Lea Sekarat (2)

2250 Kata
"Kamu yakin, Lif?" Kyra melangkah ragu mengikuti Alif. "Tentu saja, sudah kubilang kan, kita tidak akan tahu apa yang terjadi jika tidak mencobanya." "Terakhir kata-kata yang kamu ucapkan tadi juga seperti ini, dan akhirnya membuat kita berakhir begini." Alif menoleh ke arah Kyra, memicing karena mendengar gadis itu meragukannya. Kyra yang ditatap seperti itu menjadi ciut. Dia akhirnya menurut saja tanpa membantah lagi. Alif mempunyai aura yang mencekam memang. Sesampainya di sana, wanita yang menyerang tadi mendongak ke atas, napasnya masih tersengal akibat pukulan Kyra tadi. "Aku masih tidak percaya kalau aku yang melakukannya." "Aku saja ragu kalau tadi itu kamu." Kyra berdecak. Alif dan Randai memang sama saja, selalu bisa membuat orang mudah kesal. Alif menundukkan badan, ditekuknya satu kakinya untuk menopang tangannya. "Kami datang dengan cara baik, tapi kami disambut dengan cara kasar. Kami tidak melakukan apa pun, hanya mencoba menyelamatkan diri dan kawan kami. Tapi kamu malah mau membunuh kami." Alif menjeda ucapannya. "Baiklah, anggap saja ini hari keberuntunganmu, karena kami tidak melakukan hal serupa. Jadi ...." Alif melirik Kyra, tapi yang dilirik hanya mengangkat kedua bahunya. "Sekali lagi, kami datangi kamu untuk bertanya baik-baik. Bagaimana cara menyembuhkan dia." Kyra menatap Alif dengan seksama, lelaki itu terlihat begitu wibawa saat berbicara. Pelan tapi menekan. "Rantingku beracun, perlu waktu untuk menyembuhkannya, apalagi kondisiku kurang baik, itu akan sulit mengeluarkan racunnya." Wanita itu terbatuk. Alisnya mengkerut menahan rasa sakit. "Lalu bagaimana cara membuat racun itu keluar?" "Hanya aku yang bisa melakukannya." "Maka lakukan, tunggu apa lagi?!" Wanita itu menatap Alif dengan napas terengah. "Sudah kubilang, aku tidak bisa jika kondisiku seperti ini." Alif menatap Kyra, lalu beralih menatap wanita berparas cantik di depannya lagi. "Aku akan mencoba menyembuhkanmu, tapi kamu harus janji untuk tidak mengganggu kami." Kyra ikut berjongkok di hadapan wanita itu. Meski sudah beberapa jam di satu tempat yang sama, mereka belum mengetahui siapa nama wanita tersebut. Lebih tepatnya tidak tertarik untuk bertanya. Terlanjur kesal karena hampir menewaskan mereka. Wanita itu mengangguk. "Baik, aku berjanji." Kyra mengangguk, meminta Alif untuk mundur. Awalnya lelaki itu tidak mau, takut kalau Kyra tiba-tiba diserang. Tapi gadis itu meyakinkan, mengingatkan Alif dengan kekuatan luar biasa yang dilihatnya beberapa menit silam. Kyra semakin mendekatkan diri ke wanita itu. Telapak tangannya diletakkan di d**a yang sedari tadi dipegang, sepertinya di sana sumber sakitnya. Kyra mulai memejamkan mata berkonsentrasi. Tapi ada yang aneh. Dia tidak bisa mendeteksi apa yang sedang terjadi, tidak bisa menembus jaringan sel yang ada di dalamnya. "Kenapa, Ra?" Alif ikut bingung melihat Kyra yang kembali membuka mata padahal baru beberapa saat. Apalagi gadis itu terus saja menatap Alif. "Aku kesulitan menembus. Susah dideteksi." "Bagaimana mungkin? Kamu coba sekali lagi. Konsentrasi penuh, Ra." Kyra mengangguk, kembali melakukan hal seperti tadi. Tapi hasilnya sama. Tidak berhasil. Keduanya semakin bingung, mereka menoleh ke belakang dan mendapati tubuh Lea yang masih tergolek lemah. Apalagi mereka kembali diteriaki Randai dengan kondisi Lea yang kembali memburuk. "Alif, Kyra, cepat! Lukanya Lea kembali robek. Melebar lagi." "Apa?!" Kyra menatap Alif, hendak berdiri menghampiri sahabatnya, tetapi lelaki serigala itu menggeleng, menyuruhnya untuk segera menyembuhkan wanita cantik di depannya ini. Hanya dia solusinya. "Tapi Lea--" "Maka dari itu kita harus fokus di sini, kita cari cara bagaimana memulihkan dia." "Aku sudah menyulam lukanya tadi, jelas-jelas kalian melihatnya luka itu menutup, tapi kenapa ...." "Luka itu akan terus melebar, selama racun itu belum keluar dari tubuhnya, maka luka dan efeknya akan terus menjalar seperti tadi, hingga nyawanya terenggut." Dua remaja itu menatap wanita yang ada di hadapan mereka. Kyra semakin khawatir dan bingung, dia berusaha mencari cara untuk menyembuhkan wanita ini, atau sahabatnya tidak tertolong. "Sial! Kamu yang membuat ulah, tapi kami yang menuai!" Alif semakin kalut, dia berusaha memutar otak, bahkan giginya terus bergemeletuk antara menahan marah dan khawatir. Kyra menatap wanita itu sekali lagi, menelisik bagaimana cara menyembuhkannya, tapi ada yang menarik perhatiannya, seperti ada tarikan. Mata Kyra terpaku pada manik mata biru di depannya, dia seperti melihat sesuatu, perlahan tangannya terulur tanpa disadarinya, menyentuh d**a wanita tadi, tepat di area jantung. Matanya terus fokus pada mata wanita itu, saling menatap--tanpa diduga hal yang dia cari ia temukan. Dirinya bisa tahu apa yang ada dalam diri wanita itu. Bisa melihat aliran darah, luka lebam di jantungnya yang berdetak lemah. Ada seperti akar pohon di sana yang mulai layu, jantung itu robek dan lebam beberapa centi. Pantas saja wanita ini terus mengerang kesakitan, Kyra berhasil menyerang dari dalam tanpa melukai dari luar. Mata Kyra terus berfokus menatap mata wanita di depannya, dia berkonsentrasi menyulam luka yang ada di jantung hingga kembali sembuh seperti sedia kala, menghilangkan luka lebam dan membuat sesuatu yang seperti akar pohon di jantung itu kembali segar, tidak layu seperti tadi. "Hah!" Kyra tersengal, dia melepaskan tangannya, keringat kembali bercucuran di tubuhnya. Kondisinya semakin lemah karena energinya terkuras, tapi di balik itu semua, wanita di hadapannya ini kembali bugar, sembuh seperti sedia kala. "Terima kasih." Kyra mengangguk, dia memintanya untuk segera menyembuhkan sahabatnya, wanita berparas cantik itu pun menyetujui, lalu segera berlari ke arah Randai dan Lea berada. Alif membantu Kyra berdiri, gadis itu benar-benar kepayahan. Dia bahkan sempat terhuyung dan akhirnya harus berjalan di topang Alif. "Terlalu lama, Ra." "Aaa!!" Kyra memekik, terkejut tiba-tiba tubuhnya diangkat Alif. Reflek kedua tangannya melingkar di leher pria itu. Jantungnya berdegup kencang berada pada posisi sedekat itu. "Berhenti menatapku, Ra, atau kamu akan jatuh cinta nanti." "Tu ... turunkan saja, aku. A ... aku masih sanggup berjalan sendiri." Alif tidak menggubris, dia terus berjalan ke arah tiga makhluk itu berkumpul, lebih cepat melangkahkan kaki supaya cepat sampai. Setibanya di sana, Lea sedang di tangani. Wanita cantik penyebab masalah ini berusaha mengeluarkan racun yang ada ditubuhnya. "Turunkan aku, Lif!" Ah iya, lelaki itu sampai lupa kalau ada gadis di dalam gendongannya, untung saja dia segera teringat, dan langsung menurunkan Kyra. Sahabatnya itu hampir terhuyung saat dia mencoba menegakkan badan, beruntung Alif cepat menyeimbangkan. Randai yang sempat melihat adegan itu hanya diam saja, matanya kembali fokus pada penyembuhan Lea, begitu pun dengan yang lainnya. Andaikan kondisinya tidak seperti ini, sudah dipastikan Alif dan Kyra habis diejek Randai. Mereka mengamati tangan kanan wanita itu yang menyentuh luka di tubuh Lea, sedangkan telapak tangan kirinya mengarah ke bawah, tidak lama setelah itu ada tetesan air kental bak lendir keluar dari ruas jari-jari wanita itu, warnanya biru kehitaman. Terus keluar hingga hampir setengah jam kemudian baru berhenti. "Bagaimana?" tanya Kyra panik. "Aku sudah mengeluarkan racunnya, dia akan sadar satu jam setelahnya. Butuh waktu agar tubuhnya bisa memulihkan diri." "Tapi lukanya ...." Randai menunjuk luka menganga di lengan Lea, masih belum menutup. "Aku tidak bisa menyulam kulit yang robek, tapi teman perempuanmu ini bisa melakukannya." Wanita itu menatap Kyra yang duduk di sebelah Alif. Gadis itu pun mengerti dan langsung menyentuh luka sahabatnya. "Kamu yakin bisa? Kondisimu lemah." Alif menatap Kyra khawatir, bagaimana pun gadis itu tadi bahkan kesulitan untuk berdiri. "Kita tidak tahu kalau tidak mencoba, jadi kita lihat saja." Kyra tersenyum. Dia melakukan konsentrasi seperti biasanya untuk menyembuhkan luka, menyulam jaringan kulit yang rusak dan menggantinya dengan yang baru, hingga luka itu sepenuhnya menutup. "Terima kasih sudah membantu kami." Kyra menatap wanita itu, sedangkan sang wanita hanya membalas dengan senyuman. "Tidak apa. Aku juga minta maaf. Kalian pasti lelah. Istirahatlah di tempatku dulu. Setelah itu kalian bisa melanjutkan perjalanan, temanmu ini butuh tempat yang layak untuk memulihkan diri." Kyra menatap Lea yang masih memejamkan mata, kondisinya jauh lebih baik daripada tadi. "Tapi di mana tempatmu, bukankah kamu tadi keluar dari air." "Ada di dalam sana, kalian bisa bermalam di sini." Wanita tersebut menunjuk danau yang terbentang di depan mereka. "Kamu ingin membunuh kami? Di sana penuh dengan air, kami bukan manusia ikan yang bisa bernapas di dalam sana." Wanita itu tersenyum, tidak tersinggung dengan perkataan Alif. "Aku bisa membuat kalian tetap bernapas normal, bahkan tanpa basah sedikit pun." Tiga remaja saling menatap. Bagaimana bisa, itu mustahil. "Caranya?" tanya Randai penasaran. Wanita itu menengadahkan tangannya ke atas, tidak lama setelah itu keluar cahaya putih kebiruan dan disusul dengan munculnya kelopak bunga yang tadi sempat berguguran. Mereka bertiga ragu, apalagi kelopak bunga itu keluar dari dalam tubuh wanita itu. "Ini tidak beracun. Percayalah. Aku tidak berani mengusik kalian lagi setelah mendapatkan serangan tadi." Hening selama dua detik. Kyra memberanikan diri mengambil kelopak bunga itu, dan mengawali untuk memakannya lebih dulu. Lima detik berlalu, tidak ada yang terjadi. Alif dan Randai akhirnya ikut memakannya. "Aku yakin, baru aku saja Klan Vampir yang melakukan ini." Randai mengernyit, menelan kelopak bunga itu dengan paksaan. "Lalu bagaimana dengan sahabat kami." Kyra kembali mengingat Lea yang tidak memakan kelopak itu. "Sebentar." Wanita cantik itu kembali melakukan hal seperti tadi, kali ini ditambahi dengan gerakan meremas, di telapak tangannya terdapat sebuah bubuk berwarna serupa dengan kelopak bunga yang mereka makan tadi. Setelah itu, dia memasukannya ke dalam mulut Lea. "Selesai. Sekarang kalian berdiri, akan aku antar kalian beristirahat." Mereka menurut, berdiri secara bersamaan, bedanya Randai membawa serta Lea ke dalam gendongannya, dia membopongnya di depan d**a. Wanita itu memejamkan mata, menggerakkan tangannya pada ke empat remaja itu, setelah itu di tubuh mereka terdapat bubuk putih seperti kristal. Halus sekali teksturnya. "Sekarang ikut aku." Wanita itu berjalan lebih dulu di depan mereka, gaun putihnya terbentang menyapu tanah, terus berjalan di permukaan air seperti tadi, tenang, anggun tanpa takut tenggelam. "Kalian tidak perlu takut, air ini akan menuruti perintahku, kalian hanya perlu mengikutiku." Wanita yang entah siapa namanya itu berhenti sejenak, meyakinkan tiga remaja yang masih terlihat ragu. Mereka akhirnya mengikuti, dan ajaibnya, kaki mereka tidak tenggelam, terus berjalan seperti wanita tadi. "Lif, kamu tahu tidak apa yang aku rasakan setelah memakan bunga tadi." Kyra mencoba mengajak ngobrol Alif di tengah-tengah perjalanan mereka. "Apa?" "Aku seperti memerankan film horor, tahu kan, wanita yang memakan bunga melati untuk melakukan ritual. Hih, merinding. Bedanya tadi, kita nggak tahu itu bunga apaan." Alif hanya menggeleng saja, merasa perkataan Kyra tidaklah penting. "Yah, persis sekali dengan kamu, memang. Sama-sama horor. Coba nanti ngaca." Kyra berdecak. "Kamu sama Randai memang tidak ada bedanya." Mereka berhenti di tengah danau. Tempat wanita berparas cantik itu muncul pertama kali. Dia menjentikkan jarinya dan air itu menyembur pelan, beberapa detik kemudian, air itu membelah, membentuk tangga hingga ke dasar. Wanita itu terus melangkah, menuju ke bawah menuruni tangga, jubah putihnya terus terseret ke bawah. "Wow, ini benar-benar keren. Belum pernah aku melihat yang seperti ini." Kyra mengedarkan pandangannya, bahkan di dalam air itu, beberapa ikan berbaris rapi seolah menyambut mereka. "Aku ingin sekali merekamnya, Ra." Randai yang berada di belakangnya dengan membawa Lea, ikut bersuara. Dia juga takjub. "Perhatikan langkahmu, Ran. Ada seseorang yang kamu bawa." "Ya aku tahu, perhatikan juga langkah kekasihmu, jangan sampai dia menginjak jubah tuan putri di depannya." Kyra berbalik, tidak terima dengan perkataan Randai, untung saja Alif juga sigap, sehingga tidak sampai menabrak gadis itu. "Apa? Aku tidak bilang kamu kekasihnya." "Heh! Terserah kalian mau apa, aku pergi dulu." Alif melewati Kyra yang semakin melotot tak terima. "Hati-hati jangan sampai bola matamu jatuh karena sering memelototiku, Ra--aww!" Randai mendesis merasakan pukulan di pundaknya saat hendak melewati Kyra. Sayang, dia tidak bisa mengusapnya karena membawa Lea. "Hati-hati, jangan sampai sahabatku itu jatuh." Kyra menepuk lengan Randai, membuat lelaki itu ikut kesal. Sesampainya di dasar, air yang tadi membelah membentuk tangga kembali menutup. Mereka sempat memejamkan mata ngeri saat air itu kembali menyatu. Takut menenggelamkan mereka lalu basah mendadak, tapi ternyata tidak, tubuh mereka kering, air itu tidak mengenai mereka, menjauh beberapa centi mengikuti gerakan mereka. Sangat ajaib. "Ini negeri para duyung? Mermaid? Banyak sekali mereka." Kyra baru menyadari kalau mereka sekarang jadi pusat perhatian. Lebih aneh lagi karena yang memperhatikan mereka adalah manusia setengah ikan. "Masuk ke sini, baringkan dia di dalam sana." Wanita cantik yang tadi sempat dipanggil putri oleh beberapa penghuni sini membuka pintu berwarna coklat berhias kerang perak. Dia kembali menjentikkan jarinya dan membuat air yang ada di dalam ruangan itu keluar semua. Empat remaja itu mengikuti, masuk ke dalam dan menemukan sebuah kamar yang terlihat nyaman. Tidak ada air di dalam sana, padahal mereka sedang berada di bawah air. Di luar terdapat jendela transparan, ruangan ini seperti hotel di dalam air. "Kalian bisa istirahat di sini. Nanti gadis Fairy itu akan sadar. Dia hanya perlu memulihkan diri, dan kalian bisa melanjutkan perjalanan besok." Mereka bertiga mengangguk, mengucapkan terima kasih. Merasa tugasnya sudah selesai, dia pamit untuk pergi. "Tunggu!" Kyra menghentikan langkah sang wanita, paras cantiknya itu menoleh dan bertanya ada apa. "Kami belum tahu namamu, siapa nama wanita yang berparas begitu cantik ini?" Kyra mengulas senyum. Wanita itu juga membalas. "Panggil saja Luna. Aku dikenal sebagai putri Luna di sini." "Putri Luna?" Kyra tersenyum semakin lebar, dia menunduk hormat. "Senang bertemu denganmu, Putri, terima kasih sudah menolong kami." Luna tersenyum, lalu mengangguk setelahnya. Dia kembali pamit undur diri dan menutup pintu. Di sana Lea sudah ditidurkan di atas ranjang. Semuanya juga menaiki ranjang masing-masing, bersiap untuk istirahat. "Kenapa kamu begitu mudah percaya, Ra? Dia bahkan hampir membunuh kami semua." Lea mengangkat kedua bahunya menanggapi Randai. "Aku juga tidak tahu, firasatku mengatakan dia baik." "Ck, kamu benar-benar seperti Alif, jangan-jangan dia mate-mu, Lif." "Sudah kubilang jangan ngaco kalau bicara, sana tidur, sebentar lagi fajar." Alif langsung merebahkan badan dan menaruh tangannya di atas d**a. Besedekap lebih tepatnya. "Kamu benar, tidak seharusnya aku menyia-nyiakan waktu tidurku. Hampir saja aku lupa." Randai pun ikut menyusul. Lelaki itu terlihat begitu nyaman daripada tidurnya kemarin. Kyra masih terdiam di bibir ranjang, dia kembali menatap Lea yang masih saja memejamkan mata. Berharap sahabatnya itu bisa membuka mata kembali dalam waktu dekat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN