melihat api biru terang berpendar mengelilingi mereka, seolah menjadi tameng pelindung. Tidak panas sama sekali. Mata Alif membulat, di depannya dia melihat Kyra yang berdiri membelakanginya dan mengambang beberapa meter dari atas tanah, tubuhnya mengeluarkan cahaya biru disertai api biru yang terus membara. 'Jadi, di sana sumbernya.' Alif membatin begitu tahu dari mana asal api itu. Dia melihat ke arah Randai yang ikut tercengang, terkejut melihat apa yang terjadi di depannya. Ranting-ranting listrik itu berhenti di depan mereka, perlahan mulai terbakar habis dan menjadi abu. Wanita tadi juga sangat terkejut, bahkan dia sempat terpental saat kekuatannya berhasil dipukul mundur. Benar-benar ajaib, kekuatan yang sangat dahsyat. 'Dari mana, Kyra mendapatkannya?' Alif terus membatin, dia benar-benar merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Tidak pernah menyangka gadis yang dianggapnya lemah itu mempunyai kekuatan sehebat itu. Kyra menoleh ke arah sahabat-sahabatnya, matanya yang semula terpejam membuka perlahan, retinanya berubah warna menjadi biru, sudut bibirnya tersungging, lalu kemudian menoleh ke arah wanita tadi. "Siapa kamu?" Wanita tersebut bertanya heran, tadi dia melihat Kyra masih tergolek tak berdaya di hadapannya, namun sekarang ... gadis itu tiba-tiba bangun dan menyerangnya dengan kekuatan yang menakjubkan. Kyra tidak menjawab. Tangan kanannya terangkat ke udara, telapak tangannya mengeluarkan cahaya biru gelap, tidak lama setelah itu dia membuat gerakan melempar, mengakibatkan wanita tadi terpental beberapa meter dan terbatuk dalam posisi terduduk menahan satu kaki. Dia memegangi dadanya, napasnya tersengal. Cahaya yang sempat mengitari tubuhnya menjadi redup. Kilatan petir juga menghilang, disusul dengan lepasnya akar yang membelit tubuh Randai, Alif, dan Lea. Mereka akhirnya terbebas. Alif segera berdiri, dia membantu Lea yang tersungkur di tanah dengan keadaan yang begitu pucat. Randai juga ikut menyusul. "Bagaimana Kyra bisa mendapatkan kekuatan itu?" Alif menggeleng, dia juga tidak tahu. Tapi mereka selamat berkat gadis yang mereka anggap manusia biasa itu. Wanita yang menyerang tadi hanya bisa terdiam melihat musuhnya bisa membebaskan diri, dia tidak bisa berbuat banyak, pukulan Kyra terlalu kuat, membuatnya terbatuk bahkan mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya, tenaganya habis seketika, tidak mampu menyerang, tubuhnya saja sekarang tersungkur di atas tanah. Dia melemah. Dua detik lengang, api biru yang tadi keluar dari tubuh Kyra perlahan meredup, gadis itu kembali pingsan dan hampir jatuh di atas tanah. Untung saja Alif sigap, dia langsung berlari dan berhasil menangkap tubuh Kyra sebelum benar-benar menatap tanah. "Ra, bangun, Ra. Buka matamu!" Alif menepuk pipi Kyra, berharap sahabatnya itu segera membuka mata dan menjelaskan semuanya. Lebih tepatnya lagi, dia ingin gadis itu cepat sadar dan pulih seperti sebelumnya. Tepukan itu berhasil. Perlahan mata Kyra terbuka, retinanya kembali normal. Berwarna hitam seperti biasanya. Alif bernapas lega, dia membantu Kyra berdiri sampai gadis itu sadar sepenuhnya. Kyra menatap sekeliling, merasa bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa semua jadi berantakan, bahkan ada wanita cantik yang masih terduduk lemah memandangnya. Sejak kapan ada makhluk lain selain mereka. Seingatnya dia tadi ikut mendekati cahaya bersama para sahabatnya, dan cahaya itu semakin terang sehingga membuatnya menutup mata dan tidak ingat apa pun. "Apa yang terjadi?" "Kamu tidak ingat?" Kyra menggeleng, dia benar-benar tidak tahu ada apa ini. Terus memandang sekeliling dan terkejut melihat Lea yang tergolek di pangkuan Randai. "Lea!" Kyra langsung berlari menghampiri sahabatnya. Panik dan khawatir begitu melihat kondisi sahabatnya yang terlihat sekarat. "Kenapa ini? Ada apa?" Kyra menatap Alif dan Randai bingung. Dua lelaki itu hanya menggeleng, mereka juga tidak tahu kalau kondisi Lea semakin parah, mereka sedang berjuang tadi, demi menyelamatkan teman-temannya. "Lukanya terus melebar." Mereka memandang luka di lengan Lea yang lebih lebar dari yang terakhir dilihat. Ada patahan ranting tadi yang sempat tersangkut, Randai berhasil menyingkirkannya, tapi tidak menyangka kalau itu membuat lukanya melebar secara perlahan. Tidak ada darah yang mengucur lagi, seolah sedang membekukan dari dalam. "Kamu tidak meminum darahnya kan, Ran?" Alif memicing, dia takut dugaannya benar, apalagi Randai pernah hilang kendali saat bersama Kyra. "Aku tidak sebodoh itu, Lif. Akalku masih waras!" Alif mengangguk, dia meminta maaf, hanya khawatir karena melihat kondisi Lea yang semakin buruk. Kekhwatiran mereka semakin bertambah. Panik luar biasa. Tubuh Lea tiba-tiba kejang sangat hebat, matanya terpejam tapi dari bibirnya keluar suara erangan. Tubuhnya juga panas. "Lakukan sesuatu, cepat!" "Akan aku coba mengobatinya." Lea menyentuh lengan Lea, mencoba menutup luka robek di sana. Sedangkan Alif dan Randai, memegang tubuh Lea, berharap kejang-kejangnya bisa berkurang. Kyra memejamkan mata, berkonsentrasi menyembuhkan luka Lea. Perlahan luka itu mulai menutup, jaringan kulit yang robek mulai meregenerasi, menyulam satu persatu hingga kembali tersambung kembali. Kyra tersengal, keringat membasahi tubuhnya, tapi ia berhasil menutup luka Lea. "Kenapa dia masih kejang, Ra?" Alif semakin panik, begitu pun dengan Randai. "Aku tidak tahu." Kyra kembali menyentuh lengan itu, dia terkejut luar biasa begitu ada yang dilewatinya. Darah Lea membeku, tidak semua, baru satu lengannya saja, tapi dia tahu itu terus menyebar, seperti es yang terus membekukan benda, persis seperti di film kartun yang ia tonton. Gadis itu menajamkan konsentrasi, mencoba menormalkan kembali aliran darahnya. Belum pernah ia lakukan sebelumnya, tapi ia berusaha mencoba, berkonsentrasi seolah sedang mengeluarkan kekuatan panas. Tiga menit berlalu, perlahan pembekuan itu berhenti, Kyra berhasil menormalkan kembali peredaran darah sahabatnya. Lea sudah tidak kejang lagi, namun wajahnya masih pucat dengan mata terpejam. "Dia masih hidup kan?" Randai bertanya takut-takut, tubuh Lea agak dingin. Kyra mengangguk, air matanya menetes melihat kondisi sahabatnya. "Lalu kenapa dia belum membuka mata?" Randai menatap Kyra ragu, sedangkan Kyra hanya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu." Kyra menangis keras, tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, semua kemampuan yang dimilikinya sudah ia kerahkan. Alif menoleh ke belakang, menatap tajam wanita yang masih terlihat cantik itu meski pun dalam kondisi yang tidak baik. "Hanya ada satu cara," katanya tanpa melepas pandangannya, giginya bergemeletuk menahan sesuatu yang ada dalam dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN