Pria Itu Lagi

1335 Kata
“Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Ardian? Bukankah kamu sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya dengan baik, tapi apa yang sudah kamu lakukan tadi, bisa membahayakan posisi Karey di sana, dia hanya pekerja,” cecar Reyhan, dia tidak akan membiarkan kejadian seperti tadi terulang lagi. Kali ini mungkin mereka masih bisa selesai dengan aman, tapi Reyhan akan melakukan apapun untuk tetap menjaga putrinya, walaupun itu harus mengorbankan nyawanya sendiri, Reyhan sudah berjanji akan hal itu pada dirinya sendiri. Namun, kejadian tadi rupanya tidak berpengaruh apapun pada Ardian, dia terlihat biasa saja saat ini, bahkan tidak mengatakan apapun setelah mereka pergi dari toko kue tadi. “Baiklah, diam saja seperti itu, saya sudah habis kesabaran padamu,” lanjut Reyhan. Tidak hanya Reyhan yang masih tersulut emosi, tapi juga Karey masih melamun saat bekerja, dia masih berpikir apa yang sebenarnya sudah terjadi pada kehidupan mereka? Berbulan-bulan masih saja semua itu belum pulih kembali. “Karey?” “Karey? Apakah kue nya sudah kau masukkan ke dalam oven?” Windi, seorang teman kerja yang satu bagian dengannya terus memanggil dan bertanya tentang perkembangan kue-kue itu, tapi lamunan itu masih saja berlanjut sampai saat ini, Karey bahkan sampai lupa untuk menyelesaikan pekerjaan nya. “Dia kenapa? Gak biasanya kerja sambil melamun dan ... Ah benar saja dia lupa masukin kue-kue ke oven,” lanjut Windi. Dia yang menyelesaikan itu, setelah kue-kue itu sudah diatasinya, Windi lah yang kembali merangkul bahkan kembali membangkitkan semangat Karey yang mulai memudar. “Karey? Kalau ada masalah cerita sama aku, jangan dipendam, aku takutnya semua itu bisa ganggu kerjaan kamu juga, aku khawatir.” Setelah Windi memegangi tangannya, Karey pun kembali tersadar dari lamunannya yang cukup lama, “Hmm, apa? Kamu udah selesai?” tanya Karey, dengan asal. “Iya udah selesai, bahkan aku pun menyelesaikan pekerjaan kamu, tuh lihat oven,” tunjuk Windi. Karey pun menepuk jidatnya sendiri dan merasa sudah lalai dalam bekerja hari ini, bahkan dia tidak pernah seperti itu sebelumnya saat bekerja, hanya karena pria yang bernama Ardian itu, hari pun terasa berat dijalani nya. “Udah gapapa, ini pekerjaan terakhir, kan? Untuk hari ini semuanya selesai, aku mau beres-beres dulu, kamu juga bersihkan dapur, ya? Jangan dipikirkan dulu, apapun itu masalah mu,” ucap Windi lagi, dia tahu memaksa Karey untuk bercerita tak akan berujung baik juga, biarlah wanita itu sendiri yang bercerita padanya, pikirnya. Karey sangat berterima kasih kepada teman kerjanya itu, selain selalu memahami segala hal yang terjadi padanya, sejak awal masuk kerja pun Windi lah orang pertama yang mendekatkan diri dengannya, tanpa peduli bagaimana latar belakang Karey, tidak seperti kebanyakan pekerja lain yang selalu beranggapan buruk terhadapnya, karena penyakit iri hati seseorang memang tidak akan bisa diobati oleh apapun. Sepulang dari toko, dan pekerjaan telah diselesaikan dengan baik malam ini, membuat rasa lelah itu mulai terasa, tidak hanya lelah tubuhnya tetapi juga lelah dengan segala isi pikirannya hari ini, sejak bertemu dengan Ardian. “Aku biasanya gak seperti ini kalau pulang kerja, pasti pikiran yang tadi siang, hmm lupakan ... Lupakan ayo fokus,” gumamnya. Kemudian Karey pun memesan grab online untuk pulang ke kost, dia tidak ingin merepotkan Mahesa lagi, dengan sengaja dia tidak memberitahu Mahesa bahwa pekerjaan hari ini lebih awal dia selesaikan, tentu saja dengan bantuan Windi juga. Tidak disangka, bahkan sampai tidak menduga hal itu akan terjadi lagi malam ini, kedua mata Karey melihat mobil itu terparkir di parkiran toko, siapa sebenarnya pria itu? Kenapa sampai tahu dimana dia bekerja dan untuk apa terus-menerus mendatanginya. Sejak bertemunya mereka dimalam hari, dan sangat misterius mendatangi kost pada malam hari, tentu saja membuat Karey masih merasa bahwa dirinya lah yang sebenarnya menjadi target pria itu, dugaannya semakin yakin karena malam ini pun dia dipertemukan lagi dengan pria itu. Mobil itu masih dia ingat berapa nomor plat nya, dengan sengaja Karey mengingatnya bahkan daya ingatnya selalu benar, dia tidak akan lupa jika untuk hal-hal penting seperti ini. “Tadinya aku memang gamau merepotkan kak Mahesa lagi, tapi kalau begini ceritanya aku harus hubungi secepatnya.” Pada saat nomor Mahesa tidak bisa dihubungi, sangat tidak biasanya pria itu mematikan telepon pada jam kerjanya, membuat Karey pun semakin panik tak karuan. Berusaha untuk melarikan diri dari parkiran pun sudah terlambat, pria asing itu sudah menghampiri dengan wajah yang sangat misterius, tidak tergambar apakah dia orang baik ataupun orang jahat, Karey tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan baik-baik saja malam ini. “Kamu? Apakah sudah selesai pekerjaan nya?” Pertanyaan itu seperti orang yang sudah sangat mengenalnya dengan dalam, Karey berusaha untuk tetap tenang saat ini. “Helo? Saya bertanya padamu, kita sudah bertemu sebelumnya, apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan mu? Jika sudah, biar saya antar pulang,” ucapnya lagi. Karey mengeratkan tangannya pada saku jaketnya, dia terus memegangi jaket untuk tidak terlihat panik ataupun merasa takut kepadanya. “Jangan khawatir, saya bukan orang jahat, sudah berkali-kali juga saya memberitahu kamu, saya memang bukan orang jahat,” ungkapnya. Pria itu seperti tahu apa yang ada dipikiran Karey, dan tanpa harus diungkapkan pun pria itu sudah menjelaskannya sendiri. “Ayo, nanti keburu malam dan memang tidak baik wanita pulang malam-malam sendirian,” jelasnya. Ini orang sebenarnya maunya apa? Kenal pun nggak, bahkan tanpa aku menjawab pun dia tetap berbicara seolah memang mengenal ku dengan dalam, siapa dia sebenarnya? Aku sampai lupa untuk bertanya pada ibu kost tentang siapa dia, karena bagaimanapun juga dia mengaku udah pernah menghubungi ibu kost sebelum bertemu denganku, aduh aku harus kuat terus atau tunjukan saja rasa tak nyaman ini. Karey terus melamun dan berbicara pada dirinya sendiri, dia sangat penuh pertimbangan sekarang, jika dulu dia selalu mudah untuk bergaul dengan para pria bahkan sangat melebihi batas, tapi sekarang Karey sudah berbeda, dia sangat menjaga dirinya sendiri. “Kamu Karey, kan? Saya sudah tahu namamu sekarang, nanti akan saya jelaskan lebih banyak lagi, saya tahu ada banyak rasa khawatir yang kamu alami saat kita bertemu.” Deg, lagi dan lagi pria itu sudah tahu apa yang dirasakan oleh Karey terhadapnya, sebenarnya dia siapa? Karey terus menyadarkan dirinya sendiri, mana tahu pria itu akan melakukan hipnotis atau hal buruk lainnya. *** Mahesa yang sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini cukup merasa puas dengan segala pencapaian nya, terlebih lagi hari ini dia mendapatkan bonus yang cukup besar, Mahesa sangat ingin memberikan sesuatu yang sangat layak untuk Karey, menggunakan uang bonus tersebut. Setelah menyadari bahwa ponselnya mati karena kehabisan daya baterai, Mahesa pun segera mengisi daya ponselnya dan menunggu terisi, dia benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu bahkan berbicara dengan wanita yang dia sangat cintai. “Ayolah, kenapa sampai kosong seperti ini, benar-benar bodoh aku ini, kenapa sampai lupa charger ponsel, saking sibuknya, huft.” Cukup lama menunggu akhirnya terisi walaupun hanya 2, Mahesa dengan cepat segera menghubungi kembali nomor Karey, cukup terkejut juga karena ada banyak pesan yang telah Karey kirimkan padanya beberapa jam yang lalu. “Ini 3 jam yang lalu bukan? Kenapa sekarang ponselnya yang tidak bisa dihubungi? Apa dia lagi balas dendam ya karena ponsel ku mati sebelumnya, ah tidak! Karey sudah bersikap dewasa sekarang, mana mungkin kekanak-kanakan seperti itu.” Tanpa ingin berdiam diri dan hanya mengandalkan kabar melalui ponsel, Mahesa pun memutuskan untuk segera pergi dari sana dan menuju ke toko, tempat di mana Karey bekerja. Perjalanan cukup jauh, tapi Mahesa masih berusaha untuk mengemudikan mobil nya dengan cepat, perasaan dia mulai tidak karuan, pikirannya pun mulai bimbang antara harus mengontrol Karey di toko atau langsung ke kost saja. “Biasanya Karey tidak akan tahan jika ponselnya mati, dia akan langsung isi charger setelah sampai ke kost, tapi 3 jam yang lalu masih tidak ada kabarnya seperti ini, benar-benar tidak seperti biasanya, sebenarnya apa yang terjadi? Terlebih lagi tentang ceritanya tadi pagi, tentang kedatangan pria aneh itu, apa jangan-jangan ....” Suara dering telepon membuyarkan lamunannya, ponsel yang sejak tadi Mahesa charger di mobil nya kini tengah berdering, segera dia melihat siapa yang menghubungi, ternyata bukan dari orang yang diharapkan. “Ck, ku pikir itu Karey, lagian mau ngapain sih wanita ini telepon malam-malam, dia bukan ibu kandung yang ku harapkan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN