Belum Usai

1037 Kata
"Jangan pedulikan aku, Lif. Pertahankan benda itu." Dengan menahan rasa sakit karena jarinya dipatahkan, Kyra mencoba menyadarkan Alif. Pria itu harus sadar dan ingat apa tujuan mereka kemari, kalau benda yang dimaksud tadi sampai jatuh di tangan yang salah, maka percuma saja mereka bertaruh nyawa untuk mendapatkannya sebelumnya. "Tapi aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini, Ra." "Aku masih kuat, tidak apa kalau aku harus berakhir sekarang." "RA!" Semua menyoraki Kyra, tidak suka arah pembicaraan gadis itu. Tidak ingin sesuatu sampai terjadi pada sahabatnya. "Kalian harus ingat tujuan kita--aakk!!" Rasa nyeri kembali menghantam tubuhnya. Kali ini di bagian kepala. Rambutnya dijambak keras. Membuat kepalanya langsung mendongak ke atas. Kesakitan setengah mati. Rasanya rambutnya dipaksa lepas dari kulit kepalanya. "Berani kamu menghasut mereka. Maka jangan salahkan kami kalau kamu botak sekarang juga." Kyra meringis, menahan sakit yang timbul dari jambakan tersebut. Sofi semakin mengerutkan pelukannya pada Filo, dia juga takut. Teringat saat dirinya tadi disandra seperti Kyra. "Lepaskan dia bodoh!" "Jaga bicaramu! Jangan berkata sembarangan kalau ternyata yang bodoh adalah dirimu!" Si kekar tidak terima menerima umpatan dari Randai. Matanya melotot, nyalang menatap pria itu. Randai sendiri matanya terus berkilat merah. Menandakan kalau dia semakin serius dan kekuatannya semakin bertambah. "Kalau begitu lepaskan dia." Alif masih berusaha sabar, dia mencoba tenang agar Kyra tidak kesakitan lagi. Sebenarnya dia itu bingung. Kyra mempunyai kekuatan yang hebat. Dirinya juga sudah melihatnya sendiri. Tapi kenapa sekarang tidak muncul juga. Awalnya dia memang tidak percaya dengan cerita Lea sebelumnya. Tapi ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri--dirinya benar-benar merasa takjub. Lalu sekarang ... kekuatan itu seolah bersembunyi tidak ingin keluar. Dia harus bagaimana untuk menyelamatkan gadis itu. Jika memberikan benda yang dimaksud tadi, maka tamat sudah riwayat mereka setelah ini. "Mudah saja. Serahkan benda itu terlebih dulu." Alif mendengus. Gerakan tangannya yang tadi sempat berhenti merogoh tas kini kembali masuk ke dalam. Tangan kirinya menggenggam erat saat telapak tangan kanannya sudah menyentuh benda berharga itu. Alif menariknya pelan. Benda itu berpendar kuning keemasan saat dikeluarkan. "Bawa ke sini." Si kekar menyeringai, begitu pun dengan temannya yang lain. Benar-benar takjub melihat benda itu secara langsung di depan matanya sendiri. Langkah kaki Alif maju, dia berjalan perlahan menuju lima pria itu. Kyra menggeleng keras, tidak setuju dengan tindakan Alif. Meski pun dia kadang terlihat kekanakkan atau merasa takut mati, tapi kali ini berbeda, dia siap menanggung resiko apa pun asal benda berharga itu tidak jatuh di tangan mereka. "Potongan pusaka terakhir." Si kekar bergumam dengan sangat senang, matanya berbinar melihat benda itu semakin mendekat ke arahnya. Alif yang melihat kondisi masih awas memperhatikan sekitar. Tangan si kekar terulur bersiap menerima benda berharga itu--potongan pusaka terkahir. Tapi ... Sreek!! Alif berhasil menyambar Kyra, mereka terguling beberapa kali karena terlalu tiba-tiba. Potongan pusaka itu untung masih berada di tangannya. "Kurangajar! Kamu membodohiku!" Si kekar berkilat marah. Kesal luar biasa saat melihat sanderanya sudah lepas. Alif bangkit dari posisinya setelah berguling tadi. Menepuk lututnya bebera kali. "Kamu memang bodoh!" "Jaga ucapanmu, Anak Muda!" Si kurus mengacungkan jari ke depan. Memperingati Alif untuk tidak bicara sembarangan. Tetapi lelaki itu hanya diam dan menyinggungkan senyum. "Aku sudah bersemangat untuk bertempur sekarang. Ayo! Keluarkan kekuatanmu, akan kuhabisi kalian sekarang." Lima orang itu mengepalkan tangan. Bersiap untuk bertempur kembali. "Kalian cuma bocah ingusan!" Si gendut menunjuk satu persatu remaja itu. "Iya, dan bocah ingusan ini yang akan membuat kalian bertekuk lutut. Ayo maju! Bersiaplah menerima pukulanmu di kepala tua kalian!" "Kurangajar!" Si gendut semakin murka. Randai memang selalu bisa memancing kemarahan seseorang, siapa pun itu. Mungkin hanya Zek dan Canuto yang tidak terpengaruh. Lima pria itu segera menyerang, dan tiga remaja berbeda klan itu segera meladeni. Alif tidak sempat menanyakan kabar Kyra, keadaan mendesak, memaksanya untuk ikut bergabung bersama kawannya yang lain. "Bawa ini, Ra. Aku harus membantu mereka sekarang." Alif menyerahkan tasnya yang berisi potongan pusaka sakti itu. Kyra juga membalas dengan anggukan saja, sesudah itu Alif meninggalkannya dan ikut bergabung bersama yang lain. Kyra menyentuh jari kelingkingnya yang patah, meringis saat tangan satunya menyentuh permukaan kulit. Tapi dia harus menahan. Dirinya harus memulihkan kembali jarinya, dirinya harus menyembuhkan lukanya. Matanya terpejam, berkonsentrasi untuk menyembuhkan jarinya. Tangannya menyentuh permukaan jari yang patah itu. Dalam pejamnya, Kyra dapat melihat tulangnya yang patah. Dia berkonsentrasi untuk menyambungnya kembali agar tidak kesakitan dan bisa ikut membantu mereka saat sudah mendingan nanti. Dirinya tidak boleh hanya berdiam diri saja. Tulang yang patah itu mulai menyambung perlahan, semua luka yang ada di dalam tubuhnya perlahan-lahan mulai meregenerasi membuat jaringan baru untuk menggantikan kerusakan yang ditimbulkan dari si kekar tadi. Perlahan-lahan rasa sakit yang ditimbulkan dari luka tersebut perlahan menghilang. Begitu pun dengan bagian kepalanya tadi. Nyeri dan rasa panas akibat dari jambakan si kekar tadi perlahan menghilang. Dua menit setelahnya luka yang ada di dalam tubuh Kyra sembuh. Gadis itu menatap ke depan. Menemukan teman-temannya yang sedang berjuang melawan musuhnya. Agar bisa mendapatkan kemenangan dan kembali melanjutkan perjalanan. Dia ingin membantu, sangat ingin. Tapi dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tadi saja dia tidak bisa mengalahkan seorang diri. Tiga wanita yang tadi tewas bukan dibunuh oleh dirinya--melainkan pria yang menyambut mereka sebagai tamu beberapa jam yang lalu tadi. Kalau tidak ada pria tersebut, mungkin dia sudah mati sedari tadi. Tangannya mencengkeram tas milik Alif, dan matanya terbelalak mengingat benda itu. Kyra menyentuhnya, dia seperti mendapat sesuatu yang luar biasa dari sini. Tapi saat pemikiran lain muncul, dia sadar apa yang harus ia lakukan sekarang. Bibirnya sedikit tertarik, tapi pandangannya beralih pada Filo dan Sofi yang hanya memperhatikan perjuangan teman-temannya, tanpa sedikit pun terlihat ingin membantu. Pria itu aneh. Sikap Filo terlihat berbeda daripada tadi. Kenapa sekarang seolah tidak peduli, padahal tadi juga sudah membantunya menyelamatkan diri. Kyra beralih menatap pertarungan itu. Musuh yang dihadapi kawan-kawannya jauh lebih hebat daripada tadi. Terbukti kadang Randai kualahan. Tapi lelaki itu tetap berjuang, tidak gentar atau pun mundur. Meski beberapa kali Kyra mendengar umpatan yang ke luar dari mulut pria vampir itu. "Sialan! Akan kupatahkan tanganmu nanti," umpatnya saat dia berhasil ditinju. "Lakukan itu saat kamu sudah berhasil mengalahkanku!" Si gendut pun tidak mau kalah, ikut membalas perkataannya. Kyra kembali menyinggungkan senyum, dia tahu apa yang harus diperbuat sekarang. Tangannya terjulur menyentuh permukaan tas Alif, dimana potongan benda berharga pusaka sakti itu berada. *** Thanks for reading ❤️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN