Ada Misteri

1218 Kata
Prosesi upacara ada tentang perkawinan yang ada di dalam kampung tersebut akhirnya terlaksana. Setelah semua beres, satu persatu penduduk mulai pergi meninggalkan altar. Menyisakan Kyra yang duduk terdiam tidak percaya apa yang telah terjadi, sedangkan Alif--kedua tangannya terkepal, giginya bergemeletuk menahan amarah. Bahkan matanya terus saja berpendar keperakkan. Lea, Randai dan Sofi ikut mendekat, mereka juga menatap prihatin dua remaja itu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Dari kejauhan, seorang lelaki dengan membawa keranjang jamur dan dan teko kecil di tangannya lari tergopoh menuju tempat remaja-remaja tadi berada. "Kalian tidak apa-apa. Aku sangat khawatir tadi." "Dari mana saja kamu Filo?!" Sofi bertanya geram. Bisa-bisanya saudaranya itu menghilang saat dibutuhkan. "Mencari jamur, apalagi?" "Kenapa bisa selama itu?! Ini sudah gelap, ditambah lagi. Ada suara teriakan. Memangnya kamu tidak dengar hah?!" Filo menatap Alif yang memicing tajam. Lelaki serigala itu dari tadi tidak berhenti menatap Filo dengan ganas. Seperti hendak menerkam saja--sampai membuat Filo meneguk ludah kasar karena takut. "Maaf, maafkan aku Alif, Kyra. Tapi kalian tidak apa-apa kan?" Alif menghela napas. Dia mulai bergerak setelah sekian lama hanya terdiam. Kakinya berjalan pelan meninggalkan sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang mau mendekat. Lebih tepatnya, mereka paham Alif butuh waktu sendiri. Dia tidak ingin diganggu. "Alif, setidaknya kamu jangan pergi terlalu jauh kalau mau masuk hutan. Ini sudah malam. Tidak ada yang tahu bahaya apa nanti yang akan menimpamu." "Aku bahkan pernah menghadapi bahaya yang lebih besar daripada tadi. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Tanpa menoleh lelaki itu menjawab. Berlari secepat kilat, lalu dari kejauhan terdengar suara auman. Yah ... akhirnya dia merubah diri menjadi serigala. "Kita harus pulang. Ini sudah malam. Jangan terlalu lama di sini. Karena tempat ini nanti akan digunakan perayaan." Sofi mengajak yang lain untuk kembali. Tapi Filo masih berdiam diri di tempat itu. "Kamu tidak pulang, Filo?" "Eh?" Seolah tersadar dari lamunannya, Filo menggaruk belakang rambutnya. "Kalian duluan saja, aku masih ada perlu. Jamur ini harus aku antarkan kepada yang memesan. Karena ini akan digunakan." Sofi mengangguk, lalu dia kembali berjalan dengan yang lain. Meninggalkan Filo yang berdiri di sana seorang diri. Beberapa detik kemudian, dia pergi berlawanan arah dari mereka. "Kamu baik-baik saja, Ra?" Kyra mengangkat kedua bahunya. "Aku bingung, Lea. Rasanya hubunganku sama Alif akan canggung nanti. Kita hanya sahabat. Kita ditugaskan untuk mencari pusaka sakti itu." Kyra memelankan suara saat di akhir kalimat. Pandangannya mengamati sekitar. Memastikan keadaan sudah sepi. "Kita berpetualangan untuk itu. Tapi kenapa diperjalanan sesuatu yang tidak pernah terlintas di pikiranku tiba-tiba terjadi?" Kyra mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak menerima takdir ini. Lea mengusap punggungnya. "Bersabarlah. Berpikirlah yang positif, Ra. Ini hanya pernikahan di dunia Klan. Hanya menurut penduduk sini. Kalian tidak benar-benar menikah." "Tapi kamu melihat sendiri bagaimana kecewanya Alif, dia bahkan langsung pergi tadi." "Mungkin dia butuh waktu sendiri." "Itu artinya dia juga tidak mau ini terjadi." "Ra ... ayolah, aku mengerti perasaanmu. Randai nanti akan menjemput Alif. Kamu tidak perlu khawatir. Gadis itu melihat ke arah Randai, dan lelaki itu langsung mengangguk sambil tersenyum. Tumben sekali dia tidak membuat masalah seperti sebelumnya. Atau sekedar mengganggu untuk menggoda Kyra dan Alif seperti biasanya. "Kamu tidak mau mengatakan apa pun, Ran? Tumben sekali kamu tidak rese." Randai memutar bola matanya jengah. "Aku tahu keadaan, Le. Tidak mungkin aku menggoda mereka saat situasi sedang seperti ini." "Baguslah. Kamu ada peningkatan." Lea terkikik, membuat Randai langsung melotot ke arahnya. Di tempat lain, setelah Alif puas melepas emosinya. Dia kembali berubah jadi manusia. Napasnya memburu, matanya masih berwana perak. Tapi pendengaran tajamnya menemukan pergerakan. Dia langsung mendekat dan mencekik orang tersebut. "Ini aku, Lif. Filo." Alif melepaskan cengkramannya. Membuat Filo langsung terbatuk. Tapi lelaki dari Klan Lycanthrope itu tidak meminta maaf sama sekali. "Maaf, aku mengagetkanmu." Itu Filo yang bilang bukan Alif. Lelaki yang masih diliputi rasa kesal itu duduk di bawah menekuk kedua kakinya. Menatap perkampungan yang membuatnya harus seperti ini. "Aku minta maaf untuk hal tadi. Tapi rasanya percuma kalau aku datang dan menjelaskan semuanya. Bisa-bisa aku juga mati terbunuh karena membela orang asing. Aku tidak ingin Sofi sendiri." Alif tetap diam. Dia tidak menanggapi sama sekali. Meski dia mendengarkan apa pun yang keluar dari bibir Filo. "Tadi aku sedang mencari jamur di dalam hutan. Samar-samar memang mendengar teriakan. Aku kira tidak terjadi apa pun. Mungkin itu hanya riuh penduduk yang menyambut perayaan. Tapi ketika aku kembali dan bertanya. Alangkah terkejutnya, karena keramaian itu dari kalian yang dibawa ke altar. Aku benar-benar minta maaf, Lif." "Setidaknya kamu masih bisa datang dan menjelaskan semuanya." Akhirnya lelaki itu mengeluarkan suara juga. "Kamu benar. Tapi seperti yang aku bilang tadi. Aku juga tidak bisa berbuat apa pun. Penduduk di sini sangat sensitif dengan orang asing semenjak dua puluh tahun yang lalu. Setelah perang besar itu terjadi, kampung kami didatangi orang asing, dan beberapa hari kemudian, beberapa warga banyak yang menghilang secara misterius. Lambat laun, sifat mereka juga berubah, memberi aturan seenaknya, selalu mencurigai orang asing, dan mengadakan perayaan seperti tadi untuk menyambut entah apa itu. Aku dan Sofi memang jarang ikut. Kami tidak tertarik. Dan puncaknya, dulu juga ada kejadian yang sama seperti kalian, entah dari klan mana. Tapi mereka mati dipenggal di sini, karena tidak mau menuruti apa kemauan mereka. Penduduk di sini sangat keras kepala, Lif. Tidak banyak yang bisa kami perbuat. Aku benar-benar minta maaf." Alif kembali menghela napas, dia menatap Filo yang sepertinya diliputi rasa penyesalan. Menyesal karena telah meninggalkan mereka dan berakhir seperti ini. "Sudahlah, lupakan saja. Aku mau pulang, ini sudah larut." Alif lalu berdiri, dia menghadap ke belakang melihat pemandangan hutan yang begitu gelap. Tapi di beberapa bagian, ada cahaya redup kebiruan di bawah pohon dan semak belukar, ada juga yang random menempati beberapa tempat. Cahaya itu berasal dadi jamur, yang ketika malam akan mengeluarkan cahaya biru. Sangat cantik. Filo ikut berdiri. Dia menepuk kakinya pelan. Tersenyum melihat Alif yang cukup baik daripada tadi. "Baiklah, ayo!" ajaknya lalu berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di sana. Dia menemukan yang lain tengah berkumpul. Mereka terkejut karena Filo dan Alif datang bersama. Bahkan Randai yang hendak bersiap menjemput Alif pun mengurungkan niat. Lelaki itu sudah terlanjur sampai di rumah. "Kamu baik-baik saja, Lif?" "Yah ... lebih baik daripada tadi, Ran." "Syukurlah. Jadi kami tidak perlu mendengarkan kamu mengomel." Mereka tertawa. Kondisi jauh lebih baik sekarang. "Aku akan mengolah jamur tadi, kalian harus mencoba. Tunggu di sini ya." Filo bergegas masuk ke dalam dan membawa keranjangnya. Tapi ada yang aneh, beberapa saat kemudian dia sudah berada di atas. Tempat kerucut yang ada lantai mengambang di atasnya. Apakah itu dapur mereka? "Bagaimana Filo melakukannya?" Lea menatap tidak percaya melihat Filo secepat itu berada di sana. Lebih seram lagi karena takut lantai mengambang itu tiba-tiba jatuh. "Kami menggunakan sihir. Orang tua kami dulu yang melakukan. Kami tidak begitu mahir dengan ini." Mereka mengangguk. Ada hal baru lagi yang mereka temukan. "Ngomong-ngomong, perayaan apa itu yang akan dilakukan nanti?" Sofi mengangkat kedua bahunya. "Aku dan Filo jarang mengikuti festival. Seingatku hanya sekali, Ran, kami menyaksikan perayaan. Dan itu pun tidak pernah sampai selesai. Kami terlalu lelah dan mengantuk." Hening beberapa saat setelah pembicaraan itu. Tapi Alif sedang memikirkan sesuatu. Benar-benar ada yang aneh, dia harus memecahkan solusi ini. Atau kalau tidak ... mereka yang akan berakhir di sini. Mata Alif memandang Sofi dan Filo, mengamati mereka dengan seksama. Apa benar, dua remaja ini hanya berniat membantu? Ataukan ada sesuatu yang memang sedang diincar setelah kedatangan mereka? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN