Bab 5: Berat Badan Nadira?

1254 Kata
Bagiku, tidak ada yang lebih menakutkan dari pandangan penuh hina orang lain padaku dan keluargaku sendiri. Walau memang, kenyataannya keluargaku adalah manusia-manusia hina yang tak tau malu dalam berbuat dosa. Para b******n. Pendusta. Aku cukup sadar diri untuk mengakui semua itu. Dari kecil aku hidup dengan gelimpangan pujian, parasku yang cantik, otakku yang cerdas serta tubuhku yang sehat dan ideal. Tak ayal sebab mama punya paras yang mempesona sebagai seorang aktris, papa juga punya otak yang pintar sebab lulusan terbaik selama sekolah, punya banyak gelar bertitik koma, sayangnya mereka berdua punya hati yang gelap. Aku tak pernah meminta dilahirkan sebagai anak mereka, rasanya aku tidak membuat perjanjian seperti itu dengan Tuhan sebelum aku tercipta. Tapi bukan berarti pula aku membenci diriku sendiri sebagai anak dari papa dan mama, karena bagaimana pun, aku tak pernah mendapatkan kekurangan selama hidup ini, tak ada selera dan keinginan yang tak pernah terpenuhi selama 18 tahun aku menginjak kaki di muka bumi. Walau kenyataan, aku tak bisa menolak kata hati bahwa aku membenci kedua orangtuaku, tidak dengan takdirku sebagai putri mereka. Hutan yang gelap, sapuan angin subuh yang membuat bulu kuduk sampai berdiri serta bunyi antah berantah macam di dunia lain kini melingkupiku, aku merasa sedang berdiri di batas dunia dan akhirat, mencari jalan menuju pengadilan diri atas semua dosa yang pernah kuperbuat dan barangkali ada pahala kebaikan yang bisa diperhitungkan. "Bang..." "Bang..." "Bang... Aoman..." "Bang Aoman..." "Bang!" Berulang kali bibirku memanggil nama bang Aoman sambil meraba-raba semak-semak dan batang pohon, tak kunjung ada jawaban. Padahal aku sudah melangkah cukup jauh dari dasar lereng tadi. Ke mana rimbanya bang Aoman? Tidak benar dugaanku jika dia diculik kuntilanak atau sundel bolong kan? Aku terus menyeret langkah dengan hati-hati, tak hirau dengan penat leher yang sejak tadi menoleh kiri-kanan bergantian. Menatap awas pemandangan yang ada di depan. Kabut pekat yang ada di area depan membuatku menghentikan langkah, di Pramuka dulu kami tak pernah diperbolehkan memasuki hutan berkabut, karena berbahaya, mempunyai persentase kemungkinan tersesat yang tinggi, bisa hilang, dehidrasi, kelaparan lalu mati. Atau, tak menutup kemungkinan pula untuk diserang binatang buas dan binatang beracun. Aku tau, bang Aoman tidak sebodoh itu sampai mengambil langkah percuma dengan memasuki hutan kabut ini. Tapi untuk menenangkan hati, aku menghela nafas pelan, meletakkan kedua tangan di tepi bibir. "BANG! BANG AOMAN!" teriakku sekuat tenaga. Suaraku sampai menggema memenuhi hutan. Jeda beberapa detik, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kabut sana, aku berbalik, pergi ke area lain. Suara teriakan seseorang dan hilangnya bang Aoman bukan bagian dari tes masukku ke kelompok relawan, kan? Jika benar, rasanya cukup keterlaluan, bagaimana jika aku naif dan masuk ke kabut barusan? Atau terjadi adegan guling-gulingan di lereng tadi? Apa tes masuk relawan memang seperti ini? Tidak cukup dengan biodata di atas kertas saja? Aku tidak boleh melarikan diri untuk kedua kalinya. Apa pun tes yang diberikan di sini, aku harus menjalani dan menyelesaikan semuanya. Aku sadar, menjadi seorang relawan bukanlah perkara yang gampang, bukan sesuatu yang bisa dilakukan hanya karena ingin, tapi seorang relawan adalah mereka yang berhati bersih, berniat murni dan berjiwa penolong. Aku sadar, aku tak layak dianggap begitu, sebab bagaimana pun, aku hanya seorang gadis yang melarikan diri dari realita kehidupan hari-harinya, sok-sokan menjadi relawan, menolong orang-orang yang butuh pertolongan. Aku tersenyum tipis menyadari semua alasanku berada di tempat ini. Niatku tak sepenuhnya murni untuk membantu orang-orang. Aku merasa tak layak menjadikan pekerjaan ini sebagai alasanku untuk melarikan diri. Tak tahan atas semua pandangan, omongan dan perlakuan orang-orang yang kukenal maupun yang tidak kukenal. Detik ini juga kesadaranku hilang, hal terakhir yang kuingat hanyalah langit gelap yang terhalang dahan dan daun-daun yang lebat. Aku jatuh, pingsan. oOo "Sudah sadar?" Umi tersenyum tipis di sampingku, menyodorkan bubur ayam yang masih beruap. "Ini makanlah dulu, mungkin kondisi perutmu jadi kurang bagus setelah berlari tadi. Aku belikan bubur untuk jaga-jaga." Seperti namanya, Umi memang terlihat seperti umiku sendiri, walau jarak usia kami hanya 2 tahun. "Kenapa Nadira? Tidak mau makan?" tatap Umi heran yang melihatku bukannya mengambil mangkok berisi bubur, tapi malah bengong melihatnya. Aku menggeleng pelan, buru-buru menerima mangkok berisi bubur sebelum ditarik kembali. "Terima kasih." Umi tersenyum tipis. Senang melihatku yang lahap menyantap bubur yang dibawanya. "Omong-omong kamu hebat Nadira, bisa tahan lari 3 jam di hutan tadi, aku saja tak sampai satu jam sudah kelelahan, serasa mau pingsan, walau ujung-ujungnya memang pingsan sih." Umi tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan punggung-punggung jari. Terlihat seperti perempuan anggun penuh sopan-santun. "Ah iya! Bagaimana dengan bang Aoman!?" tanyaku baru sadar. Sampai muncrat bubur yang belum selesai kutelan. "Mencariku?" tanya bang Aoman yang tiba-tiba muncul dari belakang. Mengagetkan. Aku menatap selidik bang Aoman dari atas sampai bawah, tak kurang satu apa pun. "Abang baik-baik saja?" Bang Aoman langsung menyeringai. "Kau lolos Nadira! Mulai hari ini kau resmi menjadi anggota relawan Al-Waliyy'!" "Eh?" Bang Aoman menepuk pelan bahuku-- pelan baginya, tapi untukku tetap terasa keras, macam bang Aoman punya dendam padaku, sekarang sedang mencicil balasannya. "Kau lulus tes fisik, tes ketanggapan, kesetiakawanan, pengorbanan, kemampuanmu juga di luar ekspektasi Abang, bisa-bisanya kau turun dari lereng tanpa ragu begitu. Dan yang terpenting, suaramu keras kalau berteriak memanggil orang, ini penting sekali untuk mencari orang hilang, Nadira!" Bang Aoman tertawa senang. Terlihat macam ayah yang bangga melihat anaknya tubuh menjadi anak yang hebat. Eh? Apa-apaan poin terpenting tadi itu? "Ka... kalau begitu suara teriakan yang tadi itu siapa?" tanyaku penasaran. Teriakannya 11 12 dengan suara kuntilanak cekikikan. Lupakan saja soal penilaian tes menjadi anggota relawan. "Oh. Itu suaraku. Bang Aoman menyuruhku berteriak tadi tepi lereng tadi, anggota yang lain juga menemani." "Eh!?" Aku kaget bukan main setelah tau suara mengerikan itu berasal dari Umi. Bukan main! Umi hanya menyeringai seolah tidak ada apa-apa. "Ta... Tapi tadi aku pingsan, apa tetap--" "Ah, tak perlu khawatir." Bang Aoman langsung menyela sebelum aku sempat mengkonfirmasi kepastian kelolosan ini, seolah tau apa yang mau kutanyakan. "Tes tadi sudah lebih dari kata cukup, sebenarnya Abang mau menempati kau di bagian medis saja, melihat biodatamu dan penilaian yang diberikan mantan pelatih Pramukamu. Tapi setelah tau daya tahan dan ketanggapanmu, tak ada salahnya kau bergerak langsung di lapangan-- tentu saja kita tidak mengharapkan adanya bencana besar yang membutuhkan aksi spektakuler macam di film-film atau novel-novel. Misalnya berlari puluhan atau ratusan kilometer untuk mencari pertolongan, atau membopong korban yang kondisinya parah ke pos rawat, atau mengang--" "Aoman!" Sahabat baik bang Aoman yang juga merupakan pendiri kelompok relawan ini menyeru di balik pintu, melambai-lambai tangan. "Pak RT minta bantu ganti kubah surau. Anak-anak sudah pada pulang, sisa kau di sini. Ayo!" "Intinya kau sudah lolos Nadira, tak ada yang perlu dipertanyakan." Bang Aoman dengan seringai lebarnya kembali menepuk bahuku. "Makan yang banyak, biar tidak pingsan lagi. Bopong kau memang tidak susah, tapi merepotkan." Bang Aoman tertawa gelak, melangkah keluar. Bang Rusip, sahabat bang Aoman tadi sekaligus orang yang paling bisa diandalkan di kelompok relawan ini tertawa kecil melihatku yang sedang makan bubur. "Walau tubuhmu langsing, tapi badanmu cukup berat juga, Nadira. Lain kali jangan kebanyakan makan," sindir bang Rusip sambil melambaikan tangan. Detik itu juga aku langsung tak berselera menelan bubur. Sudah dua kali aku disindir laki-laki tua soal berat badan. Tadi bang Aoman yang bilang merepotkan, sekarang bang Rusip. Apa aku seberat itu?! Kenapa pula mereka berdua tau!? Mereka tak bergantian mengangkatku yang pingsan ke sini kan? Jika iya, apa itu karena mereka lelah di tengah jalan saking beratnya badanku? "Berat badanmu memang berapa, Nadira?" tanya Umi tak respek. Aku melotot kesal pada Umi yang memasang muka tanpa dosanya. "Omong-omong siapa yang membawaku ke sini tadi?" "Oh itu, bang Aoman sama bang Rusip gantian." Sial.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN