BAB 10 : MULAI NYAMAN

1503 Kata
Senna dan abi sampai di restoran dengan nafas yang terengah, tapi ada senyuman di wajah senna. Itu yang paling terpenting. Mengingat tadi sebelum berangkat hati abi bimbang dan meragukan dirinya, ternyata saat melihat perubahan pada diri senna membuatnya bertindak secara alami. Bahkan sangat alami untuk seseorang yang baru saling mengenal tapi selalu ingin menjaga. “Gimana ?” Tanya abi sambil mengusap keringat di keningnya menggunakan handuk kecil yang sepertinya sengaja dia bawa. “Lumayan.” Jawab senna sambil tersenyum. Dan senyuman itu ternyata menular pada abi. “Baguslah kalau begitu.” “Yaudah, gue masuk duluan ya bi.” Pamit senna setelah mengembalikan sepeda milik abi. “Oke.” Dan pagi yang indah dan tak terduga bagi abi itu membuatnya berjalan dengan semangat dan senyum mengembang saat masuk ke dapur utama. “ABI!!!” Panggil seseorang dari arah belakang abi, seketika dia berbalik dan menemukan andre yang merupakan asisten juga orang kepercayaannya itu sedang tersenyum bahagia. “Kenapa ?” Abi langsung menanyakan arti senyuman andre yang penuh arti itu. “Tadi…. Gue liat lo bareng senna.” Kata andre dengan riang. Padahal yang bersama senna adalah abi, tapi justru andre yang terlihat lebih bahagia. “Terus ?” “Lo pura - pura nggak bahagia didepan gue ?” “Lah justru gue yang bingung kenapa lo yang kelihatan lebih bahagia.” “Gue bahagia buat lo, bi.” Kata andre sambil menepuk bahu abi. Sebelum bereaksi abi menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk memastikan situasi sekitar. “Tadi nggak ada karyawan lain yang lihat kan ?” Tanya abi sambil berbisik. “Kenapa emangnya ?” “Jawab aja!! Ada yang lihat selain lo nggak ?” Andre langsung menggeleng dengan wajah bingung. “Kenapa sih emangnya ?” Tanya andre. “Situasi senna lagi berantakan banget. Tadi gue ngelakuin itu buat hibur dia. Jadi untuk sekarang pastikan jangan sampai ada yang tahu.” Andre mengangguk dengan sedikit ragu. “Sampe kapan ?” “Sampe gue tahu penyebabnya.” “Oke, bos!!!” Andre menjawab sambil kembali tersenyum. “Gue bener - bener nggak nyangka perasaan lo dalem juga ya buat senna, bi.” Goda andre. Seketika mata abi melotot mendengar kalimat itu keluar dari mulut asistennya. “Bonus lo mau gue potong ? Atau lo pura - pura lupa kalo kita lagi berdua gini kudu manggil apa ?” Jurus ancaman abi langsung dikeluarkan untuk membungkam mulut andre yang terkadang benar tapi tak ingin diakuinya. “Eh…. Enggak, pak bos.” Andre menjawab dengan sedikit tergagap. “HAHAHA!!!! Lo rasain tuh, emang enak gue bales…” kata abi yang langsung pergi meninggalkan andre yang bingung dengan perubahan bosnya dalam waktu sekejap. Akhirnya abi masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian koki yang ada di loker miliknya. Setelah itu dia mulai mempersiapkan semua bahan seperti biasa. Sedangkan senna yang sejak tadi sudah sampai di ruangannya hanya duduk termenung di sofa nyaman dengan tatapan kosongnya. Semakin dekat waktu pindahannya ke penthouse milik kakak iparnya, semakin perasaan tak nyaman memenuhi diri senna. Karena kata - kata yang pernah ia dengar kembali terngiang dan hal itu sangat mengganggu. Susah payah dia pergi dari rumah agar bisa menjauh dari sang mama yang selalu membahas masa lalu. Bahkan senna sengaja memblokir nomor ponsel milik mamanya agar dia tak perlu membaca pesan dengan isi yang sama setiap harinya. Kenangan saat dia jatuh hati pada pandangan pertamanya kembali muncul. Wajah tampan, senyuman yang menenangkan, bahkan suaranya pun sangat meneduhkan hati senna. Tapi saat itu dia tahu bahwa pria itu datang bersama sang kakak. Pria yang menjaga kakaknya. Bahkan terlihat sangat bertanggung jawab karena memilih untuk mengantarkan kakaknya yang mabuk itu pulang kerumah. Mungkin jika pria lain yang menemukan kondisi kakaknya mabuk akan dengan senang hati mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi ini berbeda. Juna justru terlihat sangat menyayangi olivia. Tapi senna yang polos malah jatuh hati dengan pesona juna. Awalnya dia merasa bahwa hanya ada rasa kagum untuk juna. Tapi entah kenapa lama kelamaan perasaan itu semakin membuatnya tak bisa berpaling pada pria lain. Karena bagi senna, juna adalah pria pertama yang berhasil membuatnya merasakan jatuh cinta. Bahkan saat kejadian buruk menimpa sang kakak, senna ikut bersedih karena harus pindah dari Jakarta. Dia tidak bisa lagi melihat juna. Mungkin dia menjadi gadis tersedih karena keputusan pindah itu, karena saat keputusan diambil kakaknya mulai kehilangan ingatannya. Senna sangat ingat betapa terpukulnya sang kakak waktu itu hingga dia melupakan semua kejadian yang membuatnya terluka. Tak hanya itu saja, olivia pun berubah menjadi pribadi yang baru. Sangat berbeda dengan olivia yang saat itu membuat juna jatuh hati. Bertahun - tahun berlalu, senna mulai melupakan sosok juna. Tapi dia masih tak bisa menerima pria lain di hidupnya. Kakaknya pun sudah dipastikan lupa dengan juna. Hanya saja takdir berkata lain. Saat mamanya semakin menekan olivia, semakin kakaknya itu memberontak dan akhirnya pergi meninggalkan rumah. Saat itu pula ternyata takdir mempertemukan juna dengan olivia lagi bahkan mereka sekarang sudah menikah. Lalu bagaimana dengan senna ? Awalnya dia tak menyangka semua ini terjadi, tapi dia memikirkannya dengan baik - baik kalau ini sudah menjadi jalan yang Tuhan berikan. Bahwa juna memang merupakan takdir sang kakak. Dan senna hanya bisa menjadikan juna sebagai cinta pertama yang tak akan tergapai sampai kapanpun. Susah payah dia berdamai dengan dirinya agar bisa menerima kehadiran juna di keluarganya sebagai kakak iparnya. Bahkan senna pun berusaha melapangkan d**a dan menerima juna cukup hanya sebagai adik iparnya saja. Tapi lagi - lagi luka dan pengorbanannya untuk berdamai serta menerima kondisi ini kembali diuji. Tok…. Tok… Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan senna. “Masuk.” Kata senna sambil berjalan kembali menuju kursi miliknya. Saat pintu terbuka, senna melihat sosok abi berdiri dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku celana. “Lo sibuk ?” “E-enggak…” jawab senna dengan sedikit terbata. Entah kenapa sejak kejadian tadi pagi senna merasa setiap kali bertemu abi dia tak ingin terlihat lemah. “Oh…. Gue mau konsultasi. Bisa kan ?” Tanya abi. “B-bisa kok. Lo duduk aja.” Senna akhirnya mempersilahkan abi duduk lalu menyusulnya untuk duduk disofa. “Lo mau konsultasi apa ?” “….” Abi hanya diam sambil menggaruk kepalanya. Tiba - tiba dia merasa gugup karena duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan senna. Padahal dia pernah duduk dalam satu mobil yang sama dengan senna, hanya saja sebagai sosok yoyo. “Bi…” “Hmmm…. Itu…. Lo dari tadi ngapain aja ?” Tanya abi yang membuat senna melongo saat mendengarnya. Dia sangat kaget abi menanyakan hal seperti itu. Tapi dia juga merasa bingung harus menjawab apa. Pasalnya sejak tadi dia hanya duduk dan melamun. “Sen…” panggil abi. “Iya ?” “Lo makan siang dimana ?” “Makan siang ? Bukanya makan siang masih lama ya ?” “Ini udah jam sebelas siang, sen.” kata abi. Lalu senna melihat jam di pergelangan tangannya dengan kaget. Dia berulang kali mengusap matanya untuk memastikan bahwa dia tak salah lihat. Dan benar saja ini memang sudah jam sebelas siang. Jadi, lamunan senna itu sudah berjam - jam lamanya. “Gue… nggak tau.” “Gitu, ya…” “Lo katanya mau konsultasi ?” Tanya senna lagi. “Iya. Tapi gue bingung harus mulai dari mana ?” “Kenapa ?” “Karena gue bener - bener lelah sama kerjaan disini.” Kata abi dengan suara lemah. “Gue tau, bi. Pasti kerjaan lo paling berat disini.” “….” “Nah, karena lo adalah karyawan pertama yang konsul sama gue. Jadi, gue mau dengerin semua cerita dan keluh kesah lo.” “Beneran ?” Tanya abi dengan mata berbinar. “Beneran.” Senna menanggapi dengan wajah meyakinkan. “Tapi sebelumnya, lo isi ini dulu.” Kata senna sambil menyodorkan sebuah form yang berisikan data dan beberapa pertanyaan formalitas yang dia buat untuk konsultasi ini. “Oke.” Abi langsung menerima form itu dan mulai mengisinya. Sedangkan senna duduk disebelah abi sambil memperhatikan pria yang sedang menulis itu. Suasana ruangan senna pun kembali hening. Tok…. Tok… Tiba - tiba suara ketukan pintu membuyarkan keheningan yang tercipta di antara senna dan abi. “Masuk.” Kata senna. Saat pintu terbuka, sosok andre dengan nafas terengah dan wajah panik langsung membuat senna berdiri dari duduknya. “Andre, ada apa ?” “Itu…. Itu…” andre tak bisa melanjutkan kata - katanya karena nafasnya masih terengah. “Ada apa ?” Kali ini abi yang bertanya. “Bi, kita kedatangan rombongan di ruang VIP.” Akhirnya andre mengatakan sumber yang membuatnya panik dalam satu tarikan nafas. “Apa ?!” “Buruan, lo harus liat sendiri.” Ajak andre. “Sen, gue tunda dulu konsultasinya.” Kata abi yang kini langsung memberikan form miliknya pada senna. “Iya. Gue ngerti. Lagian ini juga udah deket waktu makan siang.” Abi hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan senna sendiri di ruangan. Entah kenapa kepergian abi membuatnya kembali merasakan sepi dan sesak seperti saat dia melamunkan kenangan masa lalu memilukan miliknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN