“Oh, bukankah itu Irish?” “Sepertinya dia ada urusan lain tadi, makanya dia terlambat.” “Dia tidak berencana untuk menghindari Daren, bukan?” Irish mendengar semuanya sepanjang langkahnya menuju gedung utama. Semua orang memerhatikannya dan Irish mencoba untuk tidak peduli. Dia terus melangkahkan kakinya dengan percaya diri, seolah memang dia terlambat hadir karena ada masalah dengan pekerjaannya, bukan dengan seorang pria yang ia cintai yang sialnya dilukai oleh tunangannya sendiri. Sementara itu, Daren masih belum menyadari bahwa tunangannya yang sedari tadi ia cari-cari akhirnya datang juga. “Tuan, Irish ada di sini.” Pengawalnya yang lebih dulu mengetahui kedatangan Irish memberitahunya. Daren menoleh dan mengeryitkan dahinya heran. “Jangan bercanda. Bukankah dia—” “Hai, Daren.”

