Bab 4: Impian Untuk Orang Miskin

1342 Kata
Kau tau hal apa yang membuat seseorang sampai rela melepas mimpinya? Pagi-pagi buta di kota nun jauh di sana, pada waktu yang sama dengan waktu Nadira melakukan tes untuk menjadi anggota relawan, seorang gadis 19 tahun masih sibuk membaca buku-buku berisi cerita hidup dan kata-kata bersinkron puitis yang katanya bisa memotivasi setiap orang yang membaca. Sudah dibacanya berulang sejak malam sehari yang lalu, tanpa istirahat, tanpa makan minum, tanpa buang air, tanpa beranjak dari meja kamarnya. Secara langsung buku tersebut sudah memaksa seseorang untuk mati kaku dan kelaparan di dalam kamar, bukannya malah memotivasi untuk melakukan yang terbaik, untung-untung lebih baik dari pengalaman yang ada di dalam cerita buku yang dibacanya Kenapa gadis itu begitu terobsesi dengan buku yang ada dalam genggamannya sekarang? Yang dibelinya sore hari di toko buku tepi pasar yang jauh dari rumahnya, susah payah dia mengayuh sepeda untuk sampai ke toko buku itu. Lebih-lebih, buku tersebut dibelinya dengan menggunakan uang tabungannya dari hasil kerja jadi tukang cuci merangkap tukang gosok di laundry Kinclong Ngejreng! selama 1 tahun ini. "Nak..." panggilan tak tega dari seorang ibu terdengar dari luar kamar. Dia mencemaskan putri sulungnya yang tak keluar kamar sejak sehari yang lalu. Tak terdengar pula selama itu suara di balik kamar. Senyap, macam tak ada orang saja di dalam kamar itu. Sang suami merangkul istrinya, menarik lembut tangan istrinya untuk meninggalkan kamar anak gadis mereka. Gadis 19 tahun itu masih butuh waktu untuk sendiri. Dia perlu waktu yang cukup lama untuk menimbun semua mimpinya yang sudah diukir selama 10 tahun ini, yang sudah diusakannnya dengan susah payah. Yang dengan sabar dia berjuang, dengan keyakinan penuh dia berharap, dengan doa tanpa henti dia meng-ikhlas, tapi apalah daya, orang miskin-- atau lebih tepatnya orang yang benar-benar miskin memang tidak dinasibkan untuk bisa sekolah tinggi-tinggi. Dia ingin benar-benar menerima fakta yang sudah lama seharusnya diyakininya itu. Benar-benar, ya, benar-benar, harus. "Semua ini salahku, Bang, seharusnya aku bisa meminjam uang lebih banyak lagi." Sang istri menutup wajahnya yang menangis tersedu, teringat akan putrinya yang tidak bisa melanjutkan mimpinya, yang tidak bisa meneruskan pendidikannya, menanjak tangga awal untuk menjadi yang sesuai dengan apa yang dicitakannya selama ini. Sang suami menggeleng, ikut menutup wajah, mengurut kerutan keningnya sambil mengusap ringan air mata dengan jari telunjuk sebelum jatuh bebas ke pipi, tak ingin dia terlihat lemah di depan istrinya dan gadis bungsunya yang kini sedang mengintip di balik dapur. "Semua ini salahku Idah, seharusnya sebagai kepala keluarga, aku bisa memenuhi semua kebutuhan kalian, aku bisa merangkul kalian dan membuat kalian semua bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan apa-apa. Maafkan aku... maafkan laki-laki tua renta yang tak bisa apa-apa ini." Gadis kecil yang sejak tadi mengintip di dapur meneteskan air mata mereka. Kedua orang dewasa duduk berhadapan di meja makan juga diam-diam meneteskan air mata. Menangiskan kemiskinan mereka. Sedangkan gadis 19 tahun itu kini mulai menutup bukunya, menarik nafas pelan, menghembuskannya perlahan. Dia melirik serakan uang logam dan kertas dengan nilai 1.000, 2.000, 5.000, dan yang tertinggi 10.000 yang berwarna ungu itu dengan senyum tipis, semua uang kertas yang tercecer di lantai kamarnya itu menyisakan bentuk lipatan, semuanya adalah uang tabungan gadis 19 tahun itu selama 1 tahun ini. Yang terpaksa harus mengubur mimpinya, karena uang tabungan yang sesuai dugaannya sejak 1 tahun yang lalu tak akan cukup untuk melanjutkan mimpinya, ia sudah menduga itu, tapi masih berharap... sebab dirinya yang polos 1 tahun lalu hanya menatap lurus semua harapannya, yakin betul akan lancar dan terwujud. Di mana ada usaha, di situ ada jalan. Satu kalimat pendek yang diputar berulang dalam otak cerdasnya selama 10 tahun ini sampai mantap tertanam di hatinya. Mulai hari ini, kalimat itu dilupakannya, karena tidak berguna, isinya hanya bohong. Kenyataannya, fakta adalah realita. Jangan pernah mengelu-elukan ekspetasi. Ya, kau akan terjatuh. Gadis 19 tahun itu menjatuhkan diri dengan sengaja di kasur kamarnya, menatap langit-langit kamar yang tidak lain adalah seng tua berkarat yang penuh dengan tombokan, suka bocor saat hujan, yang tiap hujan lebat kamar dipenuhi ember dan mangkok untuk menampung airnya, yang tiap siang cahaya matahari masuk dari lubang seng tua, menganggu mata. Kedua mata si gadis ditutupnya dengan pergelangan tangan, bibirnya menorehkan senyum tipis, senyum kekalahan. Senyum menyerah. Senyum putus asa. Senyum yang sedang mencoba agar baik-baik saja. oOo Nafasku terengah-engah, sejak pukul 3 tadi aku sudah disuruh berlari mengitari hutan yang tak kukenal rimbanya ini, tak ditemani siapa-siapa pula. Dengan modal penerangan senter dari bagian raket nyamuk yang dimutilasi, aku melihat jalan di antara himpunan semak-semak, yang mana kini cahaya senter ini sudah mulai redup pula. Pukul 5, dering alarm ponsel dengan volume 100% terdengar di ujung jalan sana, 50 meter tepatnya dari posisiku saat ini, cahaya ponsel itu bergoyang-goyang di depan mataku. Artinya tes lari yang bisa membuat gadis 18 tahun ini tersesat di hutan sudah selesai. Entah siksaan berkedok tes apa lagi yang menungguku selanjutnya. Bang Aoman menatapku penuh selidik dari kets hitam yang basah kena embun sampai ujung kepala yang basah pula macam orang baru habis keramas. "Hoo bagus-bagus. Kau sudah mandi ternyata. Ketemu ya tadi sungai di tengah hutannya?" tanya bang Aoman dengan seringai senangnya. Hah? Aku tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan bang Aoman. Apa otakku yang sudah kurang fungsinya karena lelah? Sungai apa? Mandi dari mananya? Rasanya macam jadi orang d***u aku saat ini. "UWAAAA!" Sebelum sempat memahami pertanyaan bang Aoman, suara teriakan macam siksa kubur bergema di hutan yang masih gelap ini, aku menoleh kiri kanan muka belakang asli macam orang d***u. Panik, kupikir kuntilanak atau sundel bolong posko mana yang berteriak subuh-subuh begini di tengah hutan. Bang Aoman langsung berlari ke arah sumber suara, tau-tau saja asal hant- maksudku asal suara teriakan yang tadi kami dengar, aku mengikuti bang Aoman dari belakang, tentu saja berlari lagi. Tak tau aku apa masih bisa hidup nanti setelah matahari terbit atau dalam pelarian ini tersungkur mencium tanah. Ah, bodolah. "Nadira! Kau cari di sana! Abang di sini!" seru bang Aoman dengan muka paniknya, langsung menyusup ke lereng, turun perlahan di tengah kegelapan. Bersorak-sorak memanggil seseorang yang tadi berteriak, mungkin bisa balas menjawab sorakan bang Aoman. Aku berlari ke sisi kanan sesuai arah yang ditunjuk bang Aoman, menyenteri lereng di sini sambil mengatur nafas. Rasanya mau pingsan saja, tapi aku kuat-kuatkan diri agar tidak sampai hilang kesadaran saat ini, bisa gawat jika aku gagal tes, aku tidak mau kembali lagi ke keluargaku-- setidaknya untuk saat ini. Kutepuk keras wajahku dengan tangan yang tidak memegangi senter, melotot-lototkan mata sambil memperhatikan lereng, menatap jauh bagian yang tadi dituruni bang Aoman. Tidak nampak. Terlalu gelap. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, aku berlari kembali ke tempat bang Aoman, ragu menyusul turun dengan sisa tenagaku yang sekarang, bisa-bisa aku amblas dan berguling deras di lereng ini, mati sia-sia. "Bang!" "Bang!" "Bang Aoman!" Tidak ada jawaban. Bagian bawah lereng tidak ada siapa-siapa. Bang Aoman menghilang begitu saja. Aku bukan tipikal manusia yang mudah percaya dengan hantu, walau aku mengakui hal gaib itu memang benar adanya. Tapi masa iya bang Aoman diculik kuntilanak atau sundel bolong!? Aku tidak boleh suudzon pada mereka kan? Tapi... ke mana bang Aoman perginya? Aku memeriksa lereng sana tadi tidak terlalu lama, tak mungkin dalam waktu singkat begitu bang Aoman bisa pergi jauh. Saat otakku berpikir cepat atas pernyataan-pertanyaan ini dengan cabang beranak-pinak macam penyelesaian soal matematika, senter mutilasi dari raket nyamuk yang sejak tadi cahayanya redup ini kini sudah mati sepenuhnya. Sial. Hasil akhir dari pertanyaan ke mana bang Aoman yang sejak tadi kupikirkan. Suara teriakan apa atau siapa tadi. Jawabannya tidak lain adalah nasibku sendiri. Benar-benar sial. Tidak mungkin aku kembali begitu saja meninggalkan bang Aoman, walau aku sudah tau jalan keluar hutan tanpa perlu senter, tapi tetap saja, aku tak boleh egois, menyelamatkan diri sendiri. Dengan modal nekad aku menuruni lereng, menggenggam hati-hati batu, bongkahan tanah yang menonjol, batang, tanaman rambat yang menjalar, ranting yang terjatuh dari pohonnya yang hampir membuatku berguling bebas ke dasar, dan apa saja yang hinggap dan menempel di tanah lereng. Tak ada bentukan tangga di sini. Lerengnya tidak terlalu curam, jadi kemungkinan besar aman untuk mendarat ke bawah-- sepertinya. Jikalau pun tidak, aku sudah mempercayakan nyawaku pada Tuhan semesta alam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN