"Aku merasa gugup." Lea beberapa kali menarik napas pelan. Kedua tangannya bahkan terkepal beberapa kali.
"Tidak apa-apa, Le. Luna tidak sekejam malam itu sekarang."
Kyra mengangguk. Randai benar. Buktinya selama semalaman mereka dijamu dengan sangat baik. Bahkan pagi ini semua merasa kenyang. Randai saja tidak perlu menempuh perjalanan dulu untuk bisa mengonsumsi darah. Dia bahkan sangat puas. Meski pun rasa tidak bersyukurnya masih terdengar dengan terus protes beberapa kali.
"Luna si Wanita cantik yang semalam itu hampir merenggut nyawaku, Ran. Perasaan gugup seperti ini pasti wajar kan, apalagi aku akan bertemu dengan seseorang yang hampir membunuhku."
"Tenang saja. Luna, tidak akan berani macam-macam selama kamu dekat denganku. Memangnya siapa yang akan menolak pesona Randai. Si vampir tampan yang--aww! Sakit, Ra." Randai memegang lututnya yang ditendang Kyra.
"Ini bukan saatnya untuk narsis, Ran. Ck, kamu ini, tidak di dunia manusia atau di dunia Klan, sikapmu sama saja."
Randai meringis. Mengusap lututnya beberapa kali. "Awas saja nanti kalau kamu sampai jatuh cinta sama aku, Ra. Aku pastikan kamu akan menyesal telah mengatakan ini."
Lea tertawa pelan. Perasaannya sedikit lega melihat pertengkaran sahabatnya itu.
"Kalau jatuh cinta kan? Syukurlah, aku tidak mungkin akan begitu."
"Sudah. Kita harus segera ke aula. Luna pasti menunggu." Alif beranjak, berjalan lebih dulu meninggalkan sahabat-sahabatnya. Kupingnya terlalu pengang mendengar pertengkaran mereka. Seperti anak kecil saja, tidak ada yang mau mengalah.
"Apa aku akan tenggelam? Kalian sudah disihir Putri Luna kan, sedangkan aku waktu itu tidak sadarkan diri." Lea berhenti di depan pintu yang ada ukiran ikan dan kerang itu.
"Tenang saja, Luna juga sudah menyihirmu." Alif berkata tenang dan membuka pintu, kemudian disusul dengan sahabatnya yang lain.
Di depan tempatnya menginap ternyata sudah ada pengawal yang menunggu mereka. Pengawal itu ditugaskan untuk menjemput empat remaja itu dan menunjukkan tempat aula berada.
"Lewat sini, Nona." Pengawal itu menggiring ke arah kanan dan diikuti yang lainnya. Dalam perjalanan menuju aula, mereka sempat menjadi pusat perhatian para dayang dan pengawal lain. Tapi mereka tidak perduli, ada hal yang harus diselesaikan setelah ini--kecuali Randai, lelaki vampir itu bahkan sempat melambaikan tangan ke beberapa dayang yang dianggapnya cantik. Tersenyum lebar merasa seolah dia yang paling tampan.
"Kita sudah sampai." Pengawal itu berhenti di depan pintu yang berukuran tinggi dan besar. Ada ukiran kerang, ikan, kereta dengan kuda laut yang super besar yang ditumpangi oleh lelaki setengah ikan, dan sebuah tombak yang berada di tangan kanannya.
"Ukirannya cukup bagus." Randai memandang ukiran itu, sempat menyentuhnya karena merasa kagum.
Pengawal itu memegang gagang pintu dan membukanya pelan. Dia berenang dan masuk ke dalam--memang, dari tadi pengawal setengah ikan itu mengantarkan mereka dengan cara itu.
"Ini luar biasa, sangat megah. Aku tidak tahu ada bangunan sekeren ini di dalam danau." Kyra benar-benar mengagumi, dari tadi dia terus memindai isi aula ini. Di atasnya ada sebuah lengkungan seperti kubah besar, berlukiskan seperti ukiran di pintu depan tadi, bedanya yang ini berwarna. Dengan sekejap Kyra tahu siapa lelaki setengah ikan yang memegang tombak tadi. Dia adalah lelaki paruh baya yang ia coba selamatkan semalam.
"Selamat datang. Kami sudah menunggu kalian dari tadi." Suara yang terdengar berwibawa itu berasal dari singgahsana atas. Empat remaja itu langsung menoleh, menemukan pria paruh baya dengan tubuh bagian bawah berupa ekor. Berwarna biru terang. Di tangannya membawa tombak keemasan. Persis seperti lukisan yang tergambar di atas sana.
Kyra dan Alif tang tahu siapa pria itu menunduk memberi hormat, sedangkan Randai dan Lea terlihat kikuk. Maklum, mereka memang baru melihatnya.
"Santai saja, Nak. Tidak perlu bingung. Aku malah berterima kasih kepada teman kalian karena telah membantuku semalam." Pria itu tersenyum. Turun ke bawah--tidak dengan berjalan, melainkan berenang, tapi dengan posisi tubuh tetap berdiri.
Semua mermaid yang ada di ruangan ini berdiri begitu penguasa mereka mulai menghampiri empat remaja itu.
"Aku dengar namamu Kyra, dan kamu Alif bukan?" Sang Raja, baginda yang pernah tertidur itu menepuk bahu Alif pelan, tersenyum ke arah empat remaja itu.
Alif dan Kyra hanya mengangguk menanggapi. Randai dan Lea masih mengawasi, kedua remaja itu masih bingung dengan kejadian yang terjadi saat ini.
'Sial! Mereka berdua semalam menemukan sesuatu tidak memberitahuku, ah, harusnya aku bisa menahan lelah semalam.'
"Bagaimana kabarmu, Lea? Kondisimu sudah sehat?" Sang baginda beralih menatap Lea yang tersenyum kikuk, dia hanya mengangguk perlahan.
"Syukurlah, maafkan putriku karena hampir mencelakai kalian. Emosinya memang mudah terpancing semenjak aku tidak bisa dibangunkan. Tapi syukurlah, kalian bisa menangani masalah itu."
"Sebenarnya ada apa kami dibawa ke sini?" Alif langsung mengatakan to the poin, dia tidak suka terlalu lama basa-basi.
"Jangan terburu-buru, Alif, bahkan aku saja belum menyapa Randai, Klan Vampir yang begitu tampan."
Mendapat pujian seperti itu Randai langsung tersenyum, dia begitu bangga melirik sahabatnya satu persatu. Baiklah, sepertinya penglihatan sang raja terlalu buram karena tidur terlalu lama. Meski pun tidak dipungkiri kalau Randai memang tampan.
"Kami belum tahu siapa nama Baginda." Lea mengawali pembicaraan. Dia sangat penasaran siapa nama dibalik wajah ramah berwibawa itu.
"Ah iya, aku sampai lupa tidak mengenalkan diri. Namaku Ernest, Luna pasti pernah mengatakan kalau aku pengendali danau ini. Itu benar. Aku adalah pemimpin mereka, yang mengendalikan kesejahteraan danau ini sampai menuju lautan. Hanya saja beberapa tahun silam pernah terjadi perpecahan yang membuat Luna harus turun tangan dengan cara yang kasar." Raja Ernest menoleh menatap sang putri. Luna hanya tersenyum menanggapi.
"Ayah, jangan terlalu lama mengajak mereka mengobrol. Pasti akan jenuh mendapatkan petuah Ayah nanti." Luna tersenyum, kemudian menekuk wajahnya, berpura-pura seolah kecewa dengan tindakan ayahnya, sedangkan Raja Ernest hanya tertawa.
Kyra masih sempat-sempatnya memperhatikan aula ini. Ruangannya memang sangat luas. Banyak kursi berjejer sejajar hampir ke pintu. Semua terbuat dari batu dan pasti ada ukiran kerang dan ikan. Tapi kursi paling megah berada di depan mereka. Singgahsana raja.
"Silahkan duduk sebelah sana. Kita akan rapat dan mengobrol di sini. Putriku Luna sudah menceritakan semuanya, tentang keinginan--ah, maksudku imbalan yang kalian minta. Aku harus membicarakanya bersama kalian." Raut muka raja itu terlihat sangat serius, berbeda dengan wajah ramah berwibawa yang tadi sempat ditampakkan.
Empat remaja itu lalu berjalan menuju tempat yang sudah disediakan untuk mereka.
"Aww! Hati-hati, Ra. Kamu menginjak kakiku." Randai melotot, dia hampir saja terjungkal karena ulah Kyra. Gadis itu pun langsung meminta maaf, dan kembali fokus berjalan, tadi dia tidak memperhatikan, terlalu fokus mengamati keindahan yang ada di dalam aula ini. Sehingga tidak melihat dengan benar apa yang ada di depannya.
"Untuk yang lain, bisakah kalian memberi ruang pada kami. Hanya penasihat saja yang boleh tinggal di aula ini."
Semua yang ada di dalam aula berdiri, kecuali dia yang berada tidak jauh dari Raja Ernest. Tidak lama setelah itu mereka yang bangkit dari duduknya menundukkan kepala dan pamit undur diri. Tidak lupa setelah itu pintu aula kembali ditutup lagi seperti semula.
"Jadi ... kalian akan pamit hari ini juga?"
Empat remaja itu mengangguk. Perjalanan mereka masih panjang, baru menapaki tangga pertama mungkin.
"Dan kamu Alif, seseorang dari Klan Lycanthrope, apa kamu yakin kami memiliki benda yang kamu maksud?"
"Tentu saja. Luna--"
Kyra menyenggol lengan Alif, melotot. Memberitahu lelaki itu untuk sopan sedikit. Setidaknya itu bisa lebih memudahkan keinginan mereka kalau Alif tidak mementingkan ego.
"Maksudku Putri Luna. Dia sudah berjanji akan memberikan apa pun kalau kami bisa menyembuhkan, Baginda. Dan menurutku, klan kalian tidak akan ingkar janji bukan. Mendengar bagaimana cara putri Baginda mengatakannya kemarin."
Raja Ernest menoleh, menatap putrinya yang menunduk, dia menyesal. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya juga sudah hampir menyerah membangunkan Ayahnya. Dua puluh tahun lamanya, dan baru tersadar hari ini.
Raha Ernest mengembuskan napas pelan. "Benda itu sebenarnya sangat kami jaga. Kami dititipkan oleh sahabat kami untuk melindunginya dengan nyawa kami. Tapi dia juga berpesan, kalau suatu saat, akan ada rombongan yang mengambil benda itu. Dia yang terpilih yang berhak dan mampu mengenali petunjuk. Mungkin kedatangan kalian memang ditakdirkan untuk itu. Sepertinya sudah saatnya benda itu berpindah tangan. Melihat bagaimana kalian saat ini, aku sangat percaya kalau kalian memang orang-orang yang dimaksud."
Kyra, Lea dan, Randai sedikit bingung dengan penjelasan itu, hanya sedikit yang mereka tangkap dari pembicaraan ini. Tapi Alif paham. Karena dia juga awalnya yang meminta benda penting yang selama ini dijaga oleh sang Raja.
"Luna, ambilkan benda itu."
Luna mengangguk, dia berjalan ke arah tengah aula. Tangannya mengayun ke atas. Sebuah ranting keluar dari tubuhnya, punggungnya yang normal tiba-tiba ditumbuhi akar pohon, membentuk seperti otot. Menyatu di tubuhnya. Bunga-bunga mulai berguguran di sekitarnya. Sangat ajaib, bahkan kupu-kupu biru juga mengitar diseklilingnya. Bagaimana mungkin kejadian ini bisa terjadi di dalam air.
Kubah besar di atas mulai mengeluarkan bunyi seperti retak. Gambar tombak yang dipegang mulai bersinar, mengeluarkan cahaya biru keemasan. Ranting di tubuh Luna semakin menjalar ke arah cahaya itu, menembus ke dalamnya, cahaya yang dihasilkan semakin bertambah terang dan ....
Puk!
Benda itu jatuh di tangan Luna. Perlahan tubuhnya mulai normal kembali. Tangannya yang tadi ditimpa sesuatu itu bercahaya dan perlahan meredup. Menyisakan benda panjang yang teronggok bisu di sana.
Luna mulai berjalan menghampiri ayahnya, menyerahkan benda itu dengan sangat hati-hati.
"Aku tidak mengerti, apa maksudnya, Lif?" Randai sudah tidak sabar menunggu rasa penasarannya lebih lama lagi.
"Itu potongan pusakanya Randai, semalam aku dan Kyra melakukan penawaran itu."
"Apa?!"
Bukan hanya Randai, Lea yang mendengar bahkan ikut terkejut. Jadi ... sedekat itu mereka dengan potongan pusaka yang mereka cari.
"Bagaimana kamu tahu kalau mereka memilikinya?"
"Luna kelepasan bicara semalam, dan petunjuk yang diberikan Zek sama Canuto dulu, juga menjadi alasan kenapa aku semakin yakin dengan pusaka itu. Kamu ingat, semalam cahaya biru keemasan itu berpendar di sini. Mungkin itu sumbernya."
Randai mengangguk, mulai mengerti dengan penjelasan Alif, begitu juga dengan Lea.
Tanpa mereka sadari, Kyra yang dari tadi diam merasakan keanehan di tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, bahkan napasnya juga sedikit memburu. Ada sesuatu yang mencoba keluar dari tubuhnya, sesuatu yang besar yang hendak menariknya, ia tidak tahu apa, tapi dirinya menahannya.
"Kemarilah! Akan kuserahkan benda ini kepada kalian, sudah saatnya aku menyerahkan pada yang terpilih."
"Ayah."
Raja Ernest tersenyum. "Tidak apa, Luna. Pusaka ini memang memilih mereka. Itulah alasan kenapa semalam ada yang bersinar terang di sini. Dan bungamu yang semula tidak pernah mekar setelah perang itu kembali normal seperti sebelumnya. Itu efek kekuatannya. Benda ini sengaja menarik sesuatu yang ingin menjemputnya."
Luna akhirnya mengangguk. Pantas saja semalam terasa aneh dan berbeda dari sebelumnya. Ternyata benda yang mereka jaga selama ini memberikan tanda, yang efeknya bisa dirasakan siapa pun yang berada di dekatnya.
Alif langsung berdiri, sebagai seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin, dia memilih maju untuk mengambil potongan pusaka sakti itu.
Mereka semua terlalu fokus dengan potongan pusaka sakti itu, penasaran juga bagaimana kekuatannya, sampai tidak sadar kalau ternyata Kyra terus memegang dadanya yang mulai terasa sakit. Tubuhnya seperti menyerap energi besar, tapi dia juga merasakan kesakitan secara bersamaan.
"Terimalah." Raja Ernest memberikan potongan pusaka sakti itu kepada Alif dengan sangat hati-hati. Seperti meletakkan sebuah guci yang mudah pecah. Alif menerima dengan senang hati, dia tersenyum dan berterima kasih setelahnya. Kemudian undur diri dan kembali ke tempat asalnya tadi.
"Kamu kenapa, Ra?" Akhirnya Lea menyadari, saat dia menoleh ke arah sahabatnya, dirinya malah menemukan Kyra yang meringis menahan sakit di tubuhnya.
"Entahlah, Le. Sepertinya dadaku sedang bermasalah. Sakit sekali rasanya. Tapi aku tidak tahu kenapa."
"Aku bantu--"
"Tidak, Le. Sekarang sudah lebih baik." Cengkraman tangan Kyra di dadanya terlepas tepat saat Alif duduk tidak jauh darinya. Dirinya merasa lebih baik sekarang.
Setelah Alif menyimpan potongan pusaka itu, Raja Ernest menyuruh para tetinggi kerajaan untuk kembali lagi ke aula dan berkumpul di sana.
"Jadi kalian benar-benar pamit sekarang?" Raja Ernest mendekati mereka. Melihat dengan tatapan seperti tidak rela.
"Kami harus melanjutkan perjalanan."
"Baiklah."
"Emm, Baginda ada yang ingin kutanyakan." Kyra yang masih diliputi rasa penasaran mencoba bertanya. Mumpung mereka masih ada di sini.
"Kenapa Kyra?"
"Bagaimana mungkin Baginda tertidur sangat lama, dengan kondisi seperti itu--maksudku, sepertinya Baginda bukan sembarang orang yang bisa dikalahkan seseorang."
Raja Ernest mengela napas. "Dua puluh tahun yang lalu, aku dijebak oleh Si Legenda. Dia yang sudah kalang kabut mencari pusaka itu tiba-tiba datang menemuiku. Entah karena dapat petunjuk atau berpikir bahwa aku pernah dekat dengan Sang Pengendali Terbaik dari pusaka itu. Tapi yang pasti, aku berhasil ditaklukkan dan dilumpuhkan karena tidak memberi tahu dimana keberadaan pusaka sakti. Dan yah, seperti yang kalian lihat, Luna lah yang akhirnya ganti menjaganya. Aku sangat bersyukur waktu itu sempat memberi tahunya terlebih dahulu."
"Apa Baginda melihat wajah Sang Legenda?"
Raja Ernest menggeleng. "Dia bertopeng. Tidak ada yang tahu bagaimana rupanya."
Mereka berhenti berjalan. Saat ini empat remaja itu memang sedang diantar menuju gerbang danau ini dengan daratan.
Luna mulai menggerakkan tangannya, dan beberapa detik kemudian, air di danau membentuk sebuah tangga hingga menjulang ke atas, airnya terbelah.
Empat remaja itu kemudian menaiki undakan hingga sampai pada dataran. Langit sudah berubah cerah di sini.
Raja Ernest mengambang, sebagian tubuhnya terendam air danau, sedangkan Luna berdiri anggun menapaki air tanpa tenggelam sama sekali.
"Terima kasih atas semalam, Putri Luna. Dan Baginda, terima kasih sudah mempercayai kami." Kyra tersenyum, berkata sopan kepada mereka, yang lain juga ikut menundukkan kepala.
"Sama-sama, aku juga berterima kasih. Kalian berhati-hatilah di jalan. Aku tidak tahu ada di mana potongan yang lain, karena si Pengendali Terbaik tidak pernah mengatakan apa pun tentang itu. Jadi aku tidak bisa membantu."
Mereka mengangguk, mengerti maksudnya. Setelah itu dua orang yang semalam menjamu mereka kembali lagi ke dalam danau, dan mereka juga kembali hendak mengambil bawaan mereka yang tertinggal, berharap perbekalan mereka tidak hilang.
"Kemana kita akan berjalan nanti, Lif."
"Nanti aku pikirkan, kita harus bergegas mengecek perbekalan. Bisa gawat kalau tas kita hilang nanti."
Mereka mempercepat langkah, segera bergegas. Dalam diri masing-masing sedikit lega karena telah menemukan potongan pusaka sakti yang mereka cari. Tinggal mencari lagi sisanya yang tersembunyi entah di mana lagi. Mereka tidak tahu, kalau ada yang memantau mereka dari jarak jauh. Ikut tersenyum karena mereka berhasil mendapatkannya.
***