"Ngomong-ngomong, kalian dari mana tadi?" Lelaki berambut cepak, dengan lengkungan mata lebih dalam itu menyelingi pembicaraan saat mereka melangkah menuju ke kediamannya.
"Kami dari hutan seberang."
Lelaki itu mengangguk. "Luar biasa, setelah bertahun-tahun, akhirnya ada yang mendatangi desa ini dan bahkan bertamu di kediamanku." Kembali dia terkekeh.
"Kamu terlalu banyak bicara. Mereka bisa pengang mendengar suaramu nanti."
"Mereka tidak sepertimu, tamu baruku ini pasti lebih sopan dari kamu. Aku pastikan itu." Kembali lelaki itu terkekeh. Tidak lama setelah itu mereka berbelok, dan masuk ke dalam rumah yang tempatnya lebih ke dalam, tidak begitu terlihat karena tertutup beberapa rumah.
"Silahakan duduk." Lelaki itu mempersilahkan empat remaja yang menjadi tamunya untuk duduk. Dia menaruh seperti teko yang tadi di bawa di atas meja. Masuk ke dalam lagi untuk mengambil sesuatu.
"Kenapa kita langsung percaya saja sama dia?" Randai berbisik setelah memastikan dua remaja seumurannya tadi tidak terlihat.
"Entahlah. Tapi aku penasaran, kenapa penduduk di sini terlihat aneh. Kalian lihat, tidak ada satu pun tadi yang menyapa kami, padahal setiap mereka bertemu orang lain, pasti disapa. Mereka terus mengamati kita seperti ada sesuatu yang disimpan."
"Itu hanya perasaanmu, Lif."
Alif menggeleng. "Tidak, Ran. Memang ada yang aneh."
"Kalian tahu, tidak. Bangunan ini juga seper aneh. Tapi lebih aneh lagi tempat yabg kita masuki. Kenapa dia terpencil? Berada di antara rumah-rumah lain. Tertutup."
"Mungkin dia tidak punya lahan, Le."
"Mustahil, Ra. Melihat penduduk di sini begitu ramah."
Kyra terkekeh. "Lea, kamu ingat. Di dunia kita dulu--maksudku dunia manusia, harga lahan sangat mahal, bisa ratusan juta, jadi wajar kalau mereka tinggal di tempat begini. Mungkin itu sisa, apalagi mereka sepertinya sepantaran dengan kita."
"Ra, dunia Klan ini berbeda dengan dunia manusia. Jangan di samakan." Lea melotot.
Mereka mengamati sekitar. Tempat ini terbuat dari tanah. Mungkin tanah liat. Setiap ujungnya berbentuk kerucut. Seperti topi penyihir. Tapi begitu memasuki dalamnya, desainnya sangat berbeda dengan rumah pada umumnya di dunia manusia. Memang masih ada sekat. Tapi ketika mendongak ke atas, sekatnya tidak sampai ke atap. Rumah ini terbuka lebar di bagian atas, ada beberapa tangga yang bisa di tuju sampai atap. Tapi di bagian paling ujung, ada lantai lagi. Sepertinya mengambang.
"Maaf menunggu lama. Kalian mau makan apa?" Pria itu meletakkan kendi--iya kendi, bentuknya sama persis seperti yang ada di dunia manusia.
"Tidak perlu repot-repot. Kami berterima kasih sudah dipersilahkan mampir."
Lelaki tadi mengangguk sambil tersenyum, dia merasa tidak keberatan.
"Kita belum berkenalan dari tadi. Siapa nama kalian?"
Dua remaja sang pemilik rumah itu saling pandang dan tersenyum, yang laki-laki menatap Kyra dengan seksama, lalu membenarkan posisi duduknya.
"Ehm! Namaku Filo, dan ini saudaraku Sofi."
"Kalian bersaudara?" Lea sangat terkejut. Pasalnya mereka tidak begitu mirip.
Dua remaja yang mengaku namanya sebagai Filo dan Sofi tersebut mengangguk.
"Nama kalian sendiri siapa?"
Empat remaja itu mulai menyebutkan namanya masing-masing, memperkenalkan diri dan Klan mereka.
"Jadi ... Kyra adalah manusia biasa?"
Gadis itu mengangguk. Mereka memang hanya menceritakan sebatas itu. Tidak menambahi apa pun, mengingat mereka baru bertemu, bagaimana pun, empat klan itu harus hati-hati.
"Nama kalian unik, kalau digabungin menjadi 'Filosofi'." Randai tersenyum lebar.
Filo tertawa. "Kamu benar. Mungkin karena kami bersaudara."
"Kalian hanya tinggal berdua?" Alif ikut bertanya. Pasalnya dari tadi dia tidak melihat orang lain selain mereka.
Filo dan Sofi mengangguk. "Kami hanya berdua di rumah ini. Orang tua kami hilang secara misterius sepuluh tahun yang lalu." Sofi menjelaskan.
"Misterius? Tapi kejadiannya bukan dua puluh tahun yang lalu?"
"Bukan. Setahu kami, ini tidak ada hubungannya dengan perang dua puluh tahun silam. Kami tidak tahu keberadaan mereka. Filo sudah berusaha mencari, bahkan di dalam hutan. Tapi tidak menemukan hasil apa pun. Mereka hilang bagai ditelan bumi."
Hening beberapa saat, sampai Alif mengeluarkan suara. "Dari yang kuperhatikan tadi, penduduk sini ada yang aneh. Mereka terlihat ramah, tapi tidak ada satu pun yang menyapa kami kecuali kalian, bahkan tatapannya seperti menemukan sesuatu pada kami, terus memicing."
"Mungkin karena penampilan kita yang berbeda, Lif."
"Tidak, Ra. Alif benar. Di sini memang aneh. Mungkin jika seseorang melihat penampilan berbeda dari orang lain, hanya diamati beberapa saat. Bukannya terus memicing. Mereka berbeda dari sepuluh tahun silam. Aku tidak tahu apa."
Tidak lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu. Mereka semua langsung menoleh. "Kalian masuklah, aku akan menemui siapa yang mengetuk. Sofi, ajak mereka masuk."
Sofi mengangguk, dan menyuruh mereka untuk mengikutinya di dalam. Setelah itu, terdengar Filo yang sedang berbincang dengan orang lain. Beberapa saat setelahnya, lelaki itu kembali masuk dah mengambil sesuatu. Sebuah keranjang kecil yang bisa ditaruh di punggung.
"Ada yang mau ikut?"
"Kamu mau ke mana Filo?"
Filo tersenyum. "Tadi ada yang meminta tolong untuk mengambilkan jamur di hutan. Apa ada yang mau ikut?"
Kyra yang merasa tertarik mengajukan diri. Penasaran bentuk jamur seperti apa yang dicari penduduk sini.
"Hanya dua orang. Siapa lagi? Kalau tidak ada, aku bersama Kyra saja." Filo kembali mengulas senyum.
"Aku ikut."
Pada akhirnya Alif ikut mengajukan diri. Bukan karena dia cemburu atau tidak ingin ditinggal Kyra, tapi dia penasaran dengan kehidupan penduduk sini. Mungkin dengan ikut Filo ke luar bisa tahu kondisi dan apa yang sebenarnya terjadi di sini.
"Itu lebih baik, Lif. Aku cepek. Lebih baik aku istirahat di sini. Bukan begitu, Lea?" Randai mengangkat kedua alisnya. Menggoda Klan Fairy tersebut.
"Ck, kamu memang selalu kecapean, Ran."
Randai hanya tertawa saja mendengar Lea yang terdengar lebih mengejeknya.
"Baiklah, aku akan pergi bersama Alif dan Kyra. Sofi, kamu di sini saja bersama tamu kita."
Gadis itu mengangguk, dan mengamati kepergian saudaranya bersama tamu mereka. Sebelum pergi, Filo kembaki mengambil teko kecil yang tadi diletakkan di atas meja.
Mereka mulai berjalan menuju hutan. Melewati undakan yang disediakan. Sehingga kondisi jalan lebih baik daripada yang mereka lewati tadi.
"Jamur seperti apa yang dicari, Filo?"
"Yang berwarna merah, lalu ada lingkaran kuningnya--ah iya, satu lagi. Dia bercahaya kuning lembut."
Mereka mengangguk.
"Aku baru tahu ada jamur seperti itu. Berarti kita harus menunggu malam biar bisa menemukannya."
Filo menggeleng. "Tidak perlu. Jamur itu bisa mengeluarkan cahaya meski di siang atau sore hari seperti ini."
"Untuk apa jamur itu?" Mendengar perbincangan Filo dan Kyra, Alif ikut penasaran.
"Biasanya untuk obat. Tapi rasanya luar biasa enak. Kadangkala, jamur tersebut digunakan untuk pesta suatu perayaan. Kebetulan, di sini nanti akan ada perayaan, dan aku diminta mencari jamur tersebut untuk jamuan utama nanti."
Suatu hal yang baru mereka ketahui. Biasanya di sebuah perayaan, orang-orang akan menggunakan daging untuk sajian utama, tapi di sini malah menggunakan jamur.
"Apa di sini tidak ada daging?"
Filo menggeleng. "Tidak, Ra. Kami vegetarian. Tidak mengonsumsi daging apa pun."
Wah, sesuatu yang luar biasa, pantas saja mereka tidak menemukan hewan ternak di sini.
"Pantas saja, tidak ada yang memelihara hewan." Alif ikut nimbrung.
"Sebenarnya ada. Hanya satu-dua, bisa dihitung jari--ah di sana, kita menemukannya." Filo sedikit berlari, dia menemukan jamur yang mereka cari.
"Wah, bentuknya lucu. Kecil, imut seperti di dalam game." Kyra menyentuh jamur itu seksama, membuat Alif berdecak.
"Semua memang kamu anggap lucu, Ra."
Kyra masa bodoh, tidak mau menanggapi Alif. Sedangkan Filo mengeluarkan sesuatu dari ranjangnya. Ternyata ranjang baru, tipis sekali, sampai tak terlihat kalau lelaki itu ternyata membawa dua tadi.
"Aku boleh meminta tolong?"
Alif dan Kyra mengangguk.
"Kalian ambil jamur yang ada di sini. Aku akan mencari di tempat lain. Jamur ini harus segera terkumpul soalnya. Nanti aku kembali lagi di sini. Kupastikan tidak akan lama."
Filo menyerahkan keranjang tersebut, dan Kyra menerimanya dengan senang hati. Setelah itu Filo beranjak. Pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kita harus mengambil yang mana, Lif? Random?"
Alif mengangkat kedua bahunya, dan mengambil asal jamur. "Yang penting sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan Filo, dan yang pasti. Bercahaya lembut."
Baiklah, Kyra akan mengambilnya Random, yang terpenting sesuai dengan ciri-ciri tadi.
Setelah ranjang hampir penuh, Kyra hendak berdiri. Lututnya terasa pegal terlalu lama duduk jongkok. Tapi naas, kakinya malah tersandung batu yang tidak jauh darinya saat dia hendak berjalan. Tumubuhnya yang kehilangan keseimbangan segera ambruk dan menimpa Alif. Posisi mereka saat ini sangat dekat. Kyra menindih Alif, jantung mereka berdetak begitu cepat berada dalam posisi sedekat itu. Lebih dekat dari terakhir kali berada dalam gendongan Alif.
"Hey! Kalian sedang m***m di sini!"
Kyra dan Alif terkejut. Lelaki itu langsung mendorong Kyra hingga jatuh dan meringis. Bokongnya sakit karena menatap tanah. Untung tidak terkena batu.
Seseorang yang meneriaki mereka mendekat, disusul dengan beberapa orang setelahnya. Menatap tidak suka dengan dua remaja itu.
"Maaf, tapi tadi tidak seperti yang kalian duga kami--"
"Itu alasan saja. Giring mereka kawinkan secara paksa."
Kyra dan Alif terbelalak. Lebih terkejut dengan perkataan pria paruh baya itu. Dua remaja tersebut langsung digiring menuju pemukiman, meninggalkan sekeranjang jamur yang mereka petik tadi.
Suara-suara mulai bergemuruh meneriaki mereka. Persisi seseorang yang tercyduk melakukan hal m***m di dunia manusia.
"Bisa-bisanya melakukan hal tidak semestinya saat sedang ada perayaan. Itu penghinaan!" Salah satu dari mereka berteriak begitu. Sedangkan Alif dan Kyra hanya pasrah, mereka hanya menunggu Filo untuk menjelaskan semuanya. Tapi laki-laki tersebut sampai sekarang pun tidak muncul sama sekali. Semua semakin rumit, saat Alif dan Kyra terus digiring. Mereka bingung harus berbuat apa. Bagaimana jika mereka benar-benar dikawinkan secara paksa?
***