Perkara surat yang hilang

1042 Kata
“Hahaha, sudah ... sudah jangan dilanjutkan lagi, aku enggak akan kuat,” Karey masih ingin sekali tertawa terbahak-bahak ketika Ardian terus menceritakan masa lalu keduanya saat itu. Karey tidak merasa malu ataupun risih ketika orang-orang sering mengingatkan dia tentang bagaimana hidupnya saat itu, baginya hidup seperti petualangan, serumit dan semengerikan apapun jalannya, suatu hari nanti akan menemukan tujuan yang bahagia. “Apakah kamu tidak malu? Saya menceritakan itu padamu untuk membuatmu benar-benar sadar sepenuhnya, apa salahmu dan apa saja yang harus kamu perbaiki,” cecar Ardian. Kemudian Karey pun menjawab dengan tawa yang masih dia pertahankan, “Untuk apa malu? Aku tidak mencuri, dan aku tidak melakukan hal-hal kriminal, hanya berhasil memuaskan para kucing saja,” jawabnya. Ingin sekali Ardian menjitak wanita itu tapi sayangnya Karey lebih dulu menyadari dan menghindar, “Kenapa? Masih takut akan tergoda oleh pesonaku? Jangan khawatir, Karey yang lama sudah mati, sekarang ... hari ini adalah Karey yang baru, akan ku pastikan itu.” Ardian tidak menghiraukan ucapan itu, dia ingin segera memulai pembicaraan yang benar-benar serius setelah cukup lama keduanya berbicara dengan topik omong kosong. “Sekarang diam, dan berhenti tertawa. Saya ingin tahu sesuatu darimu, dan saya harap kamu bisa membantu, saya yakin kamu bisa menjadi jawaban semua ini,” ucap Ardian, mulai menunjukkan bahwa dirinya sedang serius. Karey pun akhirnya diam, dan tidak lagi ingin bercanda seperti tadi, “Ya baiklah jika seperti itu, apa yang ingin Bapak tahu dariku?” Tidak ada jawaban cukup lama, sampai Karey mengulang pertanyaan yang sama, Ardian tahu sejak mereka berbicara ada seseorang yang diam-diam berusaha untuk mendengarkan dari luar, ya Reyhan sang mertua. Mengetahui semua itu, Ardian pun melihat ada sebuah buku catatan dan juga alat tulis pada sebuah meja, dia mengambil nya dan menuliskan beberapa hal di sana, semula Karey tidak mengerti tapi setelah Ardian menulis bahwa Reyhan sedang memantau mereka, Karey pun paham dan mengizinkan Ardian melanjutkan tulisannya pada buku tersebut. Sebuah kalimat tertulis, apakah sebenarnya Karey tahu bahwa sebenarnya Key sudah hamil dengan pria lain dan pergi dari mereka semua karena sebuah pengkhianatan tersebut. Membaca kalimat tersebut sudah membuat Karey tidak kuasa lagi, dan dia menghentikan Ardian untuk menulis kalimat-kalimat lainnya, setelah alat tulis itu berhasil direbut nya, keduanya saling menatap satu sama lain. “Dengar, Pak Ardian Putra Wicaksana, masa laluku memang buruk dan menjijikan, dan kami memanglah kembar, tapi jangan sampai aku mendengar siapapun mengatakan hal seperti itu kepada adikku!” bisik Karey, dia sedikit menekan kalimat akhirnya. “Tapi memang seperti itulah yang terjadi, adikmu pergi meninggalkan kami semua tanpa berpamitan karena dia hamil, dan bukan anak saya,” bisik Ardian yang masih keras kepala. Karey masih tidak habis pikir hari ini, pria yang selama ini dia kira akan sangat mencintai dan menjaga adiknya ternyata orang itulah yang berhasil membuatnya kembali percaya, semua pria itu memang sama. Mana mungkin Key melakukan hal b***t seperti itu? Bahkan Karey tahu, adik kembarnya itu tidak akan pernah mau berhubungan lebih banyak pada pria lain selain membicarakan hal penting. Bahkan di sekolah pun Key dikenal so alim karena memang dipandang terlalu jual mahal walaupun hanya untuk sekadar mengobrol biasa dengan para pria, Key selalu menolak dan menghindar dengan segala alasannya. “Dengar lagi, Pak Ardian. Aku pikir kedatangan mu hari ini ke sini dengan niat yang sangat baik, tapi aku semakin yakin kepergian adikku memanglah karena dirimu, aku tidak salah menyalahkan mu sejak awal bukan? Pasti ada hal yang disembunyikan dan kamu malah menyalahkan bahkan memfitnahku adikku! Pergi kamu dari sini, pergi!” Karey semula masih bisa bersikap tenang, tapi lama-lama dia tersulut emosi dan tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu. Teriakan Karey mulai membuat Reyhan di luar sana tidak tahan lagi dengan persembunyian nya, Reyhan datang dan mencoba untuk memisahkan mereka. “Ayah, tolong bawa dia pergi dari sini dan jangan pernah biarkan dia menemui ku lagi dengan alasan apapun juga! Atau ... aku yang gak akan pernah mau bertemu dengan Ayah lagi, pergi!” Karey semakin berteriak. Reyhan tidak ingin orang-orang di sana mengetahui akan semua ini dan bisa membuat pekerjaan anaknya bermasalah, dengan segala cara Reyhan pun meminta Ardian untuk menurut dan pergi dari sana. “Tunggu, saya akan pergi dari sini seperti yang dia inginkan, tapi tunggu,” ucap Ardian, dia kembali mendekat ke arah Karey. *** Orang yang didekatinya pun semakin berusaha menjauh dan membuat jarak diantara mereka, Karey benar-benar tidak habis pikir akan seperti ini, dia tidak akan pernah mau mudah percaya pada pria lagi. “Ayo, sebaiknya kita segera pergi dari sini, dan biarkan Karey untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu,” pinta Reyhan mencoba untuk mencari jalan tengah pada apa yang terjadi. Karey masih tidak bisa menahan amarahnya, dia tidak ingin melakukan sesuatu di sana dan membuatnya sampai kehilangan pekerjaan nya, dia sangat tidak ingin itu terjadi. “Ayah, tolong ... dengan segala hormat, tolong kalian pergilah dari sini sekarang, atau ....” “Atau menikahlah denganku, dan tolong gantikan posisi adikmu untuk mengobati segala rasa sakit yang saya rasakan karena perbuatannya,” ucap Ardian kemudian. “Hah?” Karey dan Reyhan pun serentak terkejut mendengarnya. Ini bukan sebuah rencana Reyhan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, bahkan dia belum mengatakan apapun pada siapapun, Reyhan sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi, pernyataan itu keluar dari mulut Ardian sendiri. “Gila, emang udah sinting ya? Pergi! Tolong pergilah, atau aku akan teriak dan semua orang akan berdatangan,” titah Karey, dia sampai meneteskan air matanya. Usaha Reyhan pun tidak berhasil, Ardian tetap tidak ingin pergi dari sana sebelum dirinya berhasil mendapatkan jawaban dari Karey, semua itu memang sangat sulit untuk dilakukan olehnya selama ini, tapi kembali mengingat betapa sakitnya isi surat yang hilang, sebuah surat ucapan selamat tinggal yang ditulis oleh Key, membuat rasa sakit yang mencekam dadanya kembali terasa. Akal sehat dan akal pikirannya memang sudah mulai terganggu, antara percaya dan tidak percaya pada isi surat tersebut, Ardian tetaplah menderita, terlebih lagi surat itu hilang dan belum juga ditemukan. “Yah, sebenarnya dia itu kenapa? Kenapa setelah berbulan-bulan tidak bertemu sekarang menjadi seperti ini? Bahkan lebih mengerikan dari hidupku,” tanya Karey pada Reyhan. Reyhan ingin sekali menjawab anaknya dan memberitahu segalanya, tapi Ardian memberikan isyarat untuk tidak menjelaskan tentang surat itu, akan ada saatnya nanti Ardian membalaskan dendam melalui Karey, yang tak lain adalah saudara kembar istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN