Warning! 21+
Alif, Lea dan Randai berkumpul menjadi satu. Mereka saling memunggungi. Pasukan musuh hampir sudah dipukul mundur semuanya. Tersisa sedikit yang merasa takut menyerang. Sisanya lagi ada yang kabur. Mereka berhasil memukul mundur.
"Kenapa masih diam saja? Ayo sini, gigiku ini gatal sekali rasanya." Randai menantang sepuluh orang yang tersisa di sana. Nyala api besar yang tidak jauh dari mereka itu perlahan mulai habis sedikit demi sedikit.
"Ah, cemen sekali. Kalian ini laki-laki, lho. Masa iya mau lari bahkan berdiam diri saja. Hey, laki-laki itu harus terus bergerak, apalagi kalau main sedang berada di atas."
Lea tercengang, mulutnya sedikit menganga mendengar perkataan Randai. Bisa-bisanya dia masih melemparkan perkataan begitu di situasi masih bertempur begini.
"Ran, mulutmu!"
"Tidak apa, Lea. Kalau kamu ingin merasakan manisnya bibirku nanti saja--aww!" Lelaki itu meringis, bukan karena kesakitan, melainkan terkejut karena perbuatan Lea.
Merasa tertantang dan tidak ingin dianggap lemah. Sepuluh pria di depan mereka merangsek maju.
Mereka mengarahkan pukulan dengan keras. Randai, Alif dan Lea sigap menghindar dan memberi pukulan balik. Sebenarnya orang-orang ini tidak begitu kuat, namun karena jumlah mereka yang begitu banyak, membuat remaja-remaja itu kualahan juga akhirnya.
"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Kyra."
"Mungkin sekarang sedang bersama Filo, pria itu aku suruh mencarinya tadi."
Randai mengangguk dan mengeluarkan pukulan.
Bugh!
Sangking kerasnya sampai membuat musuhnya langsung tumbang, tersisa satu orang. Itu perkara mudah.
"Biar aku saja." Randai memasang kuda-kuda, mencengkram leher pria itu, bersiap mengeluarkan pukulan paling keras. Namun ....
"Hentikan atau gadis ini akan mati sekarang!"
Tangan Randai mengambang di udara, tatapan matanya beralih pada lima pria yang tengah menyeret seorang gadis. Seseorang yang mereka kenal dan terlihat begitu baik.
"Mau kau apakan dia?!"
Seperti dejavu, kejadian ini juga hampir sama dengan yang lalu, hanya saja kali ini dengan orang yang berbeda.
"Namanya Sofi. Dia dan saudaranya beruntung masih hidup di tengah-tengah perkampungan yang hampir semua penduduknya musnah."
"Maksud kamu?" Alif mengangkat sebelah alisnya. Setahunya penduduk di sini berjumlah sangat banyak, lihat saja tadi, betapa payahnya ia dan teman-temannya melawan orang-orang yang menyerang mereka. Mengapa orang di depan mereka ini mengatakan demikian.
Si kekar yang tengah memegang Sofi dengan kuat itu tertawa. Gadis itu dari tadi juga terus bergerak berusaha melepaskan diri. Tapi tenaganya hanya sia-sia belaka.
"Kalian tidak tahu, semua orang di sini bukan penduduk asli, bertahun-tahun silam saat satu persatu penduduk mulai menghilang. Kami menggantikannya dengan orang-orang kami. Dan selalu memusnahkan mereka setiap bulan sekali dengan dalih perayaan."
Psikopat! Mungkin itu yang berada di pemikiran tiga remaja berbeda klan itu. Di dunia Kyra, manusia seperti itu sedang sakit. Sama seperti lima pria yang terus menyeringai dari tadi. Merasa senang seolah mendapat tontonan yang sangat menarik.
"Kalian kejam!" Sofi berteriak marah. Meraung di dalam cengkraman lelaki kekar itu.
"Hahaha, ini sangat mengasyikkan. Kamu tidak tahu saja, ayahmu bahkan hampir mati tadi, kalau saja saudaramu yang tidak berguna tadi tidak menghalangi."
Sofi membelalakkan mata, mungkin tidak percaya kalau sang ayah ternyata masih hidup. Sama seperti Filo tadi.
"Biadab kalian!" Kali ini teriakan Sofi bahkan lebih keras, dia benar-benar tidak terima. Tubuhnya semakin aktif untuk melepaskan diri.
"Diam!" Lelaki tadi langsung membentaknya. Membuat Sofi langsung ciut seketika.
"Lepaskan dia dari tanganmu, Klan Vampir. Serahkan dia pada kami."
"Kalau tidak mau?"
Lelaki kekar itu menyunggingkan senyum, lalu mengangkat dagu Sofi kasar, membuat gadis itu langsung terpekik.
"Maka kamu akan melihat kepalanya lepas dari tubuhnya."
Randai mendengus, dengan kasar dia melepaskan tawanannya. Dia tidak mungkin mengorbankan gadis itu, dia sudah baik dari pertama bertemu.
"Sekarang lepaskan dia!"
"Oh tidak bisa. Kalian belum lengkap, dimana gadis itu? Teman kalian yang lain."
"Tidak ada di sini. Kami tidak tahu." Alif menjawab dingin, netranya terus saja menatap tajam, seolah hendak menghunus mereka berlima.
"Wah, sayang sekali. Padahal aku hendak berbaik hati--ah, bagaimana kalau kita bermain sebentar. Menikmati gadis ini misalnya. Lihat, tubuhnya sangat seksi. Seperti apa bentuk di balik kain ini?" Pria itu mengelus lengan Sofi, gadis itu langsung menegang dan menggeleng.
Tidak, dia tidak mau. Lebih baik dia dibunuh sekarang juga daripada harus melayani lima pria b******k itu.
Lima pria itu langsung tertawa melihat reaksi Sofi. Tontonan yang begitu memuaskan. Tangan si kekar mulai mengusap wajah gadis itu pelan.
"Kurangajar! Sebrengseknya diriku, tidak pernah sedikit pun merendahkan wanita!" Randai mengepalkan tagannya dan bersiap menyerang, tapi ....
"Aakk!!" Sofi memekik kesakitan. Kuku pria kekar itu berhasil mengoyak kulit Sofi, darah segar mulai mengalir di lengannya.
"Tidak begitu manis." Si kekar menjilat darah yang menempel di kuku panjangnya, lalu menatap Randai dengan sengit. "Hati-hati dengan tindakanmu. Aku tidak main-main untuk membunuhnya."
"Bunuh saja aku! Itu kan yang kalian mau!" Sofi menangis, air matanya terus turun.
"Ckckck, kamu pemberani juga ternyata. Tapi tidak semudah itu gadis manis--JANGAN ADA YANG BERANI BERGERAK!" Mata pria itu kembali memandang tiga remaja di depannya. Dia mengetahui pergerakan Alif, padahal pria itu sudah berhati-hati saat melangkah tadi. Pikirannya berkecamuk. Dia mengkhawatirkan sahabatnya. Kyra belum juga kembali semenjak dirinya menyuruh Filo mencarinya. Apalagi dirinya dari tadi terus menaruh curiga pada lelaki itu.
Alif mendengus. Mereka dikepung. Dia bingung harus bagaimana. Tidak bisa bertindak asal. Ada nyawa yang dipertaruhkan, meski pun pikirannya curiga. Entah yang ada di depannya beneran asli atau hanya drama saja.
Ah, dia jadi berpikir, andai saja dirinya sehebat Klan Lycanthrope yang lain. Mendapat kekuatan lebih besar. Menghancurkan musuh hanya dengan mengacungkan tangan saja. Sayangnya kekuatannya belum sehebat itu, terlalu lama berbaur dengan dunia manusia dan pergerakannya yang dibatasi membuat Alif tidak bisa mengembangkan dengan baik kekuatannya.
"Sekali ada yang melanggar. Gadis ini akan mati perlahan di depan kalian!"
"Binatang!" Randai mengumpat pelan. Benar-benar tidak habis pikir dengan orang-orang gila di depannya.
Pria kekar itu sepertinya sudah dibakar gairah karena perlakuannya tadi. Terbukti tangannya yang sekarang meremas sensual pundak Sofi, mencium rambut gadis itu dengan bernapsu.
"Baiklah, kita coba main sebentar!"
"TIDAK!" Sofi berteriak histeris.
"BERHENTI! LEPASKAN DIA!"
Si kekar langsung berhenti. Pandangannya beralih pada sumber suara. Bibirnya menyeringai.
"Bagus. Ini yang kutunggu dari tadi."
"Lepaskan adikku!"
Lima pria yang menyandra Sofi tertawa keras. Seolah tengah meremehkan Filo.
"Mudah saja, serahkan gadis itu kepada kami. Tukar dia dengan adikmu!"
"Apa?" Lirih sekali Kyra berkata. Tidak percaya mereka diperlakukan seperti barang.
Dua sahabatnya yang lain juga sama. Mereka kesal, Randai saja meski pun sering melemparkan candaan, tapi dia tidak suka sahabatnya dihina seperti itu. Apalagi Alif, lelaki itu bahkan sudah mengepalkan tangan dengan gigi bergemeletuk.
"Mau apa kamu dengan dia? Tidak ada urusannya, dia hanya gadis lemah."
Lea mengangguk, lebih baik membenarkan dan menyembunyikan tentang sesuatu luar biasa yang dimiliki Kyra, daripada nanti harus berakibat fatal setelahnya.
Si gendut tertawa, perut buncitnya bahkan ikut bergerak karena itu. "Suaminya sangat marah. Kamu jangan seperti itu, mereka adalah pengantin baru." Si gendut menepuk pundak si kekar.
"Ah iya, aku lupa. Bagaimana pun mereka telah menikah tadi." Si kekar semakin tertawa keras, dan disahuti empat kawannya yang lain. Hal itu bukan karena lucu atau candaan semata, melainkan karena ingin mengejek mereka.
"Sudahi saja. Kita harus cepat sebelum pemimpin kita marah." Si kurus segera mengingatkan tujuan mereka. Ini sudah terlalu lama untuk bermain.
"Serahkan gadis itu dan sesuatu yang kamu dapatkan sebelum ke sini!" Si kekar sudah memasang wajah serius, dia menatap remaja-remaja itu dengan tajam.
Alif memandang ke arah Filo yang sedang menatap Kyra dan Sofi bergantian, terlihat bingung, atau entah pura-pura bingung. Lagi pula, untuk apa mereka berdua pergi begitu lama. Apa mengobati luka saja Kyra akan selama itu. Lalu ke mana pria paruh baya itu yang tadi diaku sebagai ayahnya Filo.
"Aakk!!"
Satu cakaran kembali mengenai tubuh Sofi, si kekar kembali berulah. Dia menggores kuku tajamnya lagi. Kali ini bukan di lengan, melainkan kaki, garisnya lebih panjang daripada tadi.
"Aku sudah muak bermain-main. Kalau kamu mau saudaramu tetap hidup, maka segera laksanakan perintahku tadi. Atau kalau tidak ...." Lelaki itu menggantung kalimatnya, memandang satu persatu wajah tegang yang ada di hadapannya.
"Kalau tidak apa?!" Randai terpancing, dia juga geram.
"Kalau tidak, gadis yang sedang berada di tanganku ini akan kehilangan isi yang ada di dalamnya.
"Aakk!"
Lagi, satu tusukan kecil sudah menembus kulit Sofi. Membuat gadis itu semakin kesakitan. Filo menjadi semakin panik luar biasa.
"Tukar saja dengan nyawaku, tapi lepaskan dia!" Filo berlutut di hadapan si kekar. Cinta seorang kakak sedang di uji, kali ini sudah dibuktikan dengan tindakan Filo. Mengharukan juga menegangkan. Semua membaur menjadi satu.
"Kak?"
Untuk pertama kalinya, Filo mendengar Sofi memanggilnya dengan tambahan kak. Sebelumnya gadis itu tidak pernah mau karena merasa umur mereka sepantaran.
"Tidak apa, Sof. Aku rela menukar nyawa demi kamu." Filo ikut berkaca, Sofi bahkan semakin deras air matanya. Kyra yang melihat sangat tidak tega. Tapi dia juga takut dengan keadaan. Kyra bukan gadis yang begitu kuat luar biasa.
"Heh! Aku sedang tidak ingin menyaksikan drama. Berhenti melakukan ini, dan serahkan gadis di belakangmu itu. Nyawamu sedang tidak dibutuhkan saat ini. Atau kalau tidak ... adikmu akan tinggal nyawa beberapa detik nanti.
Filo terdiam, dia menatap Kyra dengan seksama. Kyra juga tidak membalas. Dia sendiri takut jika harus bertukar posisi. Penawaran ini tidak ada yang menguntungkan di pihak mereka.
Tidak ada pilihan lain, Filo langsung berdiri dan menarik Kyra cepat lalu dibawa ke hadapan si kekar. Gerakannya cepat, sampai Kyra tidak menyadari.
"Maaf, Ra. Tapi rasa sayangku sama Sofi lebih besar."
Kyra menggeleng tidak percaya dengan perkataan Filo, setelah apa yang dilakukan tadi--lelaki ini mudah sekali mengatakan demikian.
"Filo, apa yang kamu lakukan?!" Alif berteriak kasar. Mulai mengambil ancang-ancang.
"Alif, tenangkan dirimu dulu." Lea memperingati Alif yang hendak lepas kontrol lagi.
"Bagus. Bawa adikmu!" Si kekar melempar Sofi ke arah Filo, hendak mengambil Kyra yang berada di samping Filo. Tapi lelaki itu bertindak cepat. Dia langsung menarik Kyra ke belakang, setelah Sofi aman di tangannya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama ternyata. Dirinya tiba-tiba saja langsung dilempar hingga terjengkang ke belakang beberapa meter, dan berakhir menubruk pohon. Tangannya bahkan sempat mengenai api yang masih terbakar--meski tak sebesar tadi. Punggungnya rasanya mau patah, tapi dia bersyukur Sofi selamat.
"Kamu pikir aku bodoh, ha?! Sekarang lihat bagaimana rasa sakitnya saat tubuhmu menghantam kerasnya pohon."
Filo hanya meringis mendengar itu. Punggungnya benar-benar sakit. Dia dilempar begitu keras. Sepertinya ada yang patah entah apa itu.
Kyra memberontak, tangannya dicekal kuat oleh si kekar.
"Sekarang giliran kalian memberi benda yang kalian bawa sebelum ke sini tadi."
"Barang apa yang kamu maksud, kami tidak mengerti."
"Jangan pura-pura bodoh. Kami tahu apa yang kalian bawa. Pemimpin kami sudah menantikan itu sejak lama."
Alif menatap dengan seksama. Siapa pemimpin yang selalu disebutkan pria ini. Mereka menyebut pemimpin, tapi dia tidak datang sama sekali. Memang siapa dalang di balik semua ini.
"Lepaskan aku!" Kyra memberontak.
"Diam!!" Si kekar membentak kasar.
"Ra, gunakan kekuatanmu. Sekarang kamu sedang terdesak, Ra. Mungkin itu bisa dicoba!" Randai berteriak. Perkataannya sukses mendapatkan pelototan dari sahabatnya, tapi sudah terlanjur, tidak ada pilihan lain.
Sedangkan Kyra terus menggeleng. Dia tidak tahu cara menggunakan kekuatan yang dimilikinya. Bahkan tidak tahu seperti apa bentuknya.
"Aku tidak bisa--aakk!!"
Kraak!
"Kyra!"
Semua terkejut, Kyra menatap jari kelingkingnya yang menekuk di arah seharusnya. Jari itu patah, sakitnya luar biasa. Bahkan Kyra sampai tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.
"Serahkan beda itu sekarang. Atau temanmu ini akan semakin tersiksa."
Lagi dan lagi, si kekar melakukan penawaran--ah kali ini bukan penawaran, melainkan ancaman.
Alif mendengus kesal. Dia mengambil tasnya yang terselip di pundaknya. Mengambil sesuatu yang sebenarnya mereka dapatkan dengan nyawa. Tapi sekarang .... Demi menyelamatkan nyawa juga dia harus memberikan benda itu.
Jadi begini akhirnya? Ironis.
***