Selama perjalan menuju ke apartemen kakak dan kakak iparnya, senna sebenarnya tak benar - benar tidur. Tadi dia memang tertidur karena lelah memikirkan rasa bersalahnya pada abi dan kekhawatiran tak beralasan nya. Selain itu dia juga ingin memberikan waktu untuk hervi yang berusaha mendekati aira, sahabatnya.
Tapi ditengah perjalanan dia tetap pura - pura tertidur hingga akhirnya sorakannya mengejutkan kedua orang yang duduk di depannya saat mereka sudah sampai.
Senna turun begitu saja meninggalkan hervi dan aira membawa koper miliknya. Dia memang benar - benar memanfaatkan momen seperti ini agar hervi memulai perjuangannya. Walaupun pada akhirnya sikap jutek aira membuat hervi terus menggodanya. Tetap saja senna menikmati pemandangan itu.
Mereka bertiga berjalan menuju unit apartemen yang dulu ditinggali juna.
“Lo udah tau lantai berapa ?” tanya aira pada senna yang sibuk memperhatikan ponselnya.
“....” tidak ada jawaban yang senna berikan.
“Aku tau.” dengan cepat hervi ikut nimbrung dalam pembicaraan kedua sahabat itu.
“Aku nggak ngomong sama kamu, ya.” hervi hanya mengangkat bahunya cuek.
TING!!
Pintu lift terbuka, setelah itu hervi masuk terlebih dahulu baru disusul oleh senna. Sedangkan aira sempat terdiam seakan kakinya sangat berat untuk dibawa masuk.
“Kau ingin naik sendiri ?” tanya hervi.
“....” aira diam saja.
“Yaudah, silahkan nyusul kalo memang tau dimana tempat juna tinggal dulu.” kata hervi sambil menekan tombol untuk menutup pintu. Tapi sebelum pintu itu saling bertemu dan menutup aira menahannya dengan sebelah tangannya.
Tanpa bicara apapun dia langsung masuk dengan wajah kesal tentunya. Hervi yang berada di belakangnya tersenyum simpul. Sedangkan senna sudah menarik bibirnya selebar mungkin dan menunjukkan sebelah jempolnya pada hervi secara diam - diam.
“Ra, jangan terlalu kesel apalagi sampe benci sama cowok. Takutnya nanti lama - lama cinta.” bisik senna dengan nada yang penuh nada menggoda. Tak lama kemudian terdengar teriakan dari mulut senna.
“Ah… Ah… Iya ra, ampun.” katanya dengan wajah yang menahan kesakitan.
Ternyata setelah mendengar nada penuh ejekan yang senna berikan, aira tak segan - segan menginjak kaki sahabatnya yang hanya menggunakan sandal santai. Sedangkan aira sengaja menggunakan sepatu kets favoritnya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana indahnya jari jemari kaki senna yang tanpa pelindung itu harus bersentuhan dengan alas kaki aira.
“Biar mulut lo diem!” kata aira sambil memberikan lirikan permusuhan pada senna.
Sebagai penonton yang baik, hervi memilih untuk diam dan menertawakan saja kelakukan kedua sahabat itu.
“DIAMLAH!!!” kata aira dan senna bersamaan ke arah hervi yang sedang tertawa sambil melipat kedua tangannya. Setelah mendengar teriakan kedua wanita yang berada di depannya itu hervi langsung menutup mulutnya rapat - rapat sambil mengangkat tangannya ke atas tanda dia menyerah.
Setelah itu mereka sampai di apartemen yang dulu sempat juna dan olivia tempati. Wajah aira yang sudah sejak awal tak bersahabat itu semakin terlihat buruk.
Saat senna terlihat ragu untuk membuka pintu, dia semakin ragu awalnya ketika ruangan terlihat gelap. Jadi dia langsung memutuskan untuk mencari saklar lampu. Tapi sebelum menemukan saklarnya, tiba - tiba lampu menyala dan terlihat beberapa orang memberikan kejutan untuk senna.
Disana ada semua sahabat juna dan olivia, tapi sang pemilik sepertinya tak bisa hadir dalam acara itu.
“KEJUTAN!!!” teriak semua orang.
Senna yang benar - benar kaget dan tak menyangka akan diberikan sambutan hangat seperti ini. Dia menolehkan kepalanya pada hervi dan aira yang berada di belakangnya. Hervi hanya mengangguk sedangkan aira hanya menunjukkan wajah datarnya.
“Selamat datang di rumah, senna.” bobby menjadi yang pertama kali memberikan salam hangat pada senna dengan senyuman.
Lalu, seseorang di belakang bobby sedang berdiri dengan buket bunga di tangannya bergantian maju untuk memberikan salam hangat.
“Semoga kau betah tinggal disini.” kata yoyo yang tak lain adalah atasannya di kantor.
“Te-terima kasih, kak.” jawab senna dengan senyuman canggung saat menerima bunga pemberian yoyo.
Perlu diingat semua orang disana hanya memberi salam hangat untuk menyambut senna, tapi hanya yoshua yang memberikan bunga untuknya. Dan entah kenapa hal itu justru membuatnya merasa tak enak hati.
Lalu hervi mendorong senna pelan untuk segera masuk dan berbaur dengan yang lain. Biar bagaimanapun mereka ini adalah sahabat dari kakak dan juga kakak iparnya.
“Kakakmu dan juna tidak bisa datang malam ini. Nggak masalah kan kalo kita yang ngasih kejutan ?” tanya yoyo dengan hati - hati. Padahal tadinya ini adalah idenya. Ide abi yang sekarang tak mungkin menjadi dirinya sendiri, maka dari itu dia hanya menunjukkan sisi yoyo.
Mau tak mau senna juga harus bisa dekat dengannya. Yoyo akan selalu berada disekitarnya. Dan dia tak bisa membiarkan abi masuk terlalu dalam untuk hal ini. Dan dia juga masih harus merahasiakan abi dari teman - temannya.
“Nggak papa, kak. Aku ngerti kok.” kata senna lirih.
Saat yoyo berusaha membuka obrolan dengan senna, mata senna menangkap bahwa aira merasa tak nyaman disini. Sahabatnya itu memang sulit beradaptasi dengan orang baru dan juga lingkungan baru. Untung saja tak lama setelah aira terlihat memberi jarak dengan yang lain, hervi langsung menyusulnya.
Senna minum cola yang disedikan sambil duduk berhadapan dengan yoyo. Suasana canggung masih memenuhi kedua orang ini. Untung saja yang lainnya memahami dan mulai mengobrol sendiri.
“Senna…” panggil yoyo.
“Iya, kak ?”
“Bagaimana restoran ?” pertanyaan yoyo ini membuat bobby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia benar - benar tak menyangka sahabatnya yang memiliki banyak teman wanita ini bisa terlihat sangat cupu saat berada di depan gadis yang disukainya.
“B-baik, kak.” jawab senna. Dan ternyata membuat yoyo kembali membungkamkan mulutnya. Dalam hati dia merutuki kebodohannya karena menanyakan pertanyaan basi yang mungkin tanpa bertanya pada senna pun dia sudah mendapatkan jawabannya. Biar bagaimanapun yoyo adalah manager perusahaan yang memiliki restoran, jadi pasti dia tahu semuanya. Kali ini jurus basa - basi yoyo ini benar - benar sangat basi.
“Senna ?” kali ini bobby yang memanggil.
“Iya, kak.”
“Kenapa kau mau tinggal disini sendirian ? Kenapa tidak tinggal bersama olivia dan juna ?” tanya bobby to the point.
“I-itu…. Aku… nggak enak sama kak juna dan keluarganya.”
“Kenapa nggak enak ? Kau kan diterima sangat baik oleh keluarga archer.”
“Hehe… iya, memang. Hanya saja…. Aku bekerja disini, jadi aku ingin belajar hidup mandiri.” jelas senna dengan wajah gugup.
“Oh, baiklah.”
“Jika dee pulang, apa kau mau tinggal bersamanya ?” tanya bobby.
“Itu…. aku nggak tau, kak. Mungkin aku akan tinggal disini saja, nggak enak kalo harus merepotkan kak dee.” senna kembali mencari alasan.
“Kenapa ? Bukannya kau dan dee juga sangat dekat ?”
“Iya… tapi, aku…”
“Sudahlah, bang. Senna sepertinya ingin tinggal sendiri.” potong yoyo. Dia tahu kalau sahabatnya itu ingin mengorek sebuah kejanggalan dari jawaban yang diberikan senna. Sesuai dengan kecurigaannya dan yoyo saat itu, senna memang sedang menyembunyikan sesuatu.
Lalu, suasana kembali hening. Hanya terdengar obrolan dari yang lain.
“Sen, kalo kita mau mampir kesini boleh kan ?” tanya yoyo pada akhirnya.
“B-boleh, kak.” senna masih menjawab dengan wajah ragu.
“Baiklah.”
“Tapi…. Bisakah kalian mengabariku sebelum datang kesini ?” tanya senna.
“Kenapa ?”
“Karena itu adalah syarat yang aku ajukan pada kakak.”
“Syarat ?” ulang yoyo, lalu dia saling berpandangan dengan bobby seakan mereka berdua memikirkan hal yang sama.
“Sen…” kali ini yang memanggil adalah aira. Dengan wajah yang terlihat sangat kesal dan seperti menahan air matanya.
“Kenapa, ay ?” tanya senna yang kini sudah berdiri.
“Gue pamit pulang, ya. Udah malem. Lagian kayaknya gue lagi nggak enak badan.” kata aira yang terlihat hanya alasan untuk menghindari lingkungan baru ini.
“Oke. tapi gue nggak bisa anterin ke bawah, ay. Nggak papa, kan ?” aira mengangguk.
“Gue bisa sendiri. Lagian lo juga masih banyak tamu. Gue pamit ya ?” aira memeluk senna erat.
“Kalo ada apa - apa jangan lupa hubungi gue.” pesan aira yang terakhir kali sebelum benar - benar pergi meninggalkan penthouse tempat senna tinggal.
Sesaat kemudian hervi terlihat menyusul aira setelah saling bertukar kode dengan senna. Dia mengerti pasti sesuatu terjadi antara sahabatnya dengan hervi. Tapi senna tak ingin ikut campur, dia akan memberikan mereka waktu untuk menyelesaikannya.
Setelah itu senna kembali ke tempat duduknya sebelumnya. Awalnya masih ada keheningan diantara senna, yoyo, dan bobby. Tapi senna terlihat cemas sambil memperhatikan ponsel miliknya. Ingin rasanya yoyo bertanya, tapi dia merasa tak enak.
“Kak ?” pangil senna pada yoyo.
“Ada apa ?”
“Boleh aku tanya sesuatu ?” tanya senna dengan hati - hati.
“Katakan saja, sen.”
“Ini sedikit merepotkan sebenarnya, tapi aku ingin mengetahuinya sekarang.” yoyo merasa aneh dengan pertanyaan senna. Memangnya apa yang ingin ditanyakan oleh gadis itu ?
Apa jangan - jangan kedok abi sudah ketahuan ?
“Baiklah, coba katakan saja.”
“Aku…. aku…. Aku ingin mengetahui salah satu nomor ponsel koki di resto.” begitu kata senna. Perasaan yoyo semakin tak enak setelah mendengarnya.
“Siapa ?” tanya yoyo dengan wajah yang dibuat setenang mungkin, padahal jantungnya sudah berdebat tak karuan.
“Abi.” setelah mendengar itu bobby yang mendengar nama itu disebut oleh mulut senna langsung sontak menutup mulutnya. Senna pun merasa bingung melihat perubahan sikap bobby.
Tapi sebelum senna merasa semakin curiga, yoyo dengan wajah tenangnya langsung menyenggol kaki bobby hingga sahabatnya itu sadar akan sikapnya yang berlebihan setelah mendengar nama abi.
“Baiklah, berikan nomor ponselmu padaku. Setelah aku tanyakan pada sekretarisku, nanti aku akan mengirimkan nomornya padamu.” jelas yoyo yang langsung diangguki senna.
Setelah senna menuliskan nomor ponselnya di ponsel milik yoyo, gadis itu lalu tersenyum.
“Terima kasih, kak.” katanya.
“Ada apa kau mencari nomor abi ?” tanya yoyo.
“Itu…. tadi aku meninggalkannya. Padahal dia ingin mengantarku kesini.” jelas senna dengan jujur. Ada sedikit rasa bersalah terlihat di matanya, membuat yoyo juga merasakan tak enak karena membohonginya.
“Tapi kau besok bisa menanyakan langsung padanya.”
“Memang. Hanya saja aku merasa nggak tenang dan ingin menjelaskan padanya. Aku takut dia masih menungguku.” jelas senna.
“...” yoyo hanya terdiam.
‘Aku tau semuanya, sen. Aku bahkan menemanimu pindah, hanya saja aku menemanimu sebagai yoyo bukan abi.’
***