Mencoba Untuk Percaya

1056 Kata
Aku memang bukan lah orang yang suci, tapi aku tidak pernah berani memeriksa ponsel bahkan barang milik orang lain. “Loh, masih belum dimakan juga makanan nya? Memangnya nggak merasa lapar? Jangan bilang, kamu juga belum telepon Mahesa,” ucap Aulia. Kedatangannya membuat Karey bisa bernafas lega, setidaknya pikiran dia tentang akan dikurung di apartemen tersebut tidak lah menjadi kenyataan, hanya suatu rasa takut yang sebenarnya itu sangat berlebihan. Karey pun hanya mengulas senyum, dia masih ingin bersikap sopan dan tidak akan menunjukkan sikap ketidaksukaan nya kepada seseorang, terlebih lagi itu kepada orang yang lebih tua darinya, bagaimana pun juga Aulia seusia dengan ibunya, itu yang Karey tahu. Jangankan untuk makan makanan yang sudah disiapkan untuknya, untuk meminjam ponsel pun tidak dia lakukan, hanya diam dan menunggu Aulia kembali datang. “Karey? Apa yang sedang kamu pikirkan? Tante terlalu lama membuat kamu menunggu, ya?” Aulia kembali membuyarkan lamunan itu. “Eh, nggak kok, aku tadi emang sengaja nunggu Tante dulu, kalaupun nanti harus makan, kita harus makan bersama, kan Tante? Lebih baik seperti itu pikir ku,” sahut Karey sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aulia pun mendekat dan mengelus puncak kepala Karey seraya membisikkan sesuatu padanya, “Jangan berpikir buruk tentang Tante, ya, apapun yang ada dipikiran kamu dan apapun yang selama ini sudah Mahesa ceritakan padamu tentang Tante, jangan sampai membuat kamu sungkan pada Tante.” Mendengar semua itu membuat Karey tertegun, ternyata semua ketakutan yang dia rasakan dan semua pikiran buruk yang dia pikirkan benar-benar diketahui oleh Aulia, mungkin sikapnya masih terlihat, dan Karey kesulitan untuk menyembunyikan semua itu, walaupun sudah berusaha bersikap netral. “Nggak seperti itu, Tan. Karey nggak seperti itu, hanya kurang sopan aja kalau aku serba seenaknya sama Tante, apalagi ....” “Aih, sudahlah, Karey. Tante mengerti, sekarang sebaiknya kita tidur, kamu bisa tidur di kamar sebelah, ya, ada di sebelah kamar Tante, apartemen ini memang hanya ada 2 kamar, kebetulan biasanya kamar yang satunya itu untuk teman-teman Tante kalau lagi pada nginep setelah urusan pekerjaan selesai sampai larut malam, jadi cukup bersih untuk kamu tempati malam ini.” Begitu penjelasan Aulia tentang kamar yang bisa ditempati oleh Karey malam ini, setelah itu juga keduanya memutuskan untuk tidur terlebih dahulu, bukan untuk tidur sepenuhnya, yang ingin Karey lakukan adalah sedikit demi sedikit menyelidiki siapa sebenarnya sosok Aulia selama ini. “Hmm, makanan yang tadi sayang banget kalau nggak ada yang makan, apa aku makan aja ya? Rasanya perutku udah nggak kuat, semoga Tante Aulia udah tidur di kamar nya,” lirih Karey yang ke luar dari kamar itu menuju ke arah dapur lagi. Sembari kepalanya yang celingukan untuk mengontrol situasi malam ini, memastikan bahwa Karey tidak sampai membangunkan Aulia, dan ingin makan makanan itu dengan tenang, besok pagi dia akan memberikan penjelasan bahwa perutnya memang sakit dan harus memakan makanan itu. Rasa gengsi dan malu pun sudah dia hilangkan malam ini, terlebih lagi memang makanan itu untuknya, Karey juga masih memiliki rasa malu. “Hmm, akhirnya ini perut bisa terisi juga, tapi kok aneh, ya? Semua makanan ini kesukaan ku, dan dari mana tante Aulia tahu?” Keanehan itu mulai dirasakan lagi, tidak mungkin juga Aulia tidak sengaja tahu dan membeli semua makanan itu malam ini, Karey merasa semua itu memang sudah direncanakan sebelumnya. “Kalau memang ada niat buruk, nggak mungkin juga dia tolong aku dari pria aneh itu, hmm sudahlah Karey nikmati semua ini, dan tunjukkan rasa terima kasih itu!” *** Keesokan harinya, Mahesa sudah tiba di depan apartemen, dengan sengaja sangat pagi dia datang, terlebih lagi semalaman dia sangat frustasi untuk semua halangan yang sudah terjadi padanya. “Ini benar pintu apartemen nya, masih sangat ku ingat!“ Mahesa dengan mantap mengetuk pintu sekaligus menekan bel yang ada di luar pintu tersebut, sembari menunggu seseorang membukakan pintu untuknya, Mahesa pun mencoba kembali untuk menghubungi ponsel Karey tapi hasilnya tetap tidak bisa dihubungi. Terpaksa Mahesa menghubungi nomor ibunya, mau tidak mau tetap dia lakukan, hanya untuk Karey. Tidak lama dari panggilan yang sudah dia lakukan beberapa detik yang lalu, pintu itu sudah terbuka, Aulia menatap putranya dengan sangat dalam. “Mahesa.” “Hmm, di mana Karey? Apakah dia sudah bangun? Sengaja datang sepagi ini, karena Karey harus kembali bekerja pagi ini,” ucap Mahesa, bahkan tanpa mengucap salam ataupun bersalaman dengan ibunya sendiri. Suara Mahesa cukup terdengar keras sampai ke dalam, Karey yang memang sudah bangun dan tengah bersiap untuk pergi, dia dengan cepat menghampiri sumber suara itu. “Kak Mahesa?” “Karey, kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu tadi malam? Dan kenapa ponsel mu masih tidak bisa dihubungi? Kenapa bisa berada di sini juga? Kenapa kamu ....” Mendengar semua pertanyaan yang diajukan oleh Mahesa secara berturut-turut membuat Karey maupun Aulia serempak tertawa, karena memang terlihat lucu ketika Mahesa menanyakan semua pertanyaan itu, terlebih lagi dengan ekspresi yang dilakukan olehnya tadi. “Ck, kenapa kalian tertawa seperti itu? Apakah ada yang lucu?!” Mahesa mulai kesal. Aulia pun menepuk pundak Mahesa sembari mengangguk, dan melangkah menuju ke dalam lagi, meninggalkan kedua anak muda itu untuk tetap melanjutkan pembicaraannya, entah apa yang terjadi, Aulia hanya ingin keduanya berbicara tanpa takut dia akan menjadi orang yang menganggu semua itu. Setelah melihat perginya Aulia, membuat Mahesa menarik pelan tangan Karey dan berbisik, “Kamu tidak di apa-apain, kan? Apa ada hubungannya dengan kejadian tadi malam?” “Hush, jangan soouzon dulu, nanti aku akan ceritakan semuanya, tapi bukan sekarang waktu nya, sekarang aku harus segera pergi ke toko, sebentar lagi akan terlambat,” ucap Karey dengan cemas. Mahesa sebenarnya sangat ingin tahu apa yang terjadi tadi malam, tapi rasa khawatirnya itu akan dia tahan untuk beberapa waktu, pekerjaan Karey juga penting, dan mereka harus segera pergi. “Tunggu, aku akan berpamitan terlebih dahulu, kalau kamu tetap mau di sini, tunggu oke? Setidaknya harus ada ucapan terima kasih pada Tante Aulia,” pinta Karey sebelum Mahesa memintanya untuk segera pergi. Karey masuk ke dalam lagi dan niat nya untuk berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih, kedua kakinya berhenti melangkah setelah dia mendengar suara itu dari dalam kamar Aulia, yang kebetulan sedikit terbuka. “Baik lah, kerja bagus untukmu, kembali lanjutkan tugasmu sampai benar-benar gadis itu terperangkap olehmu, bayaran mahal sudah menanti!” “Apa maksudnya? Apa mungkin tante Aulia sedang berbicara dengan rekan kerja nya? Ah mungkin saja, aku ngapain juga kepo seperti ini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN