Hukuman

1279 Kata
Alif dan Kyra terus digiring menuju perkampungan, ke tempat sebuah rumah yang lebih besar, bahkan kerucut berbentuk topi yang ada di atasnya juga lebih besar. Sebenarnya Alif bisa saja berubah jadi serigala dan menyerang mereka. Hanya saja ini bukan waktu yang tepat. Penduduk di sini hanya salah paham. Mereka hanya menunggu Filo untuk menjelaskan semuanya, dan semua akan beres. Pikirnya memang begitu. Dari dalam rumah. Lea dan Randai yang mendengar keributan dari luar saling pandang. Penasaran apa yang terjadi. Seingat mereka, tadi suasana hening. Semua baik-baik saja. Sofi yang mendengar keributan juga berlari ke ruang tengah, dia menemukan kedua tamunya yang juga bingung ada apa di luar sana. "Apa yang terjadi, Sof?" Sofi menggeleng menjawab pertanyaan Randai. Dia juga berada di dalam tadi, tidak mengetahui apa yang terjadi. Dirinya pun akhirnya berjalan menuju jendela yang berbentuk segitiga, mengintip apa yang terjadi. Merasa penasaran Randai dan Lea pun ikut mengintip. "Sepertinya ada yang di arak. Tapi siapa?" Sofi bergumam sendiri. "Diarak? Maksudnya seperti ketahuan melakukan perbuatan tidak baik, begitu?" Sofi mengangguk. "Benar, Lea. Di perkampungan ini, hari ini sedang ada perayaan. Pantang bagi siapa pun, baik itu penduduk asli atau pun pendatang untuk melakukan hal tidak semestinya. Karena itu adalah penghinaan bagi kami." "Kenapa bisa begitu?" Lea menatap Sofi sejenak, sebelum melihat kerumunan orang yang semakin mendekat, mereka sudah terlihat. Suaranya semakin keras saja saat menuju ke kediaman mereka. Tiga orang itu juga hanya bisa melihat sekilas, karena posisi rumah yang hampir terhimpit rumah lainnya. "Ibaratnya, kami sedang melakukan pesta, membuat hari baik untuk semua, tapi tiba-tiba saja ada yang melakukan tindakan tidak senonoh, maka itu adalah sebuah penghinaan. Kami merasa tidak dihargai dengan hal itu." "Pantas saja tadi aku mendengar kata 'penghinaan' dari jauh. Ternyata ini penyebabnya." Kekuatan pendengaran Randai juga tajam, meski tidak setajam milik Alif, tapi dalam jarak yang tidak begitu jauh, dia masih bisa mendengar. "Bagaimana dia tahu?" "Randai punya pendengaran yang tajam, Sof." "Owh, pantas saja." Sofi mengangguk, paham akan perkataan Lea. "Hey! Itu bukannya--Alif dan Kyra, kenapa mereka dipegangi banyak warga?" Sofi dan Lea langsung melihat kerumunan. Memicingkan mata. Tapi sayang, mereka ketinggalan, selain tidak melihat dengan jelas, posisi rumah mereka tidak memungkinkan untuk melihatnya. "Kamu yakin, Ran?" "Yakin sekali, Le. Aku bahkan bisa mendengar panggilan Alif tadi." Yah, benar, Alif juga memanfaatkan kesempatan, saat mereka melewati tempat itu. Dia memanfaatkan pendengaran Randai agar lelaki itu bisa mengetahuinya. Harusnya dia bersyukur nanti, karena Randai tidak sedang makan, atau melakukan hal tidak bermanfaat lainnya. Sehingga sekarang bisa mendengarnya. "Kita harus bergegas kalau begitu." Randai dan Sofi mengangguk. Kedua tamu Sofi juga hendak membuka pintu, tapi dia cegah. "Sebentar, kalian jangan terburu-buru. Penduduk di sini wataknya sudah berbeda dari dua puluh tahun yang lalu. Salah mengambil tindakan, kepala kalian bisa putus dari badan." Dua remaja itu meneguk ludah susah payah, mereka memegangi leher mereka. Merasa ngeri mendengar perkataan Sofi. "Lalu kita harus bagaimana?" "Sebentar." Sofi berjalan masuk, dia mengambil sebuah teko kecil yang tadi dibawa Filo dan dirinya. Setelah itu Sofi mengajak kedua tamunya untuk keluar. "Kamu juga melihat kakakku, Ran? Si Filo?" Randai menggeleng. "Sepertinya tidak. Seingatku tadi, tidak ada Filo sama sekali malah." "Ke mana lelaki itu, bisa-bisanya dia membiarkan tamunya seperti ini." Sofi menggerutu kesal, dia terus berjalan menuju tempat biasanya orang-orang seperti itu akan dihakimi. Setelah sampai di tempat tersebut. Mereka menemukan Alif dan Kyra yang didudukkan secara paksa di tengah-tengah kerumunan, di depan bangunan yang terlihat lebih besar dari yang lainnya. "Ini tempat apa, Sof? Besar sekali." "Ini tempat orang berbuat salah akan dihakimi." "Balai desa maksud kamu?" Sofi menatap Randai bingung. "Aku tidak tahu apa itu balai desa." "Mungkin semacam itu, Ran." Lea menambahi, Randai juga mengangguk. "Apa kita harus ke sana dan menolong mereka?" "Jangan! Ingat, kalian tidak boleh sembrono. Kita harus memikirkan sesuatu--ah! Di mana si Filo itu, bisa-bisanya dia tidak tahu ada kejadian ini. Kupingnya budeg atau bagaimana." Sofi tampak lebih kesal. Beberapa saat setelahnya, mereka melihat seseorang keluar dari dalam rumah itu. Badannya tegak, tinggi dan besar. Di tangannya terdapat sebuah teko seperti punya Filo dan Sofi, hanya saja yg ini lebih besar, berwarna keemasan, tidak kehitaman seperti milik dua remaja itu. Teko mereka bentuknya benar-benar sama, tidak ada moncongnya. Halus. Tapi ada tutup di atasnya. "Kenapa ini?" Suara lelaki itu begitu berat. Dilihat semakin dekat, wajah itu terlihat lebih sangar dan garang. Di pipinya ada bekas goresan luka sepanjang lima centi. Menambah kengeriannya semakin terlihat. "Mereka melakukan suatu hal yang tidak semestinya, ketua!" "Dia siapa, Sof?" "Tetinggi di perkampungan ini, Le. Dialah yang memutuskan semua ini. Memberi aturan seenak jidatnya. Bahkan didukung yang lain. Hanya aku dan Filo yang tidak suka. Tapi kami tidak punya pilihan. Kami minoritas yang menentang hal ini." Randai dan Lea mengangguk. Saat ini mereka hanya melihat saja, tapi kalau nanti ada kejadian yang tidak diinginkan. Maka mereka akan bersiap untuk melancarkan perlawanan. Tidak perduli jika nyawa taruhannya. Di depan sana kedua temannya juga bisa bertaruh nyawa, jika mendengar perkataan Sofi tadi, yang mengatakan kepala mereka bisa saja putus. "Kalian bukan penduduk sini. Benar?" Alif san Kyra mengangguk. Gadis itu sangat ketakutan, lebih takut saat dia tidak mendapat jatah makan malam dari mamanya. Sedangkan Alif terlihat santai sekali. "Kalian tahu, apa peraturan yang ada di perkampungan ini." Mereka menggeleng dan mengangguk. Entahlah, jika mendengar kata 'penghinaan' yang tadi dilontarkan, mungkin itu pantangan yang telah mereka langgar. "Kalian tahu, kami sedang ada perayaan?" Keduanya lagi-lagi mengangguk. Filo sudah memberitahu tentang hal ini. "Lalu kenapa kalian melakukan hal dengan menghina kami!" Suara lelaki itu meninggi. "Kami tidak melakukan apa pun, tadi hanya salah paham!" Kyra mengangguk. Jelas-jelas tadi hanya salah paham, bagaimana mungkin mereka akan diadili seperti ini. Apalagi mendengar kata perkawinan yang tadi ia dengar. Demi apa pun, Kyra tidak ingin menikah dengan Alif. "Mereka hanya berdalih. Kami melihatnya sendiri tadi!" "Benar." "Betul." Semua berbondong-bondong menyalahkan mereka, seolah membenarkan segalanya. Tidak memberikan celah apa pun untuk mereka bicara. "Kami tadi hanya--" "Tidak ada alasan, kalian harus dikawinkan!" putus tetinggi itu pada akhirnya. Dia tidak menerima bantahan apa pun. Alif langsung berdiri. Dia menantang keras hal ini. "Kami tidak melakukan kesalahan, untuk apa kami harus melakukan itu!" "LANCANG SEKALI KAMU!" Tetinggi itu terlihat murka. "Kalau kamu tidak ingin melakukan peraturan yang ada di sini. Silahkan. Tapi siap-siaplah kamu kehilangan kepala." Kyra terkejut luar biasa. Randai dan Lea juga sama, gadis itu langsung membekap mulut mendengar kata itu. Mengerikan. Alif yang tidak takut hendak protes. Tapi tangannya langsung dipegang Kyra. "Jangan gegabah, Lif.". "Tapi kita tidak melakukan kesalahan, Ra." "Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan." Alif menggelang. "Aku bahkan masih sanggup melawan mereka." Mata lelaki itu sudah berpendar keperakan, awal mula kalau dirinya hendak berubah jasi serigala. Hanya saja ia tahan kali ini. Kyra masih saja menggeleng. Dia tidak ingin terjadi suatu apa pun pada sahabatnya. Terakhir kali dia melihat Lea yang sekarat dulu sudah membuatnya hampir putus asa, dia tidak ingin lagi merasakan itu. Gadis itu ikut berdiri. Dia maju beberapa langkah mendekati tetua dengan wajah seram itu. "Baiklah, kami terima hukumannya." "Ra! Jangan gila kamu!" Alif tidak suka. Kalau memang mereka melakukan kesalahan, mungkin dia akan menerima, tapi mereka tidak melakukan apa pun. Sofi, Lea dan Randai juga tidak kalah terkejut. Bisa-bisanya Kyra nekat melakukan itu. "Baiklah, bawa mereka ke altar." Setelah itu mereka digiring menuju tempat entah dimana lagi. Alif yang masih kecewa menatap Kyra sengit. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Jadi beginikah kisah petualangan mereka? Apa ini? Kenapa petualang mereka ada hal seperti ini. Hey! Ini kisah petualang, mereka sedang mencari keberadaan potongan-potongan pusaka sakti, bukan malah mendapat jodoh seperti ini. Namun, sebuah perjalanan memang tidak semua berjalan mulus, kadangkala ada saja tantangan yang tidak mereka duga juga ikut andil dalam hal ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN