Aarav tentu saja membalas ciuman Irish dengan membawa tengkuk Irish mendekat ke arahnya dan membuat ciuman mereka semakin mendalam. Aarav mengira Irish akan menyudahinya ketika hampir saja mereka kehilangan akalnya, namun Aarav salah besar karena Irish malah duduk di pangkuannya begitu saja dan membuat Aarav bersandar ke sandaran sofa. Aarav akan membiarkan tangannya mengambil bagian jika saja deringan ponsel Irish tidak menginterupsi mereka. Irish langsung mengambil jarak antara mereka. Dia memandang Aarav dengan seksama dan juga dengan napasnya yang memburu. “Aarav—” “Ponselmu, Irish.” Aarav tahu apa yang akan terjadi jika saja dia tidak mengingatkan Irish soal ponselnya yang terus-menerus berdering. Irish menoleh dan bangkit dari tubuh Aarav. Aarav membenarkan posisi duduknya selagi

