Alif mulai siaga, dia langsung memasang kuda-kuda untuk membuat pertahanan. Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka bersiap melakukan pertarungan kembali. Apalagi melihat kemurkaan orang-orang yang ada di depan mereka. Sudah bisa dipastikan kalau mereka tidak akan diampuni.
"Sejak kapan kalian berada di situ?!" Si badan kekar melempar pertanyaan dengan suara yang begitu menggelegar.
"Sejak kapan itu bukan pertanyaan yang penting, yang terpenting sekarang adalah. Bebaskan laki-laki yang kalian ikat itu!"
Bukan Alif yang menjawab, melainkan Filo, lelaki itu juga tidak kalah murka melihat pria paruh baya yang diikat di tiang dekat api besar itu.
Alif sebenarnya masih ragu dengan perkataan Filo. Lelaki itu sudah ditebak. Kemarin dia bilang sang ayah sudah meninggal sejak lama. Tapi sekarang ... lelaki tak berdaya itu dia panggil sebagai ayah.
Si besar tertawa. Dia mengambil gada berduri yang tergeletak tidak jauh dari tiang tempat seseorang yang tengah mereka ikat. Sejak kapan ada benda itu di sana. Alif tidak melihatnya tadi.
"Enak saja. Hadapi kami dulu kalau kamu berani."
"Kalian ini penduduk sini. Tidak pernah sekali pun saling menyakiti, kenapa bisa bertindak sejauh ini. Dia ayahku, yang selama ini sudah aku anggap meninggal dan ternyata .... Astaga! Di mana hati nurani kalian!"
"Jangan kamu sebut hati nurani, Bodoh! Kamu saja yang selama ini tidak sadar."
"Sudah, jangan banyak bicara, habisi saja mereka. Lagi pula sudah terlanjur basah. Bunuh saja sekalian. Setelah itu kita bisa menikmati adiknya si Sofi." Si besar kekar kembali bicara, kali ini dibarengi tawa yang sangat keras. Berhasil memancing emosi Filo semakin besar.
"b*****h! b*****t kalian semua!" Filo langsung mengepalkan tangan hendak menyerang.
"Habisi mereka!" Si besar kekar memberi perintah, dan langsung dilaksanakan dengan yang lain. Sepertinya dia adalah pemimpin di sini. Tiga teman lainnya yang tadi selalu bersama juga menunggu, tidak ikut menyerang bersama yang lain. Alif, Lea, Kyra dan Randai iku bersiap. Mereka bertransformasi menjadi Klan mereka masing-masing. Mata mereka menyorot tajam, warna mata Randai sudah berubah semerah darah, Lea berpendar kuning, dan Alif berwarna keperakan. Semua sudah siap untuk bertarung. Filo yang melihat itu tidak kalah terkejut--ternyata tamu mereka tidak orang sembarangan. Mereka berasal dari tiga klan berbeda.
Alif mengaung keras. Dirinya sudah menjadi serigala, tubuh Lea sudah mengambang beberapa meter dari tanah. Kyra mengambil apa pun yang ada di dekatnya--hanya ada batu.
Sial! Di keadaan seperti ini, dirinya merasa paling lemah. Tidak mampu berbuat apa pun.
Semua mulai menyerang, bertarung dan saling memukul. Kemampuan Filo juga tidak bisa diremehkan. Pria itu beberapa kali berhasil memukul mundur lawan mereka. Meski beberapa kali juga mendapat serangan balik.
"Ah sial! Apa yang harus aku gunakan?!" Kyra semakin bingung, sahabatnya sedang bertarung sendiri, tidak bisa selalu melindunginya. Di saat seperti inilah dia harus bisa membentengi dirinya sendiri.
Orang di depannya semakin dekat. Menyeringai lebar melihat lawannya yang tidak mempunyai kekuatan apa pun. Merasa Kyra mudah untuk ditaklukkan.
"Wah, ternyata kamu tidak seperti yang lain, Nona. Kamu tidak bisa apa-apa."
Perkataan bodoh! Dirinya bahkan pernah hampir membunuh Luna waktu itu. Meski pun tidak tahu apa yang sudah dilakukan. Tapi sekarang tidak ada pilihan lain, dia akan mencoba kemampuan beladirinya yang pernah diajarkan oleh Zek. Siapa tahu itu akan berguna, meski durasi waktu latihan mereka dulu sangat singkat. Tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Hiyaakkk!" Kyra mengangkat sebelah kakinya ke atas, mengayunkan ke arah tiga orang yang hendak menyerangnya.
Bugh!
Pukulannya telak! Dia berhasil mengenai dan membuat lawannya mengerang bahkan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Keren!" Kyra menyeringai lebar. Puas akan kemampuan yang dimilikinya. Tapi tidak sampai di situ. Orang tersebut kembali bangkit hendak menyerang lagi. Tapi Kyra sigap dia mengambil batu tidak jauh darinya. Sambil sesekali berlari menghindar, dia memunguti beberapa batu yang tidak terlalu besar atau pun terlalu kecil. Tangannya mengayun melempar dengan keras ke arah ke tiganya.
Meleset. Lemparannya tidak mengenai. Dirinya terus berlari menghindar. Tiga lainnya mengejar dengan berjalan cepat. Menyeringai senang karena melihat Kyra yang terus menghindar. Menikmati rasa takut yang menjalar di tubuh gadis itu. Persis seperti predator yang mengintai buruannya.
"Kamu tidak akan bisa berlari jauh, Nona. Menyerahlah, maka kami akan membunuh secara cepat." Salah satu di antara mereka tertawa begitu keras, membuat keduanya ikut menyahut tawa juga.
Kyra tidak gentar, meski rasa takut tetap ada. Tapi dia bisa mengatasi.
Sekali lagi, dia kembali mengayunkan tangannya, melemparkan batu ke arah ketiganya. Meleset lagi, orang-orang itu pandai menghindar. Sialnya batu itu mendarat di tempat yang salah. Bunyi 'bugh!' malah berasal dari lengan Randai yang terkena lemparan itu.
"Maaf, Ran. Tidak sengaja." Kyra sedikit berteriak. Membuat lelaki itu mendengus sebelum kembali mencabik musuh yang ada di depannya. Kuku tajamnya berhasil mengoyak d**a musuhnya. Sehingga menimbulkan luka menganga yang lebar.
Sedangkan Kyra, dia menggerutu. Kenapa lemparannya terus meleset. Seingatnya, nilai olahraganya cukup bagus saat terakhir kali ujian di SMA.
Dengan sesekali menoleh ke belakang. Kyra mengambil baru lagi. Kali ini ukurannya lebih besar. Dia berhenti sejenak. Memberi ancang-ancang dan mencoba membidik sasaran dengan tepat. Setelah dirasa cukup, tangannya kembali mengayun, saat ini lebih keras daripada tadi.
Lalu kemudian .... Bugh!
Berhasil! Batu itu mengenai pelipis salah satu orang yang mengejarnya. Kyra mengepalkan tangan senang. Akhirnya berhasil, tapi hal itu tidak bertahan lama dan malah membuat orang tersebut semakin murka.
"Kurang ajar. Aku sudah mencoba baik kepadamu! Tidak akan kuampuni lagi sekarang." Orang itu mendesis sambil memegangi kepalanya. Dua temannya hanya meringis, tapi tidak lama setelah itu kembali mendekati Kyra, mengejar gadis itu yang telah berlari sambil melemparkan ucapan.
"Tidak ada pembunuhan yang disebut baik, apalagi untuk hal keburukan!"
Orang tersebut kembali bangkit, setelah mengusap pelipisnya dengan baju, dia kembali mengejar, kali ini lebih bersemangat daripada yang lain. Dirinya sudah terlanjur marah dengan Kyra, tidak akan mengampuni.
"Sebelum kamu mati, akan aku buat kamu tersiksa. Jangan salahkan kami kalau tubuhmu akan kami bagikan dengan teman lelaki kami.
Kyra bergetar, kata-kata itu sukses membuatnya semakin takut. Dia lebih baik langsung dibunuh saja daripada harus merelakan tubuhnya dinikmati begitu saja. Iya ... yang sedari tadi mengejarnya adalah perempuan. Mereka lebih mengerikan daripada Tara dan kawan-kawannya.
Tiga orang tersebut kali ini berlari mengejarnya. Sepertinya sudah tidak ingin bermain-main. Kyra juga semakin terpojok, di tangannya sudah tidak ada batu apa pun. Kosong. Kyra tidak memegang apa pun. Dirinya hanya terus berlari menghindar, tidak sempat memungut batu atau apa pun itu. Karena wanita-wanita tersebut terus mengejarnya, tidak memberinya jeda sama sekali.
"Hahaha, terus saja berlari, karena sebentar lagi kamu akan mati!"
Kyra sudah tidak perduli. Batu yang dilemparnya tadi dan tepat sasaran malah membuatnya semakin terpojok, wanita itu benar-benar murka.
Saat Kyra merasa sudah tidak bisa berlari lagi. Lea terbang menjauh, dia mengambil sesuatu entah apa itu dan mendekat ke arah Kyra.
"Ra, ambil ini!"
Kyra mendongak, menemukan Lea yang membawa kayu berukuran seperempat dari paha manusia. Gadis itu melemparkannya ke arah Kyra, ujungnya lancip. Untung tidak mengenainya.
Baiklah, hanya ini senjata yang ia punya. Dia harus menggunakannya dengan baik. Semoga bisa menjadi tameng kokoh untuk dirinya. Atau kalau tidak, dirinya akan berakhir secara mengenaskan.
***