Suara pendingin ruangan terdengar lebih keras daripada biasanya dan mengisi keheningan yang tercipta antara senna dan abi. Mereka sedang duduk bersama di sebuah sofa dengan jarak yang terbilang sangat dekat. Sangking dekatnya sampai terkadang kaki mereka tak sengaja bersentuhan.
Abi diam sambil sesekali menahan nafas karena dia merasa detak jantungnya berdetak terlalu keras hingga sampai ke telinganya kali ini. Hal serupa juga terjadi pada senna. Gadis itu juga diam - diam merasakan debaran yang tak biasa.
“Ehem!!” tiba - tiba abi berdehem untuk melegakan tenggorokannya sebelum mulai berbicara.
“...” senna yang entah kenapa menjadi berubah gugup lalu mengambil gelas minumnya untuk menenangkan diri.
“Sen.”
“Bi.” mereka saling memanggil secara bersamaan.
“Ladies first.” kata abi mempersilahkan.
“Mmm…. itu apa yang mau lo konsultasikan ?” tanya senna sambil terus berusaha menghindari tatapan mata abi.
“Gue…. itu gue mau…. Hmm…” abi menjawab dengan sedikit terbata.
“Kenapa ?”
“Itu…. gue…. Sebenernya gue kaget sama kerjaan di restoran ini.” kata abi pada akhirnya.
“Oh…. gitu. Gue tau sih, sebenernya gue juga kaget. Apalagi ini kali pertama gue kerja.” balas senna.
“Gue setuju. Ini juga kali pertama gue kerja.” abi mulai menjalankan misinya. Ternyata debaran itu kalah dengan otaknya yang bisa memerintahkan bibirnya mengatakan sebuah kebohongan untuk menarik perhatian senna secara alami.
“Lo…. baru pertama kali kerja juga ?” abi mengangguk.
“Selama ini gue cuma bantu - bantu usaha keluarga gue.”
“Oh…. jadi gitu. Terus ?”
“Terus, gue mulai nggak tahan waktu kakek gue terus maksa buat nikah.” kata abi dengan suara rendah dan wajah memelas. Sebenarnya yang dikatakan abi tidak sepenuhnya berbohong. Selama ini dia memang membantu mengurus perusahaan milik keluarganya. Dan karena senna berada di perusahaannya untuk magang, maka terciptalah ide ini untuk bisa mendapat hatinya. Setidaknya kakeknya akan berpikir bahwa dia benar - benar berusaha mencari jodohnya.
“Nikah ?” tanya senna sambil menahan tawa.
“Lucu emang masalah hidup gue.” abi kembali menampilkan wajah memelasnya.
“Bukan… bukan gitu.”
“Terus ?”
“Nggak papa. Kalo boleh tau, emang umur lo berapa ?” tanya senna yang terlihat mulai nyaman mengobrol dengan abi.
“Gue ?” senna mengangguk.
“Umur gue…. 23 tahun.”
“23 ?” abi menjawab dengan anggukan kepala.
“Kenapa ?”
“Enggak, lo seumuran sama kakak gue.” jawab senna.
“Lo punya kakak ?”
“Punya.”
“Kakak yang maksa lo buat pindah itu ?” kali ini senna menjawab dengan anggukan dan wajah memelasnya.
“Kakak lo cowok pasti, ya ?”
“Bukan…. Kakak gue cewek.”
“Oh, gue kira. Soalnya posesif gitu sampe maksa - maksa pindah.”
“Kakak gue emang gitu.” setelah menjawabnya, senna seperti melihat ke arah lain dan kembali menghindari kontak mata dengan abi. Dan abi sadar akan hal itu. Dia tahu bahwa senna menyimpan sesuatu jika sudah bersikap seperti ini.
“Sen…” panggil abi.
“Ya ?”
“Jadi gimana ?”
“Gimana apanya ?”
“Gue bantuin lo pindahan, ya ?” tanya abi lagi dengan wajah sedatar mungkin, agar senna tak menyadari bahwa dia memiliki niat lain.
“Itu… gue… bisa sendiri.”
“Yakin ?”
“Gue yakin.” jawab senna mantap. Abi pun merasa sedih ketika langkah awalnya tak mendapat sambutan baik dari senna.
“Yaudah. Gue pamit dulu kalo gitu.” tiba - tiba abi berdiri dan bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan senna. Sejak waktu pulang tiba abi merutuki kaki yang membawanya ke ruangan senna karena kejadian siang tadi. Kata - kata senna yang menunggunya terus terngiang dan tanpa sadar membuat alam bawah sadarnya yang menyambut baik langsung membuat abi melangkahkan kakinya begitu saja. Padahal sejak tadi niatnya itu sudah maju mundur untuk datang atau tidak.
Dan benar saja, ketika sudah berada didalam ruangan berdua bersama senna mereka berdua hanya bisa diam membisu tanpa ada yang berusaha memulai pembicaraan.
Saat abi melangkah menuju ke pintu keluar ruangan, senna yang tadinya sibuk membereskan barang - barang miliknya merasakan perasaan aneh melihat punggung abi yang mulai menjauh.
“Sen, gue balik dulu.” pamit abi saat sudah berada di ambang pintu.
“Iya.” jawab senna. Setelah itu abi benar - benar keluar meninggalkan senna sendirian.
Beberapa menit berlalu, senna malah memilih duduk kembali di kursinya sambil mengotak - atik ponsel miliknya. Sejujurnya dia sangat malas untuk pulang. Walaupun jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh, tapi senna masih betah berada disana.
Tok…. tok…
Tiba - tiba terdengar suara ketukan di pintu ruangan senna.
Awalnya dia merasa aneh dengan orang yang mengetuk pintunya di jam ini, hampir semuanya tahu bahwa jam kerja senna hanya sampai jam lima sore saja.
“Masuk.” kata senna dengan wajah bingung.
“Sen…” tiba - tiba terdengar suara yang sangat senna kenali memanggil namanya.
“Lo ?”
“Kita makan bareng, yuk ?” ajak orang yang tak lain adalah abi. Padahal sudah setengah jam lamanya setelah kepergian abi tadi.
“Kok lo balik lagi ?” tanya senna dengan wajah bingung.
“Itu…. barusan aja gue dapet telfon dari adek gue, mereka bilang pengen gue ketemu sama gadis pilihan mereka.” kata abi dengan wajah yang terlihat kesal.
“Oh…. terus ?”
“Ya, gue nggak mau dong. Dikira ini zaman siti nurbaya apa gimana masih pake jodoh - jodohan segala ?” gerutu abi dengan wajah yang benar - benar sudah berubah kesal.
“Oke, tunggu gue lima menit lagi.” jawab senna sambil berdiri dan benar - benar membereskan semua barang - barangnya. Setelah itu, dia langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar dimana abi sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya dengan wajah kesal.
“Udah ?” senna menganggukan kepala.
“Lo mau makan apa ?” tanya senna, lalu abi langsung terlihat berpikir.
“Gue bisa makan apa aja. Lo suka makan apa ? Gue ikut lo aja.” kata abi yang ternyata membuat senyuman nampak di wajah senna.
Setelah itu kedua orang ini keluar dari ruangan bersama dan berjalan menuju parkiran dimana tempat sepeda milik abi berada. Diam - diam semua karyawan yang mendapat jatah shift sore mulai menatap senna dan abi yang terlihat akrab dengan pandangan menggoda.
Tapi kedua anak baru itu tetap saja berusaha cuek dan mengabaikan godaan dari teman - temannya. Mereka mulai mengobrol selayaknya teman akrab. Bahkan abi juga memilih untuk menuntun sepeda miliknya dan ikut berjalan bersama senna.
“Gue mau makan mie yang pedes banget.” tiba - tiba senna teringat makanan yang dia makan bersama aira kemarin.
“Mie ?”
“Mie instan ?”
“Mie apa aja yang penting harus bisa bikin gue kepedesan.” kata senna.
“Mau cobain makan ramen aja ?” tanya abi pada akhirnya, karena dia bingung dengan penjelasan ambigu senna tentang mie pedas seperti yang diinginkan.
“Boleh.” Senna langsung setuju pada ide abi.
“Oh, ya bi.”
“Kenapa ?”
“Kalo gue berubah pikiran, gimana ?”
“Berubah pikiran gimana ?”
“Gue mau lo nemenin gue pindahan.” kata senna sambil menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong.
“Lo yakin ?”
“Yakin.”
“Oke.”
“Kalo gitu kita ambil barang - barang gue dulu, setelah itu ke tempat gue pindahan. Seinget gue disebelahnya itu ada mall. Nanti kita makan disana aja.” usul senna.
“Oke, gue ikut lo aja.”
“Yaudah, ayok.” setelah itu abi menitipkan sepedanya di restoran untuk membantu senna pindah malam ini. Setidaknya tanpa berusaha lebih keras Tuhan pun memberikan jalan untuk abi mendekati senna.
Mereka berdua menaiki bus yang biasa senna naiki untuk pergi dan pulang dari apartemen menuju ke restoran. Abi pun diam - diam menikmati suasana berdua bersama senna. Sebuah kegiatan pulang bersama yang sederhana tapi jauh lebih menyenangkan, apalagi berada ditengah banyak orang yang bisa membuat abi menyalurkan keinginannya untuk melindungi senna. Seperti dia duduk di pinggir dekat jalan atau abi mengulurkan tangannya untuk membantu senna turun dari bus.
Setelah setengah jam berlalu, mereka berdua sampai di halte depan apartemen tempat senna tinggal selama ini. Apartemen yang sebenarnya abi ketahui saat menjadi yoyo.
“Sudah sampai, ayo turun.” ajak senna. Setelah itu mereka berdua berjalan menuju ke lobby apartemen.
Belum sampai abi dan senna melangkahkan kakinya masuk melewati lobby, tiba - tiba langkahnya terhenti. Dia melihat sosok yang sangat dia kenal dari kejauhan. Tidak, ini tak bisa dibiarkan.
“Sen, kalo lo naik ke atas dulu gimana ?”
“Kenapa ?” tanya senna dengan wajah bingung.
“Gue…. nggak enak berada di ruangan yang sama bareng dua cewek.” kata abi dengan wajah gugup.
“Oke.”
“Gue tunggu disini, ya ?” senna mengangguk lalu berjalan pergi menjauh dari abi.
Ketika senna sudah benar - benar masuk ke dalam lift, abi langsung berjalan menuju ke arah seseorang yang sedang menatapnya.
“Lo…. ngapain lo disini ?”
“Harusnya gue yang tanya, lo ngapain disini ? Dan ini apa, hah ?” tanya orang itu sambil melihat penampilan abi dari atas sampai bawah.
“Gue bisa jelasin.”
“Lo sembunyiin sesuatu dari gue ? Karena senna ?” abi hanya terdiam sambil menarik lengan orang itu agar mengikutinya.
“Gue….”
***