Lebih Tenang

1298 Kata
"Di sini memang tidak banyak yang menghuni sepertinya." Randai mengambil tasnya, mengecek isinya dan masih utuh. Begitu pun dengan yang lain. "Ini jauh lebih baik daripada makanan kita hilang nantinya." "Lea, kamu benar-benar sudah sehat. Masih kuat berjalan?" Kyra masih saja menatap khawatir sahabatnya. Bukan apa-apa, semalam waktu melihat Lea yang sekarat hampir kehilangan nyawa membuatnya was-was melihat gadis itu sekarang mengambil tasnya dan hendak ikut perjalanan. Dia takut Lea tiba-tiba pingsan, atau lebih buruknya lagi kejang-kejang seperti semalam. Pemikiran yang berlebihan memang, jika mengingat siapa Lea yang sebenarnya. "Kamu tidak perlu khawatir, Ra. Lea bahkan jauh lebih kuat dari Randai. Klan Fairy tidak selemah itu setelah dia sekarat hampir kehilangan nyawa. Percayalah, Lea jauh lebih kuat dari yang kamu duga." Lea tersenyum dan mengangguk. Ditepuknya pelan bahu sang sahabat, lalu mengajaknya untuk kembali melanjutkan perjalanan. "Kita akan berjalan lurus?" Alif mengangguk. "Petunjuk yang diberikan Canuto dan Zek memang sangat minim. Tapi jika pusaka itu memang benar memilih kita, maka dia juga yang akan menuntun kita. Seperti halnya semalam." Randai tiba-tiba melesat lebih jauh. Dia melakukan teleportasi, meninggalkan kawannya jauh dari belakang. "Hey, si vampir meninggalkan kita!" "Tidak, Ra. Randai memang suka begitu. Nanti juga balik lagi. Biasanya dia akan ngecek ada bahaya apa di depan sana." "Tapi dia tidak terlihat, Lif." "Kamu ini heboh sekali, Ra. Itu hal wajar, kecepatan Randai dalam berteleportasi memang luar biasa." Lea tertawa geli melihat sahabatnya itu begitu heboh. Kyra mengembuskan napas, menatap sahabatnya satu persatu. Ada rasa bersalah dalam dirinya. "Kenapa?" Alif yang merasa Kyra tidak fokus dengan berjalannya menoleh ke arah Kyra. Gadis itu hanya menggeleng pelan dan kembaki berjalan. "Jangan tambahi beban pikiranmu, perjalanan kita masih panjang. Ada banyak hal yang harus dipikirkan. Jadi jangan sampai kamu memikirkan hal yang tidak berguna." "Cih!" Kyra langsung saja berdecih. "Kamu tahu, Lif. Mulut kamu itu nggak jauh beda sama Tara dan mamaku. Mengalahkan pedas bon cabe level tergokil." "Di dunia Klan tidak ada merek pedas yang kamu sebutkan tadi. Jadi perumpamaanu tidak masuk akal di sini." Lea yang melihat pertengkaran itu tertawa pelan. "Kalian ini lebih sering bertengkar. Tahu tidak, jika tidak ada Randai yang membuat ulah, pasti kalian yang akan bertengkar mendebat sesuatu. Hati-hati, bisa jadi kalian berjodoh nanti. Ingat! Benci dan cinta itu beda tipis." "Aku tidak membencinya, Lea." "Tapi mencintainya. Benarkan, Ra." Kyra melotot tajam. Enak saja dia berkata begitu. Memang apanya yang perlu dilihat dari Alif. Lelaki itu bukan manusia sepenuhnya. Juga bukan seleranya. Memang terlihat tampan. Tapi Kyra tidak tertarik. "Ada benarnya juga lho, Ra, perkataan Alif tadi. Kamu terus saja memperhatikan kami. Ada apa?" Kyra mengembuskan napas pelan. Mendongak menatap langit yang terang. Sesekali melompat untuk melewati akar pohon yang menjalar. Hutan ini hampir sama seperti sebelumnya. Semakin rapat. "Kalian mempunyai kemampuan istimewa. Bahkan hampir semuanya bisa memperpendek waktu, seperti melakukan teleportasi atau berlari kencang seperti Alif. Kamu juga bisa menempuh jarak jauh dalam waktu dekat hanya dengan mengepakkan sayap. Bisa berinteraksi dengan alam sehingga bisa tahu bahaya apa yang sedang mengintai kita. Tapi aku? Lebih sering merepotkan sepertinya." Alif kembali mematahkan ranting yang menjalar. Hampir saja mengenai wajahnya. "Tapi kamu juga yang menyelamatkan nyawa kami. Kamu punya kekuatan yang luar biasa, Ra. Oh iya, ngomong-ngomong aku baru ingat. Sebelum kejadian mengerikan semalam, Lea bercerita tentang api birumu. Dari mana kamu mendapatkannya?" Kyra mengendikkan bahu. "Aku tidak tahu, bahkan aku tidak ingat." "Aneh, senyum sinismu juga tidak kalah mengerikan dari Luna. Aku masih penasaran sebenarnya, kenapa Zek memilihmu? Ada kekuatan spesial apa yang kamu miliki?" "Berhenti bercanda, Lif. Aku hanya gadis biasa. Ingat, waktu aku bersama Zek dulu, aku bahkan tidak bisa bertarung dengan baik." Alif menggeleng, tidak membenarkan hal itu. "Tidak, kamu punya sesuatu yang spesial. Tapi kamu belum bisa mengembangkannya, lebih tepatnya tidak menyadari. Coba saja lain waktu kamu berlatih dengan sungguh-sungguh--maksudku, tentang api birumu. Itu bisa kamu latih secara perlahan. Zek tidak mungkin asal salah pilih." Lea mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan Alif. Dari kejauhan, lelaki dari Klan Lycanthrope itu memicing. Menatap tajam sesuatu yang mendekat ke mereka. Lea dan Kyra tidak menyadari karena indra mereka tidak sepeka punya Alif, tapi lelaki itu tahu siapa yang datang. "Kalian jangan terkejut setelah melihat apa yang terjadi." Dua gadis itu menoleh menatap Alif, pandangannya lalu beralih mengikuti arah pandangan lelaki itu. Masih samar tidak begitu jelas. Tapi lama kelamaan sosok itu muncul juga, dengan seringai mengerikan karena ada darah di sudut bibirnya. "Randai! Mulutmu berdarah." Kyra terkejut, tapi malah dibalas kekehan dari kawan-kawannya, membuat gadis itu bingung dengan apa yang terjadi. "Ra, jangan terlalu terkejut. Alif sudah memperingatkan tadi." Lea masih saja tertawa. "Kamu menemukan sesuatu untuk dimakan?" Randai mengangguk. "Ada kehidupan setelah hutan ini, seperti perkampungan. Aku tidak menyangka, ada kehidupan lain di sana." "Jangan bilang kamu mencuri hewan mereka." Kyra menuding Randai. "Hey! Enak saja, aku ini vampir yang kharismatik. Tidak mungkin mencuri begitu saja." "Lalu? Mulut kamu?" "Aku menemukan hewan lain. Ah, sikap berburuku rasanya menggebu melihatnya tadi." Mereka saling diam. "Apa yang kamu bunuh, Ran?" Randai nyengir lebar. Dia bahkan terlihat sangat menyombongkan diri. "Kamu sudah mengonsumsi darah pemberian Luna tadi, bagaimana mungkin masih saja berburu." Kyra menggeleng tidak percaya--ah, lebih tepatnya dia takut Randai khilaf dan menyerangnya nanti. "Jangan menyalahkanku, Ra. Ck, kamu ini." Randai melompat pelan, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam itu, dia bahkan sempat bergelantung di batang pohon yang menjalar. "Aku ini sudah menyelamatkan dua nyawa. Tidak berburu sembarangan apalagi mencuri seperti tuduhanmu, Ra. Enak saja!" Kyra memicing. Sangat tidak percaya dengan Randai. Bisa saja yang dikatakan Randai hanya bualan semata. "Tadi aku melihat orang yang tersesat di hutan ini, tidak terlalu di tengah hutan sih, tapi tidak di pinggir perkampungan atau batas hutan ini. Hanya hampir masuk pertengahan hutan. Kondisinya mengerikan, Ra. Kakinya berdarah, dan beberapa tubuhnya ada cakaran, lebih parahnya lagi, dia dikejar harimau kelaparan. Dan bekas luka yang ia dapatkan itu karena menghindar dari serangan harimau." "Benarkah?" Randai mengangguk, sedangkan dua temannya yang lain--Alif dan Lea mendengarkan dengan seksama. "Dia berteriak minta pertolongan. Untung saja ada aku. Jadi tadi aku menyelamatkan nyawanya." "Kamu bilang, tadi menyelamatkan dua nyawa. Memang satunya apa yang kamu selamatkan?" Lea menatap Randai santai. Mendengar cara dia bercerita, sepertinya Randai tidak membual. "Satu manusia--ah, aku tidak tahu dia manusia asli atau salah satu Klan di dunia ini. Tapi yang aku selamatkan satunya adalah si harimau. Aku membebaskannya dari rasa sakit kelaparan." "Dengan cara membunuhnya?" tebak Alif tepat sasaran. "Iya ... begitulah." Lea tertawa. "Itu berarti kamu tidak menyelamatkan dua nyawa, Ran. Hanya satu." "Tapi aku sudah membebaskan dia dari penderitaan yang dialami." "Tetap saja kamu membunuhnya." Alif mematahkan sanggahan Randai. "Ya ... ya ... kalian benar. Baiklah aku perbaiki perkataanku tadi. Aku sudah menyelamatkan satu nyawa, dan membebaskan satu makhluk dari penderitaan. Puas?!" Dua temannya itu hanya tertawa, sedangkan Alif, lagi-lagi hanya mengulas senyum. "Lalu apa lagi yang kamu lihat?" Alif menatap Randai. "Tidak ada, hanya itu. Lebih baik kita bergegas keluar dari hutan ini. Di sini tidak ada apa-apa. Dan jarak hutan ini masih jauh. Hutan ini terlalu besar." Alif mengangguk. "Kamu mau memilih siapa, Ra, untuk keluar dari sini?" "Eh?" Duh, Kyra selalu bingung jika ditanya hal ini. Dia sebenarnya lebih suka bersama Lea, tapi gadis itu merasa ngeri melihat Lea yang terbang kadang meliuk. Maklum saja, hutan ini terlalu lebat, kalau Lea nekat terbang di atasnya, dia tidak akan melihat Alif dan Randai dengan baik dari atas sana. "Kamu saja, Lif." Alif mengangguk. Meminta teman-temannya untuk segera bersiap. Setelah itu mereka segera mengambil wujud masing-masing seperti Klan mereka, dan bersiap ke luar dari hutan ini dengan cepat. Tidak tahu kalau mereka juga menantang bahaya lebih cepat. Di ujung sana, tidak satu pun dari mereka yang tahu kalau sebenarnya telah terjadi sesuatu yang besar tiga hari yang lalu, dan kini mereka sedang menempuh jalan menuju ke sana. Ke sebuah rintangan baru yang harus dilalui. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN