Mereka berempat akhirnya sampai pada perbatasan hutan. Benar kata Randai, tidak jauh dari sana. Ada perkampungan kecil. Mereka tidak menyangka saja kalau ada perkampungan di dekat sini. Suatu hal yang sangat mustahil mengingat dari awal perjalanan mereka tidak menemukan kehidupan apa pun.
"Apa kita harus ke sana, Lif?" Lea bertanya kepada Alif. Sebagai pemimpin, dia memang berhak memberikan perintah, dan teman-temannya yang lain akan menghargai keputusannya selama itu baik. Maka dari itu, setiap langkah sekarang, mereka selalu meminta pendapat dari Alif.
"Sebentar." Alif memicing, matanya mengamati sekitar. Perkampungan itu sangat asri, terdapat di bawah bukit yang tidak terlalu tinggi. Ternyata hutan yang mereka lewati kemarin posisinya lebih tinggi dari tempat perkampungan itu berada. Tapi ada yang aneh. Meski pun letaknya yang lebih tinggi, mereka tidak merasa pernah mendaki sesuatu. Jalannya datar, tidak ada naik-turun seperti gunung atau perbukitan.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau perkampungan itu tempatnya lebih rendah dari hutan ini?" Alif menatap Randai yang terlihat santai melihat orang-orang berlalu lalang di bawah sana.
"Kamu tidak bertanya, jadi ... mana aku tahu kalau ini penting."
Alif berdecak. Ya sudahlah, ini bukan suatu hal yang perlu di perdebatkan.
Mereka kembali mengamati perkampungan itu, masing-masing dari mereka juga mengamati sekitar. Masih menunggu perintah dari Alif.
Melihat dari penduduk yang berlalu-lalanh dan saling menyapa jika tidak sengaja bertemu. Membuat mereka berpikir kalau penghuni di sana orangnya ramah-ramah. Biasanya memang seperti itu.
"Rumahnya aneh ya."
"Iya, Ra. Sangat berbeda dengan dunia kita. Kenapa semua berkerucut, dan setiap atapnya pasti melengkung. Seperti topi penyihir di film animasi."
Kyra mengangguk, sependapat dengan Lea. Beberapa penduduknya juga terlihat membawa kayu bakar. Tapi tubuh mereka normal, tidak bungkuk atau berwarna hijau seperti di film.
"Bagaimana, Lif? Kita mampir di sana atau langsung lewat saja?" Randai menatap Alif dengan seksama.
"Kita coba. Ayo!" Alif berjalan lebih dulu. Ia menggerakkan tangannya, tanda bahwa teman-temannya harus mengikutinya.
Mereka melewati turunan dengan hati-hati. Sebenarnya, Alif dan Randai bisa saja langsung melompat terjun ke bawah, tapi mereka tidak mungkin meninggalkan Kyra. Lagi pula mereka juga tidak tahu apa yang terdapat di depan sana. Mungkin saja perbuatan itu bisa mengganggu nantinya.
Setelah sampai di bawah. Mereka berjalan perlahan, hingga sampai di depan perkampungan itu, jalan masuk utama dari kampung ini.
Seperti orang asing lainnya, mereka berempat jadi pusat perhatian tiap kali lewat. Mungkin karena asing, atau memang sesuatu yang ... entahlah. Ada kewaspadaan tiap wajah mereka.
"Di sini ada yang sedang berkabung ya?"
"Kenapa memangnya?"
"Lihatlah, Ran. Hampir semuanya memakai pakaian hitam. Di duniaku, orang yang memakai pakaian itu berarti ada yang sedang berduka."
Randai menoyor kepala Kyra. Dia menggeleng pelan melihat kelakuan Kyra. "Ckckck, Ra ... Ra, ini dunia yang berbeda dengan duniamu. Tidak semuanya bisa kamu samakan. Kalau di sini, pakaian seperti itu mungkin membuat mereka bahagia. Tapi kalau dalam duniamu ...." Randai menjeda kalimatnya. "Duniamu itu berbeda, Ra, karena duniamu itu dunia binatang. Si Otan, hahaha." Randai tertawa keras, membuat beberapa orang melihat ke arah mereka. Membuat Alif langsung memukul punggungnya, membuat Kyra langsung menginjak kakinya. Yah ... semua menyakiti laki-laki vampir itu. Sukses sudah melakukan kekerasan.
"Kalian ini kompak sekali kalau disuruh memukulku."
"Jaga bicaramu. Jangan tertawa sembarangan. Kita tidak tahu tentang perkampungan ini, Ran. Setidaknya berlaku sopanlah sedikit."
"Hey, Lif. Jangan terlalu tegang. Kita akan baik-baik saja. Percayalah." Randai menepuk pundak Alif sambil tersenyum jenaka. Yah ... lelaki itu memang kadang bebal.
"Satu lagi, bercandamu itu garing. Tidak lucu sama sekali."
"Gampang, Ra. Tinggal minta air sama penduduk, nanti juga basah sendiri."
Kyra melotot, lelaki itu selalu berhasil membuatnya kesal.
"Apa kita harus bertanya, Lif?" Lea memandang sekitar, dia juga sempat menatap Alif tadi. Meminta pendapat.
"Tunggu beberapa saat dulu. Aku juga sedang melihat situasi di sini."
Lea mengangguk, mereka kembali berjalan perlahan. Beberapa masih memperhatikan mereka, beberapa lagi terlihat tidak perduli.
Dari pengamatan yang dilakukannya beberapa menit kemudian, mereka bisa mengambil kesimpulan. Penduduk di sini tidak seramah itu ternyata. Mereka hanya saling sapa dan ramah hanya pada orang-orang di sini. Mungkin tidak berlaku untuk orang asing.
"Hey! Kalian siapa?"
Merasa dipanggil, mereka berempat menoleh ke sumber suara. Menemukan remaja yang sama. Sepertinya usia mereka tidak jauh beda. Remaja di depannya yang sempat menyapa itu ada dua. Laki-laki dan perempuan. Mereka juga berpakaian gelap, dan membawa seperti .... Teko? Ah tidak, apa itu yang mereka bawa.
Alif, Lea, Randai dan Kyra baru menyadari kalau penduduk di sini rata-rata membawa sesuatu entah apa itu di tangan mereka. Meski pun sedang membawa barang bawaan yang lain. Tapi benda seperti teko berukuran kecil itu selalu ada di tangan mereka.
Dua remaja itu mendekati mereka, mengulas senyum ramah.
"Aku baru melihat kalian. Kalian bukan dari penduduk sini, kan?"
"Hey! Kamu tidak sopan. Setidaknya sapa mereka dulu, perkenalkan diri, bukannya malah bilang seperti itu." Perempuan di sebelahnya itu menyenggol lengannya. Membuat lelaki remaja itu hanya terkekeh pelan.
"Aku sudah terbiasa seperti itu."
"Tetap saja itu tidak sopan."
Lelaki itu hanya mengangkat bahunya. Dia mendekat ke arah empat remaja yang masih terdiam di tempat dengan tatapan bertanya-tanya. Berbeda dengan Alif yang terus memicing.
"Kalian bukan berasal dari sini? Benar?"
Mereka berempat mengangguk. Membenarkan pertanyaan dari sang lawan bicara.
"Pantas saja. Sangat asing memang. Ada perlu apa kalian di sini."
"Kami sedang mencari--" Randai yang sedang bicara langsung terdiam, dia hampir keceplosan mengatakan kalau mereka sedang mencari pusaka sakti.
"Kami hanya sedang melakukan perjalanan, dan tidak sengaja menemukan perkampungan ini." Alif menambahi karena melihat Randai yang terdiam dan malah menggerakkan kepalanya ke arah dua remaja itu. Seolah menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan tadi.
"Oh, jadi begitu. Sepertinya kalian lelah. Teman perempuan kakian yang paling ujung wajahnya seperti kelelahan."
Mereka langsung menatap Kyra. Benar. Gadis itu terlihat lelah.
"Kalau mau, kalian bisa istirahat di tempatku, sebelum melanjutkan perjalanan. Mungkin kamu bisa membantu sedikit."
Randai, Alif dan Lea saling tatap. Mereka mengangguk. Tidak ada salahnya me merima. Lagi pula Kyra terlihat sangat lelah meski tidak tahu apa penyebabnya kenapa tiba-tiba seperti itu.
Langkah kaki empat remaja itu akhirnya mengikuti dua orang yang menawarkan bantuan tadi. Menuju ke kediaman orang itu. Tidak tahu entah apa yang terjadi nanti, yang pasti, mereka berpikir itu mungkin sesuatu yang baik.
***