Ada Rahasia

1887 Kata
Sunyi. Malam ini terasa sunyi dari sebelumnya, padahal di sini mereka sudah menemukan makhluk hidup lain. Tapi di luar sana terlihat sangat hening. Tidak ada bunyi daun yang terinjak kaki, tidak ada bunyi ranting yang terkena angin, hanya ada air. Kyra yang sedari tadi tidak bisa tidur hanya pura-pura memejamkan mata. Tadinya dia memang menemani di samping Lea, tapi Alif menyuruhnya untuk istirahat, perjalanan yang harus mereka tempuh besok masih panjang, dia harus menyiapkan energi agar tidak pingsan di jalan. Namun nyatanya ... meski sudah mencari posisi nyaman, dan mencoba memejamkan matanya, Kyra masih belum bisa tidur. Ia akhirnya membuka matanya kembali melirik Lea yang belum sadarkan diri, dan Randai yang tertidur pulas, tidak lama setelah itu, dia melihat Alif bangun, dia turun dari ranjang dan melihat teman-temannya sebelum memegang pintu hendak keluar. "Mau ke mana kamu, Lif?" Alif menoleh, menemukan Kyra yang sudah duduk dari tidurnya. "Kamu belum tidur?" "Aku nggak bisa tidur. Lagi pula, pagi sebentar lagi juga datang." "Seharusnya kamu paksa, awas nanti kalau pingsan. Aku tidak akan menggendongmu." "Cih, percaya diri sekali kamu, aku juga nggak mau digendong kamu." Alif mengangkat kedua bahunya. "Ya sudah." "Eh, kamu mau ke mana?" Alif kembali mengurungkan niatnya yang hendak membuka pintu, berdecak sebal sambil menatap Kyra. "Keluar, aku tidak bisa tidur." "Tapi nanti air di luar akan masuk ke dalam, Lif. Kamu bisa membuat kamar ini basah." "Siapa peduli." Tanpa menunggu lagi dia langsung membuka pintu itu, membuat Kyra langsung memekik sambil mengarahkan tangannya ke depan. Tapi terjadi apapun, kamar itu masih kering, sama seperti tadi, tidak ada setetes air danau pun di dalamnya. "Bagaimana bisa?" "Luna sudah menyihirnya, ck, kamu bodoh sekali ternyata." Alif tidak lagi menggubris, dia kemudian langsung pergi tanpa menutup pintu, benar-benar membuat Kyra semakin dongkol. "Aku ikut, Lif, jangan tinggal." Segera gadis itu bergegas turun dan berlari kecil mengejar Alif. Tidak lupa dia menutup pintu, kadang Kyra masih harap-harap cemas tentang kamar menginapnya hari ini, takut kalau tiba-tiba air di luar masuk. "Ke mana kamu akan pergi?" Alif mengangkat kedua bahunya dia berjalan tak tentu arah, mengikuti kemana kakinya melangkah. "Di sini kenapa sepi sekali. Bahkan ikan pun tidak terlihat sama sekali." Kyra menoleh ke kiri dan kanannya, tapi tidak menemukan apa pun. "Kamu mendengar sesuatu?" Alif mengalihkan  pembicaraan, telinganya seperti mendengar sesuatu. Kyra terdiam, gadis itu ikut fokus mendengarkan, tapi tidak ada apa pun, semua hanya keheningan. "Tidak ada apa-apa. Mungkin kamu belum membersihkan kuping, ada semut misalnya." Alif menatap Kyra tajam, gadis yang terlihat begitu hebat beberapa jam lalu itu memang sering membuatnya jengkel. "Lain kali kamu akan merasakan cengkramanku, Ra." Alif menoyor kepala Kyra dan berlalu pergi. Ada sesuatu yang ia dengar, maka dia harus menemukan apa itu, berjaga-jaga kalau seandainya ada bahaya yang mendekati mereka. "Hey! Kamu mau ke mana?" Kyra mengejar Alif yang tiba-tiba berjalan cepat ke arah yang berlawanan. Alif terus saja bergerak, berjalan dan sesekali berhenti untuk memastikan di mana letak sesuatu yang ia dengar itu. "Alif, jangan cepat-cepat!" Kyra kualahan mengikuti langkah kaki Alif yang lebar dan semakin cepat saja. "Kalau mau ikut, ya ikut saja, tidak usah cerewet." "Dasar serigala tak punya akhlak!" "Aku masih dengar, Ra." Setelah itu, langkah kakinya berjalan semakin cepat, pendengarannya semakin jelas terdengar. Dua belokan lagi, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. "Ada ap ...." Kyra tercengang, hampir saja dia menubruk punggung Alif yang tiba-tiba berhenti. Tapi bukan itu yang membuatnya sampai tidak bisa melanjutkan kata-kata, melainkan situasi di depan sana. Lihatlah! Banyak sekali makhluk yang berkumpul di sini. Dari ikan, dan manusia setengah ikan. Sepertinya duyung. Mereka berkumpul menjadi satu di sini. Menunduk dan mengerubungi wanita berambut biru kehitaman. Wanita cantik yang hampir menewaskan sahabatnya tadi. Ada yang aneh dari raut muka semua makhluk, tidak ada senyum atau wajah ceria di sana, hanya kesedihan. Semua menunduk. Jumlah mereka banyak sekali. Pantas saja tadi di tempatnya begitu sepi, ternyata semua berkumpul di sini. Kyra mendekat pelan, lengannya tadi sempat dipegang Alif, tapi dia segera melepaskan. Ada sesuatu yang mendorongnya harus ke sana. "Luna?" Wanita itu menoleh, terkejut melihat tamunya bisa berada di sini, dia segera menatap tajam penjaganya, bisa-bisanya mereka membiarkan tamunya keluar dari peristirahatan yang sudah ia sediakan, dan malah datang ke sini, padahal jelas-jelas dia sudah menempatkan mereka di tempat yang jauh dari sini. "Maaf Putri Luna, hamba teledor." Kyra dan Alif menatap penjaga itu yang terlihat takut dan menyesal. Luna bangkit dari duduknya, di depannya ada seseorang yang berbaring, mereka tidak tahu siapa, karena wajahnya tidak terlalu jelas dilihat. Luna mengatur ekspresi wajahnya, dia sedikit menyunggingkan senyum, tapi itu tidak menutup matanya yang terlihat sendu. "Ada apa kalian kemari? Apa perlu sesuatu?" Kyra menatap Alif, tapi laki-laki itu hanya diam tidak menanggapinya, padahal sudah jelas kalau dirinya bisa ke sini karena mengikuti pendengaran Alif. "Maaf Putri Luna, tadinya kami hanya keluar sebentar, dan Alif tidak sengaja mendengar sesuatu, lalu kami mengikutinya dan akhirnya sampai di sini." Kyra berkata sopan, bahkan dia menambahkan embel-embel putri di depan nama Luna. Dia merasa sudah lancang tadi, tidak peka kalau Luna seorang putri di sini. "Ah iya, aku hampir lupa, Klan Lycanthrope mempunyai pendengaran yang tajam. Tidak apa-apa, maaf sudah mengganggu kalian. Ah, seharusnya aku tidak membiarkan kalian melihat ini." Kyra terdiam kikuk. Menatap sekeliling dengan sungkan. "Memang ada apa sebenarnya? Kenapa semua makhluk berkumpul di sini." Luna membalikkan badannya, dia menatap seseorang yang berbaring tanpa membuka mata. Pandangan wanita itu sangat sendu, terlihat kesedihan di sana, kontras sekali dengan kejadian mengerikan yang hampir merenggut nyawanya tadi. "Dia ayahku, penguasa danau ini. Sudah bertahun-tahun dia terbaring tanpa membuka mata. Aku sudah mencoba berbagai cara, tapi tidak satu pun yang berhasil. Maka dari itu aku sempat meminta bantuan kepada kalian." Luna kembali menatap dua remaja itu. Kyra semakin mendekat, begitu pun dengan Alif. Mereka melihat seorang pria paruh baya yang tergolek lemah di atas ranjang. Wajahnya terlihat berwibawa meski dalam keadaan terpejam, tidak ada yang aneh dengan pria itu, hanya saja sebagian tubuhnya di area bawah berbentuk ekor ikan. "Kalau boleh tahu, dia kenapa?" Luna mendesah berat, dia bersiap menguak peristiwa lalu yang membuat ayahnya sampai seperti ini. "Kejadian ini terjadi dua puluh tahun lalu, ayahku seperti ini karena perang itu. Dia hanya berusaha melindungi apa yang dititipkan padanya, tapi karena tidak bisa melawan kekuatan Sang Legenda, dia akhirnya menjadi seperti ini, tidak sadar selama dua puluh tahun." Kyra kembali menatap Alif, pria itu hanya diam memandang sang Raja--mungkin, karena dia adalah penguasa di sini, jika Luna seorang putri, maka pria paruh baya yang terbaring ini adalah rajanya. Kyra tidak menyangka, ternyata masih banyak kejadian yang belum dia ketahui mengenai perang itu. Banyak sekali hal dan dampak yang terjadi setelahnya. "Memang apa yang dititipkan?" Alif bertanya santai. "Sebuah barang berharga yang menjadi .... Lupakan." Luna memotong ucapannya, itu adalah sebuah rahasia. Sang Ayah pernah memberinya pesan agar tidak ada yang tahu soal ini. Tapi Alif memicing, dia sepertinya tahu apa yang tengah dibicarakan Luna. "Bagaimana mungkin Sang Legenda tahu kalau barang itu berada di sini? Bukankah barang itu disembunyikan dan tidak seorang pun yang tahu." Luna langsung menatap Alif, dia sedikit terkejut mendengar apa yang dibicarakan, sepertinya lelaki itu paham apa yang dimaksud dia tadi. Luna harap-harap cemas, dia takut mengecewakan ayahnya, takut kalau empat remaja yang ditolongnya ini juga ternyata musuh. Bisa mati hari ini juga dia bersama klannya. Luna bangkit berdiri, dia mengangkat sedikit gaunnya yang lebar, berjalan anggun di depan ranjang besar itu, menatap sekeliling sebelum mengembuskan napas. "Wahai rakyatku, dan semua klanku yang ada di sini. Kalian diperintahkan untuk kembali di kediaman masing-masing, ada hal yang harus aku selesaikan. Kalau kondisi Raja sudah membaik. Aku akan mengumpulkan kalian kemari." Serentak yang ada di sana menunduk, tidak lama setelah itu mereka pergi, menyisakan Alif, Kyra dan juga penjaga. Kyra sebenarnya juga hendak pergi, tapi melihat Alif yang masih berdiri santai di sana membuatnya menunda melangkahkan kaki. "Kalian juga harus pergi, aku tidak perlu penjagaan saat ini." Beberapa penjaga yang masih tersisa langsung menunduk memberi hormat, setelah itu mereka pergi. "Lif, kita juga harus pergi. Kamu tidak dengar perintahnya tadi." Kyra menyentuh lengan Alif, meminta lelaki itu untuk segera pergi. Dia melirik Luna yang saat ini berjalan menghampiri ayahnya. "Kita bukan rakyatnya, Ra. Juga bukan dari Klannya, kita tidak diusir." Ha? Kyra benar-benar terperangah, Klan Lycanthrope ini selalu bisa membuat alasan masuk akal. "Tapi ...." Ah, tidak ada pilihan lain, Kyra langsung menarik tangan Alif, membawa paksa lelaki itu untuk keluar. "Hey!" "Kalian mau ke mana?" Secara bersamaan, Luna dan Alif sama-sama berbicara, membuat langkah kaki Kyra langsung berhenti dan menoleh ke arah Luna. Wanita itu setelah mengusap kening ayahnya segera beranjak menghampiri mereka. Melempar senyum yang membuat wajahnya semakin terlihat cantik saja. Sungguh, wanita ini jika berada dalam dunianya Kyra, bisa dipastikan akan menjadi model atau artis papan atas yang terkenal, pasti banyak lelaki yang berebut ingin mendapatkannya, apalagi dalam dunia manusia buaya yang berkedok sebagai lelaki setia itu kerap kali hadir di mana-mana. Luna sungguh wanita yang cantik luar biasa, semua hampir sempurna yang ada dalam dirinya--kecuali senyum mengerikannya. "Emm ... kami akan kembali." Luna berhenti tepat di depan keduanya, dia kembali menatap Kyra dan Alif bergantian, lalu terkekeh kecil. "Tunggulah di sini dulu, Kyra." Luna melempar senyum sebelum pandangannya berubah menatap Alif "Aku tidak menyangka kalau Klan Lycanthrope juga bisa menebak isi pikiran seseorang. Apa kamu tahu apa yang aku bicarakan tadi?" Alif menatap Luna datar, dia melepaskan pegangan tangan Kyra yang sempat bertengger di lengannya, lalu menatap gadis itu tajam. "Maaf." Kyra mencicit sambil nyengir. "Tentu saja aku tahu, kalian membawa potongan pusaka itu, bukan? Menyembunyikannya entah di mana." "Ha?" Tatapan Kyra beralih pada Luna, wanita itu hanya tersenyum samar. Tidak percaya kalau dia membawa potongan yang mereka cari. "Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan." Luna mencoba mengelak, meski dadanya bergemuruh karena cemas. Alif berjalan menuju ranjang tempat penguasa danau itu berbaring. Menyentuh kepala ranjang yang berbentuk ukiran berbagai ikan dan senjata, mengusapnya pelan dan tersenyum sinis. Semua tingkah lakunya tidak sedikit pun luput dari pandangan Luna. "Kamu hanya berpura-pura, Puteri. Aku tahu kamu sangat paham dengan ucapanku tadi." Alif terkekeh pelan. "Bagaimana kalau aku menawarkan sebuah kesepakatan juga--ah salah, maksudku, aku akan mengambil kesepakatan yang kamu ajukan tadi." Alif menunjuk Luna dengan jarinya, dia menggerakkan pelan. "Kesepakatan? Maksudmu menyembuhkan seorang penguasa yang sedang sekarat?" Alif menjentikkan jarinya. "Tepat sekali. Di antara kami ada yang bisa menyembuhkan penyakit, mengobati luka dan memulihkan seperti sedia kala. Tapi sesuai janjimu yang awal, kami akan meminta satu permintaan yang kamu janjikan." Luna terdiam, dia bingung harus bagaimana. Sangat paham arah pembicaraan Klan Lycanthrope itu. Tapi di sisi lain dia juga hampir menyerah membangunkan ayahnya. Apa ini sudah saatnya dia melepas apa yang selama ini dijaga. Bahkan dengan taruhan nyawa selama ini. "Apa yang kamu inginkan?" Alif mengangkat sudut bibirnya. "Nanti akan aku beri tahu. Sekarang ... tugas kami hanya membangunkan Raja bukan?" Luna menatap ayahnya, dia rindu dan lelah selama ini. "Kamu yakin bisa membangunkannya?" Alif mengangguk. "Kamu sudah lihat sendiri tadi bagaimana dia bisa menjadi penyembuh." Luna seketika langsung memandang ke arah Kyra, begitu pun dengan Alif. "Apa? Kalian mau apa?" Kyra bertanya bingung, dia masih belum paham apa yang sedang dibicarakan, lebih tepatnya, dia terlalu sibuk mengagumi tempat ini. "Merubahmu menjadi Puteri katak di sini, Ra." "Apa?!" Seketika Kyra membeliak kaget, langkahnya mundur perlahan mendengar ucapan Alif. Ini gila! Sahabatnya sudah gila karena punya keinginan yang aneh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN