“Hah, apa, sih maunya? Dibiarkan malah terus-menerus telepon, menganggu konsentrasi mengemudi saja!” Mahesa tidak ingin gegabah, dia menghentikan mobil nya di tepi jalan yang cukup sepi, lalu menjawab telepon tersebut.
Panggilan itu memang benar dari pemilik nomor yang sangat Mahesa benci, yaitu nomor ibu kandungnya, tapi suara yang saat ini terdengar oleh Mahesa adalah suara Karey, wanita yang sedari tadi sangat dia khawatirkan keadaannya.
Karey? Kenapa bisa semalam ini dia bersama ibu?
“Kamu di mana, Karey? Kenapa ponsel mu tidak bisa dihubungi? Apa yang terjadi? Ada di mana sekarang?” Pertanyaan yang Mahesa ajukan sangatlah banyak, karena dia semakin khawatir.
“Jemput aku sekarang, aku ada di apartemen ibumu, dia yang udah menolong ku, dan membawa ku bersamanya,” ucap Karey sebelum menutup telepon tersebut.
Apartemen? Mahesa bahkan tidak tahu di mana apartemen ibunya, selama ini memang Mahesa lah yang sengaja tidak menginginkan sedikitpun informasi tentang ibunya, walaupun saat itu ibunya selalu menelepon tentang informasi nya.
“Ohh, sangat membingungkan! Tapi itu benar-benar suara Karey, dan tak ada suara aneh ataupun hal yang mencurigakan juga, walaupun langsung terputus telepon tadi tapi ku yakin ada udang dibalik batu, ibu itu licik, dan Karey masih saja mempercayainya!”
Kini Mahesa berusaha menghubungi bundanya di panti asuhan, dan berharap semoga bunda Asmara belum tidur dan bisa memberikan informasi yang dia inginkan malam ini.
Sangat beruntung, bundanya menjawab dan memberikan informasi tersebut melalui pesan yang dikirimkan setelah selesai berbicara melalui telepon, bunda Asmara selalu membantu, dan bahkan selalu ada disaat sulit seperti malam ini, alasan Mahesa sangat menyayanginya sangatlah jelas, Bunda Asmara memang layak untuk dicintai.
Alamat apartemen itu tidak lah jauh dari posisi Mahesa sekarang, dia masih tidak menyangka ternyata ibu kandungnya itu memiliki apartemen sangat dekat dengan tempat kerjanya selama ini, apakah itu disengaja? Atau memang akal-akalannya saja untuk bisa dekat dengannya, kali ini Mahesa tidak ingin memikirkan akan hal itu terlebih dahulu.
“Ayo jawab, kenapa sekarang mereka tidak menjawab? Pasti ibu sengaja melakukan itu padaku, ah sudahlah.”
Di pertengahan jalan, hampir saja Mahesa tiba di apartemen yang dia tuju, tiba-tiba mobil yang dia kemudikan berhenti, apa yang terjadi? Mahesa bahkan mendengus dengan kasar saat ini, nafasnya seakan-akan sulit untuk dikontrol, malam ini seperti sudah diatur dan membuat kesabarannya diuji berkali-kali lipat.
“Apalagi ini? Bahkan tadi pagi sudah ku cek sampai ku kontrol setiap pagi mobil ini, bensin pun masih banyak, ayo kita lihat apa yang terjadi,” ucapnya pada diri sendiri, setelah itu Mahesa turun dari mobil.
Mengontrol beberapa bagian pada mobil nya, ternyata tidak ada masalah apapun, tapi ketika Mahesa melihat ke arah ban mobil belakang, ternyata itulah yang menjadi masalah malam ini, kedua ban belakang lah menjadi alasan mobil nya berhenti.
“Aaaaaargh! Kenapa bisa bocor keduanya? Cobalah, lihatlah ini ya Tuhan, apakah ini cobaan? Atau ada kesengajaan, jalanan yang mana terdapat paku sebesar ini, lubang pada ban terlihat besar,” keluhnya dengan memijat keningnya sendiri.
***
“Kamu kenapa tampak gusar seperti itu? Terlihat sangat panik, kamu sudah aman di sini.”
Karey menggeleng, “Bukan seperti itu, Tante. Tapi aku merasa khawatir juga dengan kak Mahesa, kok sejak telepon tadi belum datang juga, aku tahu kok alamat ini gak jauh dari tempat kerja nya,” ungkap Karey.
Melihat ekspresi Karey seperti itu terhadap anak kandungnya, terlintas dipikiran Aulia itulah yang selalu dia lakukan dulu di masa lalu, ketika dia sangat mengkhawatirkan Reyhan, yang tak lain adalah ayah kandungnya Karey.
Namun Aulia juga berpikir, bahwa Karey sangatlah beruntung, dia mengkhawatirkan pria yang memang benar-benar sangat mencintainya, ya Aulia memang sudah tahu bahwa Mahesa sangat mencintai wanita yang ingin sekali Aulia hancurkan hidupnya.
“Tapi, Tante juga merasa bersyukur karena bisa bertemu denganmu lagi akhirnya, setelah sekian lama mencari dan kesulitan juga menemukan alamat barumu,” ucap Aulia, dia sangat pintar mengatur situasi.
Dia memang memiliki banyak cara untuk bisa berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan setelah diberikan alamat palsu saat itu, tidak membuatnya menyerah untuk berhasil menemukan alamat yang sebenarnya, bahkan takdir pun membuatnya terlihat seperti penolong malam ini.
Karey yang tidak memiliki pilihan lain, mau tidak mau dia lebih memilih menyerah bersembunyi dari Aulia, karena dia lebih mengenal Aulia dibandingkan pria misterius itu, pikirnya akan lebih aman jika ikut ke apartemen seperti saat ini.
3 jam yang lalu, saat pria misterius itu terus-menerus berbicara dan sedikit memaksa Karey untuk ikut bersamanya, di jalanan yang cukup sepi setelah toko-toko di sana mulai tutup, ada satu mobil lain yang lewat dan ternyata memang itu Aulia, tidak begitu mengerti kenapa situasi seperti sebuah kebetulan, Aulia yang sedang mencari alamat ternyata dengan mudah dipertemukan langsung dengan orang yang dicari.
“Karey? Dengan siapa dia? Itu bukan pria yang ku kenal, tapi terlihat jelas Karey sedang ketakutan, ini mungkin bisa ku manfaatkan,” ucap Aulia kala itu.
Seperti itulah yang sudah terjadi beberapa jam yang lalu, Karey tidak bisa terus egois dengan menghindari orang-orang di masa lalunya, setelah bertemu kembali dengan Ardian ternyata dia juga dipertemukan lagi dengan Aulia.
Mungkin sudah saatnya Karey kembali menjalani kehidupan yang lebih extrovert seperti dulu, walaupun harus tetap menjaga diri dan memiliki batasan ketika bersama orang yang tidak begitu dia percaya.
“Kamu lapar? Ini sudah malam juga, kalau memang kamu masih takut pria tadi ikuti kamu, jangan dulu pulang ke kost, itu saran Tante. Kalaupun malam ini Mahesa belum bisa jemput, ya menginap lah di sini,” pinta Aulia.
Aulia pun membuka tutup saji di meja makan tersebut, dan terdapat beberapa makanan yang sempat dia beli sebelum bertemu dengan Karey sebelumnya.
“Cukup dingin, tapi rasanya pasti tetap enak, ayo dimakan, kamu suka martabak telur seperti ini, kan? Atau sate ayam dan ....”
“Tante, terima kasih banyak sebelumnya, semua makanan ini memang terlihat enak, tapi Karey masih mau tunggu Mahesa datang terlebih dahulu,” ucap Karey, yang sebisa mungkin menolak secara halus tawaran itu.
Rasa lapar yang dia rasakan biarlah dia tahan, semua perkataan yang selama ini selalu Mahesa katakan dan ingatkan padanya, terus-menerus Karey ingat, jangan pernah dengan mudah makan ataupun minum dari orang-orang yang tidak dipercaya, hal buruk mungkin bisa saja terjadi dan kerugian akan ditanggung oleh diri sendiri.
Ya, Karey tetap mempercayai nasihat penting dari Mahesa kala itu, Karey tidak cukup kelaparan juga, dia masih bisa menahan rasa lapar untuk bisa tetap menjaga dirinya.
“Kamu melamun, ya? Atau mau Tante telepon lagi Mahesa nya? Sayang sekali ya tidak ada charger yang sama seperti punyamu, jadi pakai lah lagi ... Ponsel Tante.”
Segala pikiran buruk tentang Aulia seketika dia tepis, Karey berpikir jika memang Aulia orang yang akan berbuat jahat, kenapa terus-menerus ingin membantu nya? Bahkan tidak keberatan jika ponselnya digunakan.
“Tante taruh di atas meja ya, ponsel nya pakai sandi, dan sandi nya tanggal lahir Mahesa, pasti kamu tahu, ayo semangat!” Setelah itu Aulia pergi menuju ke ruangan lain, dan meninggalkan Karey sendirian di dapur.
Dia pergi? Menyerahkan ponselnya begitu saja? Diberitahu juga sandi nya, tapi ... Kenapa perasaan ku berkata Tante Aulia sangat ingin aku percaya padanya.