Di kota nan jauh di sana pada suatu siang tepat di bawah terik sinar matahari, seorang gadis 19 tahun terus mengayuh sepedanya tanpa henti, tanpa memberi kesempatan menghirup nafas dengan santai, tanpa jeda untuk kaki terus mengayuh. Impiannya sudah dikuburnya ke bagian dasar tanah yang hampir mustahil untuk digali lagi jika tanpa mesin bertenaga tinggi. Sudah cukup ia terikat dalam berjuang untuk mimpi yang terlalu tinggi sampai mengawang-awang di tempat yang tak pernah bisa dijangkau manusia seperti dirinya.
Lupakan soal keinginan menjadi seorang dokter, lupakan tentang niat tulus untuk membantu banyak orang. Sungguh, lupakan. Tidak pernah ada dalam sejarah umat manusia, seorang anak miskin di bagian wilayah paling tepi dan tersisih di negeri ini yang berhasil menjadi seorang dokter, jangankan masuk fakultas kedokteran, lolos tes masuk pun mungkin tak pernah, atau... belum mendaftar, tapi sudah kena mental karena tak mampu sebab biaya sekolah yang terlalu tinggi dari jurusan mana pun di muka bumi.
Si gadis 19 tahun memarkirkan sepedanya di belakang rumah petak sederhana tempat dia bekerja. Di dinding depan rumah yang baru saja dilewatinya tadi tertulis dengan huruf yang besar-besar, "Laundry Kinclong Ngejreng!"
Ia masuk lewat pintu belakang, langsung disuruh pemilik laundry untuk menjemur pakaian yang baru selesai dicuci. Ia melangkah ke mesin cuci, mengeluarkan semua pakaian itu dan memasukkannya ke dalam ember, melangkah ke tempat jemuran yang berada di belakang rumah. Tempat sepedanya tergelak lelah.
Di jemurnya helai demi helai pakaian, bekerja dengan cepat dan pasti.
Selesai menjemur pakaian, ia melangkah ke sisi meja di sudut dinding, menyambungkan colokan setrika, mulai menghaluskan pakaian bertumpuk dalam keranjang.
Ibu pemilik laundry tersenyum senang melihat pegawainya bekerja dengan giat tanpa banyak bicara. Tipikal pesuruh idaman. Tanpa ia pernah tau alasan pegawai 19 tahun itu bekerja di laundry nya dengan susah payah, dari pagi sampai sore tak henti mencuci, menjemur, mengangkat jemuran, menyetrika sampai memasukkan semua pakaian yang sudah terlipat rapi ke dalam plastik. Ditambah pula sesekali menjadi kasir saat ada pemakai jasa yang menjemput pakaian mereka. Atau pun melayani pemakai jasa yang membawa sekantong tumpukan pakaian kotor.
Seorang pegawai swasta yang masih lajang tampak dari pintu depan, menitipkan pakaian kotornya pada ibu pemilik laundry.
Gadis 19 tahun itu tersenyum pahit. Iri dia dengan mereka yang berseragam, punya pekerjaan yang layak dengan gaji tinggi dan terjamin. Punya jaminan pensiun, waktu cuti, dan selalu tampil keren.
Sorenya gadis 19 tahun itu mengayuh sepedanya kembali, pulang ke rumah, ditemani kelompok-kelompok burung yang juga pulang ke rumah mereka, ramai tak kiranya di atas langit, membentuk barisan yang indah. Kini sang gadis tersenyum tipis, ingin dia juga punya teman-teman kerja, bisa pergi atau pulang bersama.
Si gadis menghentikan kayuhan sepedanya, turun, membalik sepedanya, berlari cepat dia dan sepedanya kembali ke tempat laundry.
"Bu, maaf mengatakan ini tiba-tiba. Aku izin berhenti."
Terbelalak kaget mata ibu pemilik laundry. "Kenapa Nduk?"
Si gadis tersenyum tipis. "Aku ingin kerja di pabrik, Buk."
"Apa pekerjaan di sini terlalu berat untukmu? Atau gajinya kurang?"
Gadis 19 tahun itu menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin punya teman, Buk."
Ibu pemilik laundry kembali terbelalak kaget. Kemudian ia tersenyum tipis dengan sorot mata sayu. "Ibu bisa merekrut satu pekerja yang sebaya denganmu. Kalian bisa berteman."
Gadis 19 tahun itu kembali menggeleng. "Tidak perlu, Bu. Pasti berat menggaji 3 pekerja sekaligus. Aku ingin mencari pengalaman baru juga, Bu."
Pekerja laundry yang sebaya dengan ibu pemilik ikut mendengar sambil terus menggosok pakaian sisa jatahannya. "Kerja di sini saja, Nduk! Bekerja di pabrik tidak semudah yang kau bayangkan."
Si gadis tersenyum tipis, tidak masalah.
"Aish kau Ni, tak bisa kah kau anggap aku sebagai temanmu? Aku tau usiaku sama dengan mamak kau. Tapi pertemanan tak mengenal usia Nduk. Repot pula nanti aku menunggu pekerja yang baru, di sini saja kau Nduk." Ibu-ibu pekerja laundry itu menggerutu sambil terus menggosok, membayangkan pekerjaannya yang bertambah banyak sampai ibu pemilik laundry menemukan pekerja baru pengganti si gadis.
"Semangat, Buk!" Si gadis menyeringai kecil, mengangkat tangan memberi semangat.
Semakin menggerutu si ibuk. "Aku bisa memberi kau banyak informasi tentang warga kampung ni, Nduk, jika kau tetap bekerja di sini. Cerita siapa yang ingin kau dengar, hah?"
Si gadis menggeleng ringan, menolak. Tak ingin dia mendengar cerita aib orang lain. Tak tertarik sama sekali.
Ibu pemilik laundry akhirnya menghela nafas setelah mendengar ocehan pekerja satunya. "Tunggu sebentar, Nduk." Ibu pemilik laundry masuk ke dalam.
Tak berapa lama ibu pemilik laundry sudah tiba lagi di depan, menyerahkan satu amplop putih pada si gadis. "Ini gajimu minggu ini." Ibu pemilik laundry tersenyum tipis. "Ibu tambahkan untuk jaga-jaga jika kau berubah pikiran untuk merantau di luar kota. Terima saja, jangan banyak cakap, nanti kedengaran pula sama si Tinah ember itu," bisik ibu pemilik laundry pelan.
"Tapi buk--"
"Sudah, sudah. Ambil saja, terima kasih sudah membantu ibu selama ini, Nduk. Kalau kau mau kerja di sini lagi, datang saja." Ibu pemilik laundry menepuk-nepuk pelan bahu si gadis dengan sorot mata penuh kasih sayang pada pekerja terbaiknya itu.
Si gadis mengangguk sopan, berbalik pergi setelah berpamitan.
Di dunia ini sejatinya banyak orang baik. Tapi lebih banyak orang yang tidak tau diri yang tak pernah bisa menghargai orang lain. Jadilah kebaikan-kebaikan tertutupi oleh mereka-mereka itu. Hilang respek orang padanya.
Kau akan mendapatkan diperlakuan sesuai kelakuanmu. Orang lain akan memperlakukanmu sesuai perlakuanmu pada mereka, atau bahkan lebih balasannya. Karena itu, jangan pernah lelah untuk berbuat baik.
"Di luar kota ya?" gumam si gadis kepikiran ucapan ibu pemilik laundry tadi. Dia terus mengayuh sepedanya sembari memikirkan apa yang akan dilakukannya esok hari, apa harus melamar kerja di pabrik atau pergi ke luar kota, hidup mandiri di sana.
Untuk kedua kalinya gadis 19 tahun itu kembali tersenyum pahit. Akhirnya, dia mulai berpikir seperti anak-anak gadis di kampungnya. Memikirkan bekerja di pabrik saja, atau merantau ke luar kota dan menikah. Padahal sejak 10 tahun lalu, hanya dia satu-satunya yang punya impian di kampung, visioner, pandai dan mentereng di mata guru-guru. Sekarang, setelah menerima fakta kemiskinannya, gadis 19 tahun yang visioner itu mulai menjadi gadis kampung biasa pada umumnya.
Mungkin, boleh jadi, barang kali, tak mustahil, bahwa kemiskinan adalah penghambat kehidupan. Berusaha sekeras dan sekuat apa pun, jika memang takdirnya miskin, mau diapa.
Gadis 19 tahun itu mengayuh sepedanya makin cepat, seperti orang dikejar harimau, berteriak histeris dia sepanjang jalan yang lengang tak ber-orang, bahkan kucing liar pun tak ada lewat. Saking cepatnya laju sepeda itu, ia sampai tak merasakan tanah yang tengah bergoyang di kampungnya. Bumi kembali tergoncang. Setiap bertambahnya detik, bertambah pula goncangan itu.
Tiba-tiba saja gadis 19 tahun itu jatuh dari sepedanya. Linglung dia kenapa tiba-tiba terjatuh, padahal dia tidak sedang kehilangan keseimbangan. Genap pinggul dan tangannya menyentuh tanah, baru ia sadari sedang terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi.