BAB 9 : AKAN KU KEJAR WALAU KE UJUNG DUNIA

1631 Kata
Sepanjang perjalanan senna dan yoyo hanya saling diam apalagi setelah bahan basa - basi mereka telah habis. Senna benar - benar hanya diam dan memandangi jalanan didepan dengan tatapan kosong. Sedangkan yoyo mulutnya memang diam tak berbicara, tapi jantungnya sudah berdebar hebat karena akhirnya dia bisa duduk bersebelahan dengan gadisnya. Bahkan diam - diam matanya tak bisa jika tak mencuri pandang ke arah senna. Dari yang yoyo lihat, adik olivia ini seperti sedang memendam sesuatu dalam hatinya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi pasti ada sesuatu. Seorang yoshua yang sangat peka yakin akan hal itu. Selama ini dia juga yang paling bisa membaca situasi dengan sangat cepat lalu melakukan semua ide yang terlintas di otaknya detik itu juga. Maka dari itu hampir di semua kisah sahabatnya selalu saja ide yoyo yang merubah situasi menjadi semakin baik atau semakin penuh dengan kejutan. Semoga dikisahnya pun akan sama. Apapun yang terjadi pada senna, yoyo ingin sekali ada dan membantunya. Hatinya sudah menjadi milik senna sejak pertama kali dia melihat gadis itu. “Sen…” panggil yoyo saat mobilnya sudah berhenti di depan lobby apartemen aira. “Hah ?” senna seperti baru tersadar dari dunianya. “Udah sampe.” kata yoyo. Lalu, senna hanya bisa memandangi ke sekitarnya. Dan benar saja dia memang sudah berada di lobby apartemen aira. Senna merasa malu dan merutuki dirinya karena tadi dia melupakan keberadaan yoyo. “Eh…. Iya pak. Eh… Kak maksudnya.” senna cepat - cepat mengoreksi panggilannya pada yoyo karena detik itu yoyo sempat mengerutkan alisnya. “Coba biasakan memanggilku 'kak' ketika kita sedang berdua.” yoyo mengingatkan. “Iya, kak. Aku akan ingat terus.” jawab senna sambil tersenyum kaku. Jujur saja kata - kata yoyo tadi sedikit membuatnya tak nyaman. “Baiklah, makasih tumpangannya kak. Aku turun dulu.” setelah mengatakannya senna melihat yoyo yang hanya memandangnya tanpa ada jawaban. Dia pikir yoyo marah padanya, jadi senna langsung menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan membuka pintu. “Tunggu, sen.” akhirnya yoyo bereaksi di detik - detik terakhir saat terdengar suara pintu mobilnya yang terbuka. Dia dengan secepat kilat menahan lengan senna hingga gadis itu berbalik menghadapnya. “A-ada apa ?” senna kebingungan. “Boleh aku tanya sesuatu ?” senna tak langsung menjawab, dia hanya diam. “T-tanya apa ?” “...” saat ini yoyo yang terdiam. Tiba - tiba niatnya untuk mengajukan pertanyaan menjadi goyah. “K-kak ?” “Itu…. Aku ingin tau dengan siap kau tinggal disini.” dengan cepat yoyo memutar otak agar dia bisa mengalihkan rasa penasarannya. “A-aku…” senna ragu untuk menjawabnya, biar bagaimanapun yoyo adalah sahabat juna. Dia takut keberadaan aira akan terbongkar juga, walaupun kakaknya sudah mengetahui tentang hal ini. Tapi saat mereka bertemu kemarin olivia sudah berjanji untuk merahasiakannya juga. “Kau takut aku akan membocorkannya ?” senna sedikit enggan menjawab, tapi kepalanya perlahan mengangguk. “Tenang saja, aku bisa menjaga rahasia.” “...” senna hanya diam. Tapi matanya seperti sedang memindai yoyo. Senna terlihat tak mudah percaya begitu saja pada yoyo. “Aku benar - benar bisa dipercaya.” yoyo meyakinkan. Padahal kenyataan itu memang benar adanya, dia memang bisa menjaga rahasia. Walaupun terkadang dia menjaga rahasia itu sambil diam - diam bertindak saat kondisi tertentu. “Baiklah.” “...” yoyo masih terus diam sambil menunggu jawaban senna. “Aku tinggal dengan seorang teman dekatku.” “Teman dekat ? Apa dia seorang pria ?” “Bukan…. Dia seorang gadis seumuran dengan kak olivia.” kata senna sambil menggoyangkan tangannya didepan dengan wajah sedikit panik saat mendengar tuduhan atasannya. Mana mungkin dia tinggal bersama seorang pria. Selama hidupnya ini dia hanya pernah menyukai satu pria. Dan sekarang pria itu sudah menikah dan memiliki seorang anak. “Oh…. baiklah.” yoyo hanya menjawab dengan senyuman. “Kenapa kak ?” “Enggak, aku hanya ingin tahu saja.” “Oh. Baiklah, aku turun dulu. Terima kasih sekali lagi, kak.” kata senna lalu yoyo pun membiarkannya turun. Sebelum menjalankan mobilnya yoyo sempat membuka kaca untuk melambaikan tangannya sambil tersenyum. Senna pun hanya mengangguk dibarengi senyuman tipis di wajahnya. Yoyo terus memandangi kaca spion sebelah kirinya yang masih menampilkan wajah senna yang semakin lama semakin kecil dan menandakan dirinya mulai menjauh dari posisi senna berdiri. Beberapa menit lamanya suasana di mobil sangat hening, yoyo bingung harus berbuat apa. Padahal tadi sudah tersusun beberapa rencana untuk menyelidiki senna dan juna lebih lanjut. Drrtt…. Drrtt… Dan untungnya saat itu ponsel yoyo bergetar menampilkan nama bobby yang sedang menghubunginya. ‘Halo.’ ‘Bang…’ Setelah itu yoyo menceritakan semua yang dia lihat tadi pada bobby secara detail hingga dia bisa mengantarkan senna pulang. Semua hal yang yoyo ceritakan pada bobby tentu saja membuat sahabatnya itu pusing. Urusannya dengan dee saja belum selesai, sekarang ditambah urusan yoyo. Jika bobby tidak ingat bagaimana yoyo yang selalu ada dan menolongnya, mungkin sudah sejak tadi dia memaki sahabatnya itu. *** Pagi ini yoyo berdiri didepan kacanya sambil menyakinkan dirinya bahwa dia akan melancarkan aksinya untuk bisa mendekati senna hari ini. Dia harus bisa melakukan apapun caranya untuk bisa sekedar mengobrol bersama. Ya, cukup mulai dengan mengobrol. Dia ingat dengan apa yang bobby katakan, bahwa abi bisa melakukan semua yang yoyo inginkan. Abi adalah jalan termudah sebelum bobby benar - benar menemukan semua yang disimpan oleh senna. Setelah menghabiskan hampir satu jam untuk merubah diri yoshua menjadi abi, yoyo meneguk beberapa gelas air putih dingin agar tubuhnya lebih rileks. Sejujurnya dia sangat ragu. “Lo bisa yo, lo bisa bi. Kalian bisa!!” yoyo menyemangati dirinya yang kini dalam wujud abi. Lalu abi keluar dan menyapa satpam yang sudah mengenalnya sebagai teman yoshua sambil membawa sepedanya. Pagi yang indah dengan udara sejuk membuat abi sedikit tenang. Dia yakin pada dirinya, bahwa dia berhasil hari ini. Saat mengayuh sepeda yang mengarah ke restoran, dari kejauhan abi melihat senna baru saja turun di halte dekat restoran dengan wajah yang lusuh. Lebih parah dari yang kemarin dia lihat. Seketika hal itu membuat alis abi mengerut, hatinya langsung menduga - duga dengan apa yang terjadi setelah kemarin ia mengantarkannya pulang. Tanpa sadar abi mengayuh sepedanya untuk semakin mendekat ke arah senna. “Pagi…” sapa abi pada senna yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. “...” senna tak langsung menjawab, tapi kepalanya langsung menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya. “Selamat pagi…” abi mengulang sapaannya. “Pagi.” sebuah sapaan balasan yang diberi senna terdengar sangat datar. “Lo kurang tidur ?” abi mencoba menebak untuk bisa memulai pembicaraan dengan senna. “Hmm…” “Kenapa ?” “...” senna kembali diam sambil kembali berjalan menunduk. Entah apa yang ada di sepatunya hingga gadis itu terus melihatnya. “Sen…” panggil abi. “G-gue pindahan.” “Pindahan ?” “Iya.” “Kemana ?” tanya abi dengan nada bicara yang sedikit terdengar kaget. Dia takut jika tiba - tiba senna pergi sebelum dia bisa mendekatinya. “Ke apartemen kakakku.” jawab senna dengan nada lemas. Tapi hal itu justru membuat hati abi lega. “Ohh….” “Kenapa ?” tanya senna dengan wajah bingung. “Enggak.” “...” lalu keduanya terdiam. “Lo mau naik sepeda nggak ?” tiba - tiba abi sudah turun dan menuntun sepeda miliknya. “Nggak perlu.” “Coba dulu, naik sepeda di pagi hari bikin tubuh lo lebih bersemangat.” kata abi sambil menyerahkan sepedanya ke arah senna. Melihat hal itu senna langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah sepeda milik abi. “Nggak usah. Gue takut jatuh.” “Kenapa harus takut ? Jatuh dari sepeda itu biasa, sen. Namanya juga naik sepeda, semuanya harus seimbang. Sama kayak kehidupan ini, semuanya juga harus seimbang. Kalo nggak ya jatuh dan terluka.” abi mulai mengeluarkan jurus filosofi hidupnya di pagi hari pada senna. Sebenarnya bukan abi, lebih tepatnya yoyo yang melakukan hal itu hanya saja dalam wujud abi. “...” senna kembali terdiam. Dia sebenarnya bisa mengendarai sepeda, tadi dia hanya ingin mencari alasan untuk tidak mengedarai sepeda abi. Tapi yang ada dia malah mendengarkan petuah dari seseorang yang bahkan tidak bisa dikatakan sebagai teman. Karena mereka saja tidak dekat dan baru kenal beberapa hari, parahnya lagi baru pagi ini mereka saling berbicara. Lebih mengesalkan lagi saat semua kata - katanya adalah kebenaran. Senna tahu itu, tapi dia berusaha menghindarinya. “S-sen…. Sorry, gue bikin lo tersinggung, ya ?” tanya abi dengan wajah bersalah. “Nggak kok, gue nggak papa.” “Jadi…” “Apa ?” “Mau nyobain naik sepeda di pagi hari nggak ?” abi kembali mengarahkan setir sepeda ke arah senna. “Oke. Terus lo gimana ?” senna akhirnya menerima sepeda milik abi. “Gue ?” senna mengangguk. “Gue lari ngejar lo, sen.” lanjut abi sambil tersenyum. “Dasar kekanakan!!” “Udah coba aja dulu, sen.” abi akhirnya mengarahkan tubuh senna agar segera menaiki sepeda miliknya. Setelah itu senna langsung mengayuh sepeda abi perlahan. Awalnya dia benar - benar mengayuhnya dengan sangat pelan seperti ingin menunggu abi. “Segini doang kecepatan lo, sen ?” ejek abi yang kini sudah berlari disebalahnya. “Mau balapan ?” “Siapa takut!!” “Oke!!” setelah itu senna menambah kecepatan mengayuh sepedanya, semakin cepat hingga meninggalkan abi jauh dibelakang. Hal itu sontak membuat abi tersenyum lebar, karena saat itu dia melihat wajah senna yang kembali ceria seperti biasanya. “Ayo dong, cemen lo masa kalah sama gue!!!” teriak senna yang mulai mengejek abi karena masih berada dibelakangnya. “...” tapi abi hanya diam dan tersenyum sambil terus berlari mengejar senna dengan kecepatan standart. ‘Gue akan kejar lo, sen. Bahkan sampai ke ujung dunia pun, asal gue bisa liat lo senyum terus kayak gini.’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN