"Ka ... kami ...."
Duh, Kyra bingung mau memberi alasan yang bagaimana. Mereka sudah terlanjur ketahuan. Apalagi posisi mereka yang mengendap dan berbisik. Persis seperti orang tengah mengamati sesuatu dari jauh.
"Bukannya kamu sudah terlelap. Kenapa bisa menyusul kami?" Alif berkata sengak. Entahlah, dia kalau sudah mencurigai seseorang tidak bisa menyembunyikan rasa kurang sukanya.
Filo tersenyum. Iya, lelaki yang memergoki mereka adalah Filo. Dia mengikuti para tamunya saat mendengar pintu terbuka. Karena saat itu dirinya belum tidur. Rasa bersalahnya pada Alif dan Kyra membuatnya susah memejamkan mata. Bahkan dirinya tadi juga susah makan, dan malah berakibat susah tidur.
"Aku tidak benar-benar tidur tadi. Dan saat mendengar pintu terbuka, aku segera bangun untuk memeriksa. Aku mengira mungkin ada maliang, ternyata itu kalian yang pergi ke luar dengan sembunyi-sembunyi. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti."
Penjelasan Filo sedikit membuat mereka lega. Meski pun tidak dipungkiri bahwa mereka masih terkejut dan was-was dipergoki Filo begini.
"Sofi tidak ikut?" Randai celingukkan. Mengamati sekitar karena tidak menemukan gadis itu. Filo juga menjawab dengan gelengan.
Suara mereka juga saling berbisik. Melihat itu Filo juga menghargai dan ikut memelankan suaranya.
Empat remaja itu kembali mengamati perayaan besar yang tengah dilakukan di depan mereka.
"Sebenarnya apa yang kalian lihat. Kenapa berperilaku seperti ini?"
Lea menoleh dan mengayunkan tangannya, menyuruh Filo untuk mendekat.
"Kamu tidak pernah melihat perayaan ini sebelumnya bukan?"
Filo mengangguk, lalu kemudian menggeleng. "Bukan tidak pernah, dulu kami pernah menyaksikan perayaan ini, tapi sudah lama. Mungkin saat usiaku dan Sofi masih anak-anak."
"Mendekatlah. Agar kamu tahu ada keanehan yang terjadi di perayaan ini."
Filo menurut. Dia mendekat ke arah empat remaja itu. Dan ikut mengintip di samping Lea--juga di sebelah Randai.
"Wow. Besar sekali apinya. Aku baru tahu kalau perayaan ini menggunakan api begitu besar."
Empat remaja itu menoleh ke arah Filo. Melihat ekspresi muka lelaki itu yang begitu terkejut. Persis seseorang yang baru mengetahui kejadian yang sebelumnya belum pernah ia lihat.
"Kamu semakin aneh, Filo. Bukannya kamu pernah mengatakan kalau sebelumnya pernah melihat perayaan ini. Seharusnya kamu tahu tentang api tersebut bukan." Alif memicing curiga. Perasaan curiganya semakin besar saja pada lelaki itu.
Filo terkekeh, pelan sekali, mengingat mereka yang tengah mengamati dengan sembunyi-sembunyi. "Kamu benar, Lif. Tapi itu udah lama sekali. Dan terakhir kali aku melihatnya, belum pernah aku melihat ada api ini. Entahlah kalau sudah diubah tradisinya."
Alif tidak lagi menanggapi. Dia kembali mengamati apa yang terjadi di depannya. Tidak mudah percaya dengan perkataan Filo. Bisa saja lelaki itu hanya berbohong. Kalimat seperti itu sangat mudah diucapkan. Alasan yang umum menurutnya.
"Siapa lelaki itu?" Filo menunjuk ke arah lelaki yang tengah di ikat di dekat api. Tubuhnya kurus kering dan ada beberapa luka. Sangat mengenaskan kondisinya. Kepalanya yang tertunduk tidak membuat wajahnya tidak dapat dilihat dengan jelas. Apalagi sampai mengenali.
"Kami tidak tahu. Selain karena bukan penduduk sini. Karena, dia dari tadi terus menundukkan kepala." Lea yang akhirnya menjelaskan. Posisinya memang yang paling dekat dengan Filo. Meski Randai juga mempunyai posisi yang sama dekat. Tetapi lelaki itu masih fokus mengamati kegiatan yang ada di depannya.
"Kamu tahu, sebenarnya aku sangat ingin mendapatkan benda itu. Menyempurnakan kekuatan dan menguasai Klan ini, tapi sayang ... kekuatanku tidak cukup besar untuk bisa menggunakannya." Lelaki bertubuh besar itu tertawa. Tangannya sedang memegang sesuatu. Entah itu tuak atau sejenis minuman keras lainnya, tapi melihat gelagatnya, dia sedikit mabuk.
Ternyata kehidupan dunia klan tidak jauh beda dengan dunia manusia--ah, pengecualian dengan dunia yang ditinggali Luna sebelumnya.
"Kamu jangan berhayal terlalu tinggi. Kalau sampai ketua dengar. Bisa dibantai kamu." Si kurus yang tengah memakan apa itu ikut menyahuti.
Dan si tinggi jangkung yang tadi sempat membenarkan ikatan pada pria itu mengambil sesuatu dari mangkuk, lalu dikeluarkan dan ditumpahkan di atas meja besar tempat mereka duduk.
"Apa yang dimakan mereka?" Filo mengamati dengan seksama. Tapi matanya tidak begitu jelas melihat. Selain karena dia tidak memiliki penglihatan yang tajam, kondisi lingkungan yang gelap hanya dengan pencahayaan api besar itu membuatnya kesulitan untuk mengamati dengan jelas.
"Itu daging." Randai menjelaskan dengan santai. Dia lupa kalau Filo pernah mengatakan bahwa mereka vegetarian.
"Daging tapi--"
"Kalian vegetarian." Lea menyahut menambahi, dan langsung diangguki oleh Filo.
"Itulah yang kami bingungkan, Filo. Mereka sangat kontras dengan perkataanmu kemarin. Sangat kontras dengan perbuatan mereka ketika siang. Semua seperti kamuflase belaka."
Filo juga memegang keningnya. Dia juga bingung. "Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya. Tidak tahu kalau perayaan ini seperti ini. Aku dan Sofi selalu tertidur saat perayaan ini dimulai. Rasanya benar-benar mengantuk." Filo mengingat kejadian setiap kali perayaan ini terjadi.
Tapi Alif hanya meliriknya saja. Dia masih curiga. Bisa saja Filo hanya berpura-pura. Pintar sekali melakukan drama. Memangnya siapa yang tahu kalau Filo dan Sofi juga bagian dari mereka.
Filo mengembuskan napas pelan, kakinya yang bergerak malah tidak sengaja menyenggol kayu, sehingga menimbulkan bunyi. Membuat seseorang yang tengah berbincang itu menoleh. Karena hanya mereka yang membawa lelaki tak berdaya tadi yang tidak terlalu lena dengan pesta. Kalau tebakan Alif tidak salah, mereka ditugaskan untuk menjaga selama berjalannya perayaan ini.
"Siapa di sana?!"
Lima remaja yang tengah mengintip itu langsung bersembunyi agar tidak ketahuan.
"Ada apa?"
"Kalian mendengar sesuatu? Aku mendengar bunyi tadi."
Diam. Semua terdiam ikut mendengarkan, tapi tidak ada bunyi apa pun setelahnya.
"Mungkin itu hewan. Sudahlah, tidak usah khawatir."
"Bagaimana jika itu ternyata orang-orang pendatang, atau dua remaja yang--"
"Hey! Perencanaan kita sudah sangat matang. Tidak akan mungkin ada yang mengintip kita."
Lima remaja itu saling pandang. Mereka tidak tahu siapa saja yang bicara, karena tengah bersembunyi agar tidak terlihat.
"Tapi bisa jadi--"
"Tidak ada yang terjadi. Selama belasan tahun kita melakukan ini, semua berhasil tanpa hambatan sama sekali. Lagi pula salah dua diantaranya baru kita kawinkan, mungkin saja mereka tengah melewati malam yang panas, hahaha."
Perkataan orang tersebut sukses membuat Alif dan Kyra langsung memerah, ada rasa malu yang menghinggapi. Suara lelaki tadi terlalu keras saat berbicara, sehingga dapat di dengar cukup jelas. Dibalik itu semua, Alif juga mengepalkan tangan, rasa marah tidak terimanya jauh lebih besar daripada rasa malunya. Dia hampir saja berdiri. Tapi urung karena tangannya yang dicekal Kyra. Gadis itu menggeleng. Menyuruhnya untuk tidak perduli dan pura-pura tidak mendengar. Keadaan mereka sedang gawat. Salah melakukan tindakan, mereka akan langsung ketahuan.
Setelah tawa mereka reda. Mereka kembali berbincang seperti tadi. Sepertinya keadaan sudah kembali membaik. Lima remaja itu kembali mengamati dalam diam di tempat masing-masing seperti tadi.
"Pelankan suara kalian. Kalau perlu jangan banyak bicara dulu. Hati-hati dengan pergerakan. Atau kita akan tamat." Alif memperingati dengan wajah serius. Mereka semua langsung mengangguk.
Filo yang merasa bersalah jadi salah tingkah. Mereka hampir ketahuan karena dirinya yang ceroboh.
Beberapa menit berlaku. Pria bertubuh kekar itu mendongak ke atas. Mengamati gemintang di atas langit.
"Sebentar lagi kita akan melakukannya."
Pria lainnya ikut menyusul mendongak, dan mengangguk setelahnya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kita mengambil benda itu?" Si gendut mengajukan pertanyaan.
"Gampang. Setelah kita menyelesaikan perayaan. Kita bisa mengendap ke dalam rumah dan mengambilnya. Mereka tidak akan tahu."
Semuanya mengangguk. Tidak lama setelahnya si kekar berdiri, berjalan entah kemana, tidak begitu terlihat karena di tutupi kerumunan. Beberapa detik setelahnya, terdengar bunyi genderang seperti benda ditabuh. Mungkin bedug atau benda semacamnya.
Ajaibnya, setelah genderang itu dibunyikan. Semua aktivitas sorak-sorai langsung berhenti. Mereka berkumpul di samping lelaki tak berdaya yang terikat dengan kepala menunduk tersebut.
Lelaki kekar itu kembali, mendekati lelaki tak berdaya itu. Lima remaja yang tengah melihat secara diam-diam juga semakin konsentrasi mengamati. Penasaran siapa dan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Kita apakan dia?!" Dengan suara lantang dia menanyai para penduduk.
"Penggal dan bakar!"
"Penggal dan bakar!"
Hampir semua meneriakkan itu. Lima remaja itu saling pandang. Tidak percaya akan hal mengerikan yang akan terjadi. Bagaimana mungkin, penduduk yang terlihat ramah dan saling toleransi ini berperilaku sekejam itu.
"Kamu dengar? Ini akan menjadi hari terakhirmu yang sangat menyenangkan." Lelaki kekar itu tertawa. Suara bergumamnya hanya mampu didengar oleh Alif saja.
"Apa yang dia katakan, Lif?"
"Sesuatu yang mengerikan."
Lelaki kekar itu memegang dagu pria yang terikat itu. Mengarahkan wajahnya ke depan. Wajah itu meringis menahan sakit.
Filo terbelalak, menyadari dan mengenali wajah siapa itu. Meski samar, tapi ia bisa mengenal sangat baik pria itu.
"AYAH?!"
Semua terdiam. Memegang di tempat. Orang-orang yang ada di depannya langsung menoleh ke sumber suara. Menemukan lima remaja yang tengah berdiri kaku. Mereka ketahuan.
"Kurangajar. Sejak kapan mereka di sana?!"
"Tidak ada pilihan lain habisi saja."
Benar-benar situasi yang gawat, baru saja mereka mendapat ketenangan dari perkelahian, dan sekarang akan terjadi lagi. Tapi kali ini jumlah mereka kalah, apa mungkin bisa berhasil seperti sebelumnya?
***