Kyra menggerutu dengan perasaan kesal karena perkataan Alif tadi. Dirinya langsung duduk dengan kasar di samping ayah Luna.
"Jangan sampai nanti kamu mengeluhkan bokongmu sakit, Ra."
"Memangnya kenapa kalau bokongku sakit? Kamu mau mengelusnya? Mengusapnya biar bisa sembuh, ck, modus sekali pikiran kamu."
"Jangan berpikir kotor, Ra. Aku tidak sepicik itu hanya karena ingin menyentuhmu."
Luna yang melihat itu meringis, dia tadi bahkan harap-harap cemas saat Kyra hendak duduk, takut gadis itu malah menduduki ayahnya karena marah dengan Alif.
"Seharusnya kamu bilang tujuan awalmu, bukan menakutiku dengan merubahku jadi Putri Katak."
"Putri Katak itu berakhir bahagia lho, Ra. Dapat pangeran tampan lagi. Apa salahnya kalau disamakan dengan dia."
Kyra semakin melotot. "Kamu bilang apa salahnya?! Kalau seumpama kamu dikutuk jadi kecebongnya mau?!"
"Untuk apa, aku sudah punya kecebong sendiri."
"Pikiran kamu emang selalu--"
"Ayolah, Ra. Aku hanya bercanda. Astaga! Kenapa wanita sangat sensitif sekali. Kamu tidak sedang PMS, kan?"
Kyra menatap Alif tajam, tapi lelaki itu bersikap seperti biasa. Tidak begitu perduli. Luna yang melihat adegan itu menggeleng pelan, dia harus menghentikan perdebatan mereka.
"Jadi ... apa benar kamu bisa membangunkan ayahku?" Luna menatap Kyra ragu. Melihat sikapnya yang begini membuatnya takut, bagaimana kalau gadis itu menggunakan kemarahannya dan berakibat fatal untuk ayahnya nanti.
"Akan kucoba mengobatinya, aku harus melihat dia terkena sakit apa. Aku tidak bisa menjamin beliau bisa bangun. Tapi akan kucoba semaksimal mungkin."
Luna mengangguk, dia ikut duduk di sisi sebelah ayahnya yang kosong. Menatap Kyra yang mulai konsentrasi seperti tengah menganalisis sesuatu. Matanya terpejam seperti biasa, ditambahi dengan alisnya yang sama-sama mengerut, mengartikan kalau gadis itu tengah serius dengan yang dilakukannya sekarang.
Lima belas menit berlalu, peluh di dahi Kyra semakin banyak, bahkan bajunya juga mulai lembab karena keringat yang bercucuran. Meski di dalam air, tapi tubuhnya tidak sepenuhnya terkena air. Ingat! Ada celah yang diciptakan Luna agar mereka bisa beraktivitas di dalam air, seperti gelembung transparan yang mengikuti tubuh mereka.
Kyra tersengal, matanya terbuka dan dia tiba-tiba memuntahkan sesuatu.
Darah segar. Merah dan kental. Dua orang yang berada di ruangan itu terkejut melihatnya.
Alif segera mengambil sesuatu yang ada di dekatnya, meraihnya dan mendekatkan ke mulut Kyra, gadis itu terus muntah, satu tangannya masih menyentuh kepala ayah Luna. Dia kembali memejamkan mata dan muntah lagi, darah yang keluar semakin kental.
"Apa yang terjadi, Ra?"
Gadis itu menggeleng, tangannya langsung diangkat dari kepala ayah Luna. Dirinya seperti menahan sesuatu, dan kembali muntah lagi. Alisnya mengernyit. Napasnya memburu setelah itu.
"Kamu baik-baik saja?"
Kyra mengangguk lemas menanggapi Alif, dia melihat ayah Luna yang kondisinya terlihat lebih segar daripada awal tadi.
Kyra menyeka mulutnya dari sisa muntahan. Tangannya memerah, karena tadi yang keluar memang darah.
"Apa yang terjadi dengan ayahku?"
Gadis yang napasnya masih tersengal itu menatap Luna, tapi dia belum bisa menjawab, dan malah meminta Alif untuk mengambilkan sesuatu guna menyeka mulutnya itu.
"Kamu punya sesuatu untuk kami Luna? Seperti kain atau air untuk membersihkan mulut Kyra, kami tidak bisa menyentuh air di dalam sini."
Luna tidak menjawab, dia langsung menggerakkan tangannya membuat sebuah lingkaran kecil, tidak lama setelah itu, terbentuk sebuah gumpalan air seukuran bola kasti mengambang di antara tangannya. Luna menggerakkan bola air itu ke arah Kyra, dan secara ajaib, bola itu bisa menembus gelembung yang melindungi Kyra. Gumpalan air yang berbentuk bola itu mengambang beberapa meter di depan gadis itu.
"Kamu bisa membersihkannya menggunakan itu."
Kyra menatap ragu gumpalan air di depannya, tapi ia tetap menyentuhnya. Setelah tangannya basah, dia segera menyeka ke mulutnya, terus ia lakukan berulangkali hingga mulutnya bersih dan air berbentuk bola itu berubah warna menjadi agak kemerahan.
Merasa yang dilakukan Kyra selesai. Luna segera mengambil air berbentuk bola itu kembali. Setelah berada beberapa meter di depannya, dia kembali menggerakkan tangannya dan terakhir dia membentuk gerakkan seperti meremas, tidak lama setelah itu, bola seukuran bola kasti itu meletus, tergantikan gelembung-gelembung kecil yang bergerak naik ke permukaan. Persis seperti film animasi yang pernah mereka tonton di dunia manusia. Spongebob.
"Mungkin si kuning yang tetangganya tidak pernah memakai celana itu terinspirasi dari Luna ya, Lif."
Alif menatap Kyra malas. "Ini bukan saatnya bercanda, Ra. Mereka mana tahu kalau ada Luna di sini."
Kyra hanya nyengir lebar menanggapi.
"Jadi bagaimana? Apa yang terjadi dengan ayahku?" Luna kembali menanyakan hal serupa. Gadis itu belum menjawab pertanyaannya dari tadi.
Kyra menatap Luna sejenak, lalu pandangannya beralih pada sosok pria paruh baya dengan badan setengah ikan yang berbaring dengan mata terpejam. "Ada luka dalam di tubuhnya, seperti memar, paling parah di bagian kepala. Tapi ada yang aneh, di bagian luar otak seperti ada selaput yang membungkus, aku tidak tahu itu apa, tapi sepertinya selaput itu yang mengendalikan kinerja otaknya sehingga dia tidak bisa bangun."
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" Luna terlihat begitu panik mendengar penjelasan Kyra.
"Aku sudah membersihkannya. Juga menghilangkan sisa lebam yang ada di tubuhnya. Makanya tadi sampai muntah. Sesuatu yang kuserap tadi begitu besar, menguras energi begitu banyak." Kyra kembali batuk, tapi kali ini dia tidak mengeluarkan apa pun.
"Setelahnya, Putri Luna bisa menyembuhkan ayahnya sendiri. Membantu memulihkan kesadarannya. Beliau membutuhkan energi dari bangsanya untuk disalurkan. Dan aku tidak bisa, karena aku bukan bagian dari beliau."1
Luna mengangguk. Dia mengerti. Penyembuhan dengan menyalurkan energi yang di milikinya sudah biasa ia lakukan. Dulu juga pernah dia coba untuk membangunkan ayahnya, tapi tidak berhasil sama sekali. Dia tidak tahu kalau ada yang menghalangi dari dalam, selaput yang mungkin baru saja diberitahu Kyra.
Kyra kembali batuk. Badannya terlihat begitu lemas.
"Kalian istirahatlah. Terutama kamu, Kyra. Energimu banyak yang keluar."
Gadis itu mengangguk dan menatap Alif.
"Apa?" Alif berkata cuek, seolah tidak peka dengan raut melas yang keluar dari wajah Kyra. Gadis itu merentangkan tangan ke atas, menyuruh Alif untuk segera mendekat juga.
"Aku tidak mau menggendongmu, Ra."
"Siapa yang minta digendong sama kamu. Orang aku hanya ingin dibantu berdiri, kok. Buruan bantu aku, Lif!"
Alif berdecak. Tapi dia tetap mendekat untuk membantu Kyra. Lelaki yang berasal dari Klan Serigala itu membantu Kyra dengan memapahnya. Sebelum berjalan meninggalkan tempat itu, Alif sempat menatap Luna dengan nada suara yang sedikit ditekan.
"Setelah ayahmu sadar. Pastikan kamu tidak ingkar janji. Atau kami akan memporak-porandakan tempat ini nanti."
"Tenang saja. Aku tidak pernah ingkar dengan janjiku. Kamu bisa memegangnya."
Alif mengangguk dan kembali memapah Kyra. Sedangkan Luna melakukan tugas terakhirnya yang tadi dikatakan Kyra. Mentransfer energi dari Klannya untuk bisa memberikan sedikit kekuatan.
"Aku lapar sekali, Lif. Roti pemberian Paman Canuto tidak bisa bertahan sampai dua hari di perutku ternyata."
Alif melirik Kyra sekilas. "Itu bukan kekuatan rotinya yang salah. Tapi perutmu yang tidak tahu aturan saat makan."
Kyra berdecak. "Ck, bukan itu alasannya. Memangnya kamu tidak lihat apa yang kulakukan tadi dan kejadian beberapa jam silam. Energiku terkuras karena melakukan suatu hal yang penting."
"Ya ... ya ... kamu memang hebat, Ra." Alif memilih mengalah, ia baru tahu, Kyra semakin cerewet sekarang.
Lelaki itu membantunya berjalan hingga sampai di tempat peristirahatan mereka. Awalnya Alif hampir mengangkat tubuh Kyra supaya lebih cepat sampai, tapi gadis itu tidak mau. Dia bahkan sudah mengancam Alif sebelum itu kalau sampai lelaki itu berani mengangkat tubuhnya.
"Hati-hati, Lif."
Pergerakan tangan Alif yang hendak membuka pintu jadi terhenti karena ucapan Kyra.
"Luna sudah menyihirnya, Ra. Kamu nggak perlu takut airnya akan masuk."
"Berjaga-jaga saja. Aku masih ngeri dengan hal itu."
Setelah pintu benar-benar terbuka. Kyra dikejutkan dengan sosok wanita yang tengah duduk dan melempar senyum ke arah mereka.
"Lea?! Kamu sudah sadar." Kyra hampir saja berlari menghampiri sahabatnya itu. Tapi tubuhnya langsung terhuyung, untung saja Alif masih sigap memegangi, sehingga dia tidak jatuh.
"Isi tenagamu dulu, setelah itu terserah kalau mau salto." Alif membantu Kyra duduk. Setelah itu dia mencari sesuatu di beberapa tempat.
"Mencari apa, Lif?"
"Tas kita .... Astaga! Barang kita tertinggal di atas, Ra."
"Ha? Serius?!"
Alif mengangguk. "Kita ke sini tadi karena ingin tahu cahaya itu. Setelahnya malah kita harus terlibat dalam pertarungan, dan kemudian ... yah, kalian tahu sendiri kelanjutannya. Kita meninggalkan barang kita di luar."
Mereka mengira setelah ini akan lebih baik lagi. Ternyata tidak. Siapa yang menyangka barang bawaan mereka akan tertinggal. Perbekalan yang sudah disiapkan dengan matang tiba-tiba luput dari ingatan. Tapi di balik kecemasan itu, mereka berharap tas mereka dengan isinya tidak ada yang hilang. Bisa gawat kalau sampai hal itu terjadi.
***