Senna merasakan perubahan pada dirinya setelah abi berhasil menghiburnya tadi. Dia sangat sadar bahwa pria itu sepertinya tahu kebohongannya, hanya saja dia lebih memilih untuk tidak peduli dengan hal itu. Dan senna menghargai itu.
Setelah abi keluar dari ruangannya tadi, senna langsung berinisiatif untuk menyusulnya. Mengingat bahwa jam makan siang akan segera tiba, jadi pasti semua karyawan sibuk. Jika senna terus berada disini tanpa membantu rasanya akan sangat tak berguna.
Saat sedang berjalan menuju ke lobby restoran, senna sempat melewati dapur utama. Disana terlihat dengan jelas betapa cekatannya abi saat memasak. Bahkan terlihat sangat profesional daripada yang dibayangkan. Sesaat senna merasa sangat tertarik melihat abi yang sibuk bekerja. Pemandangan yang entah kenapa meneduhkan, padahal wajah abi tidak terlalu tampan. Apalagi gaya berpakaian abi yang sangat berantakan menurut senna.
“Sen!!!” panggil sita saat senna masih sibuk melamunkan abi.
“....” tak ada jawaban dari senna.
“SEN!!! SENNA!!!” kali ini sita memanggil sambil menggoyangkan lengan senna.
“Hah ??! Heh, kenapa sit ?” tanya senna dengan wajah terkejutnya, lalu tiba - tiba wajahnya berubah menjadi merah karena takut temannya itu menyadari bahwa sejak tadi dirinya sedang memandangi abi.
“Lo ngapain ?” tanya sita.
“Itu…. itu… gue lagi ngeliatin bagian dapur kayaknya sibuk banget ya ?” jawab senna dengan sedikit tergagap. Dia harus memutar otaknya dengan cepat agar tak salah jawab.
“Oh, gue kirain…” sita tak melanjutkan kata - katanya, tapi dari senyumnya itu senna tahu kalau dia pasti berpikiran sama dengan apa yang ditakutkannya.
“Kirain apa ?”
“Enggak, gue kirain lo laper soalnya kayak pengen makan orang gitu.” kali ini sita benar - benar mengatakan kalimat itu dengan wajah jahil yang semakin membuat wajah senna semakin memerah. Dia tahu maksud sindiran halus itu, bahwa dia ketahuan sedang memandangi abi. Hanya itu intinya.
“Apaan sih, sit. Enggak kok gue beneran lagi perhatiin kinerja orang dapur.” senna kembali mencari - cari alasan sambil berjalan menjauh dari area dapur. Dan saat itu ternyata abi sudah melihat keberadaan sita dan senna disana. Lalu hanya ada senyuman dan kedipan sebelah mata sita yang cukup membuat senyuman abi menjadi sangat lebar.
Akhirnya senna pergi menuju ke arah lobby restoran dan mulai membantu yang lain untuk mengatur tamu yang mulai berdatangan. Seperti biasanya semua orang akan sangat sibuk saat waktu makan siang tiba, tak terkecuali. Senna sedikit melupakan kenyataan bahwa hari ini dia harus pindah ke penthouse milik kakak dan kakak iparnya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam senna lebih nyaman dan merasa aman jika tinggal dengan aira, tapi lagi - lagi ancaman sang kakak membuat nyalinya ciut. Jika pilihannya adalah merasa tak nyaman tapi dia masih bisa melanjutkan misi kaburnya ini atau memilih hidup nyaman dan aman bersama aira tapi harus dipaksa kembali ke Bandung, maka senna akan memilih untuk menahan rasa tak nyaman nya untuk bisa terus bertahan hidup seperti ini.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua, suasana di restoran sudah mulai kondusif daripada sebelumnya. Maka dari itu setengah karyawan akan secara bergantian untuk istirahat dan makan siang. Senna pergi bersama sita pergi untuk beristirahat dan makan siang terlebih dahulu dengan beberapa karyawan lainnya. Sama seperti sebelumnya, mereka makan bersama sambil mengobrol ringan.
Senna yang memang kehilangan selera makannya akhir - akhir ini pamit untuk kembali terlebih dahulu. Lalu saat dia melewati bangku taman belakang dekat kolam ikan dia kembali menangkap sosok yang tak asing.
“Abi…” panggil senna yang memilih untuk ikut duduk disamping abi. Tidak seperti sebelumnya, saat itu dia hanya meletakkan botol air mineral dan pergi bergitu saja.
“Hmm…” abi hanya menjawab dengan gumaman.
“...” senna yang merasakan perubahan sikap abi merasa aneh hingga kedua alisnya saling bertautan.
“Ada apa ? Lo udah makan ?” tanya senna dengan santai. Entah kenapa setelah kejadian tadi pagi dan saat bertemu di ruangannya, senna ingin berteman lebih dekat dengan abi.
“Belum. Gue nunggu seseorang.” jawab abi. Dan senna merasa sedih saat mendengar hal itu.
“Oh…”
“Yaudah kalo gitu gue pergi dulu, ya.” dengan tiba - tiba senna berdiri dan bersiap pergi meninggalkan abi sendirian.
“Mau kemana ?” tanya abi sambil menahan pergelangan tangan senna.
“Duduk dulu.” kata abi lagi sampai senna kembali terduduk.
“...”
“...” beberapa menit kemudian keduanya hanya saling diam.
“Lo temenin gue makan.”
“Gue ?”
“Kenapa ?”
“Tapi gue udah makan.”
“Oh… makan aja lagi. Nih!!” abi menyodorkan sepotong roti isi ke arah senna tanpa melihat.
“...” senna hanya bisa diam karena kebingungan harus merespon apa.
“Nih!!” kali ini abi sedikit memaksa senna menerima roti isi itu sambil menarik tangannya.
“Makan, sen.” kata abi dengan sedikit penekanan. Lalu, dia membuka plastic wrap yang membungkus roti isinya dan mulai menggigitnya.
“Ayo, dimakan. Mungkin nggak seenak yang ada di cafe, tapi ini cukup untuk bertahan.”
“...” senna hanya diam.
“Gue tau, sen. Pura - pura ceria dihadapan orang lain itu habisin banyak tenaga.” lanjut abi.
“Bertahan ? Pura - pura ceria ? Maksud lo apa ?” tanya senna yang benar - benar tak mengerti dengan makna tersembunyi dari perkataan abi.
“Gue maksudnya.”
“Lo ? Emang lo kenapa ?” tanya senna dengan penasaran.
“Ya…. hidup kan nggak selalu mulus, sen. Pasti ada diantara kita berdua yang memang harus pura - pura bahagia dan ceria di depan orang lain. Nggak mungkin kan kita harus membuat semua orang mengerti tentang penderitaan yang sedang kita alami.” jelas abi panjang lebar.
“Iya, lo bener. Pura - pura emang butuh tenaga ekstra.” tanpa berlama - lama senna langsung menyetujui kalimat yang abi katakan.
“Gue makan ya, bi.” lanjut senna. Dan abi hanya mengangguk sambil tersenyum.
Akhirnya mereka berdua makan dalam diam, abi makan sambil mencuri pandang ke arah senna yang sedang makan sambil menatap kosong kolam yang berada di depannya.
“Lo juga butuh tenaga ekstra buat pura - pura bahagia ?” tanya abi.
“Mmm…. enggak, gue butuh tenaga ekstra buat pindahan.” jawab senna tapi kali ini sambil menghindari tatapan abi.
“Oh…. masalah itu. Gue bisa bantu kalo cuma urus pindahan aja.”
“Emang lo mau gue suruh angkat - angkat barang ?” tanya senna yang hanya mendapatkan hadiah tawa renyah abi.
“Jangankan angkat barang - barang, sen. Sama lo juga bisa gue angkat sekaligus, orang lo kecil gini.” canda abi sambil menyenggolkan bahunya ke bahu senna hingga akhirnya mereka tertawa bersama. Awalnya senna merasa aneh saat mendengar candaan abi. Tapi jika dilihat - lihat lagi abi memang sanggup mengangkat dirinya bersama dua koper miliknya sekaligus. Badan atletis abi ini sepertinya memang tak bisa diragukan kemampuannya.
Senna pun menolak lupa tentang bagaimana kecekatan tangan abi saat didapur tadi.
“Lo kenapa ?” tanya abi yang kebingungan ketika melihat senna tiba - tiba terdiam.
“Enggak…. Gue nggak papa.”
“Sandwichnya enak ?” senna hanya mengangguk.
“Gue nggak bisa meremehkan keahlian masak lo, bi. Ini enak kok, bahkan lebih enak dari cafe.” abi hanya tersenyum saat mendengarnya. Ini adalah makanan pertama buatannya untuk senna. Dan ternyata mendapatkan komentar yang sangat cukup membuat abi tak bisa tidur nanti malam.
“Gue bisa kok bikin ini tiap hari buat lo.” kata abi singkat.
“Lo apaan sih, nggak perlu repot - repot gitu lah.”
“Gue serius, sen. Kalo lo beneran suka gue bisa bikinin tiap hari.”
“...” senna terdiam.
“Sen ?” abi menggoyang - goyangkan tangannya didepan wajah senna.
“Hah ? Apa ?”
“Gimana ?”
“Terserah lo aja.” senna langsung menyetujui saja karena tak enak jika harus menolak abi.
“Oke.”
“Gue bakal bikin isinya berbeda tiap hari.” lanjut abi.
“Gue tunggu.” kata senna, lalu keduanya tertawa.
“Bi, bukannya lo tadi nunggu seseorang ?”
“Oh, itu. Nggak usah dipikirin.”
“...” senna kembali mendapatkan teka - teki abi, tapi dia tak ingin memikirkannya terlalu dalam. Ini bukanlah kuasanya untuk bisa ikut campur dalam urusan abi. Setidaknya tidak hari ini karena mereka baru benar - benar mengobrol sejak kejadian pagi tadi. Dan itu hanyalah obrolan ringan selayaknya teman baru.
“Oiya, tadi bukannya lo mau konsultasi ya ?” tanya senna lagi.
“Iya, tapi kayaknya nggak sekarang deh.”
“Kenapa ?”
“Karena lo masih istirahat. Dan gue juga istirahat. Jangan gunakan waktu istirahat berharga kita ini sia - sia.” kata abi.
“Gue setuju. Kalo gitu nanti gue tunggu, ya.” mendengar kalimat senna yang akan menunggunya seketika membuat jantung abi berdebar hebat. Dia lemah untuk urusan ini.
“...” abi hanya mampu terdiam.
“Bi, gue udah selesai makannya. Gue duluan, ya. Jangan lupa keruangan gue. Gue tunggu.” kata senna yang langsung pergi begitu saja saat menyadari abi tak memberikan respon apapun.
Beberapa menit setelah menyadari dirinya sendirian, abi merasa sedikit linglung. Dia benar - benar tak tahu harus berbuat apa saat mendengar senna menunggunya. Selain itu dia juga memikirkan bahwa senna sebenarnya menyembunyikan sesuatu yang besar untuk dirinya sendiri dan seakan tak ingin membaginya. Abi tahu semuanya. Dia juga tahu bahwa senna tak selera makan karena hal ini. Untung saja sita siaga berada disekitar senna, jadi dia bisa mengandalkannya sebagai informan.
‘Aku akan membantumu menanggung semua masalah ini, sen. Aku akan membuka pintu yang selama ini tertutup.’
***