Tengah malam saat perayaan itu hendak dimulai. Filo dan Sofi sudah beranjak tidur. Mereka berdua memang jarang ikut. Lebih tepatnya terakhir kali ikut sudah bertahun lamanya, entah kapan tepatnya.
Alif dan sahabat-sahabatnya juga belum beranjak. Mereka berempat masih duduk di ruang tengah. Alif seperti memikirkan sesuatu. Entah apa itu.
"Kamu sudah ngantuk, Ra?" Randai bertanya begitu melihat Kyra mulai menyenderkan kepalanya. Gadis itu pun menggeleng. Dia hanya lelah dengan kejadian seharian ini yang menimpanya. Apalagi melihat respon Alif yang terus diam dari tadi. Lelaki itu tidak bisa ditebak. Masih tidak percaya lagi dengan status barunya ini. Mungkinkah dia benar-benar menikah dengan Alif.
Kyra langsung menggelengkan kepalanya. Ini hanya terjadi di dunia Klan. Pernikahan mereka tidak benar-benar sah.
"Malam ini aku akan datang ke perayaan itu. Jika ada yang mau ikut silahkan."
Akhirnya Alif kembali bicara. Dia menatap satu persatu teman-temannya. Semua saling diam, tidak lama setelah itu Randai dan Lea mengangguk. Sepakat untuk mengikuti Alif.
"Kamu tidak ikut, Ra?"
Lagi-lagi Kyra mendapat pertanyaan. Kali ini dari Lea. Gadis yang dianggap sebagai manusia biasa itu dari tadi hanya diam tidak memberi tanggapan.
Sebenarnya Kyra bingung. Terakhir kali dia mengikuti Alif malah kejadian seperti tadi. Tapi jika dia tidak ikut ... argghh!! Kyra benar-benar bingung.
"Aku ikut."
Pada akhirnya dia memutuskan untuk ikut. Baiklah, Kyra sudah memikirkan dengan matang. Kejadian tadi memang begitu tiba-tiba. Tapi tadi hanya ada dia dan Alif. Sedangkan sekarang, ada dua sahabatnya yang lain.
"Kamu beneran? Kamu terlihat masih syok, Ra." Sebenarnya Lea masih khawatir, dia lebih memilih Kyra berdiam diri di sini dengan Filo dan Sofi saja daripada mengikuti mereka.
"Kita di sini bersama, Le. Kita satu tim. Kita berpetualang mencari pusaka itu juga bersama-sama, jadi tidak ada alasan untuk aku tetap tinggal." Kyra mengulas senyum. Lea juga mengangguk. Randai juga ikut tersenyum, dia lega melihat Kyra yang kembali bersemangat. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada yang tahu kalau Alif juga ikut mengulas senyum. Dia sendiri merasa canggung dengan Kyra. Tapi kondisi ini harus segera ia tangani atau kalau tidak--mereka akan berada di situasi yang sulit nantinya.
Sepuluh menit berlalu. Setelah memastikan semua hening. Mereka segera beranjak. Membawa tas selempang mereka di bahu masing-masing. Di sana ada perbekalan mereka, terlebih ada benda berharga yang harus mereka jaga dengan nyawa.
Randai yang berada di barisan akhir menutup pintu dengan pelan. Perkampungan ini begitu gelap. Kalau malam ada aura mengerikan di sini. Kontras sekali dengan keadaan saat siang. Apalagi saat melihat betapa ramahnya mereka dari kejauhan, tapi nyatanya yang mereka pikir tidak sama dengan yang mereka temui.
Pemandangan di dalam hutan sana tidak kalah menarik. Meski gelapnya sangat pekat. Tapi ada titik-titik cahaya kecil di bagian bawah, cahaya yang ditimbulkan oleh jamur yang mereka makan. Tidak menyangka kalau rasanya begitu lezat. Tidak kalah dengan masakan Canuto, meski hanya Randai yang tidak mencicipi. Di dunia tempat mereka tinggal sebelumnya. Jamur seperti itu malah tidak ada yang mengonsumsi, lebih tepatnya memang tidak layak dikonsumsi.
Suara keramaian dan tabuhan genderang dari perayaan itu semakin terdengar jelas. Ada cahaya seperti api di sana. Mereka sepertinya menyalakan api yang begitu besar. Rumah-rumah penduduk sepi. Tidak ada cahaya sama sekali. Setahu mereka, malah hanya di tempat Filo dan Sofi saja yang memakai cahaya dari api obor.
Alif mengendap. Mata tajamnya memindai sekitar. Meski dalam keadaan gelap. Dia bisa melihat dengan jelas. Indra penciuman serta pendengarannya tajam. Sama seperti Randai. Hanya saja pria vampir itu penglihatannya tak setajam Alif.
"Kalian tahu, aku sebenarnya curiga dengan Filo dan Sofi semenjak kejadian sore tadi."
"Karena kamu ditinggal dan dikawinkan secara paksa?"
"Bukan, Ran--" Alif langsung terdiam. Paham dengan perkataan Randai. Lelaki itu hanya memancingnya saja. Ingin menggodanya karena tahu kondisi hatinya jauh lebih baik daripada tadi.
"Jadi ... kamu senang bisa menjadi suami Kyra."
Kyra membeliak. Pipinya langsung merah karena perkataan Randai. Sedangkan Alif langsung mengepalkan tinju di depan wajah Randai.
"Aku belum benar-benar membaik, Ran. Jangan sampai lepas kontrol."
Randai pura-pura bergidik. Tapi dia terkikik setelahnya.
Mereka kembali berjalan mengendap. Mengawasi perayaan itu dari jauh. Memastikan posisi mereka tidak akan kepergok.
"Sepertinya ini seperti perayaan biasa. Lihat! Mereka berpesta dengan riang. Tidak ada apa pun." Randai berbisik. Pelan sekali.
"Kita tunggu beberapa saat lagi."
Akhirnya mereka sepakat untuk menunggu. Tapi sepuluh menit berjalan tidak terjadi apa pun. Mereka berpesta seperti biasa.
"Haruskah kita kembali?" Lea benar-benar jenuh. Dia digigiti nyamuk di sini. Ternyata di dunia Klan, nyamuk juga merajalela. Sama seperti di dunia manusia.
"Tunggu sebentar. Kalian ada yang merasa aneh tidak?"
Lea dan Randai menoleh ke arah Kyra. Lalu beralih menatap di mana gadis itu memandang.
"Apa yang aneh, Ra?"
"Perhatikan! Kenapa mereka membuat api sebesar itu. Apa mereka tidak takut perkampungan ini terbakar?"
"Itu wajar, Ra. Namanya juga sedang berpesta, sedangkan di sini tidak ada lampu. Jadi cahaya api itulah yang digunakan, makanya ukurannya lebih besar."
"Bukan itu, Le. Kalian lihat di sebelah api itu, tidak jauh dari tempatnya ada sebuah tiang dari kayu. Untuk apa itu? Dan bukankah mereka vegetarian? Kenapa ada yang memakan daging di sana?"
Semua semakin mengamati, dan benar, perkataan Kyra tidak ada yang keliru.
"Aku dari tadi juga mencium aroma daging panggang. Ternyata dari sana sumbernya." Alif sesekali mengendus.
"Hey Lihat! Apa itu? Siapa yang mereka tarik secara paksa?"
Semua pasang mata empat remaja itu langsung menuju arah yang ditunjuk Lea. Di sana lima orang yang merupakan penduduk perkampungan ini sedang menyeret seorang lelaki berjubah hitam. Kondisinya sangat mengenaskan. Kurus, tak terawat dan ada luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Gunakan pendengaranmu, Lif!"
Alif mengangguk dan menajamkan pendengaran. Samar-samar suara dari seberang semakin jelas. Alif mencoba berkonsentrasi untuk fokus pada pembicaraan yang ada di seberangnya itu.
"Malam ini dia yang mendapat giliran."
"Kasihan sekali. Tapi tidak apa, setelah ini, semua yang terkurung akan lenyap beberapa saat lagi." Pria bertubuh kekar itu tertawa, senang sekali sepertinya membayangkan apa yang terlintas di kepalanya.
"Kamu sudah memastikan dua remaja itu tertidur?" Salah satu yang paling tinggi bersuara. Matanya nyalang menatap sekitar. Meski tubuhnya kurus-tinggi. Tapi wajahnya sangat sangar.
"Tentu. Seperti biasa. Setelah memberinya bekal tadi, dia akan memakannya di rumah--dan wush, mereka akan terlelap sampai matahari terbit."
"Bagus." Lelaki bertubuh kurus-tinggi itu tertawa senang.
"Aku sangat senang melihat ekspresi tamu baru kita tadi. Satunya menahan amarah tapi tidak bisa melakukan apa pun. Apalagi saat dia harus mengucap kalimat sakral yang mengikatnya dengan gadis lemah tadi."
"Kamu benar. Itu benar-benar hiburan yang sangat menyenangkan." Si besar ikut menambahi. Tertawa puas setelahnya.
Alif yang tahu kalau dirinyalah yang sedang dibicarakan membuat kedua tangannya terkepal erat. Giginya bergemeletuk. Dia benar-benar murka kali ini. Kalau tidak karena sedang memantau, mungkin dia sudah berubah menjadi serigala dan mengoyak mereka semua.
Si besar kekar pun langsung menyeret orang berjubah hitam dengan kondisi lemah itu ke tiang tadi. Mengikat tangan dan kakinya dengan kuat dalam keadaan berdiri. Kondisinya benar-benar mengenaskan. Bahkan untuk mengangkat kepala saja dia tidak mampu.
"Kita apakan dia?"
"Seperti biasa. Penggal atau gantung hidup-hidup di atas api."
Lima lelaki yang membawa pria berjubah hitam itu tertawa keras. Sedangkan yang lain tetap menikmati pesta meski tahu ada seseorang yang tidak berdaya tengah diikat.
"Lima belas tahun sudah kita berpura-pura di sini. Berperilaku seolah-olah kita adalah penduduk asli. Belum lagi harus memakan sayuran terus-terusan." Si gendut mengeluh. Apa maksud perkataannya? Kalau mereka hanya berpura-pura, berarti mereka bukan penduduk asli di sini. Apa mungkin di balik cerita Filo yang mengatakan hilangnya penduduk bersangkutan dengan hal ini? Apa mungkin dua remaja yang tadi dibicarakan adalah Filo dan Sofi? Apalagi mereka berdua pernah cerita kalau hampir tidak pernah ikut perayaan. Tapi untuk apa?
"Bersabarlah. Hanya perlu sebentar lagi untuk kembali seperti semula. Mereka sudah membawa apa yang kita tunggu."
"Kamu benar. Sebentar lagi. Ah ... tidak sabar aku rasanya."
Mereka kembali tertawa, bahkan semakin keras dari awal tadi.
Alif mengamati dengan seksama dengan alis yang tertekuk. Kyra, Lea dan Randai saling pandang melihat ekspresi wajah itu. Pasti ada hal yang tidak baik.
"Ran, kamu bisa mendengar ada apa di sana?" Kyra menyenggol lengan Randai, mengangkat kedua alisnya meminta jawaban.
"Pokoknya ada hal yang tidak baik, Ra. Kita tidak tahu mana yang harus dipercaya."
Ada apa dengan ini semua? Alif saja semakin terlihat menahan amarah. Lelaki itu tidak tahu siapa yang harus dicurigai? Filo dan Sofi? Atau mereka yang tengah melakukan perayaan? Apa yang terjadi dengan perkampungan ini?
Belum sempat mereka bertindak atau memikirkan hal apa yang akan dilakukan nanti, tiba-tiba ada yang menegur mereka dari belakang.
"Hey! Sedang apa kalian di sini?"
***