BAB 13 : ABI PERGI

1446 Kata
“Gue…” kata abi sambil menarik pria yang tak lain adalah hervi, sahabatnya. Dia mengajak hervi masuk ke pintu darurat. Bisa bahaya jika sampai ada yang mengetahui kedoknya sebagai abi. “Yo…. lo apaan sih ?” hervi merasa kesal saat diseret dengan paksa oleh abi. Dia tahu ada yang sedang tak beres terjadi pada sahabatnya. “Vi, gue bisa jelasin semuanya.” kata abi dengan wajahnya yang masih pucat seperti maling yang tertangkap basah. Bahkan keningnya pun sudah dibasahi oleh keringat. “Lo mau jelasin apa ? Kalo lo mau nipu adik ipar juna, gitu ?” tuduh hervi. “Bukan, justru gue mau deketin dia.” “Tapi nggak gini caranya, yo.” “Gue tau, tapi cuma ini jalan yang bisa bikin gue deket sama senna.” “Juna sama olivia tau masalah ini ?” abi hanya menggelengkan kepalanya. “Ya Ampun yo mau apa lagi lo ? Masalah mereka udah banyak.” “Gue tau.” “Jadi maksud lo apa ?” “Vi, dia nggak suka cowok tampan.” kata abi pada akhirnya dan ternyata sukses membungkam mulut hervi disertai matanya yang membulat sempurna. “Senna….” “Bukan bego!!” abi memukul lengan hervi sangat keras karena bisa - bisanya sahabat sejak kecilnya berpikir bahwa senna menyukai sesama. “Terus ?” “Gue juga nggak tau pastinya, tapi informasi yang gue dapetin senna nggak suka cowok tampan.” “...” hervi terlihat ingin menyela kata - kata abi. “Diem dulu, gue belum selesai!!” kata abi cepat. “Senna menyukai pria sederhana. Sejak awal lo tau gue menaruh hati pada senna, terus tiba - tiba dia magang di kantor gue. Pas gue mau melancarkan aksi pdkt justru kenyataan itu yang harus gue terima.” lanjut abi dengan wajah yang terlihat sedih. “Banyak drama lo, yo.” “Gue serius. Kalo lo nggak percaya coba aja tanya sama aira masalah itu. Gue yakin aira bakalan cerita hal yang sama.” “...” hervi terlihat diam dan memikirkan kata - kata yoyo. “Vi, tolong jangan bocorin masalah ini ke yang lain ya ? Nanti gue bakal kasih tau mereka.” mohon abi dengan wajah memelas dan terlihat ketulusan di matanya. “Sebelum yang lain tau lo kudu kasih tau juna sama olivia, yo. Mereka harus denger itu dari mulut lo sendiri. Jangan biarin orang lain yang sampein ini ke mereka.” saran hervi yang diangguki abi dengan sedikit keraguan. “Gue bakal bilang. Tapi nanti waktu gue tau senna punya masalah apa. Kemarin gue sempet liat senna bareng juna berdua.” kali ini giliran hervi yang terlihat ragu. “Senna sama juna berdua ?” abi mengangguk. “Tapi mereka kan…” “Kemarin mereka bertengkar. Dan gue yang anterin senna pulang waktu jadi yoshua.” “Oke. Gue ngerti, kalo gitu gue bantu cari tau juga kebenarannya.” “Makasih banyak, vi.” “Terus dengan dandanan lo yang kayak gini senna kenal lo sebagai apa ?” tanya hervi sambil menatap abi dari atas ke bawah dengan senyum tertahankan. “Abi. Gue kerja di resto jadi koki.” “Hahaha!!! Oke, abi.” goda hervi. Setelah itu kedua pria ini kembali keluar sambil tersenyum, seakan sebelumnya tak terjadi masalah diantara mereka. Abi pun mengantarkan hervi sampai ke lift, lalu dia pergi meninggalkan apartemen itu. Setelah kehebohan yang senna lakukan dan sukses membuat aira kembali uring - uringan karena sikap jahilnya yang kembali setelah beberapa hari belakangan ini senna lebih banyak diam. Dan ternyata setelah itu aira tetap memaksa untuk mengantarkan senna ke apartemennya yang baru. Mereka berdua membawa masing - masing satu koper di tangannya. “Kita naik taksi aja ya ?” kata aira yang diangguki senna begitu saja. Sebelumnya dia sempat melupakan abi yang sedang menunggunya di lobby. Saat akan masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka turun, tiba - tiba pintu lift yang hampir tertutup itu ditahan oleh sebuah sepatu di sela - selanya. “Sorry.” kata pria itu. Melihat siapa pria yang menahan lift mereka tadi membuat sikap aira berubah. Ternyata pria itu tak lain adalah tetangga yang akhir - akhir ini sering mengganggunya. Tapi hal lain justru ditunjukkan oleh senna. “Eh, abang.” sapa senna dengan suaranya yang terdengar ceria dan bersemangat seperti biasanya. “Lo kenal dia ?” bisik aira. Senna pun hanya mengangguk dengan anggukan kepala dan senyuman. “Kenal dimana ?” bisik aira lagi dengan penuh selidik. “Kapan - kapan gue ceritain.” senna menjawab dengan bisikan juga. “Oiya bang, kenalin nih kak aira.” kata senna pada hervi. Lalu dia menyenggol bahu aira untuk berkenalan. “Aku tau.” jawab hervi. Aira masih saja diam hingga senna melotot karena sikap kekanakannya. “Salamin kek, orang gue ceritanya lagi ngenalin kalian berdua.” bisik senna lagi. “Hervi.” hervi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan aira sesuai skenario yang senna buat. “Aira.” jawab aira dengan jutek. Melihat hal itu, senna malah tersenyum. Wajah aira memang terlihat cuek, tapi sebenarnya senna tahu bahwa sahabatnya itu masih curi - curi pandang ke arah hervi. Sedangkan hervi terus menampilkan senyum menawannya selama memperkenalkan dirinya pada aira. “Eh, udah dong mau salaman terus apa gandengan tangan aja sekalian ?” goda senna saat melihat tangan aira dan hervi masih terus bertautan. Sesaat kemudian tangan kedua orang ini langsung terlepas dan aira pun refleks menjaga jarak dengan hervi. “Padahal sebelumnya sudah pernah gandengan tangan kok.” kata hervi dengan santai. “Oh ya ? Kapan tuh, bang ? Kok aira nggak cerita sama gue ?” goda senna yang terlihat seperti sedang berada di pihak hervi untuk mendukung pria itu menggoda aira. Dan aira pun tentu saja kesal melihat sikap senna yang jahil. ‘Bisa - bisanya anak kecil ini mau jadi mak comblang!!’ gerutu aira kesal. “Mungkin aira bisa menjawabnya. Iya kan, ra ?” tanya hervi dengan nada menggoda dan senyuman jahil yang tak luntur menghiasi wajahnya. “Bodo amat!!” aira menjawab dengan cuek. TING!!! Untung saja lift yang membawa mereka sudah sampai di lantai tujuan, yaitu lobby. Senna berharap abi masih menunggunya, tapi jika abi memang pergi pun senna tak akan mempermasalahkannya. Karena dia sudah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk kembali beberes dan mengecek semua barangnya hingga melupakan abi yang sedang menunggunya. Tapi saat berjalan menuju ke arah luar, senna sudah memperhatikan ke sekelilingnya. Dan tidak ada sosok abi sama sekali disana. Demi menghindari pertanyaan aira karena sikap anehnya, senna memilih untuk diam. Dia juga merutuki dirinya sendiri karena lupa meminta nomor ponsel abi tadi. Senna takut jika abi masih menunggunya dan mungkin akan kembali kapan saja. Dalam hatinya dia merasa cemas. Saat ini, aira dan senna sedang berdiri di lobby luar sambil menunggu taksi online yang katanya sudah senna pesan sejak tadi. “Lo beneran udah pesen kan ?” tanya aira sambil memperhatikan ke sekelilingnya untuk mencari taksi online pesanan mereka. “Beneran.” “Kok lama banget sih ?!” senna hanya mengangkat bahunya. Padahal yang sebenarnya terjadi senna baru saja memesan taksi online karena sejak tadi dia lupa dan masih sibuk memikirkan abi. Juga karena dia tadi teringat tentang rencananya. “Butuh tumpangan ?” terdengar suara seorang pria yang ditemui aira dan senna beberapa menit yang lalu di dalam lift. Pria itu berada didalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka. “Nggak perlu!!” jawab aira cepat dengan sangat ketus. Senna yang melihat hal itu hanya bisa memutar matanya, dia lelah melihat sikap jutek sahabatnya jika sudah berhadapan dengan manusia yang bernama pria ini. “Boleh, kita mau ke apartemen kak juna.” setelah jawaban aira tadi, senna dengan santai menyetujui niat baik hervi dengan wajah tak berdosa. Mendengar hal itu aira melotot tak percaya, dia terlihat curiga dengan kedekatan yang terjalin antara senna dan hervi. “Lo lupa ? Dia kan sahabatnya kak juna.” bisik senna. Aira terlihat tak percaya dengan kenyataan yang benar adanya. “Kita searah kok, ayo masuk gue anterin.” kali ini hervi mengatakannya dengan sopan. “Nggak usah!!” aira terus saja berusaha menolak. “Udah, kita bareng bang hervi aja. Lagian taksinya juga udah gue batalin. Lumayan ay, hemat.” senna mendorong aira ke arah kursi penumpang di sebelah hervi. Sedangkan dirinya duduk dibelakang dengan tenang. Lalu tak lama dia jatuh tertidur. Senna merasa sangat lelah hari ini, otaknya pun terlalu lelah mengkhawatirkan kepindahannya ditambah lagi ia menduga - duga tentang keberadaan abi. Rasa bersalahnya ini terus membuat hatinya tak nyaman. Bahkan tadi mereka juga sempat berjanji untuk makan bersama. Jika dipikirkan lagi ini memang sudah sangat malam, mungkin abi juga sudah lelah menunggunya. ‘Maaf, abi.’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN