Siapa Kamu? Jelaskan Padaku

1095 Kata
“Bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya, semuanya harus kamu jelaskan,” cecar Mahesa, di perjalanan masih terasa hening. Sejak berpamitan dengan Aulia, sampai saat ini pun Karey masih diam membisu, ada sesuatu yang baru saja dia ketahui, dan dia tidak bisa menerima semua kenyataan itu. “Karey? Kamu baik-baik saja bukan? Aku mengkhawatirkan keadaanmu,” lanjut Mahesa. Mahesa tidak ingin terlalu banyak menuntut, tapi untuk masalah kali ini, dia memang harus sedikit memaksa, suatu perlindungan akan selalu dia tunjukkan. “Aku rasa kita harus segera ke toko, pikiran ku semakin kacau, aku pun tak tahu mengapa!” “Jangan bilang kalau pria misterius itu yang membuat mu seperti ini sejak tadi malam? Atau bahkan karena wanita itu, apa yang dia lakukan padamu di apartemen? Kenapa bisa bersama dengannya, itu diluar logika, Karey.” Tadinya pun Karey ingin berpikir baik, mungkin memang tidak sengaja lewat dan melihatnya dalam bahaya kemudian Aulia datang untuk menolong, tapi semakin dipikirkan memang ada yang aneh. Terlebih lagi untuk apa Aulia masih ada di sekitarnya dan ternyata memiliki sebuah apartemen juga yang tidak jauh dari tempat nya bekerja. “Apa yang kamu pikirkan sama dengan yang ku pikirkan saat ini, kamu tahu? Dia belum lama pindah ke apartemen itu, dan alibi nya untuk suatu pekerjaan,” ucap Mahesa. “Oh, ya? Katanya udah lama juga, tapi waktu kita terjebak macet saat itu, tante Aulia seperti sengaja juga cari-cari keberadaan ku, Kak. Bahkan ....” Karey hampir saja memberitahu Mahesa tentang semuanya, dia masih ingin menyembunyikan itu, jika Mahesa tahu kelakuan ibunya di desa saat mencari alamat Karey, sampai para tetangga membantu Karey untuk memberikan alamat palsu, mungkin Mahesa akan semakin membenci ibu kandungnya sendiri. “Bahkan apa? Aku rasa memang dia ada niat lain, dia berkali-kali mendapatkan nomor ku, kamu tahu itu, aku lelah terus mengganti nomor hanya untuk menghindari nya!” “Aku harus mencari jawaban itu dari ayahku, karena mereka sudah sangat lama bersahabat dan saling mengenal, kita akan segera tahu, Kak.” Untuk itu biarlah Karey yang mengambil alih penyelidikan, karena Mahesa lebih tertarik dengan penyelidikan pria misterius itu, dan harapannya memang tidak ada sangkut pautnya dengan Aulia, karena jika sampai semua itu benar-benar terjadi, Mahesa tidak segan-segan akan membalas mereka. Setelah Mahesa mengantarkan Karey ke toko dan hampir terlambat, membuat keduanya tidak lagi melanjutkan pembicaraan, keduanya sepakat untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing hari ini. Kepergian Mahesa, membuat Karey merasa sudah cukup aman untuk dirinya melakukan sesuatu hari ini, sebelum itu dia masuk ke toko terlebih dahulu untuk meminta izin, dan izin itu tidak mudah didapatkan, jika tidak terus memohon. Begitu banyak cara yang telah dilakukan membuat Karey pada akhirnya mendapatkan izin untuk tidak masuk bekerja hari ini, dia harus mengetahui semua itu segera, perasaan dan pikirannya tidak bisa tenang sejak dia pergi dari apartemen itu. “Aku memang merasa ada yang harus aku ketahui hari ini, entah apapun itu nanti, hatiku berkata demikian.” Setelah mobil yang dia pesan sudah tiba, ketika Karey sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang mobil itu, kedua matanya terkejut melihat siapa yang tengah menoleh ke arahnya untuk sekadar memastikan apakah alamat yang Karey inginkan sudah sesuai dengan pesanan pada aplikasi. “Kamu?!” “Karey?” Dunia begitu sempit pikirnya, sekuat apapun diri untuk menghindari semua orang di masa lalu, kini satu-persatu orang di masa lalu telah dipertemukan dengannya, bahkan tanpa dicari, perlahan bertemu tanpa direncanakan. *** “Apa kabarmu? Sudah lama tidak bertemu dan seasing itu kita.” Pria itu masih berbicara walaupun fokusnya masih pada perjalanan, Karey bingung harus menjawab seperti apa, dia hanya berpikir apakah pria itu akan kembali membuatnya mengungkit masa lalunya? Tentang mereka berdua. “Karey? Adikmu masih belum ada kabar? Aku sudah mendengar dia hilang tanpa kabar, Key anak yang baik mana mungkin melakukan hal salah jika tak ada alasan.” “Kamu yang sabar.” “Makasih,” sahut Karey singkat. *** “Kamu masih cinta adikku kayak dulu?” Tiba-tiba saja kata-kata itu ingin sekali dia katakan. “Ha, pertanyaan seperti apa itu? Sudah sangat lama lagi pula, tak ada pertanyaan lain, Karey?” “Jawab saja, toh kamu dari dulu cinta sama adikku.” “Tapi orang yang bersamaku malam itu, kan, kamu, bukan adikmu,” ucap Rasyid dengan lantang. Seketika jantungnya seperti berhenti berdetak mendengar semua itu, ingatannya mulai teringat kembali pada malam itu, malam di mana keduanya gelap mata, hilang akal, dan melakukannya untuk pertama kalinya. “Santai, aku tidak akan membahas hal itu, masa lalu, ha ha, walaupun masih membekas,” sindir Rasyid. Karey tidak bisa menjawab, kali ini dia pun sangat menyalahkan dirinya sendiri, betapa bodohnya dia saat itu mau menerima apa yang dilakukan Rasyid, walaupun Karey tahu yang dibayangkan oleh Rasyid adalah Key adik kembarnya, tetap saja mereka sudah salah. “Kamu tahu? Alamat yang kamu inginkan sekarang, dekat dengan rumah ku, makanya aku tanya lagi, apakah benar alamat nya sesuai dengan aplikasi?” Kini Rasyid sudah mengubah topik pembicaraan. “Maksudnya? Ya benar kok, alamat yang ku tulis di aplikasi memang sesuai seperti yang aku inginkan,” jawab Karey, menunggu jawaban selanjutnya. Rumah nya dekat dengan alamat tersebut? Apa Rasyid tahu sesuatu jika dia akan bertanya? Tapi Karey tidak ingin terlalu gegabah untuk mudah berbagi masalah dengan orang, walaupun itu orang yang dulu dia kenal di masa lalu. Tak lama dari itu, beberapa menit kemudian mobil yang Rasyid kemudikan sebagai supir aplikasi hijau, terparkir di suatu halaman rumah yang lumayan luas, dan memang benar rumah itu sangat dekat dengan rumah yang dikatakan Rasyid sebelumnya. “Yakin mau sendiri? Aku bisa cancel beberapa pesanan hari ini untuk menemani kamu, selama kamu mau,” tanya Rasyid. “Jangan, lagian untuk apa? Kamu nggak ada hubungannya,“ cicit Karey menyela. “Aku kenal siapa pemilik rumah ini, makanya aku bersikeras untuk temani kamu, bahaya juga, lagian kamu yang ngapain kemari? Kenal mereka yang di dalam sana?” Kini Rasyid kembali menanyakan semua itu. “Aku nggak kenal, tapi aku harus kenal mereka, aku yakin ini sangat menguntungkan bagiku yang sangat ingin tahu sesuatu,” ungkap Karey, akhirnya dia yang tidak tahan untuk tidak bercerita. Rasyid nampak seperti kebingungan dengan kalimat yang sudah dikatakan oleh Karey, walaupun seperti itu, Rasyid tetap akan menemani, sampai semuanya dia katakan aman. “Ayo, kalau memang kamu ingin temani aku, tapi ini rahasia kita,” ucap Karey, dan Rasyid yang masih duduk di kursi depan terlihat mengangguk. “Gunakan masker ini, kamu akan tahu jawabannya nanti, percayalah,” titah Rasyid. Walaupun Karey tidak tahu untuk apa sampai harus menggunakan masker? Dia tetap menggunakan nya, hanya merasa mungkin Rasyid tahu tentang suatu hal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN