Irish melepaskan ciuman mereka dan menghindari tatapa Aarav karena ia malu setengah mati. Ia tersenyum kecil seraya melemparkan pandangannya ke arah lain, sebisa mungkin menghindari tatapan Aarav. Di depan Aarav kini tidak ada Irish yang sering mengintimidasi orang lain dan membuat lawan bicaranya kikuk, karena kini Aarav-lah yang membuat Irish mati kutu. Aarav hanya tersenyum melihat tingkah Irish. “Irish.” Baru setelah Aarav memanggilnya, Irish menoleh dan ia meguatkan hatinya untuk menatap mata pria itu walaupun sebenarnya ia malu. “Hm?” “I’m going to remember this place, always.” Senyuman Aarav menular pada Irish yang membuatnya mejadi semakin cantik di mata Aarav. “Aku juga.” Mereka kembali berjalan untuk menikmati malam itu di mana langit dipenuhi oleh bintang dan sangat indah.

