Peluk, dan obati rindu

1409 Kata
“Kamu baik-baik saja, kan? Apa yang terjadi? Siapa dia? Apa kamu masih ingat seperti apa orangnya dan ....” Karey membungkam mulut pria itu dengan telunjuknya, “Kak, bisa tidak bertanya satu-persatu? Aku jadi bingung dan tambah takut,” cicit Karey. “Mana bisa? Percayalah sejak kamu menceritakan apa yang terjadi tadi malam, saya tidak bisa tidur dan sepagi ini pun sudah mengusahakan untuk datang ke sini,” ucap Mahesa dengan perasaan panik. Karey bisa memahami semua itu, dan dia pun memang tidak salah jika memberitahu Mahesa ketika dirinya dalam bahaya ataupun ada sesuatu yang jangkal, karena Karey hanya bisa menggantungkan diri kepada Mahesa selama ini. Dia tidak berani mengatakan hal-hal seperti itu kepada ayah kandungnya ataupun kepada yang lainnya, Karey hanya ingin semua orang merasa tenang akan dirinya, jika bersama Mahesa itu lain ceritanya. Mahesa masih menatap kedua matanya dengan tatapan khawatir, Mahesa tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita yang dia cintai itu. “Karey? Jawab, apa kamu baik-baik saja? Cerita lebih jelas.” “Hmm, aku hanya bisa pastikan pria itu bukan pria sembarangan, maksudnya bukan sejenis culik ataupun perampok, aku yakin itu.” “Lalu? Apa yang kamu pikirkan? Seperti apa orangnya jika bukan orang yang kriminal,” tanya Mahesa lagi. “Selain mobil nya bagus dan mewah, pria itu pun memiliki benda-benda yang menurut aku mahal banget, ponsel ... jam tangan dan intinya seperti orang berada, tapi aku juga sangat yakin dia memiliki niat serta tujuan lain.” Mahesa menjadi tidak tenang jika seperti itu adanya, mungkin jika pelakunya culik ataupun rampok akan mudah diselesaikan tapi jika orang seperti itu, akan jauh lebih berbahaya, apalagi Karey hanya tinggal bersama anak-anak seusianya. “Kak? Kok malah diam, aku lagi ketakutan loh ini, dan lihatlah sejumlah uang ini, gepokan dan gak bisa dikatakan sedikit, untuk apa coba pria itu memberikan uang padaku? Saking aneh dan menakutkan, aku juga hanya tidur beberapa menit mungkin tadi malam.” Mahesa masih berusaha untuk memahami apa yang tengah terjadi, tapi dia juga tidak bisa sepenuhnya memastikan hal itu jika tidak ada bukti kuat ataupun sebuah petunjuk yang benar-benar akurat. Mahesa mendekat dan berbisik, “Simpan dan sembunyikan uang itu di tempat yang paling aman, jangan sampai siapapun tahu apalagi orang-orang di kost kamu, jangan percaya siapapun intinya, hanya kita berdua.” “Tapi?” Karey masih bingung. “Percayalah, semuanya akan saya selesaikan, jangan khawatir dan jangan takut, kamu akan saya pantau ke manapun kamu dan di manapun kamu, walaupun saya tidak selalu bersamamu,” ucap Mahesa dengan tegas. Karey pun akhirnya mengangguk, dia akan mempercayakan semuanya pada Mahesa seperti biasanya ketika menghadapi semua masalah, selama ini juga Mahesa selalu berhasil jika menjaganya. Setelah berbicara banyak dengan Karey, karena harus segera pergi bekerja dan Karey pun sama, keduanya hanya fokus untuk bekerja hari ini dan menunda terlebih dahulu untuk masalah tersebut. Sedangkan yang saat ini dilakukan oleh Reyhan adalah kembali mengunjungi apartemen itu, dan dia sangat ingin tahu apakah keadaan menantunya sudah lebih baik atau masih sama. Sudah mengetahui sandi apartemen tersebut dan tidak ada masalah apapun dengan pemiliknya walaupun dia bisa keluar dan masuk kapanpun juga, Reyhan menyimpan makanan yang dia beli di dalam kulkas, kemudian mencari di mana keberadaan Ardian saat ini. Terlihat Ardian sedang termenung di balkon apartemen itu, wajahnya terlihat kusam, begitu murung, dan tatapannya pun terlihat kosong. “Ardian?” panggil Reyhan, kemudian dia pun ikut duduk di samping menantunya. “Kamu sudah siap hari ini untuk bertemu dengan Karey? Menurut saya, sudah cukup kamu menutup diri seperti ini dan tidak ingin menemui siapapun dan ... Kamu tahu selebihnya apa yang terjadi padamu.” Mendengar nama Karey, membuat lamunan Ardian tersadar, “Apakah dia masih mau bertemu dengan saya? Bukankah dia sangat marah ketika tahu adiknya menghilang dan menyalahkan saya sedemikian rupa?” Ardian adalah korban patah hati ditinggalkan oleh sang istri, tapi dia juga yang disalahkan dan dituduh sebagai penyebab. Reyhan menghela nafasnya dengan sesak, “Kamu lah yang harus menyelesaikan semua kesalahpahaman itu, hanya Karey yang bisa membuatmu kembali bangkit, setidaknya lihatlah wajahnya untuk mengobati sedikit kerinduan mu kepada Key,” cecar Reyhan. Sebenarnya Reyhan sangat tidak mau melakukan semua itu, tapi janjinya kepada Key saat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, membuatnya terus tidak tenang jika tidak segera menjalankan amanah. *** “Terima kasih, kamu sudah mau mulai bangkit seperti ini, saya pikir hari ini saya akan gagal lagi membujuk mu, Ardian.” Setelah cukup lama pembicaraan mereka di apartemen tadi pagi, dengan segala cara akhirnya Reyhan berhasil juga untuk mengembalikan semangat dalam diri menantunya itu, walaupun mungkin tidak sepenuhnya bangkit hari ini, setidaknya sudah mau mencoba. “Saya hanya ingin melihat wajahnya untuk segala kerinduan saya kepada istri tercinta, itu saja,” jawab Ardian dengan datar. Reyhan tidak bisa menjawab apapun selain mengangguk, untuk sekarang ikuti saja alur keinginannya Ardian, sampai nanti waktu yang tepat kembali dia kendalikan. “Kamu juga harus berjanji, jangan beritahu alamat Karey kepada siapapun, untuk keamanan nya,” pinta Reyhan kemudian. Tentu saja Ardian tahu dan akan melakukan itu, dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang akan membahayakan keluarga istrinya. Sekalipun itu Karey orangnya, tetap harus dia jaga. Setelah sampainya mereka di tempat tujuan, Ardian kembali berbicara, “Kenapa tidak langsung ke kost nya? Kenapa ke sini?” “Jam segini Karey lagi kerja, lebih baik kita ke sini saja,” jawab Reyhan menjelaskan. “Oh oke.” Ardian pun telah memarkirkan mobil nya, kemudian keduanya ke luar dari mobil menuju ke tempat kerja nya Karey. Karey bekerja di salah satu toko kue, dia sudah mulai belajar sejak awal masuk bekerja di sana, selain dia ditempatkan di bagian dapur yang tidak semua orang bisa melihatnya, pekerjaan itu juga cukup membuatnya memiliki uang saku untuk memulai pekerjaan halal dalam hidupnya. Setelah meminta izin kepada atasan Karey untuk bertemu dengan Karey, akhirnya mereka sudah bisa menemui Karey di tempat yang sudah disediakan oleh atasan tersebut, di ruang tunggu. “Ayah?” Karey pun dengan segala kerinduannya memeluk Reyhan, dan mencium punggung tangan pria yang sudah tidak muda tapi masih terlihat segar. “Kamu apa kabar, hmm? Putri ayah apa baik-baik saja? Gimana kerja nya?“ Reyhan dan Karey pun cukup lama memadu kerinduan sampai lupa dengan kehadiran Ardian diantara mereka. Reyhan sadar akan hal itu, dia pun memberikan isyarat kepada Karey untuk lebih menghargai kehadiran Ardian juga, walaupun itu sulit tetap Karey lakukan hari ini. “Baiklah, kalian berdua lanjutkan, kebetulan Ayah penasaran dengan kue-kue di sini, mau ke depan dulu,” ucap Reyhan sebelum meninggalkan keduanya di ruangan itu. Begitu terasa canggung dan tidak terbiasa, karena sudah sangat lama keduanya tidak bertemu ataupun berbicara lagi, sejak perginya Key di rumah sakit saat itu. “Hmm, bagaimana kabar Pak Ardian?” Akhirnya Karey memilih untuk memulai pembicaraan. Selain Ardian itu suami adiknya, Ardian juga guru nya di sekolah bukan? Sudah seharusnya dihormati, apapun masalah diantara mereka. “Baik, sudah lebih baik hari ini, kamu? Bagaimana?” Ardian masih canggung, dan tidak kuasa melihat wajah Karey karena sangat mirip dengan istrinya, karena mereka kembar. “Pak? Loh kok nangis, tadi katanya sudah lebih baik, gapapa, kan?” Karey terkejut karena air mata telah menetes pada kedua mata Ardian. Ardian berusaha untuk menyeka air matanya, dan kembali bersikap sekuat apapun walaupun rasanya sangat mustahil, “Baik, saya baik.” Tanpa memikirkan hal lainnya, karena Karey juga tidak memiliki niat lain, Karey mendekat dan memeluk Ardian dengan rasa yang sangat hangat. Mendapat pelukan secara tiba-tiba dari Karey, membuat Ardian rasanya sangat sulit juga untuk menolak ataupun menghindar, rasa rindunya kepada istrinya sangat dalam, dan wajah Karey memang bisa membuatnya terasa terobati. “Jangan salah paham dengan pelukan ini, Pak. Aku sudah tidak sama seperti Karey yang dulu, aku hanya ingin membuat hatimu lebih tenang saat berbicara, anggap saja aku ini ....” Ardian tidak menjawab, dia hanya memeluk Karey seperti Karey memeluknya, keduanya pun terhanyut karena rasanya sangat nyaman kali ini, entah apa yang membuat keduanya hanya menangis pada pelukan itu, mungkin karena memang keduanya memiliki rasa sakit yang disebabkan oleh orang yang sama dan oleh hal yang sama. Sedangkan di luar sana, Reyhan melihat semua itu dari balik jendela yang mudah menerawang, bisa melihat apa yang terjadi di dalam. “Key, semoga kamu bahagia di manapun kamu berada, Ayah akan melakukan apa yang kamu inginkan dulu, ini sangat tidak benar, tapi kamu ingin kakakmu bersama suamimu seperti ini bukan? Sakit sekali dengan semua ini,” lirih Reyhan sembari memegangi dadanya yang terasa sesak melihat semua kenyataan saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN