Sejenak Melepas Penat

1405 Kata
"Bagaimana perasaanmu, Le? Apa ada yang sakit?" Kyra mendekat ke arah Lea dengan bersemangat. Dia baru saja menikmati makanannya tadi. Luna sudah menyiapkan semuanya setelah dua orang berbeda jenis kelamin itu meninggalkan dia. Memberikan asupan energi berupa makanan, dan sangat ajaib, perut Kyra bisa menghabiskan hampir semuanya. "Aku baik, Ra. Sangat baik dari kemarin." Lea melempar senyum, sangat bahagia karena dirinya masih diizinkan untuk tetap hidup. "Ngomong-ngomong. Ini tempat apa, Ra. Aku tidak pernah ke sini sebelumnya. Asing sekali. Di luar terlihat seperti dikelilingi air. Tapi di dalam sini ... semuanya kering layaknya kamar biasa. Apa kita ada di hotel bawah air? Sudah kembali ke dunia kita?" Kyra menggeleng cepat. Dia menoleh ke arah Alif yang sedang berjalan menyusuri kamar ini. Melihat-lihat seperti mengamati. Lelaki itu memang tidak bisa duduk diam meski pun sebentar. Selalu saja ada sesuatu yang dia lakukan. "Kita ada di bawah danau yang kita dekati tadi, Le." Lea mengernyit. "Maksudmu ... tempat munculnya wanita cantik yang terlihat aneh itu?" Kyra menepuk jidatnya dan menggeleng. "Kamu bisa dikutuk jadi putri katak kalau bicara seperti itu." "Ha? Kenapa memangnya?" Kyra menggeleng. "Tidak. Aku hanya bercanda. Kata itu aku mencomot asal dari  si serigala.." "Aku masih bisa dengar, Ra." Alif menoleh. Memicing ke arah Kyra yang menertawakannya. "Aku tidak bilang kamu tuli, Lif." "Lea. Bilang sama sahabatmu, untuk menjaga mulutnya kalau tidak ingin kurobek nantinya." Lea hanya tersenyum. Sedangkan Kyra meneguk ludahnya kasar. Baiklah, sudah cukup dia menggoda Alif. Lelaki itu tidak ingin diganggu. "Jadi bagaimana, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." Lea mengingat. "Oh iya, tadi kamu tanya apa, aku lupa." "Kita berada di mana? Apa ini tempat tinggal wanita cantik yang terlihat aneh tadi?" Kyra mengangguk. "Dia sudah tidak aneh lagi, Le. Bahkan dia juga sudah menolong kita." "Menolong?" Lea terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa menolong mereka, sedangkan ingatan terakhirnya saja dia diserang habis-habisan oleh wanita itu. Bahkan mau dibunuh. "Iya. Maksudku .... Ah benar, awalnya dia memang menyerang kita. Tapi sekarang tidak lagi. Kita diizinkan untuk istirahat di sini satu hari saja." Lea mengangguk. Dia mulai paham kenapa dirinya dan teman-temannya bisa berada di tempat aneh ini. "Ngomong-ngomong, kenapa kita bisa bernapas di dalam air?" "Luna yang melakukan. Dia menyihir kita sehingga kita bisa melakukan ini. Bahkan bisa bergerak bebas di dalam air tanpa kebasahan juga lho." "Benarkah?" Kyra mengangguk. "Aku akan mencobanya besok." Pandangan Lea beralih menatap Randai yang masih memejamkan mata di sampingnya. "Randai terlihat lelah sekali. Aku saja tadi bingung. Pas bangun cuma ada kita berdua dengan dia yang tertidur pulas." Kyra terkikik. "Dia sangat lelah setelah menggendongmu." Lea terkejut. Matanya langsung membulat. "Aku? Digendong Randai? Bagaimana bisa?" "Ceritanya panjang. Dalam perjalanan nanti akan kuceritakan. Pokoknya dia sangat khawatir sekali, Le, waktu kamu tidak sadarkan diri. Pipi Lea merona. Siapa sangka, Randai si Klan Vampir yang dikenal tidak begitu peduli tiba-tiba mengkhawatirkannya. "Dan sekarang ... waktunya kalian istirahat. Tidurlah, Ra. Jangan ganggu Lea yang mau istirahat. Kamu ini cerewet sekali dari tadi." Alif menghempaskan bokongnya di kasur kecil yang tidak jauh dari mereka. "Tidak perlu. Ini sudah mau pagi, Lif" "Setidaknya matamu sudah terpejam meski hanya sebentar atau beberapa menit saja. Kamu bahkan tidak tidur semalaman, ck." "Alif benar, Ra. Kamu harus tidur. Aku juga akan istirahat meski sebentar. Tidurlah." Lea menepuk bahu sahabatnya. Kyra akhirnya menurut. Tidak ada pilihan lain. Dia langsung bangkit dan merebahkan diri di tempatnya tadi. Lima menit berlalu. Matanya sudah terpejam, membawanya ke alam mimpi. Pagi harinya, Kyra mendengar suara bisik-bisik yang tidak jauh darinya. Saat membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah menyebalkannya Randai yang tersenyum lebar di hadapannya. "Randai?! Apa yang kamu lakukan?!" Kyra benar-benar terkejut. Dia langsung beringsut mundur beberapa meter dari laki itu. "Maaf, Ra. Tidurmu lelap sekali. Aku hendak membangunkanmu tadi." Masih dengan wajah menyebalkannya Randai melempar senyum. Pandangan Kyra beralih memindai ruangan ini. Dia melihat Lea yang sudah berdiri dengan wujud fairy-nya. Sayapnya mengepak indah dilihat dari sini. Sedangkan Alif, lelaki itu tidak ada di dalam ruangan ini. "Dimana Alif?" Kyra memandang Randai. Melempar pertanyaan. "Ayolah, Ra. Ada aku di sini kenapa menanyakan kekasihmu." "Randai jangan mulai!" Kyra langsung melotot. Sedangkan yang dipelototi hanya nyengir semakin lebar. "Aku tidak tahu. Begitu bangun dia sudah tidak ada di sini." Kyra bangkit dari tempat tidurnya. Tepat saat itu pintu ruangan mulai terbuka dan muncul sosok Alif yang disusul dengan beberapa pengawal. "Luna mengirimkan mereka untuk sarapan kita." Alif menjelaskan tentang kedatangan beberapa Klan Mermaid di belakangnya. Mempersilahkan mereka masuk dengan membawa beberapa makanan lezat di tangan mereka. Ajaib. Di tangan para pengawal itu makanan yang dibawakannya tidak tersentuh air sama sekali. Ada gelembung yang melapisinya. Persis seperti mereka saat berada di dalam air. Dan seperti biasa, begitu masuk ke dalam ruangan mereka, makanan gelembung itu langsung meletus dan menghilang. "Ini sarapan kalian. Putri Luna menunggu kedatangan kalian di aula setelah sarapan." Kyra mengangguk, dia mengucapkan terima kasih sebelum mereka semua pergi. Cara mereka ke sini sangat lucu. Dengan tubuh setengah ikannya, mereka masuk dan tubuh bagian bawahnya yang berbentuk ekor ikan dilapisi air. Melayang di udara seperti kendaraan yang digunakan untuk berjalan. Benar-benar ajaib. "Ngomong-ngomong, aku tidak tahu siapa Luna. Semalam aku mau bertanya tidak jadi." "Luna adalah wanita aneh yang kamu temui semalam." Alif mendekat ke arah daging yang sudah dipanggang sempurna di atas piring. Menggigit kecil dan mengangguk. "Masakan mereka enak juga. Tidak kalah dengan Canuto." Lea mendekat. "Jadi namanya Luna. Kenapa dia dipanggil putri?" "Karena dia keturunan dari pemimpin duyung di sini. Seorang pengendali danau yang disebut semalam--Randai, kamu tidak makan?" Alif menatap Randai yang seperti malas-malasan di tempat, dia kembali menatap tidak suka hidangan di atas meja. "Aku tidak mengonsumsi itu." "Benarkah? Kamu tidak ingin buah segar ini?" Randai menggeleng. Meski pun indra penciumannya mencium aroma menggoda, tapi dia mencoba menahan. Mungkin saja itu aroma yang ditimbulkan dari tubuh Kyra. "Sayang sekali, padahal ada darah segar di sini. Ckckck, indra penciumanmu buruk juga ternyata, Ran." Alif mengambil apel merah dan dilemparkan ke arah Lea yang mendekat. Gadis itu sigap menangkapnya. "Benarkah--eh, hey! Indra penciumanku sangat baik ya. Aku hanya berpikir tadi itu aroma dari tubuh Kyra." "Banyak alasan. Sudah sini. Kamu juga harus mengisi tenaga, Ran." Alif menggeser teko berukuran kecil ke samping kanan, sedangkan samping kirinya, ada Lea dan Kyra yang mencoba hidangan lain. Randai mendekat dia menggerutu pelan sebelum mendudukkan bokongnya di samping Alif. "Cobalah " Lelaki yang berasal dari Klan Vampir itu menerima sodoran gelas berisi darah segar yang penuh. Randai mendekatkan gelas itu ke hidungnya dan menghirup pelan. "Darah kelinci." "Berfungsi juga ternyata." Alif terkekeh pelan, disusul dengan kawan-kawannya yang lain, dan itu membuat Randai sangat tidak suka. Ditengah makan-makan itu, mereka menyelipkan obrolan pelan. Kyra lagi-lagi juga menanyakan kondisi Lea. Apakah gadis itu benar-benar baik-baik saja. "Aku sudah sehat, Ra. Bahkan sudah siap bertarung." Kyra tersenyum. Lega mendengarnya. "Oh iya, Lif. Bagaimana keadaan ayahnya Lea. Apa dia sudah sembuh?" Alif mengangkat bahunya. "Kamu akan tahu sendiri nanti setelah berkumpul di aula." "Ada hal yang kubingungkan. Bukankah Luna keturunan Klan Mermaid, kenapa dia tidak mempunyai ekor seperti yang lain. Dan malah punya ranting tajam yang mengerikan." Randai menyeka mulutnya. Dia mencoba menghargai Kyra yang mungkin saja jijik dengan apa yang dia konsumsi. Sebisa mungkin tidak memperlihatkan sisa darah di bibirnya. "Dia keturunan campuran. Ayahnya memang dari Klan Mermaid, tapi ibunya dari Klan Penyihir. Luna lahir juga karena kesalahan. Aku juga kurang tahu pastinya. Entah dia kena kutukan atau apa, yang pasti dia adalah keturunan campuran persilangan antar Klan. Nanti kalian bisa tanya detailnya di aula." "Penjelasanmu setengah-setengah, Lif." "Karena aku memang kurang tahu, Randai. Sudah kubilang kan, kamu bisa bertanya nanti." Lea dan Kyra saling tatap, beberapa saat kemudian mereka tertawa kecil. Seolah tahu pikiran satu sama lain. Iya, mereka memikirkan Alif dan Randai yang akan mulai pertengkaran di meja makan ini. Lihatlah, bahkan Alif sudah menatap tajam Randai. Tapi mereka berdua hanya terkikik geli dan melanjutkan sarapan. "Kalau kalian mau terus bertengkar. Makanan ini akan habis. Aku masih sanggup lho menghabiskannya." Alif dan Randai terdiam. Menoleh ke arah Kyra. "Yah, setidaknya kamu tidak akan meminum darah." "Memang tidak. Tapi aku bisa membuangnya atau menyuruh pelayan tadi mengambil kembali. Tinggal bilang saja kamu tidak mau. Kalau pun nanti kamu mau mengambil lagi juga tidak masalah. Tapi itu akan sangat memalukan, Ran." Pagi itu mereka mengobrol pelan yang diselingi dengan gelak tawa. Merasa seolah beban mereka sedikit berkurang. Padahal di depan sana, bahaya yang lebih mengerikan sudah siap menanti. Bahkan siap menghilangkan nyawa siapa saja yang berani mendekat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN