Kyra menangkap kayu lancip yang dilemparkan Lea tadi. Gadis itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya kedua tangannya terkepal erat. Bersiap memberikan pukulan sekuat mungkin. Kalau perlu menusuk musuh yang ada di depannya itu. Mengoyak hingga tak tersisa.
Jangan salahkan Kyra. Gadis itu juga berusaha menyelamatkan diri agar tidak kehilangan nyawa. Lagi pula ini pertarungan yang tidak seimbang. Kyra hanya sendiri. Tapi dia diserang tiga orang sekaligus--jangan lupakan kemampuan mereka yang sepertinya lebih baik dari Kyra. Gadis itu bahkan baru tahu caranya bertarung beberapa hari silam.
"Kayu seperti itu tidak akan bisa melindungimu, Nona." Wanita itu tertawa meremehkan Kyra. Tapi satu detik setelahnya langsung terbungkam karena ucapan lawan bicaranya.
"Kalau begitu maju saja, kenapa masih berdiam diri." Antara takut dan berani. Kyra mencoba untuk tidak gentar.
Merasa ditantang, salah satu diantara ketiganya maju. Gerakannya cepat, untung Kyra sigap menghindar, dan ....
Crasshh!
Darah segar keluar merobek perutnya, membuat wanita itu tumbang seketika. Lukanya begitu dalam, sehingga dia langsung tewas di tempat. Ingat, ada pepatah yang mengatakan jangan meremehkan kemampuan seseorang, atau kamu yang akan mati. Mungkin kalimat itu sangat cocok untuk saat ini. Lihatlah! Kyra berhasil menumbangkan satu musuhnya hanya dengan dua pukulan. Ujung kayu yang lancip tadi berhasil mengoyak perut wanita itu.
Senjata ini benar-benar sangat berguna. Setidaknya untuk bertahan beberapa menit ke depannya.
"Wah, kemampuanmu luar biasa, tapi itu tidak berarti untuk kami."
Tidak gentar, Kyra masih memegang kayu itu semakin erat. Mengayunkannya terus ke arah dua wanita tadi.
Crassh!!
Kayu itu hanya mengenai tangan salah satu di antara mereka. Tapi tidak berselang lama langsung sembuh kembali. Itu hanya luka kecil. Mereka ternyata bisa menyembuhkan diri dengan cepat seperti Kyra. Namun jika luka tersebut menganga lebar, penyembuhan itu akan sangat lama, bahkan bisa berakibat kematian seperti wanita tadi.
"Sepertinya sudah cukup. Kita tidak perlu bermain-main lagi."
Gawat, kata-kata yang keluar dari mulut dua orang di depannya ini selalu berhasil membuatnya takut. Apalagi kalau sudah bernada ancaman. Gadis itu memilih pergi menjauh, sepertinya kali ini dia harus menghindar lagi.
"Hey! Mau ke mana kamu?!"
Di sisi lain, tiga temannya bersama Filo juga terus melawan, merangsek maju untuk menubas musuh. Filo harus fokus menyelamatkan ayahnya, pria paruh baya itu terlihat begitu lemah. Jika dia terlambat, mungkin nyawa ayahnya akan melayang.
"Tidak kusangka. Pria itu jago beladiri." Si gendut berkata sedikit meremehkan.
"Apalagi teman-temannya. Bagaimana Klan-Klan itu bisa datang kemari dan mengenal Filo." Saat ini, si tinggi besar yang melipat tangan di depan d**a merasa heran.
"Tidak masalah dia mengenal Filo, itu sebuah keberuntungan." Si kurus terkekeh. Puas karena tanpa membuat umpan sudah berhasil memancing.
"Kamu benar. Tapi kemampuan mereka luar biasa. Apalagi Klan Lycanthrope. Lihat saja, berapa banyak dari kita sudah tewas karenanya. Kalau begini terus, kita juga yang akan turun tangan." Si tinggi besar mendengus kasar. Tidak suka kalau orang-orangnya perlahan mulai tumbang.
"Mungkin kita akan sulit dikalahkan. Tapi ... pemimpin kita akan marah kalau sampai tahu hal ini," kata si gendut.
"Aku punya ide. Ada satu cara yang bisa menghentikan mereka." Si tinggi besar menyeringai.
"Apa itu?"
"Ikuti aku."
Mereka berlima beranjak meninggalkan tempat ini. Alif sempat melihat, tapi dia tidak bisa mencegah atau pun mengikuti. Orang-orang di depannya terus merangsek maju, hendak memukul mundur mereka.
"Akk!!" Lea jatuh ke bawah, dia berhasil ditarik segerombolan orang. Beruntung dia mendarat dengan selamat.
Gadis itu mulai mengepalkan tangan, kedua kakinya menekuk, membuat kuda-kuda yang kokoh. Sepertinya dia harus bertarung di bawah, tidak memungkinkan untuk menyerang dari atas kembali.
Bugh!
Krak!
Pukulan, retakan tulang dan lain sebagainya terus menggema di sana. Mereka berjuang mati-matian bertahan untuk tetap hidup. Jumlah mereka menang banyak sekali. Ibarat satu kampung, dan mereka kuat-kuat.
Randai dengan kuku tajamnya terus mengoyak, mencakar dan mencabik, bahkan menggigit mereka. Sangat puas karena bisa mengonsumsi makanannya. Pria Vampir itu menyeringai.
Sepuluh menit berlalu, Alif berhasil memukul mundur musuhnya. Dia melihat sekeliling dan menemukan Filo yang kualahan.
Lelaki itu berdecak sebelum menghampiri Filo.
"Butuh bantuan?"
Filo menoleh dia melihat Alif dengan wujud manusianya dan mata yang berpendar keperakan. Lelaki itu bahkan sempat menepis pukulan yang hampir mengenainya.
"Sangat butuh. Alihkan mereka, Lif, aku minta tolong. Ayahku harus aku selamatkan."
Alif mengangguk. Dia sudah tak seramah dulu dengan Filo. Wajahnya yang dingin semakin dingin. Tapi melihat Filo kualahan dia juga tidak bisa berdiam diri. Entahlah, yang dilakukannya ini akan menyulitkannya nanti atau malah sebaliknya.
Filo mulai bergerak, dia beberapa kali menepis serangan dan kembali memukul sebelum sampai di depan sang ayah.
"Ayah." Filo memegangi kedua pipi pria paruh baya itu. Matanya berkaca. Antara senang, sedih dan marah, semua berkecamuk.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Tanpa berpikir lebih lama lagi. Dia segera membuka ikatan tangan dan kaki sang ayah. Menopang tubuhnya saat pria paruh baya itu hendak jatuh.
Alif sempat melirik. Menyaksikan hal.dramatis tersebut. Tidak tahu yang dilakukan Filo entah drama atau bukan.
Lelaki itu memapahnya perlahan. Menghindari serangan atau menepisnya beberapa kali. Tubuhnya ada yang terluka karena hal itu. Tapi dia harus menyelamatkan pria paruh baya ini terlebih dahulu.
"Cari Kyra, Filo. Dia yang bisa menyembuhkan luka ayahmu." Alif sedikit berteriak melihat Filo yang berjalan tidak jauh darinya. Lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu meneruskan perjalanannya. Tapi senyum itu diartikan berbeda oleh Alif. Dia semakin curiga saja dengan Filo. Benar. Lelaki itu ada yang tidak beres.
Filo meletakkan ayahnya di bawah pohon yang agak jauh dari peperangan. Dia berharap ini tempat yang aman. Setelah itu dia langsung mencari Kyra. Gadis itu harus segera ditemukan.
Di tempat lain, tidak begitu jauh dari peperangan, Kyra mulai terpojok. Musuh yang ada di depannya ini kekuatannya ternyata lebih dari yang ia bayangkan. Lihat saja, jari-jarinya ditumbuhi kuku yang begitu tajam. Kedua bibirnya menyeringai. Giginya berubah tajam, sangat mengerikan.
"Mau lari ke mana lagi kamu. Sudah tidak ada tempat untuk pergi." Salah satu di antara keduanya tertawa. Dia menunjuk Kyra dengan kuku tajamnya. "Kamu memang tidak perlu dikasihani. Setelah ini, kupastikan kamu menyesal. Tubuhmu akan koyak. Tapi sebelum itu terjadi. Kamu akan histeris karena seseorang akan menikmati tubuhmu lebih dulu.
Glup!
Lidahnya kelu, bahkan meneguk ludah saja rasanya susah. Kyra sudah terpojok, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Kedua wanita itu terus mendekat dan mengarahkan kuku panjangnya ke arah Kyra.
Crashh!!
Seketika punggung itu mengeluarkan darah segar. Ada luka yang menganga lebar akibat tusukan yang baru saja didapat. Tubuh itu ambruk seketika. Mulutnya juga ikut mengeluarkan darah segar. Dia sudah hampir sekarat. Bahkan kedua matanya ada cairan bening, menandakan dia menangis karena hal ini.
Kyra terbelalak, pandangannya menatap ke depan. Terkejut bukan main. Napasnya sampai tersengal. Bahkan susah sekali untuk menghirup udara. Malam ini ternyata lebih mengerikan dari sebelumnya. Apa kabar teman-temannya?
***